Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
62


__ADS_3

Malam menjelang di sebuah kamar pribadi milik sepasang suami istri itu.


Saras membuka pintu kamar tersebut. Ia masuk ke dalam ruangan pribadinya dan sang suami itu sambil membawa segelas air putih di tangannya.


Saras mendekati nakas. Meraih beberapa setrip obat milik Dion dan membawanya menuju balkon, tempat dimana sang suami kini tengah berada.


"Tayang....(sayang)..." ucap Saras terdengar menggemaskan. Dion hanya menatap lucu ke arah sang istri. Saras mendekat, mendudukkan tubuhnya di atas kasur sofa itu, tepat di samping Dion. Diletakkannya gelas berisi air putih itu di atas meja.


"Minum obat dulu..." ucap Saras. Dion mengubah posisi tubuhnya yang semula duduk bersandar disana kini berubah menjadi duduk bersila, menghadap wanita cantik di hadapannya.


Saras merobek beberapa setrip obat itu, mengeluarkan isinya, dan mengumpulkannya di telapak tangannya. Ia lantas menyerahkan beberapa butir obat pemberian dokter itu pada Dion. Laki laki itu kemudian meminum benda tersebut dengan bantuan segelas air.


Selesai,


Obat obat itu tertelan dengan sempurna. Saras nampak mengulum senyum.


"Masih pusing?" tanya Saras.


Dion tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Diletakkannya gelas kaca itu kembali di atas meja rendah disana.


"Saras..." ucap Dion.


"Ya..." jawab Saras.


"Aku boleh tanya sesuatu?" tanya pria itu lagi.


"Nggak boleh..!" jawab Saras bercanda.


Dion mengubah mimik wajahnya menjadi sedikit tidak suka. Sesuatu yang justru membuat Saras terkekeh dibuatnya.


"Hihihi, bercanda..!" ucap wanita itu sembari menutup kedua bola mata Dion menggunakan satu telapak tangannya.


Dion kembali tersenyum simpul.


"Matanya nggak usah gitu liatnya..!" ucap Saras lagi. Dion meraih telapak tangan wanita itu lalu mengecupnya singkat kemudian menggenggamnya.


"Bolehlah..! Mau tanya apa?" tanya Saras kemudian.


Dion memiringkan kepalanya. Menikmati paras ayu wanita berusia dua puluh tahun itu sambil tak lepas menyunggingkan senyuman termanisnya.


"Aku mau tanya, laki laki tadi siapa?" tanya Dion.


"Laki laki yang mana?" tanya Saras.


"Yang tadi kita ketemu di minimarket" jawab Dion.


Saras diam sejenak. Itukan Arkana? Apa Dion cemburu? Ia tak suka Saras dekat dekat dengan laki laki walaupun hanya sekedar bicara basa basi? Pikir Saras mencoba menerka nerka. Membuat wanita itupun melamun untuk beberapa saat.

__ADS_1


Klik...


Dion menjentikkan jarinya tepat di hadapan wajah Saras. Membuat wanita itupun terperanjat, tersadar dari lamunannya.


"Aku nanya, sayang. Bukan nyuruh kamu ngelamun.." ucap Dion.


Saras tersenyum. Digenggamnya telapak tangan suaminya itu dengan lembut.


"Iya, maaf..." jawab Saras.


"Namanya Arkana. Dia temen aku. Bukan temen juga sih. Kita cuma saling kenal karena dia juga salah satu pemilik di Coffee shop tempat biasa aku sering beli minum itu. Sebenarnya dia temen Gio juga. Tapi dia baik kok, nggak kayak Gio..! Beneran..! Dia yang bantuin aku bawa kamu ke rumah sakit. Dia juga yang nemenin aku sampai papa kamu sama ibu aku datang nyusul aku ke rumah sakit" ucap Saras menjelaskan. Dion masih diam.


"Tapi kamu jangan mikir yang aneh aneh ya..! Aku nggak deket kok ama dia. Kita kenal cuma karena aku sering beli minum ditempat dia aja. Nggak lebih..! Waktu aku nyariin kamu malam itu, aku kan perginya juga coffee shop. Soalnya aku pikir Gio ada di sana. Aku kan nggak tahu rumahnya Gio di mana. Tapi pas nyampe sana, aku ketemu sama Arkana. Dia yang nganterin aku ke rumahnya Gio dan melihat kamu udah terkapar di lantai dapurnya Gio. Ya udah, kita bawa deh kamu ke rumah sakit" ucap Saras menjelaskan.


Dion diam sejenak kemudian tersenyum.


"Kalau perempuan di sampingnya dia? Itu siapanya?" tanya Dion.


Saras diam lagi.


"Kayaknya mamanya, deh." ucap Saras.


"Emangnya kenapa?" tanyanya lagi.


"Namanya siapa?" tanya Dion.


Saras nampak mengernyitkan dahinya.


Dion tersenyum. Dikecupnya lagi punggung tangan yang sejak tadi digenggamnya.


"Enggak, aku cuma ngerasa kayak pernah lihat aja. Kayak nggak asing mukanya" ucap Dion.


"Oh ya? Di mana?" tanya Saras.


"Ya makanya aku tanya sama kamu. Aku lupa. Tapi kayaknya pernah lihat. Tapi nggak tau juga sih. Mungkin salah orang. Cuma mirip, mungkin..".ucap Dion.


Saras nampak menyibikkan bibirnya sembari manggut-manggut.


"Kayaknya sih emang salah orang..! Masalahnya, kamu kan nggak pernah keluar rumah..! Pernah lihat dimana coba? Satu-satunya wanita cantik yang pernah kamu lihat itu cuma akuuhh...!" ucap Saras percaya diri menjurus kecentilan. Ia berucap sambil menggeliat dengan menampakkan sebuah senyuman yang dibuat semanis mungkin. Dion terkekeh. Dengan gemasnya ia menggerakkan lengan besarnya mencubit pipi mulus istrinya itu membuat Saras pun tergelak karenanya. Dion kemudian memeluk Saras lalu menciumi wajahnya bertubi-tubi. Malam pun terus berlanjut. Sepasang suami istri itu nampak asik berbincang sambil bercanda ringan di balkon kamar mewah milik mereka.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah


Di sebuah ruang kerja milik seorang pengusaha kaya raya di kota itu. Laki-laki dewasa dengan jambang tipis menghiasi rahangnya itu nampak duduk bersandar di kursi kerjanya. Menatap nanar ke arah layar ponsel tempat di mana sebuah percakapan melalui aplikasi WhatsApp tertera di sana. Sebuah kabar yang dikirimkan oleh salah satu anak buahnya. Mengabarkan tentang keberadaan mantan istri serta anak perempuannya yang katanya sudah meninggal dunia akibat sebuah kecelakaan pesawat yang terjadi beberapa bulan lalu.


Ya, itu adalah Bharata. Ia baru saja mendapatkan kabar dari anak buah yang beberapa waktu lalu ia minta untuk mencari tahu keberadaan Ratih dan Putri kecilnya yang diketahui bernama Anggita Priscillia Sarasvati, atau biasa dipanggil Anggita kala itu.

__ADS_1


Sudah hampir satu bulan berjalan. Kini sang anak buah mengabarkan bahwa rupanya mantan istri serta putri kecilnya itu sudah meninggal dunia.


Anggita sudah menikah dengan seorang pengusaha kaya raya. Mereka bertemu di sebuah tempat hiburan malam beberapa bulan lalu. Namun naas, Anggita dan ibunya tewas dalam sebuah insiden kecelakaan pesawat yang membawanya menuju ke luar negeri beberapa bulan lalu.


Menurut sang anak buah, tidak ada satupun yang selamat dari insiden kecelakaan itu. Semua tewas dalam kondisi mengenaskan. Termasuk mantan istri dan putri dari Bharata. Sang anak buah bahkan mengirimkan beberapa foto seorang wanita dalam kondisi masih sehat serta kondisi mayat ketika ditemukan dalam kecelakaan tersebut.



Barata nampak sesak. Sejak tadi ia menatap foto seorang wanita cantik yang anak buahnya kirimkan itu. Entah mengapa ada rasa tidak percaya dalam dirinya. Apa benar ini putrinya? Sejak kecil saat usia Anggita masih beberapa bulan hingga sekarang Bharata belum pernah sama sekalipun menemui putri kecilnya itu. Sehingga ia tidak tahu, seperti apa wajahnya sekarang.


Tapi jika melihat foto yang dikirimkan oleh anak buahnya ini, entah mengapa sebagai seorang ayah ia merasa ragu.


Bharata membuang nafas kasar. Diusapnya layar ponsel bergambar wanita cantik itu.


"Apa benar kau sudah meninggal, nak? Kenapa rasanya papa tidak percaya dengan hal ini. Apakah ini hanya karena Papa terlalu merindukanmu? Entah kenapa Papa merasa yakin bahwa sebenarnya kau dan ibumu masih hidup."


"Jika benar kau masih hidup, maka tunjukkanlah pada papa. Berikan Papa petunjuk, di mana keberadaanmu sekarang. Papa hanya ingin memelukmu, nak. Papa hanya ingin mengusap wajahmu. Papa merindukanmu. Sangat merindukanmu.." ucap Barata dengan setitik air mata menetesi pipinya.


Ceklek....


Pintu terbuka,


Seorang pemuda tampan masuk ke dalam ruangan itu dan mendekati Bharata.


"Pa..." ucap Arkana.


Bharata tak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil mengusap setitik air mata yang menetes di pipinya.


"Papa kenapa?" tanya Arkana yang kini sudah berdiri di samping ayahnya.


Bharata tersenyum.


"Nggak apa apa. Papa nggak apa apa kok" ucap Bharata sembari meletakkan ponsel yang menampakkan gambar gadis cantik yang diduga putrinya itu si atas meja.


Arkana yang sudah mendengar cerita tentang kabar kematian ibu dan adiknya dari sang ayah itu kemudian menatap layar ponsel tersebut. Ia nampak menghela nafas panjang. Digerakkannya tangan kekar itu menyentuh pundak sang ayah


"Udahlah, Pa. Kalau memang ibunya dan adik aku udah nggak ada. Ya, kita doakan aja mereka tenang di sisi Tuhan." ucap Arkana menenangkan.


Bharata mengubah posisi duduknya. Meletakkan kedua lengannya di atas meja lalu menggunakannya sebagai tumpuan kepalanya.


"Papa cuma sedih aja. Papa belum sempat melihat wajah adik kamu, Ka. Papa pengen meluk dia..." ucap Bharata sembari menatap nanar lurus ke depan.


Arkana mengusap usap punggung sang ayah. Ia kembali coba menenangkan laki-laki dewasa itu. Dalam hatinya Arkana juga sedih. Tapi mau bagaimana lagi, Tuhan sudah mengambil ibu dan adiknya sebelum ia bisa bertemu dengan mereka.


...----------------...


Selamat malam....

__ADS_1


up 19:01


Yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰


__ADS_2