
Sore menjelang, di coffee shop milik Arkana. Wanita berhijab putih yang kini duduk bersama dua orang pria di sebuah bangku itu nampak meremas jari jari tangannya. Perasaannya tak karuan. Ada rasa takut, gugup, dan khawatir yang bergejolak dalam dirinya.
Arkana dan Gio yang melihat gerak-gerik Xena pun nampak saling pandang untuk beberapa saat.
"Xena, jangan khawatir. Semua akan baik baik aja, kok. Tante Maya sebenarnya orang baik. Cuma masa lalunya aja yang membuat mentalnya terganggu. Sekarang dia udah punya keluarga yang utuh. Gue yakin dia pasti mau nerima lo," ucap Gio mencoba menenangkan wanita yang kini tengah dekat dengannya itu.
"Iya. Lagian nanti kan lo nggak ngomong berdua doang ama Mama. Ada Papa gue yang nemenin. Jadi aman!" tambah Arkana.
Xena menatap dua sahabat itu bergantian.
"Semangat, Sister!" tambah Arkana sembari mengangkat satu tangannya yang mengepal seolah memberikan semangat untuk wanita yang merupakan anak kandung dari ibu sambungnya itu.
Xena hanya tersenyum. Sedangkan Gio nampak berdecih mendengar ucapan sang sahabat. Sok asik banget tuh orang, batin Gio meledek sahabatnya.
Xena hanya tersenyum. Ia lantas kembali menyeruput minuman dingin di hadapannya guna sedikit menenangkan kegugupannya.
"Kita berangkat sekarang aja gimana?" tanya Arkana.
"Kalian kan masih harus kerja?" ucap Xena.
"Gampang! Cafe bisa kita titipin dulu ama anak anak. Yang penting lo ketemu Mama dulu. Biar semuanya cepet clear!" ucap Arkana.
"Gue setuju!" tambah Gio.
Xena diam sejenak seolah tengah berfikir. Wanita itu kemudian mengangguk.
"Ya udah deh, terserah kalian aja!" ucap Xena kemudian.
Arkana dan Gio mengangguk. Keduanya lantas bergegas bangkit dari tempat duduknya dan segera pergi meninggalkan tempat itu menuju kediaman Arkana.
Dua motor melesat menembus padatnya jalan raya ibu kota. Arkana menunggangi kendaraan roda dua itu seorang diri, sedangkan Gio mengikuti di belakangnya sembari berboncengan dengan perawat cantik itu. Kurang lebih sepuluh menit berselang, ketiga anak muda yang nyaris seumuran itu sampai di kediaman megah milik Arkana dan orang tuanya. Ketiganya turun dari kendaraan masing masing.
__ADS_1
Xena beberapa kali menarik nafas panjang. Mencoba menetralkan kegugupannya yang hendak bertemu sang ibu kandung.
Gio dan Arkana mendekat.
"Masuk, yuk!" ucap Arkana.
Xena yang berada di tengah tengah Arkana dan Gio pun nampak menoleh ke arah dua pria itu bergantian.
"Aku gugup..." ucap wanita itu.
Gio tersenyum. Tangannya tergerak mengacak acak lembut pucuk kepala gadis berhijab itu.
"Nggak apa apa. Semua akan baik baik aja. Kan gue temenin lo!" ucap laki laki itu.
Xena menghela nafas panjang. Wanita itu lantas mengangguk. Ketiganya lantas masuk ke dalam rumah itu untuk menemui Maya.
Ceklek...
Arkana dan Gio tersenyum. Xena nampak menunduk. Dilihatnya disana, sepasang suami istri nampak duduk di salah satu sofa ruang tamu itu, seolah memang tengah menunggu kedatangan tiga pemuda pemudi itu.
"Pa, Ma..." ucap Arkana sembari mendekati kedua orang tuanya. Diraihnya punggung tangan Bharata ada Maya dan menciumnya sebagai tanda bakti. Hal tersebut pun diikuti oleh Xena dan Gio yang berada di belakang Arkana.
Xena bergetar mana kala keningnya bersentuhan langsung dengan kulit Maya. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dan sepertinya, Maya juga merasakan hal yang sama.
Bharata mempersilahkan ketiga muda mudi itu untuk duduk. Ketiganya pun menurut. Xena duduk paling dekat dengan Maya dan Bharata, sedangkan Arkana dan Gio berada di samping wanita itu. Sejak tadi gadis itu hanya menunduk. Maya mengamati paras ayu itu dengan seksama. Senyuman lembut terbentuk dari bibirnya manakala netra lentiknya menatap gadis muda berkerudung putih itu.
"Ini siapa? Temannya Arka?" tanya Maya. Xena terdiam. Kedua pasang mata ibu dan anak itu nampak saling terkunci satu-satunya lain. Betapa bahagianya Xena bisa berhadapan langsung dengan wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu, meskipun kini wanita yang baru keluar dari rumah sakit jiwa itu belum menyadari akan hal itu.
Bharata tersenyum lembut. Ia menyentuh pundak sang istri dengan lembut.
"Sayang," ucap pria itu.
__ADS_1
Maya menoleh. "Ya..." jawabnya.
"Aku pernah bilang kan sama kamu, Aku ingin kita memulai semua dari awal. Kita perbaiki yang sudah rusak dulu, dan menjalani kehidupan rumah tangga yang baru dengan penuh kejujuran dan keikhlasan. Ikhlas menerima semua yang sudah terjadi diantara pada kita di masa lalu, serta melangkah ke depan bersama-sama tanpa ada yang ditutup-tutupi dan disembunyikan."
Maya mengangguk.
"Sayang, Kita pernah membahas tentang anak kamu yang sudah meninggal itu, kan?" tanya Bharata.
Maya menggangguk.
"Kamu bilang, kamu melempar bayi yang baru kamu lahirkan itu ke dalam sebuah sungai yang mengalir. Kamu bilang, anak itu mati bersama kenanganmu dengan mantan kekasihmu, serta sebuah cincin yang pernah dia berikan padamu."
"Aku juga pernah bertanya padamu, apa kamu menyesal sudah membuang anak itu? Dan kamu menjawab, iya!"
"Aku bertanya lagi, andai Tuhan masih memberinya umur dan kamu dipertemukan lagi dengan anak itu, apa yang ingin katakan, lalu apa jawabanmu dulu?" tanya Bharata.
"Aku ingin memeluknya dan meminta maaf. Aku akan membesarkannya dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Aku akan berlutut mencium kakinya jika itu perlu. Aku menyesal sudah membuangnya. Aku menyesal sudah membunuh darah dagingku. Aku yang bodoh. Aku yang salah. Aku yang terlalu percaya pada laki-laki itu. Aku yang tergoda oleh bujuk rayu laki-laki itu. Dia tidak salah. Dia tidak tahu apa-apa. Dia tidak tahu menahu tentang masa laluku dengan laki-laki itu. Tidak sepantasnya dia menanggung amarahku. Tidak sepantasnya dia menghadap Tuhan terlebih dahulu tanpa memberinya kesempatan untuk hidup dan melihat dunia. Jika aku bertemu dengan anakku, maka aku akan bersujud hingga ia benar-benar menerimaku dan memaafkanku. Tapi bukankah itu sudah tidak mungkin lagi? Dia sudah menghadap Tuhan. Dimana dia, dimana kuburnya, dimana jasadnya, aku tidak tahu. Aku ibu yang bodoh. Aku ibu yang durhaka!" ucap wanita itu dengan air mata banjir. Ia menangis pilu tepat di hadapan Xena yang nampak sesak. Gio yang melihat kesedihan gadis pujaannya itu lantas menggerakkan tangannya, memberikan kekuatan pada wanita berparas manis itu.
Bharata tersenyum. "Tuhan Maha Memberi Kesempatan. Tuhan Maha Penyayang. Dan Tuhan Maha Pemberi Ampunan," ucap Bharata.
"Lihatlah gadis di sampingmu," tambah Bharata.
Maya menoleh ke arah Xena. Gadis itu nampak menitikkan air matanya.
"Putrimu sudah besar. Tuhan menyelamatkannya. Dia masih ingin melihatmu memeluknya dan mencium keningnya. Menemaninya, dan membahagiakannya selayaknya seorang ibu pada anaknya," ucap Bharata.
Maya tak bergerak.
"Sayang, dia anakmu. Xena Adara..."
Degghh...
__ADS_1
...----------------...