
"Anggi..!!" ucap Arkana dengan dada yang berdebar tak menentu. Tangannya tergerak hendak menyentuh tanda lahir di dada Saras namun tangan itu seolah begitu lemah, tak mampu menjangkau tanda lahir berwarna hitam itu. Sungguh, tanda itu sangat mirip dengan yang ayahnya katakan.
Arkana mengembun. Air matanya menetes. Mungkin ini adiknya. Anak buah ayahnya mungkin berbohong. Foto wanita yang berada di dompetnya saat ini itu bukanlah foto adiknya. Itu palsu..!
Ya, pasti begitu..! Arkana yakin dengan pemikirannya kali ini..!
Laki laki itu kemudian bangkit. Ia celingukan. Ia ingin memastikan semuanya. Ia mengedarkan pandangannya mencari tas Sarah. Ia ingin melihat kartu tanda pengenal milik wanita itu.
Gio yang sudah bersiap untuk mengeksekusi Saras itu nampak bingung dibuatnya.
"Lu kenapa sih, c*k?!" tanya Gio yang sudah bertelanjang dada itu.
Arkana mendongak. Ia nampak menangis.
"Tas Saras..! Tas Saras mana..?!!!" ucap Gio memburu.
Gio bingung.
"Tas Saras? Buat apa?" tanya laki-laki berambut gondrong itu.
"Tas Saras mana?!! Gue butuh tas Saras sekarang, c*k..!!" ucap Arkana begitu menggebu gebu.
Gio yang sedikit bingung pun berbalik badan. Meraih tas milik Saras yang tergeletak di samping sofa lalu menyerahkannya pedas Arkana. Arkana dengan segera merampas tas itu, membukanya, lalu mencari dompet milik Saras.
Dompet pun dibuka. Dan.....
Degghh....
Nama lengkap, tempat tanggal lahir, golongan darah, semuanya sama. Sama persis seperti yang ayahnya ceritakan pada Arkana.
Laki laki itu makin bergetar tak karuan. Ia menemukan adiknya. Wanita yang kini tergeletak itu adalah adiknya. Dia yakin itu. Saras adalah adiknya, tidak salah lagi..!
Arkana menangis. Antara haru, sedih, dan bahagia, semua bercampur menjadi satu. Membuat Gio pun makin bingung karenanya.
"Lu kenapa sih? Lu kenapa nangis?" tanya Gio.
Arkana menoleh ke arah sahabatnya itu. Dengan perasaan yang tak menentu, tangannya menunjuk ke arah Saras, sedangkan matanya menatap nanar ke arah Gio. Seolah menggambarkan betapa bahagia dan terharunya ia saat ini.
"C*k, lu lihat..! Lihat KTP ini..! Nama, tanggal lahir, semua sama kayak Anggi. Dan tanda lahir itu, di dada Saras, itu sama persis kayak yang bokap gue ceritain..!" ucap Arkana dengan air mata mengalir deras.
Gio masih bingung.
"Maksudnya apa?!" tanyanya.
"C*k, dia adik gue..! Saras adik gue..! Dia Anggi..! Dia yang selama ini gue cari cari..!!!" ucap Arkana dengan sambil menangis.
Gio membuka mulutnya. Ia bingung. Diraihnya kartu tanda pengenal yang berada di tangan Arkana, lalu mengamatinya.
"Berbulan bulan gue nyari dia. Puluhan tahun gue terpisah dari dia..! Sekarang gue berhasil ketemu ama dia. Dia Anggi, c*k, dia adek gue..!!" ucap Arkana bahagia. Ia menatap Saras yang masih tak sadarkan diri itu dengan sorot mata haru. Didekatinya sang wanita malang. Arkana nampak tersenyum.
"Dek, kita pulang ya...." ucap laki laki itu. Ia kemudian menggerakkan tangannya. Hendak menyentuh wajah wanita yang sudah hampir telanj*ng di bagian atasnya itu. Namun tiba-tiba...
.
__ADS_1
.
.
.
Plaakk...!
Arkana menoleh. Gio menampik tangannya seolah tak mengizinkannya menyentuh kulit wanita yang sudah susah payah diculik oleh Gibran itu. Arkana menyipitkan matanya.
"Minggir..!" perintah Gio pada Arkana.
Arkana bangkit. Sepasang sahabat itu lantas saling menatap dalam posisi berhadap-hadapan.
"Maksudnya apa? Gue mau bawa adik gue pergi dari sini" tanya Arkana.
Gio mengangkat dagunya.
"Jangan g*blok lu..! Dia bukan adik lu..!" ucap Gio.
"Dia adik gue..! Buktinya udah jelas..!" ucap Arkana keukeuh dengan pendiriannya.
"Bukti apa?! Semua ini nggak bisa dijadiin bukti, Ka..! Orang yang punya tanda lahir kayak gitu, banyak..! Orang yang punya nama yang sama kayak gini juga banyak..! Lu nggak bisa mengambil kesimpulan gitu aja..! Dia bukan adik lu, dia istrinya orang gila, dan gue nggak ngijinin lu bawa dia pergi dari sini..!!" ucap Gio mulai emosi.
"Gio, sadar..! Hati lu udah ketutup dendam..!" ucap Arkana mencoba menahan emosinya meskipun suaranya kini juga terdengar mulai meninggi.
"LU YANG HARUSNYA SADAR..! Adik lu udah mati..! Dia bukan adik lu...! Dia cuma pelac*r yang menjual dirinya buat jadi istri orang gila..!! ADIK LU UDAH MATI..!!" teriak Gio tak terkendali.
"DIAM, BANGS*T...!!!"
Gio menatap penuh kebencian ke arah Arkana yang seolah tidak bisa mengerti keadaannya. Betapa ia sangat membenci Saras beserta suaminya yang sudah menjadi aktor utama pembunuhan kedua orang tua serta adiknya. Laki-laki yatim piatu itu terlihat kecewa. Di saat ia ingin mengajak Arkana bersenang-senang, sahabatnya itu justru berusaha menghalangi niatannya dengan mengaku-ngaku sebagai kakak kandung dari Saras. Sungguh, Gio geram dibuatnya.
Gio meraih kerah jaket Arkana, lalu mendorongnya menjauh dari Saras seolah memintanya untuk keluar dari gudang itu.
"Pergi lu...! Gue nggak butuh lu..!!" usir Gio penuh emosi. Arkana tak mau kalah. Ia menampik tangan sahabatnya itu dengan kasar seolah tak menghiraukan ucapan dari laki-laki berambut gondrong itu.
"Gua akan pergi, tapi dengan Saras..!" ucap laki-laki itu kemudian berbalik badan dan kembali mendekati wanita yang masih tak bergerak tersebut. Namun baru selangkah ia mengayunkan kakinya, tiba-tiba...
Seettt....
Buughh...
Sebuah tinjuan sekuat tenaga mendarat di wajah Arkana. Dia meninju pipi dari sahabatnya sendiri, membuat laki-laki berjambang tipis itu pun terpelanting dan jatuh tersungkur di lantai.
"Kalau lu mau pergi, pergi aja..! Gua nggak butuh pengecut kaya lu..! Tapi jangan pernah berani-beraninya lu sentuh perempuan itu..! Dia milik gua..!" ucap Gio sembari menunjuk ke arah Saras.
Arkana bangkit ia mengusap darah yang mengalir di ujung bibirnya menggunakan tangan kanannya.
"Jangan mimpi lu...! Gue nggak akan ngizinin lu berbuat kurang aj*r ama Saras..!" jawab Arkana dengan emosi yang mulai naik.
"Bac*t.....!!!!"
Dan...
__ADS_1
Buughh..!
Pertarungan pun terjadi antara Arkana dan Gio. Sepasang sahabat itu saling adu jotos. Saling pukul. Saling menyerang. Saling melukai satu sama lain. Seolah ingin menumbangkan sahabat mereka sendiri. Keduanya seolah lupa, siapa yang tengah menjadi lawan mereka. Sedekat apa hubungan mereka beberapa menit yang lalu sebelum terjadi baku hantam ini.
Sungguh sepasang sahabat itu terjebak dalam situasi yang tidak pernah mereka harapkan sebelumnya. Arkana adalah seorang laki-laki yang sangat merindukan sosok adik kandungnya. Ia berusaha melindungi wanita yang kini tak sadarkan diri itu dari tindakan kurang aj*r Gio. Sedangkan Gio, ia adalah pemuda yatim piatu yang sudah kehilangan orang tua dan adiknya. Ia ingin membalaskan dendamnya pada suami dari wanita yang kini tengah dalam pengaruh obat bius itu. Tapi Arkana justru seolah menghalangi niatannya untuk balas dendam melalui Saras.
Ia tak suka..! Ia tak terima..! Ia tak mau rencana yang sudah ia susun dengan sangat matang itu hancur hanya karena ulah kekanak-kanakan dari Arkana.
Baku hantam terus berlanjut. Baik Gio maupun Arkana kini sama-sama babak belur. Keduanya sama-sama kuat. Keduanya sama-sama hebat. Seolah tak ada yang menang ataupun yang kalah di antara keduanya.
Buughh....
"Ahh..!" tubuh yang sudah bertelanjang dada itu nampak terpental, membentur dinding gudang yang nampak berjamur itu. Wajahnya sudah berubah penuh memar di sisi kanan dan kiri .Gio meringis kesakitan.
Arkana ngos-ngosan. Ia berjalan gontai mendekati sang sahabat. Sorot matanya nanar penuh kesedihan. Ia bahkan terlihat menangis. Sungguh, ia sebenarnya tak mau melakukan hal ini. Tapi Gio begitu keras kepala. Ia tak bisa diberitahu dengan cara yang baik-baik. Membuatnya terpaksa melakukan hal ini untuk menyadarkan sahabatnya itu.
Gio bangkit. Ia belum menyerah.
"C*k, udah..! Gua capek..! Gua nggak mau kita berantem kayak gini..!" ucap Arkana seolah memohon untuk berhenti.
"LU YANG MULAI ANJ*NG..! LU YANG MULAI SEMUANYA...!! INI SEMUA GARA-GARA LU..! BANGS*T..!!" teriak Gio emosi. Ia lantas kembali berlari mendekati Arkana. Perkelahian sepasang sahabat itu belum juga selesai. Keduanya kembali saling pukul. Saling hantam satu sama lain seolah ingin menumbangkan sahabatnya sendiri.
Arkana menangis sambil terus mengajar Gio. Sedangkan Gio yang dikuasai amarah juga tak mau kalah. Ia terus melayangkan pukulan, tinjuan, dan tendangannya pada laki-laki yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri itu. Hingga..
Buughh....
Terjatuh lagi...! Kini Arkana yang nampak meringkuk di atas lantai yang kotor itu. Ia meringis, sambil menangis. Gio yang sudah babak belur itu kemudian berjalan mendekati Arkana.
"Puluhan tahun gue sama lu saling kenal..! Gue udah nganggap lu seperti keluarga gua sendiri, anj*ng..! Gua kira lu bakal dukung gua..! Gue kira lo akan selalu ada di pihak gua..! Tapi ternyata apa?!! Lu lihat gua..!!! Gua nggak punya siapa-siapa gara-gara suami perempuan sialaan itu..!" ucap dia membentak di akhir kalimatnya.
"Dan sekarang disaat gue udah mendapatkan perempuan itu, di saat gua ingin membalaskan dendam gue, lu datang sebagai pahlawan...! Lu datang dan berusaha menghancurkan segalanya..! Lu bilang dia adik lu yang udah mati..! ANJ*NG EMANG LU, T*I..!!" tambah Gio makin emosi.
Arkana meringis. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Harusnya gue nggak pernah ngajak lu ke sini, bangs*t..! Lu emang bukan sahabat gua..! Gua kecewa sama lu..!!" pekik Gio sembari mengayunkan kakinya hendak kembali melayangkan sebuah tendangan ke wajah Arkana. Namun tiba-tiba...
Buughh...
Sebuah kaki kekar menghantam tulang rusuk sebelah kiri pria berambut gondrong itu. Membuat Gio pun kembali terpelanting jatuh ke lantai kotor itu. Arkana yang masih tergeletak di lantai itupun mendongak kaget. Begitu juga Gio yang reflek menoleh ke arah sosok baru yang tiba-tiba muncul itu.
.
.
.
.
"Pada mau main bunuh-bunuhan? Kok gue nggak diajak?"
...----------------...
Selamat malam...
__ADS_1
Up 18:58
yuk, dukungan dulu 🥰😘