Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
72


__ADS_3

Malam menjelang,


Di sebuah rumah mewah kediaman Bharata dan keluarga kecilnya.


Maya turun dari lantai atas rumah mewah itu sambil membawa sebuah kunci mobil di tangannya. Ia kemudian mendekati sepasang ayah dan anak yang kini tengah berbincang di ruang keluarga rumah mereka. Ya, di hari pertamanya bekerja ini, Arkana sengaja pulang sore. Ia yang biasanya pulang tengah malam, bahkan lebih itu memilih untuk pulang lebih awal hari ini. Ia tak mau mamanya yang bisa dibilang amat cerewet itu khawatir dengan kondisinya.


"Mas...." ucap Maya yang sepertinya hendak pergi keluar itu.


Bharata dan Arkana menoleh. Dilihatnya di sana Maya nampak berdiri di samping sofa yang mereka duduki. Wanita itu menggunakan jaket tebal yang membungkus baju santainya sembari menantang sebuah kunci mobil di tangannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Bharata.


"Aku mau ke minimarket bentar. Ada yang mau aku beli" ucap Maya.


"Mau aku antar?" tanya Bharata.


Maya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Nggak usah. Aku sendiri aja..!" ucap Maya.


Bharata tersenyum. Wanita itu kemudian meraih punggung tangan sang suami lalu menciumnya.


"Aku pergi dulu ya, mas, sayang. Assalamualaikum..." ucap Maya pada kedua pria beda usia itu tanpa mengubah senyumannya yang lembut.


"Wa Alaikum salam" jawab Bharata dan Arkana.


Maya pun berbalik badan. Ia pun berjalan menuju pintu utama rumah tersebut. Wanita itu lantas masuk ke dalam salah satu mobil mewah yang terparkir di halamannya, kemudian melesatkan kendaraan tersebut pergi dari rumah megah bak istana itu.


Maya berkendara dengan tenang. Fokus matanya menatap lurus ke depan. Kesan anggun, keibuan, dan bersahaja terlihat jelas dari raut wajahnya. Ia mengemudikan kendaraannya itu menembus jalanan ibukota yang mulai lengan.


Tak lama ia berkendara, wanita itu lantas menghentikan mobilnya di depan sebuah halte yang berada di pinggir jalan. Dimana seorang pemuda ber-hoodie hitam nampak duduk di barisan kursi halte itu, tepat di samping sebuah motor besar yang terparkir disana.


Mobil milik Maya berhenti, masih dengan mesin yang menyala. Pemuda yang sejak tadi menyembunyikan wajahnya di balik kupluk hoodie nya itu kemudian bangkit, membuka pintu kursi samping kemudi lalu masuk ke dalam kendaraan yang Maya kendarai itu.



Laki laki itu, Gio, nampak menoleh kearah Maya yang duduk di sampingnya. Saat itu juga, wajah tenang keibuan yang sejak tadi wanita itu tampilkan dalam hitungan detik lenyap, berubah menjadi wajah penuh kebencian. Netra nya menatap tajam ke depan tanpa senyuman dan tanpa ucapan sedikitpun.


Maya menggerakkan tangannya merogoh saku jaketnya. Ia meraih sebuah ponsel miliknya kemudian menghubungi sebuah nomor yang sangat ia kenal.


Tutt..tutt..tutt....


"Halo, bos" ucap seorang pria dari seberang sana.


"Mundur..! Berhenti mengikuti wanita itu. Kalian sudah terendus..! Pergi sejauh mungkin, dan jangan menampakkan diri kalian sebelum kondisi aman..!" ucap wanita itu dingin dan mengerikan. Gio hanya diam mendengarkan. Sedangkan matanya menatap tajam ke depan.


"Baik, bos..!" ucap seorang pria dari seberang sana.


Maya tak menjawab. Ia kemudian mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, lalu meletakkan salah satu dari dua benda pipih miliknya itu di atas dasbor mobil nya.


Maya kembali merogoh saku jaketnya, mengeluarkan satu bungkus rokok, mengeluarkan isinya sebatang, menyalakannya, kemudian menikmatinya. Sebuah aktivitas yang hanya ia tampilkan di saat-saat tertentu. Tentunya, di belakang Bharata dan Arkana.


Maya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kemudi itu tanpa mengubah arah pandangnya yang terus menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Aku sudah menarik mundur semua anak buahku. Sekarang giliranmu, Gio. Aku memberikan tempat untukmu untuk membalaskan dendam pada pembunuh adikmu" ucap Maya sembari menoleh ke arah Gio.


Gio menoleh ke arah ibu dari sahabatnya itu.


Ya, Gio dan Maya bekerja sama. Sehari setelah insiden pemukulan yang Gio lakukan pada Dion hingga berujung masuknya Dion ke rumah sakit. Di suatu malam, Maya datang menemui Gio. Dia menawarkan sebuah kerjasama. Membantu pemuda itu untuk membalaskan dendam pada pria yang diduga sebagai pembunuh dari adik kandung Gio tersebut. Sebuah penawaran yang pada awalnya cukup membuat Gio terkejut. Namun Maya mengatakan bahwa ia ingin membantu pemuda itu karena merasa kasihan padanya lantaran semua anggota keluarganya mati di tangan Dion dan ayahnya.


Dengan segala ucapan manis, lembut, namun menghasut yang Maya berikan, membeberkan semua borok tentang Dion dan ayahnya serta membuka lagi luka masa lalu antara Dion dan Gio, membuat Gio pun akhirnya terpengaruh. Ia pun bersedia menerima tawaran Maya untuk bekerja sama membalaskan dendam pada Dion.


Jadi, sebenarnya siapa Maya itu....


Mari kita bahas...!!


Nama lahirnya adalah Rihanna. Dia seorang wanita muda yang terlahir dari keluarga sederhana. Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Sedangkan ayahnya adalah seorang pegawai bank kala itu. Maya atau dulu bernama Rihanna adalah seorang wanita muda yang cukup berprestasi. Iya kuliah di sebuah universitas ternama di negeri itu. Mengambil jurusan pendidikan.


Parasnya cantik, tutur katanya lemah lembut, manis, dan cukup polos. Menjadi seorang guru adalah cita-citanya sejak kecil.


Suatu ketika, Maya bertemu dengan seorang laki-laki tampan bernama Malvino. Laki-laki itu mengaku sebagai seorang pengusaha. Mereka bertemu di sebuah Cafe tempat di mana Maya dulu bekerja paruh waktu sembari mengenyam pendidikannya di bangku kuliah.


Seringnya bertemu membuat cinta diantara keduanya pun bersemi. Maya punmenjalin hubungan dengan Malvino. Manis, perhatian, penuh kasih sayang, adalah sifat dan perilaku yang selalu Malvino tunjukkan pada Maya. Membuat rasa sayang wanita itu pada si pria pun kian hari kian membuncah. Keduanya pun bahkan sudah sempat merencanakan pernikahan. Maya sudah terlanjur cinta mati pada pria yang sejak awal menjalin hubungan tidak pernah memperkenalkan wanita itu pada keluarganya. Membuat wanita berprestasi namun polos itu dengan bodohnya menyerahkan kehormatannya kepada Malvino sebelum adanya ikatan pernikahan. Malvino berjanji akan menikahi wanita itu. Maya pun menurut saja lantaran ia memang sudah terlanjur jatuh cinta pada laki-laki yang selalu bersikap manis padanya itu.


Hingga pada suatu ketika, Maya mengetahui sebuah rahasia yang selama ini Malvino sembunyikan. Malvino adalah seorang ketua dari sebuah komplotan perampok yang cukup dikenal di negara itu. Hal itu pun membuat Maya terkejut. Malvino yang sudah mengetahui bahwa kedoknya selama ini terbongkar oleh Maya itu pun kemudian perlahan mulai menunjukkan sifat aslinya.


Malvino yang manis, yang perhatian, yang penuh kasih sayang, berubah menjadi Malvino yang bengis dan menyeramkan. Perlakuan kasar sering Maya terima dari laki-laki itu meskipun keduanya belum terikat pernikahan.


Malvino bahkan sempat menyekap Maya. Memperlakukan Maya selayaknya budak pemuas nafsunya. Menjamah wanita itu secara paksa dan dan menyakitkan. Hingga pada suatu ketika, muncul lah ucapan dari Malvino, bahwa ia menginginkan seorang bayi laki-laki dari rahim Maya. Maka setelah itu ia berjanji akan menikahi Maya dan membahagiakannya. Maya hanya bisa pasrah dan menurut. Ia menyerahkan tubuhnya pada Malvino secara cuma-cuma lantaran memang sudah terlanjur tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah masuk dalam cengkeraman Malvino dan sudah tidak memiliki celah untuk keluar dari sana.


Singkatnya, Maya hamil hingga melahirkan anak dari Malvino. Namun sayang, buah hati yang dilahirkan Maya bukanlah laki-laki seperti yang Malvino inginkan. Melainkan seorang bayi perempuan.


Malvino tidak butuh anak perempuan. Dia butuh anak laki-laki sebagai penerusnya.


Sakit?


Jelas..!!


Kecewa, marah, muak, semua bercampur menjadi satu. Dendam berkobar dalam dada Maya saat itu juga. Ia bersumpah akan membalas semua rasa sakit hatinya. Menghancurkan Malvino beserta orang-orang di sekitarnya. Tidak akan pernah ada kata bahagia untuk laki-laki itu selama Maya masih bernafas dan hidup di bumi ini. Wanita polos yang sopan dan santun itu menjelma menjadi iblis yang mengerikan. Kehidupannya yang tenang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi penuh kebencian dan dendam.


Maya menggila. Iblis merasuki jiwa dan hatinya. Bayi yang baru saja dilahirkannya pun dibunuh saat itu juga oleh tangannya sendiri. Maya masuk ke dunia hitam. Menjadi seorang wanita malam, mencuri, menipu, menguras harta para pria-pria penjajah jasa kenikmatan semalam nya.


Hingga singkatnya, beberapa tahun kemudian wanita itu menjelma menjadi seorang pengusaha kaya raya. Ia mengubah nama Rihanna menjadi Maya. Sedangkan dendam masih membara bahkan tak pernah luntur meskipun bertahun-tahun lamanya.


Hingga pada suatu ketika, Maya merasa sudah memiliki kemampuan untuk membalaskan dendam itu pada Malvino.


Maya melihat kesempatan, di mana Malvino tengah terpuruk. Laki laki masuk penjara meninggalkan seorang anak laki-laki yang rupanya hasil hubungannya dengan wanita entah siapa itu. Hal itu pun tidak di sia-siakan oleh Maya. Wanita itu datang mendekati anak Malvino sebagai seorang guru baru di sekolahnya. Di sekolah itu, ia menggunakan nama Rihanna sebagai kedoknya. Wanita itu juga sedikit mengubah penampilan nya jika berada di dalam area sekolah.


Pertama, perhatian dan kasih sayang ia tunjukkan pada Dion yang kala itu tengah rapuh lantaran menjadi korban bullying oleh teman-temannya.


Wanita itu kemudian merayu Dion untuk ikut dengannya dan tinggal bersama wanita itu. Singkatnya, Diin yang memang tak punya siapa-siapa kala itu pun menurut. Maya diam-diam merawat Dion tanpa sepengetahuan guru dan warga sekolah tempat ia mengajar. Hanya kepala sekolah yang kala itu ia suap untuk tutup mulut agar ceritakan di mana diam saat ini berada pada khalayak ramai. Kepala sekolah itu hanya diminta untuk mengatakan pada Malvino bahwa Dion aman bersama seorang guru baik hati yang menjaganya. Tujuannya tak lain adalah agar Malvino merasa tenang. Agar pria itu tidak melakukan hal-hal licik untuk membayar seseorang mengawasi putranya di luar penjara. Ya, Maya sangat hafal tabiat Malvino.


Di dalam cengkraman Maya, Dion dididik menjadi seorang pribadi yang bengis dan kejam. Pola-pola pikir tentang pembunuhan, balas dendam, melukai sesama untuk memuaskan hasrat yang ada dalam dirinya sengaja Maya tanamkan dalam jiwa dan pikiran Dion yang masih labil kala itu. Berbagai hasutan dan perkataan yang seolah ia gunakan untuk mencuci otak Dion terus ia tanamkan dalam hati Dion kecil. bahkan beberapa bulan sebelum alvino dinyatakan bebas Maya sengaja memberikan obat jenis tertentu untuk Dion yang berfungsi untuk melumpuhkan beberapa ingatan dalam otak Dion kecil. Agar ia tak begitu mengingat tentang Maya.


Entah bagaimana caranya, selepas Dion bebas dari cengkeraman Maya, ia seolah amnesia tentang wajah Maya, namun ajaran ajaran sesat Maya masih terpatri dalam ingatan Dion.


Hingga hasilnya, seperti saat ini, Dion menjadi seorang pria dengan trauma mental dalam dirinya. Ia menjelma menjadi pria yang bengis dan mengerikan selayaknya ajaran Maya.

__ADS_1


Maya puas, namun belum cukup puas. Ia tahu Dion adalah kelemahan Malvino. Maka ia akan menggunakan pemuda itu sebagai alatnya untuk balas dendam.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Maya masih berkutat dengan dendamnya. Hingga pada suatu ketika ia bertemu dengan seorang laki-laki baik hati bernama Bharata Seorang duda satu anak yang begitu ramah manis dan lembut, yang dulu berprofesi sebagai seorang sopir taksi.


Bharata datang, seolah memberikan kenyamanan bagi Maya si wanita korban kebengisan Malvino. Singkatnya, Maya dan Bharata menjalin hubungan hingga akhirnya dekat dan menikah. Maya resmi menjadi istri seorang Bharata. Wanita yang menjelma menjadi wanita karir yang mapan itu kemudian memfasilitasi sang suami untuk membangun sebuah bisnis di bidang jasa transportasi hingga sebesar sekarang.


Maya dan Bharata saling mencintai. Maya seolah menemukan surga dan kenyamanan ketika menikah dengan Bharata. Ditambah lagi kehadiran Arkana, pemuda manis nan baik hati yang seolah menjadi penawar bagi luka seorang Maya.


Tahun terus berganti hingga Arkana beranjak dewasa, kebahagiaan terus menyelimuti kehidupan Maya. Lambat laun mulai menutupi dendam yang wanita itu rasakan pada Malvino.


Hingga suatu ketika, Maya tak sengaja mendengar pembicaraan Bharata dengan seseorang melalui sambungan telepon. Pria itu mengatakan ia ingin bertemu dengan mantan istri dan anak perempuan Bharata yang sudah lama tidak ia temui. Hal itu pun memancing kecemburuan Maya. Ia takut jika kembali dikhianati. Ia takut jika Bharata kembali menjalin kasih dengan mantan istrinya. Hingga muncul lah niatan busuk dalam diri Maya si mantan wanita yang tersakiti.


Ia menemui anak buah Bharata yang sengaja disewa oleh suaminya untuk mencari mantan istri dan putrinya itu. Ia kemudian menawarkan kerjasama, membayar para anak buah Bharata itu sebesar tiga kali lipat dari uang yang Bharata berikan, asalkan mereka mau bekerja sama dengan Maya. Yaitu memberikan fakta-fakta palsu pada Bharata dan bekerja sebagai mata-matanya untuk mengawasi mantan istri dan anak Bharata.


Singkatnya, Maya menemukan fakta bahwa rupanya putri dari Bharata sudah menikah dengan seorang pemuda yang tak lain adalah Dion, putra dari mantan kekasihnya yang pernah melukai hatinya hingga hancur.


Dendam yang semula mulai tertutup kini kembali terbuka. Ia seolah menemukan mainan baru untuk membalaskan dendam dan sakit hatinya.


Maya kemudian meminta para anak buah itu untuk membunuh Saras beserta keluarganya.


Apa tujuannya?


Banyak..!


Yang pertama, jika Saras dan keluarganya mati, maka Bharata dan Arkana akan sepenuhnya menjadi milik Maya. Laki-laki itu tidak akan lagi mencari-cari keluarga lamanya yang sudah tidak penting itu.


Dan yang kedua, jika Saras mati, maka itu akan berhasil membuat mental Dion kembali hancur. Pemuda gila itu akan kembali menjadi gila. Dan hal itu akan membuat Malvino semakin terpuruk dan hancur.


Sekali tepuk, dua lalat mati di tangan..! Itulah rencana Maya.


Namun seiring berjalannya waktu, Maya mulai menyadari bahwa posisi anak buahnya sudah tidak aman. Malvino mengendus keberadaan para anak buahnya itu, membuat Maya pun mengatur strategi baru.


Ia mendekati Gio, kemudian membujuk pria yang merupakan musuh bebuyutan dari Dion untuk bekerja sama dengannya dengan sebuah rencana yang sudah ia siapkan.


Gio awalnya cukup terkejut melihat sikap asli Maya itu. Namun lambat laun ia mulai terbiasa. Toh, ia juga memiliki dendam dengan Dion. Dan Maya datang untuk membantunya. Maya datang untuk membantu membalaskan dendamnya atas kepergian adik dan orang tuanya yang hampir seratus persen ia yakini bahwa Dion dan Malvino lah dalang dari kepergian para keluarganya itu.


Maya hanya mencuci otak Gio yang memang sudah terlanjur membenci Dion. Namun laki-laki itu tidak tahu ada hubungan apa sebenarnya di antara Maya dan Malvino di masa lalu. Ia juga tidak tahu tentang niat buruk Maya yang ingin membunuh Saras.


Maya justru mengatakan bahwa Saras adalah mantan wanita malam yang sengaja dibeli oleh Malvino untuk memuaskan hasrat Dion. Gio percaya saja. Lantaran ia tahu bahwa dion adalah mantan pasien rumah sakit jiwa. Mana mungkin ada wanita normal yang mau menikah dengan laki-laki gila jika bukan karena harta..?! Hal itu pun membuat Gio kini mulai merasakan kebencian pada Saras. Betapa menjijikannya wanita itu, yang rela menjual tubuhnya pada pria gila hanya demi harta.


Kini sebuah rencana sudah Maya dan Gio siapkan matang-matang. Tinggal menunggu waktu yang tepat maka Gio akan menjalankan misinya. Membalaskan dendamnya, dan menghancurkan Dion pada akhirnya.


...****************...


Selamat malam...


Up 20:11


yuk, dukungan dulu


mampir sini juga ya..


__ADS_1


.


__ADS_2