
Hari terus berganti,
Kian hari kondisi Dion semakin terlihat membaik. Terhitung satu minggu sudah Dion dirawat di rumah sakit itu. Kini kondisi pria berusia dua puluh dua tahun itu kian hari semakin menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih baik. Saras sang istri tak lepas mendampingi sang suami setiap hari selama dua puluh empat jam. Saras tak pernah meninggalkan laki-laki itu. Semua keperluan Dion sudah Saras penuhi. Ia merawat sang suami dengan begitu telaten, membuat kedekatan diantara keduanya semakin hari semakin terbentuk saja.
Hal itupun membuat Malvino sang ayah seolah sudah tak memiliki tempat untuk sekedar berbincang berdua dengan putra semata wayangnya itu. Saras benar benar sudah mengambil alih atas Dion. Membuat Malvino pun kini jarang menemui putranya itu karena pasti selalu diabaikan oleh sang putra jika sudah bersama Saras.
Kini Malvino justru fokus mencari keberadaan Gio. Laki laki yang sudah membuat Dion babak belur dan masuk rumah sakit.
Satu minggu sudah Malvino mengobrak abrik kota dan tempat tinggal laki laki itu guna mencari keberadaannya, namun hingga saat ini tidak ada satupun petunjuk yang Malvino dapatkan tentang keberadaan seorang Giovani Reksa.
Gio hilang bak ditelan bumi. Keberadaannya tak terendus dan sama sekali tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Bahkan begitu sulit dilacak oleh anak buah Malvino yang notabene adalah anggota sebuah gangster yang begitu disegani di kota itu.
Malvino menaruh curiga, sepertinya ada orang lain di belakang Gio yang membantunya untuk bersembunyi. Namun siapa, ia tidak tahu. Malvino benar benar dibuat geram. Tangannya sudah sangat gatal untuk menghajar pemuda itu. Namun sampai saat ini, batang hidung Gio pun belum nampak.
Siang ini...
Di sebuah kamar rawat inap standar VVIP yang berada di salah satu rumah sakit besar di kota itu.
Saras duduk dihadapan suaminya yang nampak berdiri dengan gagah. Tepat di samping ranjang pasien ruang VVIP itu. Pintu kamar sudah dikunci dari dalam. Sepasang suami istri itu kini terlihat sibuk dengan aktifitas mereka.
"Angkat yang satu..!" ucap Saras yang berjongkok di kaki suaminya itu.
Dion menurut. Ia mengangkat kedua kakinya bergantian. Seolah memberi ruang untuk Saras memasangkan sebuah celana d*lam berwarna hitam itu di tubuh tegap seorang Dionyz Aldari Miguel.
Saras menarik kain penutup tubuh bagian bawah laki laki itu ke atas. Naik ke paha dan berhenti di bagian tengah paha Dion. Tepat di bawah sebuah benda panjang dengan dua gelambir yang nampak mencuat hingga mengenai pucuk kepala Saras.
Wanita itu terdiam sejenak. Posisinya kini tepat berada di hadapan benda panjang yang nampak menantang milik Dion.
Saras mendongak. Dion mengulum senyum. Ia nampak menggerakkan alisnya naik turun membuat Saras pun nyengir karenanya.
Saras menggelengkan kepalanya. Ia menarik lagi benda itu hingga menutup sempurna pusaka sang Dion dan membentuk sebuah gundukan yang begitu menonjol di sana.
Saras meraih celana pendek yang sudah ia siapkan. Lalu membantu mengenakannya pada tubuh sang suami. Saras sudah seperti ibu ibu yang punya anak kecil sekarang. Segala kegiatan Dion selalu minta dibantu oleh Saras. Mulai dari mandi, ganti baju, makan, dan tidur. Padahal laki laki itu sebenarnya juga bisa melakukannya sendiri.
Celana pendek sudah selesai dikenakan. Wanita itu kemudian bangkit, meraih sebuah kaos hitam di sana kemudian membantu mengenakannya pada sang suami. Dion menurut. Ia pun mengenakan kaos hitam serta jaket itu dibantu sang istri.
"Makasih.." jawab Dion tanpa melepaskan senyuman manis dari wajahnya.
Saras hanya tersenyum lalu berbalik badan. Mengikat rambut sebahunya menggunakan sebuah ikat rambut hitam disana.
Hari ini adalah hari terakhir Dion berada di rumah sakit tersebut. Dokter menyatakan bahwa Dion sudah sembuh dan mengizinkan pria itu untuk pulang hari in.i Semua urusan administrasi rumah sakit juga sudah selesai, semua barang barang Dion dan Saras yang berada di kamar itu juga sudah Saras kemasi. Kini sepasang suami istri itu tinggal menunggu dijemput oleh anak buah Malvino untuk pulang ke kediaman mereka.
Saras meraih sepotong apel yang tergeletak di atas sebuah piring di atas nakas putih itu. Itu adalah potongan buah yang tadi Dion makan. Masih tersisa sepotong disana.
Saras meraih potongan apel itu dengan tangannya.
"Abisin, tinggal satu..!" ucap Saras sembari menyodorkan buah itu ke mulut Dion. yang terdapat memainkan hp-nya itu kemudian tersenyum lalu membuka mulutnya menerima suapan terakhir dari sang istri.
Saras tersenyum. Ia kemudian memasukkan beberapa power bank dan kabel charger ke dalam tas ransel kecil miliknya.
Tok..tok..tok...
Pintu kamar diketuk dari luar.
Saras dan Dion menoleh ke arah sumber suara. Saras lantas berjalan mendekati pintu yang dikunci dari dalam tersebut kemudian membuka nya.
Ceklek...
Sesosok pria tampan bertato nampak berdiri di balik pintu itu dengan raut wajah datar dan dingin.
Ya, itu Jason..! Anak buah kepercayaan Malvino.
"Mobil sudah siap" ucap Jason singkat.
Saras mengangguk.
"Kita juga udah siap" jawab Saras.
Jason mengangkat dagunya.
__ADS_1
"Biar ku bantu membawakan barang barang kalian." ucap Jason.
Saras tersenyum, lalu mengangguk.
"Oke.." jawabnya.
Kedua pria wanita itu kemudian masuk ke dalam ruang rawat inap tersebut. Jason mengambil alih sebuah tas ransel berukuran sedang di atas nakas dan membawanya. Pria itu berjalan dengan teman di belakang sepasang suami istri nampak terus bergandengan sambil bercanda di sepanjang perjalanan itu.
Jason mengulum senyum samar. Semenjak datangnya Saras, Dion memang mengalami banyak perubahan. Jason tak pernah melihat Dion tertawa seriang dan selepas ini di tempat umum. Jangankan tertawa, bertemu dengan orang asing saja Dion enggan...!
Sungguh, banyak hal positif yang terjadi pada diri Dion semenjak kehadiran Saras.
Jason, Saras dan Dion pun masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan rumah sakit itu. Laki laki bertato itu kemudian mengambil alih kemudi setelah meletakkan tas ransel yang ia bawa tadi di bagasi mobil.
Kendaraan roda empat itupun melesat meninggalkan tempat tersebut. Sepanjang perjalanan, sesekali Jason nampak melirik ke belakang melalui kaca spion bagian dalam mobil itu.
Dilihatnya di sana, Saras dan Dion tengah duduk berdampingan di sana. Wanita cantik itu nampak begitu manja di samping sang suami. Ia nampak sesekali menyadarkan kepalanya di pundak Dion sambil memainkan kuku-kuku jari sang laki-laki yang dipenuhi dengan gambar bintang dan hati hasil karya Saras sendiri. Celotehan celotehan tak penting juga Saras lantunkan, dan dibalas dengan jawaban jawaban sekenanya dari Dion. Membuat komunikasi antara Dion dan Saras tak pernah berhenti sepanjang perjalanan.
Ya satu yang selalu Saras terapkan ketika bersama Dion adalah, ia ingin membesarkan hati laki-laki itu. Ia ingin menanamkan rasa percaya diri dalam diri Dion. Ia ingin menumbuhkan sebuah keyakinan dalam diri Dion bahwa ia adalah laki-laki yang bisa memberikan kenyamanan untuk Saras. Laki-laki yang bisa dibanggakan. Laki-laki yang bisa diharapkan. Laki-laki yang bisa menjadi pelindung untuk Saras meskipun pada kenyataannya Dion belum mampu sepenuhnya melakukan hal tersebut. Tapi Saras seolah ingin menanamkan sebuah keyakinan dalam diri Dion bahwa Saras butuh Dion sebagai pelindungnya, sebagai pasangan, sebagai teman, sahabat, partner, orang yang bisa diandalkan dalam segala hal. Ia seolah ingin menunjukkan pada suaminya itu bahwa Dion tidak seburuk yang para pembully di masa lalunya katakan. Dia tidak selemah seperti apa yang orang-orang di masa lalunya tanamkan pada dirinya.
Dion adalah laki-laki normal yang berani. Laki-laki normal yang bisa menjadi pemimpin dan pelindung untuk orang-orang di sekitarnya. Sesuatu yang lambat laun mulai tertanam dalam diri Dion. Membuat rasa percaya diri dalam diri laki-laki itu perlahan namun pasti semakin bertambah dan bertambah. Membuat pria itu pun kini makin berani menghadapi orang-orang di sekitarnya. Berani berbaur dengan banyak orang meskipun masih lebih banyak diam. Bukan hanya sekedar mengurung diri di rumah. Sibuk dengan kegiatan melukisnya yang dibalut dengan hal hal negatif seperti membunuh dan sebagainya.
Mobil terus melaju. Tiba tiba..
"Dion..." ucap Saras manja.
Dion menoleh ke arah sang istri yang bersandar manja di pundaknya.
"Apa?" tanya Dion.
"Laper..!" ucap Saras lagi. Dion tersenyum sambil mengusap usap pipi Saras.
"Mampir minimarket bentar yuk..! Pengen beli camilan enak kayaknya" ucap Saras.
Dion tersenyum sangat manis.
"kalau lapar itu makan, bukan ngemil..!" ucap Dion sambil mengacak acak lembut pucuk kepala Saras.
Saras menjawab. Ia nampak menggeliat di dada Dion dengan manjanya.
"Jason, berhenti sebentar di minimarket depan..!" ucap Dion.
"Baik, tuan muda" jawab Jason patuh.
Kendaraan roda empat itu terus melaju kemudian menepi di sebuah minimarket yang berada di pinggir jalan, sesuai perintah Dion. Sepasang suami istri itu lantas turun dari kendaraannya. Keduanya kembali bergandengan tangan menuju minimarket guna membeli beberapa jenis minuman dan cemilan kesukaan Saras. Sedangkan Jason memilih untuk menunggu di dalam mobil.
Di dalam minimarket.
Dion nampak mengambil beberapa makanan dan minuman di sana, lalu memasukkannya ke dalam sebuah keranjang biru yang berada di tangan Saras.
"Nggak usah banyak banyak..!" ucap Saras sambil menepuk pundak Dion.
Dion terkekeh.
"Kan biar kenyang..!" ucap Dion tanpa menghentikan pergerakan tangannya.
Saras hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. Sepasang suami istri itu pun melanjutkan kembali aktivitas pilih-pilih camilannya.
Setelah selesai, Saras dan Dion lantas berjalan menuju meja kasir untuk membayar barang belanjaan mereka yang hampir satu keranjang penuh itu. Saras mengantri, berbaris bersama beberapa pembeli lain di meja kasir, sedangkan Dion nampak menunggu di samping pintu sambil menyadarkan tubuhnya di samping showcase yang berada disana.
Tak lama, Saras selesai dengan antriannya. Ia kemudian mendekati sama suami lalu menggandeng tangannya dan bergegas keluar dari dalam minimarket itu bersama-sama. Namun baru saja ia hendak membuka pintu minimarket itu, Tiba-tiba...
Krieet...
Pintu terbuka dari luar.
__ADS_1
"Saras..."
Suara itu berhasil menyita perhatian Saras dan Dion. Dilihatnya di sana seorang pemuda tampan nampak berdiri di hadapan Saras, masuk ke dalam minimarket itu bersama seorang wanita paruh baya cantik berpenampilan anggun yang berdiri di samping sang pria.
Saras diam sejenak.
"Arka..." ucap Saras.
Arkana tersenyum. Saras mendongak, menatap wajah sang suami dia nampak diam tak bergerak. Seolah ingin memastikan bahwa Dion singkatnya untuk ber basa basi sejenak dengan Arkana. Hal yang sama pun Arkana lakukan. Ditatapnya laki-laki itu dan Saras secara bergantian. iya tahu betul betapa posesif dan cemburuannya suami Saras itu.
"Kalian di sini?" tanya Arkana ramah.
Saras tersenyum.
"Ya, kita baru pulang dari rumah sakit. Hari ini Dion udah di bolehin pulang" ucap Saras menjelaskan.
Arkana tersenyum lagi.
" Oh ya?" ucap Arkana. Saras hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Wah, Selamat ya..! Berarti suami lo udah sembuh. Gue ikut seneng dengernya.." ucap Arkana. Saras mengangguk. Ia kemudian menoleh ke arah Dion lagi manakala ia merasa genggaman tangan pria itu atas dirinya terasa semakin menguat.
Saras mendongak. Dilihatnya di sana Dion nampak menggerak-gerakan kepalanya sambil memejamkan matanya seolah merasakan sesuatu. Hal itu pun dapat dilihat dengan jelas oleh Arkana dan wanita yang berdiri di sampingnya yang sejak tadi hanya diam tanpa bicara, Maya...!
Saras menyentuh lengan sama suami
"Dion, kamu kenapa?" tanya Saras.
Dion tak menjawab. Ia terus menggerak-gerakkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Raut wajahnya sambil meringis. Seolah menggambarkan sebuah rasa sakit yang kini ia rasakan.
"Suami lo kenapa?" tanya Arkana ikut sedikit panik.
"Enggak tau..!" ucap Saras.
"Dion..." ucap Saras lagi.
"Aku pusing...!" ucap Dion di sela sela rasa sakitnya.
Saras nampak panik.
"Ya udah, kita pergi aja, yuk..! Mungkin kondisi kamu belum sepenuhnya fit" ucap Saras.
Dion mengangguk. Saras menoleh ke arah Arkana dan Maya lalu berpamitan pada sepasang ibu dan anak itu. Ia pun membawa Dion keluar dari minimarket itu menuju mobil mereka yang berada di halaman minimarket.
Sepasang ibu dan anak itu menatap kepergian Saras dan Dion dari balik dinding kaca bangunan pinggir jalan itu.
"Itu teman kamu?" tanya Maya.
Arkana mengangguk.
"Iya, ma" jawabnya.
"Dia perempuan yang aku ceritain waktu itu,Ma. Yang aku nemenin dia semalaman karena suaminya masuk rumah sakit" Ucap Arkana.
Maya menganggukkan kepalanya samar tanpa jelaskan pandangannya dari sebuah mobil yang kini mulai bergerak keluar dari halaman minimarket itu.
"Suaminya agak aneh" ucap wanita itu sambil berbalik badan dan menepuk pundak sang putra.
Arkana hanya tersenyum. Ia tak mau menceritakan kondisi Dion yang sudah ia ketahui dari penjelasan Saras pada Ratih waktu itu. Ia takut jika sanh ibu berpikiran aneh-aneh terhadap Saras dan suaminya. Sepasang ibu dan anak itu pun kemudian memulai belanja mereka di sana.
...----------------...
Selamat siang
up 12:22
Maaf, kemarin gak up soalnya repot dikit+ ngurusin anak persiapan PAT. Anaknya yang PAT emaknya yang pusing...🥴🙈🙈
Yuk, dukungan dulu 🥰🥰😘
__ADS_1