
"sssshhh....! aaaahhhhh....!"
buuuuuggghhh....
pria itu menjatuhkan tubuh polosnya di atas tubuh ramping istri tercintanya.
Adegan panas malam ini selesai. Tepat saat jam dinding menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Dion yang kelelahan itu nampak ambruk. Menjatuhkan tubuhnya di atas raga ramping wanita cantik nya itu.
Saras tersenyum. Dipeluknya pria kesayangan yang sudah tak lagi suka berbuat kasar padanya itu.
Dion mengecup kening Saras. Kemudian menggulingkan tubuh tegap itu kesamping setelah melepaskan penyatuannya.
Saras dengan beberapa noda merah keunguan di tubuhnya itu lantas meringsut. Merebahkan kepalanya di salah satu sisi dada bidang milik suaminya itu.
Dion mengecup kening sang istri. Lalu menggerakkan tangannya mengusap usap lembut pucuk kepala sang istri.
Saras makin menempel kan tubuhnya pada pria tampan itu. Seolah meminta untuk dimanja oleh laki laki yang sudah menikahi lebih dari satu bulan itu.
Saras mengarahkan pandangannya ke arah nakas yang berada di samping ranjang. Dilihatnya di sana, sebuah minuman dingin yang sudah tak lagi dingin bertuliskan Sky Coffee Cafe nampak masih utuh, lengkap dengan sedotan yang masih tergeletak di atasnya.
Itu adalah minuman yang Saras beli siang tadi. Dion sendiri yang meminta dibelikan. Laki-laki itu memilih menunggu di dalam mobil saat Saras masuk ke dalam coffee shop milik Arkana dan Gio itu. Namun rupanya sampai sekarang dia belum juga meminumnya. Masih utuh tak tersentuh.
"Dion...." ucap Saras yang masih tak berbusana itu.
"ya ..." jawab pria tampan tersebut.
"itu minumannya kok nggak diminum?" tanya Saras.
Dion menoleh ke arah nakas.
"nanti aja" jawab laki-laki itu.
"keburu dingin, nggak enak dong. Itu kan udah dari tadi siang" ucap Saras lagi.
Dion menoleh ke arah sang istri lalu tersenyum sambil menggerakkan tangannya mengusap-usap lembut pipi mulus wanita itu.
"nggak apa-apa. Aku tetep suka kok.." Jawab Dion.
Saras tak lagi menjawab. Ia mengeratkan pelukannya atas Dion yang sudah banyak perubahan itu.
"mandi gih..! bersihin dulu badannya..." ucap Dion pada Saras.
Wanita itu mendongak.
"kamu nggak mandi?" tanya wanita itu.
"kamu duluan aja. Nanti gantian..." jawab Dion.
Saras tersenyum. Ia kemudian menurut. Wanita itu bangkit dari tidurnya kemudian bergegas menuruni ranjang.
Tangan Dion bergerak usil. Memukul salah satu belahan ****** anak Ratih itu dengan gemas. Membuat wanita itu pun tersingkat dan menoleh ke arah suaminya.
"apasih...?!" ucap Saras. Dion terkekeh. Keduanya pun tergelak. Dion beberapa kali mencoba mencubit benda sintal itu namun Saras mengelak. Wanita itu pun kemudian masuk ke dalam kamar mandi kamar luas itu untuk membersihkan diri.
Seperginya Saras, Dion pun bangkit dari posisi tidurnya. Duduk di tepi ranjang, menatap lurus ke arah jendela besar di samping tempat tidurnya yang terhubung langsung dengan balkon kamar itu.
Dion lantas menoleh ke arah nakas. Tempat dimana sebuah minuman dingin masih teronggok utuh disana.
Dion meraih minuman itu. Diamatinya sebuah tulisan berbunyi Sky Coffee Cafe itu. Dion mengangkat satu sudut bibirnya. Dibawa nya minuman dingin itu menuju balkon.
Dion menyandarkan tangannya, bertumpu pada besi pembatas teras kamar itu tanpa melepaskan pandangannya ke arah gelas plastik bening ditangannya.
"Giovani Reksa..! apa kabar, kawan..?!" ucap Dion seorang diri.
"i miss you so much..!!" imbuh pria itu lagi.
Dion menggerakkan tangannya. Mengambil ancang ancang, lalu melemparkan gelas berisi minuman itu sejauh jauhnya hingga tak terlihat.
__ADS_1
Dion menatap angkuh kearah depan. Sakit hati itu rupanya belum sembuh sepenuhnya. Ia masih menyimpan dendam pada laki laki yang kini hidup sebatang kara itu.
Gio yang memang nakal dan urakan sejak kecil. Seolah menjadi raja dimana pun ia berada. Entah itu disekolah, kampus, ataupun jalanan kini.
Ucapan ucapan dari mulut Gio masih terekam dengan jelas di memori otak Dion. Anak perampok, anak penjahat, orang gila, idiot, cupu, anak yang tidak punya mama, dan masih banyak lagi...!
Gio bahkan pernah mengejek Dion saat Dion datang kerumahnya, diperkenalkan sebagai pacar dari Angel, adiknya.
"yang bener aja Ngel, masa iya lu mau ngasih gue ipar bekas pasien rumah sakit jiwa..?!"
"sekolah tinggi tinggi pacaran ama anak kriminal..!"
Dan masih banyak lagi. Ucapan ucapan yang begitu entengnya keluar dari mulut Gio, namun sukses menyayat hati hingga merusak mental dan jiwa seorang Dionyz Aldari Miguel.
Dion lantas di buang oleh adik Gio. Laki laki yang memang sudah mengalami masalah mental dan kejiwaan paska ayahnya di penjara itu pun "kumat".
Dion menggila. Ia pun tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Dendam dan kebencian bertahta dalam diri pemuda itu. Ditambah lagi sang ayah yang seolah membiarkan dan memfasilitasi kemarahan Dion.
Malvino mengerahkan anak buahnya untuk menyabotase kendaraan yang ditumpangi ayah dan ibu Angel. Laki-laki itu juga yang mengarahkan anak buah untuk menggiring Angel masuk ke dalam perangkapnya, kemudian memberikan ruang dan waktu untuk sang putra yang sedang tidak baik baik saja itu untuk mengeksekusi wanita yang bisa dibilang sedikit angkuh tersebut.
Ya, Dion yang memang bermasalah dalam kesehatan jiwanya seolah tak mendapatkan dukungan positif dari orang orang disekitarnya. Keluar rumah ia jadi bahan bully-an. Masuk rumah ia dimanjakan oleh ayahnya namun dalam konteks yang salah.
Laki laki itu seolah tak punya tempat yang tepat untuk bersandar dan mengobati sakitnya. Yang ada justru tekanan dan ajaran ajaran yang salah yang ia dapatkan. Membuat pria yang memang sedikit "gila" itu seolah dibuat semakin gila dan terus menerus bertambah tanpa ada bimbingan yang benar dari orang orang disekelilingnya.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah...
"assalamualaikum...!!" ucap dua orang pemuda yang baru saja pulang dari salah satu mushola di komplek perumahan mewah itu.
Ya, itu adalah Arkana dan Gio. Pemuda sebatang kara itu menginap di rumah sang sahabat malam ini
"wa Alaikum salam..." jawab Bharata dan istrinya yang nampak asyik menyaksikan siaran televisi di ruang keluarga rumah pasangan pengusaha itu.
"pa...ma..." ucap Arka sembari mendekati papa dan mamanya kemudian mencium punggung tangan kedua pria wanita itu. Hal yang sama pun Gio lakukan. Sebagai wujud tanda baktinya pada orang yang lebih tua. Hal yang selalu ayah dan ibunya ajarkan dulu sewaktu masih hidup.
"kalian baru pulang?" tanya Bharata.
"iya, pa..." jawab Arkana.
"ya udah, kita ke kamar dulu ya, pa..." imbuh pemuda dua puluh lima tahun itu lagi.
Bhatara hanya mengangguk. Arka kemudian mengajak sahabatnya itu naik ke ke lantai dua tempat dimana kamar nya berada. Tawa ringan dan candaan candaan khas anak muda pun terdengar dari bibir keduanya.
Bharata dan Maya yang mendengarnya pun hanya tersenyum.
"mereka udah kayak saudara ya, mas..." ucap Maya.
"iya..." jawab Bharata.
"ya nggak apa apa lah. Kasihan juga Gio, dia udah nggak punya siapa siapa setelah kematian kedua orang tuanya dan hilangnya Angel.." ucap Bharata.
"iya. Kasihan nasib Gio..." jawab Maya sambil menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
"semoga aja pertemanan mereka bisa langgeng selamanya..." jawab Bharata sambil memeluk sang istri.
"amin.."
.......
Sementara itu di lantai atas..
Didalam sebuah kamar bernuansa maskulin. Pemuda tampan berjambang tipis itu nampak menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Meraih ponselnya lalu memainkan.
"oh, Saras...! gue harus cari tau dimana tentang elu...?!" ucap pria itu sembari menggerakkan tangannya menyentuh aplikasi Instagram.
__ADS_1
Gio yang tengah mengganti kemejanya dengan kaos tanpa lengan itu nampak terkekeh.
"t*i lu...! punya gue tuh...!" ucap Gio sembari berjalan mendekati tas ransel miliknya, lalu mengeluarkan sebuah minuman kaleng berkadar alkohol rendah disana.
Arka menoleh.
"anjr*t lu...! lu baru pulang dari mesjid, monyet...! setan emang lu ya..." ucap Arka mengumpat.
"tadi gue udah minta maaf ama Tuhan pas sholat..!" ucap Gio santai sambil kembali menenggak alkohol nya.
Arkana berdecak kesal. Ada ada saja tingkah sahabatnya itu. Gio memang hobi minum minuman keras. Pemuda itu juga tak jarang mengajak Arkana untuk minum, namun Arka selalu menolak. Ajaran agama yang Bharata terapkan sepertinya cukup erat melekat di hati Arka. Iman nya cukup kuat di balik sikapnya yang slengean. Tak mudah tergoyahkan meskipun hampir tiap hari hidupnya selalu berdampingan dengan Gio si brandalan.
Gio menenggak alkohol nya dengan santai di pinggir ranjang. Arkana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah polah sahabatnya itu.
tiba tiba ...
tok....tok.....tok....
"Arka..." ucap seorang pria dari balik pintu kamar yang tertutup itu. Itu suara Bharata. Arkana dan Gio nampak kelimpungan. Dengan cepat Gio menyembunyikan alkohol nya di bawah kolong meja. Ia lantas meraih gitar di atas ranjang lalu pura pura memainkan nya.
"iya, pa...!" jawab pemuda itu
Arkana kemudian mendekati pintu kamar, lalu membukanya.
"ada apa, pa?" tanya Arkana tenang.
"udah mau tidur?" tanya Bharata.
"belum, lagi main gitar" jawab Arka sedikit berbohong atas nama solidaritas pada kawan.
"ada apa, pa?" tanya Arka lagi
"eemm... besok siang ada waktu nggak?" tanya Bharata.
Arkana nampak berfikir.
"ada sih kalau di ada adain. Emangnya ada apa, pa?" tanya Arkana.
"besok ikut papa ya...papa mau ngajak kamu ke suatu tempat" ucap Bharata.
Arka nampak menyipitkan matanya.
"kemana?" tanya pemuda itu.
"ada..! besok kamu juga bakal tau. Ya, mau ya..." ucap Bharata lagi.
"iya deh, gampang..!" jawab Arkana.
Bharata tersenyum.
"ya udah..! kalau gitu besok siang papa jemput kamu di Coffee shop ya..." ucap Bharata.
"iya, pa..." jawab Arkana.
"Ya udah, istirahat gih..! udah malam...! ajak Gio tidur..!" ucap Bharata lagi.
Arkana hanya mengangguk. Bharata tersenyum. Kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.
...----------------...
Selamat malam...
up 20:21
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰🥰😘