
Malam menjelang...
Di dalam sebuah kamar mewah dengan warna putih yang mendominasi...
Wanita cantik ber daster kimono satin itu nampak duduk terdiam di sebuah kursi meja rias kamar itu. Menatap ke arah kaca besar yang berada di sana dengan sorot mata nanar. Ya, setelah resmi mengucap ijab qobul pada pagi tadi. Disaksikan keluarga Saras, ayah Dion, serta beberapa anak buah Malvino, kini Saras sudah resmi menyandang status sebagai istri dari Dionyz Aldari Miguel.
Ribuan penyesalan memang masih menggelayut dalam benak Saras. Namun mau bagaimana lagi, ia tak punya pilihan lain. Ia sudah terikat kontrak, ia tak punya pilihan lain jika tak ingin ibu dan adiknya berada dalam bahaya.
Kini Saras bertekad, akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Dion. Mengikuti alur cerita yang harus ia jalani sebagai istri Dion dan menantu dari seorang Malvino. Sesuai dengan surat perjanjian yang sudah wanita itu sepakati. Saras bertekad untuk terus melangkah, sambil berusaha mencari cara agar bisa terbebas dari sarang psikopat gila itu, andai ia bisa. Yang penting ia dan keluarganya selamat dulu. Masalah kebahagiaan nya, pikir saja belakangan..!
Saras menghela nafas panjang. Ia menggerakkan tangannya, meraih sebuah sisir yang berada di atas meja lalu mulai menyisir rambut bergelombang nya itu dengan lembut.
ceklek.....
pintu kamar terbuka. Seorang pria tampan masuk ke dalam ruangan itu. Raut wajahnya datar. Menatap ke arah pantulan cermin yang menampakkan wajah cantik tak berkacamata milik Saras.
Pria dengan kemeja berwarna putih itu nampak berjalan mendekati sang istri tanpa ekspresi.
Saras nampak menarik nafas panjang. Mencoba membuang rasa takut dan gugupnya tiap kali berhadapan dengan pria yang kini resmi menyandang status sebagai suaminya itu.
Dion mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Dilepaskannya kacamata bening yang membingkai mata sipitnya itu. Diletakkannya kacamata bening tersebut diatas meja rias, lalu memiringkan kepalanya menatap wajah wanita cantik di hadapannya dengan sorot mata menelisik.
Saras menunduk, lalu menoleh. Bau anyir sedikit menyeruak dari tubuh pria itu. Mungkin pria itu baru saja selesai melukis dengan darah lagi.
"u..udah selesai, ngelukisnya?" tanya Saras Dion.
Dion tak menjawab. Sorot matanya masih sama menatap wajah cantik wanita itu. Membuat Saras pun kini mulai gugup karenanya.
Laki laki itu lantas mengangkat satu sudut bibirnya. Tangannya tergerak membelai pipi mulus Saras.
"i love you...." ucapnya dibarengi sebuah senyuman manis, namun terlihat mengerikan dimata wanita itu.
Saras tersenyum kaku..
"iya ...love you....too..." ucap Saras.
Dion mengangkat satu sudut bibirnya. Lalu menjauhkan tangannya. Laki laki itu kemudian bangkit, berdiri tepat di hadapan wanita itu. Terlihat disana, setitik bercak merah nampak menempel di salah satu sisi ujung bawah kemeja itu.
Saras hanya diam. Tak mau menegur ataupun membahas noda yang sepertinya adalah darah itu.
"aku mau mandi..!" ucap pria itu.
Saras mendongak.
"bantu aku, sayang..." ucap Dion lagi.
Saras kembali menunduk. Ia lantas mengangguk. Dion berbalik badan. Berjalan menuju kamar mandi sembari membuka satu demi satu kancing kemejanya. Saras hanya mengikutinya dari belakang tanpa bersuara.
Keduanya sampai di kamar mandi. Laki laki itu kembali berbalik badan. Kemeja putih masih bersarang di tubuhnya dengan kancing depan yang sudah terbuka sepenuhnya. Putra tunggal Malvino itu menatap wajah tertunduk milik sang istri dengan sorot mata dingin. Digerakkan nya tangan kekar berkulit putih itu. Menyentuh dagu Saras agar mendongak ke arahnya.
"kenapa kau jadi pendiam sekarang?" tanya Dion.
__ADS_1
Saras gugup.
"kau takut padaku?" tanya Dion lagi.
Saras menarik nafas panjang. Lalu menggelengkan kepalanya samar.
"enggak" jawabnya lirih.
Dion tersenyum. Tangannya kembali tergerak mengusap usap wajah cantik itu dengan sorot mata penuh misteri.
"aku bukan orang jahat. Jadi jangan pernah memandang ku seperti seorang penjahat."
"Dengarkan aku, sayang. Jika kau sudah menjadi istriku, maka jadilah istri yang baik. Jangan memancing emosiku. Jangan membuatku marah, jangan membuatku kecewa. Dan jangan menyakiti hatiku.."
"kau tahu, aku benci sakit hati. Aku benci orang orang yang suka menyakiti hati orang lain. Dengan perbuatan ataupun kata kata nya yang menjijikkan...!"
"tidak ada tindakan yang lebih baik untuk mereka, selain melukisnya, menggunakan cat merah kesukaan ku, lalu menyimpannya di galeri ku." ucap Dion.
Laki laki itu menggerakkan tangannya lagi. Membelai rambut sang istri, lalu menyingkapkan nya ke belakang telinga.
"aku yakin kau bukan manusia seperti itu. Jadilah wanita ku yang baik, dan kita akan bahagia selamanya" ucap Dion lembut namun mengerikan.
Saras tersenyum kaku. Lalu mengangguk.
"ya..." jawabnya. Dion tersenyum. Ia kemudian menjauhkan tangannya dari Saras, kemudian merentangkan nya.
Otak Saras mulai bekerja. Mungkin Dion ingin ia membantu melepaskan kemejanya, pikir Saras.
Wanita itupun lantas bergerak dengan cepat. Dilepaskannya nya kemeja itu dari tubuh tegap Dion dan melemparkan nya ke sebuah keranjang baju kotor disana.
Dion menatap sang istri dengan kepala miring. Kedua tangannya masih terlentang sambil bertelanjang dada.
"apa kau tidak mau memeluk suamimu?" tanyanya kemudian.
Saras mendongak. Diam sejenak menatap wajah Dion yang nampak tersenyum tipis.
Wanita itu kembali mengulum senyum kaku. Lalu mengangguk. Dengan gerakan ragu ragu, ia pun mendekat, menggerakkan tangannya memeluk tubuh tegap berkulit putih milik sang suami. Menempelkan kepalanya di dada bidang Dion sambil memejamkan matanya.
Dion tersenyum. Didekapnya erat wanita itu sembari mengulum senyuman manisnya. Cukup lama keduanya saling berpelukan. Dion bahkan menggerak gerakkan tubuhnya seolah ingin menimang nimang Saras yang bersandar di dadanya. Laki laki itu bahkan bersenandung lirih menyanyikan lagu cinta romantis untuk istrinya. Sebuah nyanyian yang bukannya indah namun justru terdengar horor di telinga Saras.
Tangan kekar itu lantas kembali bergerak. Yang semula mendekap pinggang istrinya kini mulai menjalar menyentuh kedua belah pan**t wanita cantik itu. Merem*s rem*snya dengan lembut sambil terus bersenandung lirih.
Saras mendongak. Dion nampak tersenyum. Di dekatkan nya wajah tampan itu ke wajah Saras dalam posisi yang sangat dekat. Laki laki itu menggerak gerakkan kepalanya, mengendus, menghirup aroma tubuh wanita cantik istri sahnya itu.
Saras memejamkan matanya. Begitu juga Dion yang kini mulai tak sabar menikmati malam pertamanya. Tubuh keduanya sudah menempel. Tak ada jarak diantara mereka.
"lakukan tugas pertamamu, sayang..!" bisik Dion lirih.
Saras membuka matanya lembut. Mengamati wajah tampan itu lekat lekat. Sangat tampan. Namun kehidupan nya begitu mengerikan.
"Dion..." ucap Saras.
Laki laki itu membuka matanya.
__ADS_1
"apa?" tanyanya.
Saras menggerakkan tangannya menyentuh dada bidang suaminya.
"kalau aku jadi istri yang baik, apa kamu akan melindungiku?" tanya Saras.
Dion diam.
"apa maksudmu?" tanya pria itu.
"aku takut melihat ruang lukismu. Apa kamu akan menyayangiku jika aku tunduk dan patuh padamu?" tanya Saras.
Dion masih tak menjawab.
"sudah ku bilang, aku bukan penjahat. Aku tidak akan menyakitimu, tapi tolong juga jangan sakiti aku" ucap Saras.
Wanita itu nampak memiringkan kepalanya. Mencoba mencerna ucapan laki laki yang sepertinya penuh tanda tanya itu.
"aku tidak pernah menyakiti siapapun. Aku bukan penjahat. Aku hanya membalas perlakuan orang orang busuk yang selalu menyakiti hatiku" ucap Dion.
"jadilah wanita yang bisa menyenangkan ku, maka ku pastikan kau akan selamat" ucap Dion.
"apa aku juga akan bahagia?" tanya Saras.
Dion tak langsung menjawab.
"ya...." jawabnya kemudian.
Saras tersenyum.
"aku pegang kata katamu. Kau juga bisa memegang kata kataku. Kita mulai rumah tangga ini. Aku tidak akan menyakitimu, seperti orang orang yang kau maksud itu. Aku harap, kamu juga memenuhi janjimu. Lindungi aku, dan jangan jadikan aku objek lukisanmu..." ucap Saras.
Dion mengangkat satu sudut bibirnya.
"tentu." ucapnya.
Saras tersenyum samar. Dipeluknya lagi tubuh kekar itu. Menyandarkan kepalanya di dada bidang pria tampan dengan sejuta misteri tersebut.
Entah benar atau tidak ucapan pria itu. Dalam hati Saras, ia berfikir, dari semua kata kata yang keluar dari mulut Dion, mungkin ada sesuatu di masa lalunya yang membuat pria itu berubah menjadi orang "gila" yang mencintai darah dan kematian. Menjadikan lukisan sebagai objek penyalur kekesalannya.
Saras tak tahu apa itu. Tapi sebagai seorang wanita yang sudah terlanjur terjebak di sarang mafia, psikopat, ataupun apalah itu namanya, tak ada pilihan lain bagi Saras kecuali tunduk. Patuh...! mengikuti alur permainan dari Dion dan orang orang terdekatnya.
Yang penting ia berperan sesuai dengan apa yang Dion inginkan. Maka kesempatan untuknya tetap hidup sedikit banyak akan terbuka lebar.
...----------------...
Selamat sore...
up 14:17
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘
mampir sini juga ya...
__ADS_1