
Disebuah rumah berlantai dua yang nampak sepi. Tempat tinggal seorang pemuda sebatang kara.
Daaghh...
Buughh...
Prang....
Pyaarrr....
"AARRGGGHHH....!!!"
Pemuda itu menggila. Ia mengamuk di kamarnya. Menghancurkan apapun yang ada di hadapannya. Cermin, buku, gitar, kursi, laptop, semua hancur. Bahkan meja pun terbalik di sana. Gio murka. Ia marah. Ia kecewa. Ia sakit hati.
Kecewa karena niatannya mendekati Saras sudah pupus di tengah jalan sebelum ia memulainya. Marah dan sakit hati karena pengusiran yang wanita itu lakukan padanya hanya demi menyenangkan suaminya.
Ciihh....
Siapa sih suami Saras? Sehebat apa sih dia? Sampai sampai Saras berani mengusirnya hanya demi menyenangkan suaminya? Sungguh, Gio sakit hati dengan perlakuan wanita itu.
"BANGS*T..!!!!" teriak pemuda itu lagi. Ia bergerak. Setengah terbang menendang ranjangnya, lalu mengobrak abrik seprei, bantal hingga gulingnya.
Ceklek....
Pintu kamar itu terbuka. Seorang pemuda tampan berjambang tipis masuk ke dalam sana.
"Astaghfirullah haladzim..!" ucap Arkana kala melihat kondisi kamar Gio yang nampak lebih parah dari kapal pecah itu.
Laki laki itu berjalan, melewati barang barang yang sudah berserakan dimana mana itu lalu mendekati sang sahabat. Gio nampak berdiri di samping ranjang. Matanya menatap nyalang ke depan. Dadanya naik turun. Tangannya mengepal. Emosi terlihat jelas di matanya.
Arkana menyentuh pundak sahabatnya itu.
"Lu kenapa?" tanya Arkana.
Gio mengerang. Bak seekor harimau lapar yang melihat mangsanya melintas.
"Saras udah menikah..!" ucap Gio pelan penuh tekanan.
Arkana diam. Gio begini karena Saras? Karena wanita idamannya ternyata sudah punya suami? Ah, picik sekali pemikiran bocah ini, batin Arkana.
"Dan lu ngamuk kayak gini karena Saras?" tanya Arkana tak habis pikir.
Gio tak menjawab.
Arkana menggelengkan kepalanya lalu menepuk pundak pria itu.
"C*k, denger ya...! Cewek nggak cuma satu..! Kalau Saras udah menikah, ya udah. Cari yang lain..!" ucap Arkana.
Gio tak menjawab. Ia masih diliputi amarah.
"Lagian lu kayak anak kecil. Toh lu ama Saras juga belum ada hubungan apa apa kan? Ya, udah..! Santai..! Mundur, cari yang lain. Biarin dia bahagia sama suaminya..!" ucap Arkana.
__ADS_1
Gio menoleh kearah Arkana. Menatap tajam pemuda itu.
"Dia ngusir gue..! Itu yang gue nggak suka..!" ucap Gio.
Arkana diam.
"Maksud lo?" tanyanya kemudian.
"Gue diusir ama dia...! Padahal gue datang ke sana karena gue abis nolongin nyokapnya..! Dia bukannya berterima kasih ama gue tapi malah ngusir gue. Dia bilang demi suaminya. Suaminya nggak suka ada cowok lain yang datang ke rumah itu..! Anj*nk tuh perempuan...!!" ucap Gio murka.
"Harga diri gue, c*k..! Gue nggak terima..! Se sempurna apa sih suaminya itu sampai sampai se lebay itu dia ama cowok asing..! T*i...!" ucap Gio mengumpat hebat.
Arkana diam. Gio memang orang yang keras. Ia tak suka 'disenggol'. Amarahnya selalu meledak ledak jika tengah murka. Ia bisa melampiaskannya pada apapun yang ia mau. Membuat Arkana memilih untuk diam. Membiarkan sahabatnya itu meluapkan emosinya terlebih dahulu sebelum diberi nasehat.
Gio kembali menendangi ranjang hingga meja di ruangan itu. Kata kata kasar terus keluar dari mulutnya.
Arkana berjalan menuju pojok ruangan. Mengambil sebotol bir yang berada di sana. Stok minuman yang memang selalu ada di kamar Gio. Arkana yang sudah mengenal Gio luar dan dalam pun sudah hafal akan kebiasaan sahabatnya yang selau menyimpan bir di pojok ruangan, tepatnya di samping lemari.
Arkana membuka tutup botol itu. Lalu menyerahkannya pada Gio tanpa berucap. Gio diam menatap botol itu dan sahabat secara bergantian.
Arkana mengangkat satu sudut bibirnya. Gio pun menggerakkan tangannya, meraih botol itu lalu menenggak isinya guna merilekskan otak serta pikirannya.
Arkana naik ke atas ranjang yang sudah porak poranda itu. Direbahkan nya tubuh itu dengan santai di atas sana.
Gio nampak menenggak alkohol itu langsung dari botolnya. Sorot matanya menatap tajam lurus ke depan. Dengan dada yang masih terasa panas mengingat perlakuan yang ia dapatkan dari Saras.
Arkana mengeluarkan rokoknya, mengambil satu dari bungkusnya lalu membakar ujungnya dan menikmatinya.
"Yang namanya perempuan kalau udah nikah ya gitu, C*k..! Dia harus nurut ama suaminya...! Ya udahlah.!" ucap Arkana mencoba menenangkan sang sahabat.
Gio tak menjawab.
Gio masih tak menjawab. Hatinya masih panas meskipun sudah mendengarkan nasehat singkat dari Arkana. Ia benar benar merasa tersinggung dengan ucapan Saras. Ia jadi penasaran, seperti apasih suami Saras. Sebegitu takutnya wanita itu pada suaminya.
Jika di ingat ingat, dari penuturan Ratih dulu, wanita itu sempat berkata bahwa rumah megah yang kini ia tempati adalah rumah pemberian dari anaknya yang sudah menikah. Berarti itu artinya Saras, bukan?
Apa suami Saras yang memberikan rumah itu untuk Ratih dan keluarganya? Kalau iya, berarti suami Saras adalah orang yang kaya raya. Apakah Saras adalah tipe wanita penggoda? Mengingat jika dilihat dari penampilannya, Ratih tidak terlihat seperti orang kaya. Ia terlalu sederhana untuk menjadi ibu dari wanita kaya raya.
Gio berdecih. Mungkin Saras memang wanita murah yang rela menikah dengan laki laki tua hanya demi hartanya..! Pikir Gio.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah.
Saras nampak berjalan menaiki tangga rumahnya menuju lantai dua. Wanita itu baru saja dicecar pertanyaan oleh Ratih, menanyakan tentang Gio yang tiba tiba pulang tanpa berpamitan. Saras yang belum siap untuk memberitahukan tentang kondisi Dion dan rumah tangganya pada Ratih pun terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa Gio mendadak di telfon temannya, Coffee shop nya sedang banyak pengunjung katanya.
Ratih yang tidak sepenuhnya percaya itupun hanya mengiyakan saja ucapan sang putri. Meskipun ia merasa sepertinya ada yang disembunyikan oleh Saras darinya.
Saras sampai di lantai dua. Ia kemudian berjalan menuju sebuah kamar miliknya, dimana Dion tengah beristirahat di dalamnya.
Ceklek...
__ADS_1
Pintu kamar terbuka....
Saras masuk ke dalam ruangan yang lama tak ia tempati itu.
Degh...
Saras terdiam. Dilihatnya di sana Dion nampak duduk di tepi ranjang. Membalut telapak tangan sebelah kirinya yang terlihat mengeluarkan cukup banyak darah. Sedangkan di atas lantai, tepat di samping kakinya, serpihan kaca nampak bertebaran di sana. Sebuah gelas kaca bening hancur. Membuat air yang berada di dalamnya pun ikut tumpah membasahi lantai, dan menjadi sedikit kemerahan lantaran bercampur dengan tetesan darah Dion.
"Dion...!!" pekik wanita itu panik. Ia berlari mendekati sang suami yang terlihat membalut lukanya dengan tenang. Saras duduk di samping Dion, lalu meraih tangan yang terluka tersebut.
"Kamu kenapa?!" tanya wanita itu panik.
Dion tak langsung menjawab. Ia menatap wajah cantik itu. Memiringkan kepalanya, lalu tersenyum manis.
"Nggak apa apa" jawab Dion pelan. Saras menoleh ke arah pria itu. Sorot mata keduanya bertemu. Laki laki itu terlihat menampakkan senyuman manisnya, namun entah mengapa Saras merasa senyuman itu memiliki arti yang berbeda.
"Kenapa tangannya berdarah gini?" tanya Saras tanpa melepaskan pandangannya dari Dion.
Dion tersenyum lagi, hingga menampakkan barisan gigi-giginya yang putih.
"Nggak sengaja gelasnya jatuh..!" ucap Dion masih dalam posisi yang sama.
Saras diam. Ia menatap lengan yang kini nampak dibalut kain putih itu.
"Ini udah diobatin? Coba lihat.." ucap Saras sambil meraih lengan itu.
"Aku bisa ngobatin lukaku sendiri, sayang" ucap Dion.
Saras terdiam lagi. Ia kembali menatap ke arah sang suami.
Dion menggerakkan satu tangannya yang tak terluka. Membelai rambut itu dan menyingkapkannya ke belakang telinga. Laki laki itu tersenyum lebar, masih dengan kepala yang miring.
"Aku kangen. Aku mau kamu sekarang.." ucap Dion.
Saras mematung.
"Sekarang?" tanya Saras.
"Ya....." jawab laki laki itu.
Saras terdiam sejenak. Lalu tersenyum. Ia kemudian mengangguk.
"Hihihi...." suara tawa itu lolos dari bibir Dion. Laki laki itu meringsut. Mengikis jarak dengan istrinya. Kemudian dengan satu gerakan, ia menerkam tubuh ramping itu. Menjatuhkan nya ke atas ranjang kemudian menindihnya.
Aksi panas sepasang suami istri itupun berlanjut. Keduanya menghabiskan waktu siang hari mereka yang panas dengan sebuah pergulatan intim selayaknya sepasang suami istri.
...----------------...
Selamat siang...
up 11:32
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰🥰
Karena masih banyak typo, boleh di infokan ke author ya bagian mana aja yang masih salah penulisannya...😊