Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
22


__ADS_3

Hari berganti...


Keesokan harinya...


Sesuai janji Dion pada sang istri kemarin, hari ini Saras diizinkan untuk mengunjungi ibu dan adiknya ditemani suami tersayangnya itu.


Dengan mengenakan kaos dan celana panjang guna menutupi luka di sekujur tubuhnya, wanita itu nampak sedikit merias wajahnya. Mempertebal foundation nya di beberapa bagian memar wajahnya agar tak terlalu terlihat jelas. Ia tak mau ibu dan adiknya nanti bertanya tanya mengenai wajahnya yang nampak bonyok di beberapa bagian itu.


Saras yang berada di depan cermin itu nampak menoleh ke arah Dion. Dilihatnya disana, pria dengan hoodie hitam ber kupluk itu sejak tadi nampak duduk di tepian ranjang. Wajahnya yang tak begitu terlihat karena tertutup kupluk kepalanya itu terlihat gusar. Ada sebuah kecemasan yang Dion rasakan. Rasa tidak nyaman. Entah apa...!


"Dion..." ucap wanita cantik itu.


Dion menoleh.


"kamu kenapa?" tanya Saras. Dion tak menjawab.


Wanita yang nampak sudah rapi itu lantas berjalan mendekati sang suami.


"kok kamu tegang gitu?" tanya Saras lagi.


"ada apa?" imbuhnya.


Dion menoleh menatap nanar wanita yang kini duduk di sampingnya tersebut.


"aku nggak suka keluar rumah" jawab pria itu.


Saras diam tak bergerak. Sebenarnya ada masalah apa pada Dion? Laki-laki itu begitu anti terhadap orang lain. Hidupnya setiap hari hanya berada di ruang lukis, berkutat dengan kanvas dan cat cat kesayangannya. Ia sangat jarang bahkan hampir tak pernah keluar dari rumah dan bersosialisasi dengan manusia lain.


Ia benci keramaian. Ia tidak suka bertemu dengan orang-orang sekitar. Ia lebih suka menghabiskan waktunya sendirian di rumahnya dengan aktivitas aktivitas yang menurut Saras sangat monoton dan membosankan.


Saras menghela nafas panjang.


"kalau kamu nggak nyaman keluar rumah, biar aku pergi sendiri aja" ucap Saras.


Dion mengubah mimik wajah takutnya menjadi sebuah tatapan tajam membunuh.


"kau ingin pergi tanpa suamimu?" tanya laki-laki itu dingin. Saras terdiam. Sepertinya ia salah ucap lagi. Padahal niatnya ingin mengatakan pada suaminya agar Dion melakukan senyaman nya saja. Tidak perlu memaksa untuk ikut dengan Saras kerumah Ratih jika memang Dion tidak suka keramaian dan berbaur dengan orang lain. Tapi sepertinya Dion salah mengartikan nya.


"bukannya gitu..! Aku cuma nggak mau kamu nggak nyaman aja. Kalau emang kamu nggak suka keluar rumah, ya udah, biar aku sendiri aja..." ucap Saras.


"lagian aku pergi kan sama supir. Nggak lama juga. Cuma ke rumah ibuk juga nggak ke tempat yang aneh aneh" ucap Saras.

__ADS_1


Dion tak menjawab.


"dari pada kamu nggak nyaman...." ucap Saras manis.


"tapi aku nggak suka kamu kelayapan selain ke tempat ibu kamu" ucap Dion.


"nggak akan" ucap Saras yakin.


"aku melarang mu bersentuhan dengan manusia lain selain aku dan keluargamu..!" ucap Dion.


"iya...!" ucap Saras.


"pulang sebelum jam dua belas siang..!" ucap Dion.


"iya, sayang. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanya tanya supir kamu nanti kalau pulang.." jawab Saras lagi dengan menyisipkan kata 'sayang" di akhir kalimat nya.


Dion tersenyum tipis. Seolah suka mendengar ucapan Saras yang berusaha meyakinkan nya.


"peluk aku...!" titahnya kemudian


Saras terkekeh. Wanita cantik itu mengangguk. Ia lantas menggerakkan tubuhnya memeluk tubuh pria tampan berparas manis yang sesekali nampak ramah namun sesekali juga terlihat mengerikan itu dengan eratnya.


"jangan macam macam jika tidak ada aku..!" ucap Dion.


"iya..." jawab Saras.


Cukup lama. Dion akhirnya melepaskan dekapannya atas sang istri.


"ya udah, aku berangkat ya..." ucap wanita itu.


Dion mengangguk. Saras bangkit, meraih tas selempang nya, diikuti suami Dion dibelakang. Wanita kemudian berjalan menuju pintu kamar itu. Sedangkan Dion hanya diam menatap punggung wanita cantik tersebut.


Saras menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah sang suami kemudian menyunggingkan senyuman manisnya.


"apa?" tanya Dion.


Saras tak menjawab. Ia lantas berjalan mendekati suaminya itu. Kemudian...


cupp...


Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Dion. Membuat pria itu diam, tak bereaksi.

__ADS_1


"makasih udah ngizinin pergi.." ucap Saras manis.


Dion tak menjawab. Wanita itu kemudian bergegas keluar dari kamarnya. Berlalu pergi meninggalkan tempat itu untuk menuju kediaman ibu kandungnya.


Sebuah mobil mewah sudah menunggu di halaman luas rumah megah itu. Saras pun dengan segera masuk disana. Kendaraan roda empat itupun melaju bersama seorang supir sebagai pemegang kendalinya.


Saras diam. Tak ada pembicaraan antara ia dan sang supir sepanjang perjalanan.


Hingga tiba tiba....


"pak, mampir bentar ke apotik ya..." ucap Saras.


"baik, nona.." ucap si supir.


Tak lama, mobil pun menepi, masuk ke sebuah lahan parkir sebuah komplek bangunan ruko berjejer, dimana sebuah apotik yang tak terlalu besar berada disana, berdampingan dengan sebuah coffe shop yang cukup ramai.


Saras turun dari mobilnya. Ia pun melangkah menuju apotik guna membeli obat luka, tes kehamilan dan satu setrip pil KB.


Ya, Saras berencana untuk menunda kehamilan. Semoga saja belum telat. Ia tak mau memiliki momongan dulu sedangkan sikap dan emosi Dion pun Saras belum bisa mempelajari dan mengendalikan nya. Ia tak mau terjadi hal hal yang buruk padanya dan anaknya nanti jika sampai mengandung benih dari laki laki dengan sejuta misteri di kehidupan nya itu.


Saras bertekad untuk mengenal Dion lebih dekat terlebih dahulu serta masuk ke dalam kehidupan nya lebih dalam lagi.


Entahlah, Saras merasa Dion sebenarnya adalah laki laki yang baik. Namun ada sesuatu yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Saras justru merasa iba pada laki laki itu. Ia begitu anti sosial. Lebih banyak mengurung diri dan tidak mau berhubungan dengan dunia luar.


Saras ingin mendekati Dion. Meskipun pernikahan mereka awalnya tidak di dasari cinta, namun ia ingin menyentuh hati laki laki itu. Ia ingin membina rumah tangga yang nyaman. Cinta bisa dipupuk belakangan. Kini yang ada dalam benaknya adalah menyentuh hati laki laki itu. Mengetahui tentang seluk beluk masa lalunya. Dan jika memang ada trauma, ia ingin membantu menyembuhkan nya.


Ya, Saras bertekad untuk itu. Ia melupakan misi pertamanya saat menerima tawaran perjodohan dari Malvino, yaitu ingin menguasai laki laki itu dan mengincar hartanya. Ia juga melupakan rencananya untuk patuh pada laki laki itu lalu perlahan kabur dari kehidupan Dion jika ada kesempatan.


Wanita yang terlahir dari keluarga kriminal itu kini bertekad, ingin mengetahui semua tentang Dion. Menyentuh hatinya, dan membantu menyembuhkan traumanya jika memang ada.



...----------------...


Selamat siang


.


ini novel bikin bosen nggak sih🙈🙈 atau bikin pusing..🙈🙈🙈


yuk dukungan dulu 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2