
Hari kembali berganti,
Pagi ini di kediaman pribadi milik tuan gangster dan keluarganya,
Saras baru saja selesai mandi pagi. Setelah semalam Dion meminta hak nya sebagai suami. Memadu cinta dengan hangat tanpa ada paksaan ataupun penyiksaan. Kini Saras nampak keluar dari dalam kamar mandi itu. Badannya sudah wangi. Sebuah handuk kimono membungkus tubuh indahnya. Tak lupa sebuah handuk kecil nampak melingkar di atas kepala, membungkus rambut tak terlalu panjangnya yang basah.
Saras berjalan menuju meja rias. Berniat untuk mengeringkan rambutnya sekaligus bersolek tipis tipis.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka, seorang pria tampan masuk ke dalam kamar itu diikuti beberapa pelayan di belakangnya yang nampak membawa nampan berisi sarapan pagi untuk sepasang suami istri itu.
"Letakkan di balkon..!" ucap Dion memberikan titahnya.
Para pelayan pun hanya menurut. Mereka membawa beberapa nampan berisi menu sarapan pagi sepasang suami istri itu menuju balkon kamar mewah tersebut. Kemudian meletakkannya di sebuah meja rendah di samping sebuah kasur sofa disana.
Selesai...
Para pelayan itu lantas undur diri. Pergi dari tempat tersebut dan kembali ke dapur. Dion menoleh ke arah sang istri. Laki laki itu nampak tersenyum manis. Ia kemudian berjalan mendekati wanita dengan rambut sebahu yang nampak basah itu kemudian menyentuh pundaknya lembut.
"Mau aku bantu?" tanya Dion.
Saras diam. Ia menatap wajah suaminya itu dari pantulan kaca cermin meja riasnya.
Dion meraih hairdryer yang berada di atas meja rias. Menancapkan kepala colokan hairdryer itu di sebuah stopkontak disana lalu mulai membantu mengeringkan rambut bergelombang istri tercintanya.
Saras diam. Sepertinya Dion mulai "sadar" lagi.
"Em, Dion..." ucap Saras memberanikan diri.
"Ya..." jawab Dion sambil sibuk menggerakkan hairdryer panas itu di atas kepala Saras.
"Maaf.." ucap Saras.
Dion menghentikan pergerakannya sejenak. Menatap wajah tertunduk itu dari pantulan kaca cermin.
"Maaf untuk apa?" tanya laki laki itu.
Saras tak langsung menjawab. Ia diam.
"Maaf karena semalam aku bentak bentak kamu" ucap wanita itu.
Dion mengangkat satu sudut bibirnya tanpa menghentikan pergerakannya.
"Kenapa harus minta maaf?" tanyanya.
Saras tak menjawab.
"Katanya kalau marah memang harus seperti itu. Lalu kenapa sekarang kamu minta maaf?" tanya Dion.
"Ya, kan sekarang udah nggak marah.." ucap Saras sambil menunduk.
Dion terkekeh.
"Kenapa kamu lucu sekali?" ucap Dion sembari meletakkan hairdryer nya. Ia lantas meraih sisir yang berada di atas meja. Mulai menyisir rambut bergelombang itu dengan telaten hingga nampak lebih rapi dari sebelumnya.
"Udah..! Sekarang bangun, kita sarapan..!" ucap Dion.
Saras mengangguk sambil tersenyum. Ia lantas bangkit, berjalan menuju balkon kamar itu bersama sang suami untuk sarapan pagi.
"Kok makannya disini?" tanya Saras.
__ADS_1
"Sengaja. Aku pengen makan berdua aja sama kamu" ucap Dion sembari mendudukkan tubuhnya di atas kasur sofa miliknya.
Saras tersenyum. Ia mulai mengambilkan santap pagi di atas piring Dion, dan menyerahkannya pada laki laki itu.
Sepasang suami istri itupun kemudian menyantap makan pagi mereka bersama sama.
"Saras...." ucap Dion.
"Ya...." jawab wanita itu.
"Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu.." ucap Dion.
Saras diam sejenak.
"Apa?" tanyanya kemudian.
Dion menghentikan pergerakannya sejenak. Menatap nanar lurus ke sebuah pot bunga yang berada di ujung balkon.
"Ini tentang masa laluku, dengan seorang wanita mantan pacarku, dan kakaknya..." ucap Dion.
Saras terdiam. Ini yang ia tunggu tunggu. Kisah masa lalu Dion yang diceritakan langsung oleh si empunya cerita.
Saras mengubah posisi tubuhnya. Sedikit menyerong menghadap ke arah Dion.
"Cerita aja. Aku siap dengerin.." ucap Saras.
Dion menatap nanar ke arah sang istri. Ia lantas membuka mulutnya.
Dan, terbukalah. Dion menceritakan semua kisah masa lalunya. Semua yang terjadi antara ia, Angel, dan Gio. Bermula dari dipenjarakannya seorang Malvino Andreas Miguel saat Dion masih duduk di bangku sekolah dasar. Berujung bullying yang diterima Dion selama bertahun tahun, yang naasnya, di lakukan oleh Gio, pria yang akhir akhir ini sering menghubungi Saras.
Perundungan yang terus menerus dialami oleh Dion membuat mental Dion kecil pun terguncang. Ia sampai tak berani masuk sekolah lantaran takut bertemu dengan teman teman sebayanya, terutama Gio.
Hingga pada suatu ketika, seorang guru wanita yang baru mengajar beberapa hari datang padanya. Mengajaknya untuk tinggal bersamanya dan mendampinginya.
Namun rupanya ia salah. Tinggal bersama wanita itu justru menjadi awal mula 'sakit' yang Dion derita. Semakin lama wanita itu semakin menunjukkan sifat aslinya. Di dalam asuhan wanita itu, Dion diajarkan bagaimana cara membunuh, cara membalas dendam dan membalas sakit hati pada orang yang ia benci. Adegan adegan sadis, kekerasan, dan penyiksaan sering Dion saksikan di depan mata. Bocah itu bahkan juga sesekali mendapatkan kekerasan dari wanita yang mungkin usianya sepantar dengan ayah kandungnya.
Dion makin menggila disana. Korban bullying yang sudah rusak mentalnya kini makin rusak di tangan wanita yang entah siapa namanya. Dion lupa. Namun wajah wanita itu masih terekam jelas dalam memori otak Dion.
Keluar dari jerat wanita itu Dion makin tak punya arah tujuan hidup. Hingga sang ayah keluar dari penjara, Dion yang mulai menginjak dewasa justru makin menggila. Ia bahkan pernah berusaha membunuh ayahnya sendiri karena emosi yang meledak ledak.
Sang ayah pun akhirnya terpaksa memasukkan Dion ke rumah sakit jiwa.
Singkatnya, setelah semua yang Dion alami, ia kembali dipertemukan dengan Gio. Si pembully yang bisa dikatakan menjadi sosok pertama yang berhasil merusak mental Dionyz Aldari Miguel.
Dion jatuh cinta pada adik kandung pemuda itu.
Sama seperti cerita yang Saras dengar dari Malvino beberapa waktu yang lalu. Gio mengekang hubungan Dion dengan adiknya yang bernama Angel. Mempermalukan Dion. Membuka borok laki-laki itu. Mengungkit-ungkit masa lalu Dion yang pernah masuk rumah sakit jiwa dan anak dari seorang penjahat.
Keluarga Angel pun menentang hubungan mereka. Angel memutuskan hubungannya secara sepihak dan meninggalkan Dion begitu saja. Laki-laki itu sakit hati. Ia kemudian melampiaskan kekesalannya dengan membunuh mantan kekasihnya itu setelah sebelumnya sang ayah yang juga tidak terima dengan perlakuan keluar Angel itu memutuskan untuk menyabotase kendaraan yang ditumpangi oleh ayah dan ibu Angel hingga keduanya tewas akibat kecelakaan.
Saras sesak mendengarnya. Dion nampak bergetar menceritakan kisah masa lalunya. Laki laki itu pucat. Tubuhnya gemetar. Antara takut, benci, marah, semua bercampur menjadi satu. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Mencengkeram erat lengannya dengan gigi gigi yang mengetat. Deru nafasnya memburu. Sesekali ia menjambak rambutnya seolah ingin melukai dirinya sendiri. Ia tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan perasaannya yang tidak karuan saat ini.
Saras meringsut. Mendekap tubuh tegap itu menggunakan tangannya yang tak mampu memeluk sempurna tubuh tinggi tegap itu.
"Udah, nggak usah diterusin...!" ucap Saras merasa kasihan.
"Dia jahat..! Aku benci dia, Saras..! Aku benci..!" ucap Dion dengan sorot mata nanar penuh luka dan amarah.
"Iya, iya, aku tahu..! Udah, kamu tenang, ada aku disini..!" ucap Saras.
Dion yang masih dalam kondisi yang sama itu nampak menghempaskan pelukan istrinya. Ia meraih tubuh ramping itu. Mencengkeram lengannya lalu memiringkan kepalanya menatap wajah cantik yang terlihat tegang itu.
__ADS_1
"Janji sama aku, jangan temui dia lagi. Dia bukan orang baik. Dia bajing*n..! Dia akan mengambil kamu dari aku..!" ucap Dion dengan mata melebar. Sebuah ekspresi yang sulit dijabarkan dengan kata-kata. Ekspresi seorang manusia yang memiliki tekanan mental dan batin tersendiri yang tidak bisa sepenuhnya dipahami oleh manusia-manusia normal pada umumnya.
Saras mengangguk.
"Aku janji aku nggak akan berhubungan dengan dia lagi. Aku disini ada buat kamu. Kamu jangan khawatir, kamu nggak sendiri. Ada aku disini. Kita sama-sama terus. Nggak ada yang akan ganggu kita...! Udah, kamu tenang, semua akan baik baik aja..." ucap Saras menenangkan suaminya.
Dion mengembun. Ia masih terlihat tak karuan.
"Jangan pergi..!" ucap Dion.
"Nggak pergi, sayang..!" jawab Saras.
"Jangan tinggalin aku..!!"
"Enggak...! Aku nggak akan ninggalin kamu.."
"Aku nggak gila, Saras, aku nggak gila..!!" ucap Dion mulai histeris.
"Enggak, kamu nggak gila..! Udah...." ucap Saras mulai menangis. Ia ikut sedih sekaligus kalut melihat kondisi emosi sang suami yang terkontrol.
"Aku bukan orang gila, kan? Bukan, kan?"
"Bukan, Dion..! Udah, kamu nggak gila, kamu suami aku..!! Udah...!!!" ucap Saras menangis.
Wanita itu bangkit dari posisi duduknya. Ia berdiri di samping kasur sofa itu sambil memeluk sang suami yang nampak bergerak ke sana kemari itu dengan erat. Dion nampak kacau. Saras memdekap tubuh tegap itu. Dion memeluk pinggang Saras. Menempelkan kepalanya di perut sang istri sambil terus berucap 'Aku tidak gila'..!
Saras merasa perih. Betapa dalamnya luka yang sang suami rasakan selama ini. Kata-kata yang mungkin enteng keluar dari mulut anak anak sekolah pada masa itu, nyatanya benar-benar bisa menjadi sebuah pisau tajam yang berhasil menggores luka di hati Dion dan membekas hingga ia dewasa.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah.
Di sebuah mobil mewah yang melesat menembus padatnya jalan raya ibukota.
"Tuan..." ucap seorang sopir yang merangkap sebagai asisten sekaligus orang kepercayaan Malvino Andreas Miguel, Jason Smith.
Malvino yang duduk di kursi belakang tak menjawab. Ia hanya melirik sekilas ke arah salah satu orang kepercayaannya itu.
"Sopir yang selama ini mengantar tuan muda bepergian baru saja memberikan laporan pada saya. Beberapa hari lalu ada dua orang laki-laki mencurigakan yang diam-diam mengintai tuan muda dan Saras. Salah satu diantara mereka bahkan terlihat mengambil gambar tuan muda dan Saras secara sembunyi-sembunyi" ucap Jason berhasil menarik perhatian Malvino.
"Saya sudah mengerahkan beberapa anak buah untuk menyelidiki dua orang itu. Mereka terlihat beberapa kali mondar mandir dari depan rumah tuan.." tambah Jason.
"Polisi?" tanya Malvino.
"Sepertinya bukan, tuan..! Mereka tidak mengikuti kita. Mungkin yang mereka intai adalah tuan muda atau Saras..!" ucap Jason.
Malvino mengangkat dagunya.
"Siapa yang berani mengusik putraku?!" ucap Malvino yang seketika memasang wajah tidak tenang.
"Kami masih berusaha menyelidikinya, Tuan. Saya akan mengabari anda secepatnya..!" ucap Jason.
"Pastikan kalian tidak memakan waktu terlalu lama untuk mencari tahu siapa orang-orang itu atau orang-orang di belakangnya..! Dan aku mau, perketat penjagaan rumahku..! Pastikan Dion dan Saras tetap dalam kondisi aman, dan jangan pernah lengah untuk mengawasi mereka..!" ucap Malvino memberikan titahnya.
"Baik, Tuan..!" jawab Jason.
...----------------...
Selamat malam...
up 18:27
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘