Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
133


__ADS_3

Tek... tek... tek...


Jari jemari Dion bergerak pelan mengetuk ngetuk meja bundar itu. Hampir setengah jam ia duduk di tempat itu, berhadapan dengan seorang laki laki yang kini nampak menghisap rokoknya tanpa berbicara.


Sorot mata keduanya sama sama tajam dan terkesan angkuh. Dion sejak tadi hanya memainkan jari jari tangannya, sedangkan Gio nampak tenang dengan rokoknya. Namun pembicaraan sejak tadi tak kunjung dimulai. Keduanya seolah masih saling menunggu sang lawan bicara untuk membuka topik pembicaraan. Sepertinya gengsi sedikit banyak masih melekat dalam diri mereka.


Sementara itu, tak jauh dari meja Gio dan Dion, seorang pria berjambang tipis dan dua orang wanita muda nampak mengintip dari balik sebuah tembok coffee shop itu. Ya, itu adalah Arkana, Saras, dan Xena. Ketiga manusia itu rupanya sudah berdiri di tempat itu sejak lebih dari setengah jam yang lalu. Keduanya mengamati pergerakan Dion dan Gio dari kejauhan, seolah ingin melihat apa yang akan terjadi di antara kedua pria yang sempat berselisih tegang selama bertahun-tahun itu.


Selain ingin menjadi saksi perdamaian antara sepasang musuh itu, keduanya juga ingin melakukan antisipasi, kalau kalau terjadi baku hantam diantara kedua pria yang tak pernah akur tersebut.


"Ck! Setan emang tuh si gondrong! Lama banget dari tadi diem mulu. Nggak ngomong-ngomong! Mendadak bisu apa gimana sih dia?" gerutu Arkana yang mulai lelah menunggu di sana.


"Li berisik banget, deh! Sabar dikit napa sih, Ka?!" protes Saras.


"Capek nungguinnya, Ras!" ucap Arkana.


"Aduh..! Kalian berdua tuh sama aja sebenarnya. Sama sama berisik. Mereka tuh sekarang pasti lagi nungguin, siapa yang mau ngomong duluan. Dan dua duanya sama sama keras, nggak ada yang mau ngalah!" ucap Xena.


"Perlu gue lempar bom nggak sih?" tanya Arkana asal jeplak.


"Boleh tuh ide lo!" tambah Saras. Sepasang kakak beradik itu lantas cekikikan. Xena yang berada di antara Saras dan Arkana pun hanya terkekeh mendengar candaan dua saudara kandung itu.

__ADS_1


Sementara di meja bulat itu.


Sepasang pria yang terpaut usia tiga tahun itu masih saling diam. Dion masih diam menunggu Gio buka suara. Sedangkan Gio, ia menekan puntung rokoknya ke asbak yang sudah nampak penuh itu. Entah sudah berapa batang rokok yang ia habiskan selama duduk di tempat itu bersama Dion.


Laki laki gondrong itu menegakkan posisi duduknya.


"Oke, gue nyerah! Gue kalah!" ucap Gio sembari mengangkat kedua tangannya seolah menyerah dengan aksi saling diamnya dengan Dion.


Gio menarik kursinya agar lebih dekat dengan meja bundar itu. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, menatap tenang namun masih terkesan angkuh ke arah Dion yang sejak tadi hanya diam dengan sorot mata tajam.


Gio menarik nafas panjang. Lalu...


"Gue mau minta maaf!" ucap Gio kemudian. Dion tak bergerak. Laki-laki itu terlihat jauh lebih tenang dan lebih berani menghadapi pria yang merupakan pembullynya di masa lalu itu.


"Gue mau minta maaf atas semua kesalahan gue sama lo. Dulu, sampai sekarang saat kita dewasa," ucap Gio.


Dion masih tak bergerak. Gio melirik tajam ke arah Dion yang membisu.


"Sebenarnya gue nggak terlalu mengharap lu maafin gua, tapi seenggaknya gue udah punya niat baik untuk datang nemuin lo," ucap Gio.


Dion mengangkat satu sudut bibirnya.

__ADS_1


"Cara meminta maaf yang unik," ucap Dion pada akhirnya.


"Emang lo maunya apa? Gue tahu gue salah. Gue pembully yang udah berhasil bikin lo...ya...gitulah! Gue minta maaf atas itu. Dan untuk keluarga gue...." Gio menarik nafas panjang. "Gue ikhlas!" sambungnya kemudian.


Dion mengangkat satu sudut bibirnya.


"Bukankah biasanya kau selalu angkuh dan menganggap dirimu yang paling benar? Kenapa sekarang tiba tiba kau datang padaku dan menurunkan egomu yang setinggi langit itu?" tanya Dion.


Gio mengangkat satu sudut bibirnya.


"Karena gue capek dianggep sombong dan bebal. Gue pengen menyelesaikan masalah gue sama lo. Terserah lo mau maafin gue apa nggak. Gue ngelakuin ini karena banyak hal. Ini bukan cuma tentang lo dan gue, tapi juga tentang perempuan yang harus gue taklukkan hatinya," ucap Gio.


Dion diam, lalu mengangkat satu sudut bibirnya.


"Perempuan yang tadi datang bersamamu? Yang diam diam mencuri pandang padaku?" tanya Dion.


Gio berdecih.


"Jangan GR! Dia diem diem ngamatin lo bukan karena dia suka sama lo! Kalau lo mau tahu, lo bisa tanya bokap lo tentang Xena Adara! Mungkin bokap lo bisa menjelaskan!" ucap Gio membuat Dion terdiam dengan kepala penuh pertanyaan. Gio kembali mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, lalu menyalakannya, dan menikmatinya.


"Dah! Gue ama lo dah selesai! Gue mau kerja!" ucap Gio sembari bangkit dari posisi duduknya dan berbalik badan, berjalan menuju meja barista untuk memulai aktifitas lamanya sebagai seorang barista.

__ADS_1


"Nggak usah pada ngintip lu! Keluar lu semua!!" ucap Gio dengan lantang sembari berjalan menuju meja barista, meminta Xena, Saras, dan Arkana keluar dari tempat persembunyiannya.


...----------------...


__ADS_2