
Dion & Saras👇
Sementara itu di lantai bawah, di sebuah meja bundar tempat Saras, Dion, Xena duduk. Saras sejak tadi tak henti berucap. Ia menatap ke layar ponselnya, menunjukkan pada sang suami aneka pernak pernik bayi yang nampak begitu lucu. Wanita itu terlihat begitu antusias. Ia sudah mulai membeli barang barang bakal perlengkapan calon anak mereka melalui aplikasi belanja online. Meskipun usia kandungannya kini baru memasuki usia lima bulan.
Sedangkan Dion yang duduk di sampingnya sejak tadi hanya menjawab seperlunya. Ia tak banyak bicara. Lebih banyak mengiyakan ucapan sang istri. Dion di dalam rumah dan di luar rumah memang beda. Dion di dalam rumah adalah Dion yang hangat, yang penyayang, yang suka bercanda, yang manja, dan begitu perhatian pada sang istri.
Namun jika di luar, terlebih ketika berada di tengah tengah orang yang tak ia kenal, Dion adalah laki laki yang dingin, tak banyak bicara, tak banyak senyum, dan terkesan sedikit angkuh. Meskipun terkadang ia juga bisa menjelma menjadi pria yang ramah ketika bertemu dengan para pelanggannya.
Ya, katakanlah laki laki itu masih sering berubah ubah kepribadiannya.
Seperti saat ini, saat Dion tengah berada di antara Saras dan Xena, Dion nampak memasang mode angkuh dan dinginnya. Padahal ia sadar jika sejak tadi Xena diam diam mencuri pandang padanya, namun Dion berlagak seolah tidak tahu apa apa.
Sedangkan Xena, wanita itu diam diam nampak meremas jari jari tangannya. Entah mengapa perasaannya tiba tiba menjadi sedih. Laki laki di hadapannya ini adalah adik se ayahnya. Laki laki inilah yang dikehendaki sebagai anak oleh Malvino. Laki laki inilah yang diagung-agungkan, dipuja-pujanya, dan dibangga-banggakan oleh Malvino seperti apapun kondisinya.
Tak seperti dirinya. Si anak yang tidak diharapkan. Si anak yang dibuang lantaran dianggap tak bisa menjadi penerus jejak kriminal ayah kandungnya.
Sakit sekali. Sesak sekali. Mereka adalah sepasang saudara, tapi Dion tak tahu akan hal itu. Sedangkan Xena, sepertinya ia enggan untuk memberitahukan pada Dion mengenai hubungan diantara mereka. Cukup ia yang tahu. Toh, ia juga tak berharap dianggap kakak oleh laki laki itu. Bukan karena marah atau benci, tapi lebih pada kecewa dengan sikap Malvino yang sudah terlanjur menganaktirikan ia sejak pertama ia melihat dunia.
Xena mencuri pandang lagi ke arah Dion. Laki laki itu mengangkat satu sudut bibirnya. Ia sangat sadar akan gerakan mata wanita berkerudung itu.
Drrrrttt... drrrrttt....
Ponsel di saku celana Dion bergetar. Laki laki itu lantas merogoh saku celananya, meraih benda pipih itu dan menatap layarnya.
Papa...
memanggil...
__ADS_1
Dion mengusap tombol hijau disana, lalu menempelkan benda itu di telinganya.
"Ya, Pa," ucap Dion membuat Xena reflek mendongak menatap Dion. Sedangkan Dion kini nampak menatap tajam ke arah wanita itu.
"........"
"Oh, aku masih di coffee shop, Pa. Ada apa?" tanya Dion.
"........"
"Em, berapa lama?" tanya Dion.
"........."
"Oh, oke. Papa hati hati, ya. Maaf, aku nggak bisa ngantar Papa," ucap Dion.
".........."
Xena mengembun. Ia menundukkan pandangannya mencoba menyembunyikan kesedihannya. Sakit sekali mendengar itu. Kemesraan sepasang ayah dan anak yang terpampang nyata di hadapannya. Mirisnya, si ayah yang menjadi lawan bicara Dion itu ayahnya. Tapi ia tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu. Sangat jauh berbeda dengan Dion yang begitu diistimewakan oleh Malvino.
Dion mematikan sambungan teleponnya. Ia kemudian memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya.
"Siapa?" tanya Saras.
"Papa," jawab Dion.
"Ada apa?" tanya Saras.
"Papa pamit, dia mau ke luar negeri untuk beberapa hari. Dia berangkat hari ini," ucap Dion.
Saras hanya mengangguk.
__ADS_1
"Keren mertua gue! Rampok kelas internasyeneeell..!" batin Saras sambil senyum senyum sendiri.
Tak berselang lama, sepasang sahabat yang baru saja berbaikan itu nampak berjalan menuruni tangga coffee shop. Sembari merangkul pundak Gio, Arkana nampak sesekali tergelak bersama kawan akrab yang sangat ia rindukan itu.
Keduanya berjalan mendekati meja Dion. Arkana kemudian melepaskan tangannya dari pundak Gio.
"Saras, Xena, ikut gue bentar, yuk!" ucap Arkana.
Saras mengernyitkan dahinya.
"Ngapain?" tanya Saras tak paham. Xena tersenyum, mencoba menyembunyikan kesedihannya dari orang orang di sekitarnya. Namun sepertinya Gio sudah berhasil membaca mimik wajah wanita itu.
Xena bangkit. "Boleh! Yuk, Ras!" ajak Xena yang dengan cepat meraih lengan Saras dan membimbingnya untuk bangkit. Ia sudah tahu maksud dan tujuan Arkana. Saras yang masih sedikit bingung itupun hanya bisa menurut sambil celingukan. Ia sebenarnya juga sedikit ragu, takut kalau kalau akan terjadi baku hantam antara Dion dan Gio jika ia tak berada di samping suaminya.
Xena dan Arkana pun mengajak Saras pergi. Meninggalkan Gio dan Dion berdua di meja itu.
...----------------...
Yang belum mampir, jangan lupa mampir yuk, ramaikan, dijamin banyak bapernya😍
"(Bukan) Perampas Mahkotaku"
....
Pertemuan mereka terjadi karena sebuah kesalahpahaman. Kesalahan seseorang membuat mereka saling mengenal, terpaksa dekat, hingga akhirnya jatuh cinta.
Sebuah kisah cinta sederhana yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Penuh makna dan arti dari ketulusan sebuah perasaan suci yang tidak memandang kasta, latar belakang dan masa lalu satu dengan yang lainnya.
Bagaimana kisah mereka?
__ADS_1