Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
54


__ADS_3

"Sampaiin salam gue buat Tuhan...! Bilang, kalau lu berterima kasih ama gue, karena sudah mengantarkan pecundang kaya lo untuk menghadap Tuhan lebih cepat..!!" ucap Gio.


Laki laki itu menyeringai. Ia mengangkat tangannya. Bersiap untuk menancapkan pisau itu di tubuh Dion yang sudah diam tak bergerak. Namun tiba tiba........


.


.


.


.


"BERHENTI...!!!"


Suara itu menggema. Seorang wanita cantik yang terlihat kacau masuk ke dalam rumah itu tanpa permisi bersama dengan seorang pemuda di belakangnya.


Gio dengan pisau di tangannya itupun menoleh ke arah sumber suara. Sedangkan Dion sama sekali tak bergerak di bawah sana. Ia sudah tidak sadarkan diri.


Laki-laki berambut gondrong itu nampak melotot. Ia terkejut. Dilihatnya di sana, Saras datang dengan tiba-tiba bersama Arkana di belakangnya. Wanita yang nampak kacau itu kemudian berlari mendekat ke arah dua pria yang baru saja selesai baku hantam itu.


"Saras?" ucap Gio masih dengan pisau di tangannya. Ada apa ini? Kenapa tiba tiba ada Saras di sini? Pikir pemuda itu.


Bugghh...


Saras menjatuhkan tubuhnya di samping raga sang suami yang tak berdaya.


"Dion..! Dion, bangun...!!" ucap wanita itu panik sambil menangis sesenggukan melihat kondisi sang suami.


Dion nampak remuk. Wajahnya babak belur. Memar dan lebam di beberapa bagian. Hidung, pelipis serta bibirnya mengeluarkan darah. Matanya terpejam. Laki laki itu sama sekali tak merespon tangisan wanita yang sejak tadi mencari cari keberadaannya itu.


"Dion, bangun..!!" ucap Saras lagi sambil menggoyang goyangkan tubuh pria itu namun sama sekali tak ada reaksi.


Saras menangis pilu di bawah sana sambil terus memanggil manggil nama Dion. Ia tak peduli dengan tangan dan bajunya yang kini nampak berlumuran darah sang suami. Saras memangku kepala itu di pahanya. Air matanya tak terbendung. Hatinya hancur melihat kondisi Dion yang menyedihkan itu.


Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?


Arkana dan Gio nampak diam tak bergerak. Gio bingung. Berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya malam ini. Dion datang dengan tiba tiba dan mengajaknya duel. Sedangkan Saras kini tiba tiba datang sambil menangis meraung raung di bawah sana.


Sedangkan Arkana kini nampak mematung dengan mata mengembun. Laki-laki itu merasa sesak di dadanya. Entah mengapa itu merasa tak tega mendengarkan tangisan wanita yang sejak tadi terlihat kacau itu. Tangisan itu terdengar sangat pilu. Berhasil mencabik-capek hati seorang Arkana sejak tadi.


"Dion....banguuun..." ucap wanita itu terus menangis.


"Ras...." Suara itu berhasil membuat Saras yang kalut terdiam. Ia dengan cepat menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya di sana dua pria itu nampak berdiri di sana, menatap penuh tanya ke arah Saras yang nampak memangku kepala Dion sambil terus menangis.

__ADS_1


"Lu ngapain di sini? Dan....dia....?" tanya Gio pelan sambil menatap penuh tanya ke arah Dion dan Saras secara bergantian. Sungguh, ia masih bingung dengan kehadiran Saras yang tiba tiba itu.


Saras menangis sesenggukan. Ia menggerakkan tangannya mengusap air mata di pipinya. Membuat darah sang suami yang sejak tadi melumuri tangannya itu kini nampak mengotori wajahnya.


Saras menatap Gio dengan dada naik turun. Sakit sekali dadanya melihat sang suami yang terkapar itu.


"Dion itu suami gua....!!!!" ucap Saras lantang sambil terus menangis.


Membuat Gio dan Arkana pun seketika terkejut dibuatnya.


"Orang yang sejak dulu lu katain gila itu suami gue...!!!!"


"Dia suami gua....!!!!!!" teriak wanita itu frustasi.


"Dia orang yang selalu gue jaga perasaannya..! Orang yang sedang gue bantu untuk bangkit dari trauma bullying yang lu lakuin dulu...!!"


"Dia suami gua...!! Puas lu udah bikin dia kaya gini?!!!" teriak Saras makin tak terkendali. Sungguh, wanita itu benar benar frustasi.


Tangis itu terdengar makin kencang memecah sunyi nya malam itu. Tangis seorang wanita yang hanya ingin mengabdi sebagai seorang istri yang baik. Tangis seorang wanita yang hanya ingin membantu menyembuhkan trauma dalam diri suaminya namun terasa begitu berat manakala ia dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa masa lalu suaminya begitu kelam.


Dion adalah mantan korban bullying yang menjelma menjadi seorang pembunuh. Dion adalah mantan anak baik baik yang terjerumus ke lembah kriminal karena faktor orang orang terdekatnya.


Saras menangis sejadi jadinya. Ia tak bisa menyalahkan Gio sepenuhnya karena ini juga bukan sepenuhnya salah Gio.


Tapi juga tidak sepenuhnya salah...!


Ia mantan anak baik yang menjelma menjadi penjahat karena ulah laki laki gondrong itu di masa lalu. Ia menjelma menjadi pembunuh karena mulut dan tindakan laki laki kakak Angel itu yang begitu brutal menyakiti hati seorang Dion.


Tidak ada yang bisa disalahkan, dan tidak ada yang bisa dibenarkan...!!


Tolonglah, bullying lah awal dari semua kekacauan ini....!


Gio menjatuhkan pisau di tangannya. Sorot matanya nanar menatap wanita yang terus menangis itu. Guo benar benar terkejut. Entah bagaimana perasaannya saat ini. Campur aduk. Tak bisa dijelaskan dengan kata kata.


Ia benci dengan Dion. Ia dendam dengan laki laki itu. Ia terkejut mendengar ucapan Saras. Tapi ia juga merasa iba melihat tangisan wanita malang itu. Ia merasa bersalah.


Tapi entahlah, ia bingung...!


Saras mengusap lelehan air matanya.


"Kita pergi dari sini, sayang. Kita ke rumah sakit ya..." ucap Saras sembari bangkit. Wanita itu nampak bersusah payah mencoba mengangkat tubuh sang suami yang lebih besar darinya itu namun ia kesulitan.


"Ayo Dion, tolong, bangun..!!" ucap wanita itu menangis.

__ADS_1


Dion sama sekali tak bereaksi.


"Dion, bangun..! Jangan bikin aku khawatir...!! Bangun..." ucap Saras lagi sambil terus mencoba mengangkat tubuh Dion.


Arkana memejamkan matanya. Setitik air mata jatuh menangisi Saras yang nampak menyedihkan. Ia kemudian mengusap air matanya. Dengan segera ia pun bergerak mendekati wanita itu.


"Gue bantu...!" ucap pemuda itu sambil meraih tubuh Dion dan membantu memapahnya.


Saras mengangguk. Ia kemudian mengikuti langkah Arkana yang membawa tubuh Dion keluar rumah itu dari belakang. Meninggalkan Gio yang nampak diam mematung di sana.


Di luar rumah....


"Kita bawa ke rumah sakit pakai apa?" tanya Arkana.


Saras celingukan. Tak ada kendaraan yang bisa mereka gunakan untuk membawa tubuh Dion. Hanya ada sebuah motor besar yang sepertinya mustahil untuk dipakai boncengan bertiga.


Saras bingung. Ia menangis lagi. Ia benar benar takut jika Dion terlambat mendapatkan pertolongan.


"Ras, jangan nangis terus...! Telfon taksi, cari taksi, buruan...!!" ucap Arkana.


Saras menurut. Ia kemudian mencoba menghubungi agen taksi di kota itu melalui ponsel yang berada di tangannya. Namun belum sempat ia menemukan nomor ponsel agen taksi itu, tiba tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumah Gio. Seorang pria berpenampilan serba hitam nampak keluar dari kendaraan roda empat tersebut. Ya, itu adalah sopir pribadi yang selama ini selalu mengantar jemput Saras dan Dion. Laki-laki itu melacak keberadaan Saras yang pergi tanpa pamit itu melalui nomor ponsel wanita tersebut.


Laki laki itu mendekat.


"Bapak....!" ucap Saras pada laki laki itu.


"Bawa tuan muda masuk ke mobil, nona..! Kita bawa ke rumah sakit...!" ucap si sopir sigap.


Saras mengangguk. Arkana pun lantas membawa Dion yang tak sadarkan diri itu untuk masuk ke dalam mobil mewah yang sudah terparkir di sana.


Saras kemudian masuk ke dalam mobil itu, memangku kepala sang suami yang masih diam tanpa pergerakan.


Mobil pun melaju kencang meninggalkan tempat tersebut menuju rumah sakit terdekat.


Arkana yang merasa tidak tega melihat kondisi Saras yang nampak hancur itu kemudian mengambil inisiatif untuk mengikuti mereka ke rumah sakit. Pria itu naik ke atas motornya, mengenakan helmnya, lalu melesat mengikuti mobil yang kini membawa Saras Dan Dion itu.


Di dalam mobil, sang supir nampak melakukan panggilan telepon. Menghubungi Malvino dan mengabarkan apa yang terjadi pada Dion. Sedangkan di kursi belakang, Saras juga nampak melakukan panggilan telepon. Ia menghubungi ibunya. Meminta wanita paruh baya itu untuk menyusulnya ke rumah sakit. Saras benar-benar tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Hanya ibu dan adiknya lah yang ibunya yang ia punya. Ia butuh teman untuk mendampingi Dion mendapatkan perawatan di rumah sakit.


...----------------...


Selamat pagi


up 04:40

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2