Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
124


__ADS_3

Pagi menjelang saat mentari mulai menampakkan sinarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Shift malam sudah berakhir. Jam kerja Xena sudah selesai. Kini perawat cantik berhijab putih itu nampak berjalan keluar dari rumah sakit. Dengan jaket coklat miliknya serta sebuah tas ransel yang tergantung di punggungnya, wanita itu berjalan menuju pintu gerbang rumah sakit tempat di mana seorang pria berambut gondrong sudah menunggunya di sana. Tepat di atas sebuah sepeda motor besar miliknya.


Xena tersenyum. Ia setengah berlari mendekati motor tersebut.


"Hai..!" ucap Xena pada Pria itu, Giovani Reksa.


Gio dengan rokok di tangannya itu nampak tersenyum. "Hai," jawabnya.


"Udah lama?" tanya Xena.


"Belum terlalu!" jawab Gio.


Xena hanya diam lalu mengangguk. Gio nampak mengamati paras ayu itu.


"Lo kenapa? Muka lo kek sedih gitu?" tanya Gio.


Xena menghela nafas panjang. Dirogohnya saku jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah kalung emas miliknya yang nampak sudah patah.


"Lah, ini kalung lo kenapa?" tanya Gio sembari meraih kalung emas itu.


Xena mendengus kesal. "Nyangkut! Cincin liontinnya ilang!" ucap Xena berbohong. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, cincin itu di bawa pergi oleh Malvino. Entah apa tujuan pria dewasa itu. Setelah mendapatkan perawatan luka dari Xena, laki laki ayah kandung Dion itu justru mengambil paksa cincin milik Xena dan menukarnya dengan sejumlah uang.


Bukan masalah cincinnya yang membuat Xena sedih. Tapi kenangannya. Cincin itu adalah satu satunya barang berharga peninggalan orang tuanya. Kini cincin itu malah dibawa pergi oleh Malvino tanpa alasan yang jelas. Membuat Xena seolah semakin sedih karenanya.


Kini wanita itu ingin mencurahkan isi hatinya pada Gio. Tapi ia tak mau menyebut nama Malvino. Ia takut jika hati Gio yang sudah mulai mencair kini kembali membatu. Lalu ia akan marah kemudian kembali membuatnya membenci Dion.


Gio menghela nafas panjang. "Bisa bisanya kalung di leher nyangkut. Lu petakilan kek gimana sih, Wel?" tanya Gio membuat Xena melotot.


"Wal Wel Wal Wel...!!!" ucap Xena ngegas membuat Gio terkekeh.


"Bawel," ucapnya kemudian. Xena mengangkat satu sudut bibirnya sinis.


"Udah yuk, naik! Kita beli sarapan dulu!" ucap Gio.


"Nanti jadi ke coffee shop?" tanya Xena pada Gio yang kemarin sempat mengatakan ingin mengunjungi coffee shop miliknya dan Arkana.

__ADS_1


Gio diam sejenak. "Lihat nanti, deh. Kalau nggak males kita ke sana. Asal lu temenin gue aja," ucap Gio sambil tersenyum.


"Beres!" jawab Xena sembari menepuk pundak laki-laki itu. Ia kemudian naik ke atas motor besar tersebut dan mengenakan helm berwarna merah muda yang Gio bawakan.


"Ready?" tanya Gio.


"Pelan pelan, Pak sopir..." ucap Xena membuat Gio tergelak.


"Bisa aja lu!" ucap pria itu. Xena pun ikut terkekeh. Motor pun lantas melesat meninggalkan rumah sakit. Membawa sepasang anak manusia itu menuju salah satu tempat makan untuk menikmati santap pagi mereka.


...****************...


Sekitar sepuluh menit berselang, Gio menghentikan laju motornya di sebuah warteg yang berada di pinggir jalan. Laki laki itu dampak memarkirkan motornya di depan warung makan itu. Ia melepas helmnya, menatap aneh ke arah warung makan yang nampak dipenuhi beberapa pembeli itu.


Xena turun dari motor tersebut sembari melepas helmnya dan menyerahkannya pada Gio.


"Ayo turun!" ucap Xena.


Gio diam sejenak. "Xen, lu yakin mau makan di tempat kayak gini?" tanya Gio.


"Emangnya kenapa? Kamu nggak suka, ya?" tanya Xena.


"Aku bukan cewek!" jawab Xena sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam warteg itu. Laki-laki itu hanya bisa terkekeh mendengar celetukan aneh dari gadis berhijab putih tersebut. Entah mengapa ia selalu bisa merasa bahagia tiap kali berdekatan dengan gadis itu.


Sepasang anak manusia itu lantas masuk ke dalam warteg tersebut. Keduanya lalu mendudukkan tubuh mereka di atas sebuah kursi panjang di sana dan mulai memesan makanan. Sesekali candaan dan lelucon keluar dari keduanya. Tawa dan cekikikan seolah tak henti mereka tampilkan. Hingga tiba-tiba...


Drrrrttt... Drrrrttt...


Ponsel di dalam saku celana Xena bergetar. Wanita itu lantas meraih benda pipih tersebut dan membukanya. Sebuah panggilan dari ibu panti masuk dalam ponselnya. Dengan segera ia menyentuh tombol hijau yang berada di layar benda itu lalu menempelkan ponsel tersebut di telinga kanannya.


"Halo, Assalamualaikum, Ibuk" ucap Xena.


"Wa alaikum salam, Xen. Nak, kamu dimana?" tanya ibu panti dari seberang sana.


"Xena lagi di jalan, Buk. Lagi cari sarapan. Ada apa?" tanya Xena.

__ADS_1


"Ini di panti lagi ada orang yang mau ketemu sama kamu. Dia nungguin kamu dari tadi, Nak," ucap ibu panti.


"Nungguin aku? Siapa, Buk?" tanya Xena.


Ibu panti nampak diam sejenak. "Kamu langsung pulang aja, ya. Biar nanti bicaranya di rumah aja. Ini beliau sudah menunggu kamu dari tadi. Cepat pulang ya, Nak. Nggak usah mampir-mampir dulu," ucap ibu panti tersebut dengan lembut dan keibuan.


Xena diam. Ia nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk.


"Ya udah, Xena selesaikan makannya dulu ya, Buk. Habis itu Xena langsung kembali ke panti secepatnya," ucap wanita berhijab itu.


"Iya, Nak. Ya sudah, ibu tunggu, ya. Kamu hati-hati di jalan. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Xena.


Sambungan telepon pun terputus. Xena memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Siapa?" tanya Gio.


"Ibu panti. Katanya di panti lagi ada orang yang nungguin aku," ucap Xena.


Gio menoleh. "Siapa?" tanyanya.


Xena mengangkat kedua pundaknya.


"udah buruan yuk, dimakan. Aku udah ditunggu ibu panti," ucap Xena.


Gio pun mengangguk. Keduanya lantas memulai sarapan mereka sebelum akhirnya menuju panti tempat tinggal Xena.


...----------------...


Selamat malam,


up 19:45


yuk, dukungan dulu...

__ADS_1


Jangan lupa mampir sini juga👇👇



__ADS_2