Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
135


__ADS_3

22:00.


Di sebuah warung angkringan di tepi jalan. Rintik hujan turun membasahi bumi. Hawa dingin menyerang seolah dengan gampangnya menusuk tulang manusia yang masih dipaksa beraktivitas di luar rumah meskipun jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.


Sepasang pemuda itu nampak asyik menikmati santap tengah malamnya. Susu hangat dan beberapa makanan khas warung tenda pinggir jalan nampak tersaji di hadapan mereka. Seolah ingin membantu sepasang pemuda yang hendak menuju rumah sakit itu untuk menghangatkan badan mereka barang sejenak.


Gio yang sejak tadi berceloteh ke sana kemari nampak menyeruput susu putih panasnya. Laki laki dengan jaket tebal berwarna hitam itu lantas menoleh ke arah sang gadis berkerudung yang kini duduk di sampingnya. Entah mengapa malam ini Xena jadi pendiam. Sejak tadi wanita itu tak banyak bicara. Membuat Gio menjadi sedikit aneh. Xena biasanya sangat ceria, bukan?



"Xena," ucap Gio sembari mengubah posisi duduknya menjadi menyamping menatap ke arah Gadis berkerudung putih itu.


Xena tak menjawab. Wanita itu justru sibuk melamun sembari memutar-mutar jari telunjuknya di bibir gelas susu itu.


"Xen..." ucap Gio lagi. Xena masih tak menjawab, membuat Gio pun mendengus kesal karenanya. Digerakkannya jari telunjuknya itu dengan iseng mengangkat pucuk hidung gadis berkerudung putih tersebut.


"Gue ngomong sama lu, anak panti!" ucap Gio membuat Xena tersadar dari lamunannya.


"Ih, Gio!!" ucap Xena protes sembari memukul lengan pria dengan senyuman manis itu.


"Abisnya lu diajakin ngobrol dari tadi diem aja, nggak ada suaranya!! Ada apa sih? Lo dari tadi nggak asik, diem mulu!" ucap Gio.


Xena menghela nafas panjang. Gio menggerakkan jari telunjuknya lagi menowel dagu gadis manis berjaket coklat itu. Xena mengelak. Ia menatap jengkel ke arah pria dengan sebatang rokok di tangannya itu.


"Napa sih? Ngomong, dong!" ucap Gio lagi.

__ADS_1


Xena menghela nafas panjang. Wanita itu lantas diam dan menunduk.


"Gio," ucap Xena.


"Hmm," jawab pemuda itu sembari lagi lagi menyesap benda bernikotin itu.


"Rasanya punya saudara gimana, sih?" tanya Xena.


Gio diam. Tatapannya berubah iba ke arah gadis yang sebenarnya masih memiliki orang tua bahkan saudara lengkap itu.


"Gimana rasanya dipeluk ayah dan ibu kandung?" tambah Xena dengan mata mengembun. "Seumur hidup aku nggak pernah ngerasain itu. Aku pengen ngerasain dipeluk orang tua yang lengkap, Gio," imbuh gadis malang itu lagi.


Gio diam tak bergerak. "Kamu masih beruntung, pernah ngerasain punya keluarga. Mereka masih sayang dan memang nerima kamu sebagai anak titipan Tuhan. Lah aku?" ucap Xena dengan wajah menunduk.


"Niatnya aku mau masa bodoh sih, Gio. Toh aku juga udah biasa dari kecil nggak punya orang tua. Tapi, kok sekarang tiba tiba aku sedih, ya? Aku juga anaknya loh. Aku juga lahir dari benih dia. Aku sama Dion juga sama sama lahir dari hubungan di luar pernikahan. Tapi kenapa perlakuannya beda antara aku sama Dion?" tanya Xena. "Apa hanya karena aku perempuan makanya aku nggak dianggap. Hiks..."


Gadis itu menangis juga pada akhirnya. Ia mengusap lelehan air matanya. Membuat Gio makin iba melihatnya.


Pemuda itu meringsut, mendekatkan tubuhnya pada Xena lalu mengusap lelehan air matanya. Ditatapnya dalam wanita yang secara perlahan berhasil melunakkan hati seorang Giovani Reksa.


"Bukan lo yang salah. Tapi bokap lo yang buta. Dia nggak bisa lihat, dia nggak sadar bahwa selama ini dia udah menyia nyiakan bidadari seistimewa lo. Menelantarkan anak yang bisa menuntunnya ke surga demi anak lain yang hanya akan menemaninya menuju neraka."


"Gue tahu gimana perasaan lo. Tapi mereka nggak pantas buat lo tangisin. Bukannya lo yang selalu bilang, semua yang ada di dunia ini berjalan sesuai kehendakNya. Kalau memang itu benar adanya, kenapa lu nggak minta Tuhan lu untuk mendekatkan lo sama bokap lo. Atau meminta Tuhan lu untuk melembutkan hatinya, sama seperti Tuhan melembutkan hati gue melalui lo."


"Gue aja yang jauh bisa tunduk ama lo, apa lagi bokap lo yang punya ikatan darah sama lo? Itu pasti lebih mudah," ucap Gio menghibur sang wanita.

__ADS_1


Xena sesenggukan dengan bibir yang nampak bergerak gerak. Gio tersenyum lucu. Gadis itu justru terlihat semakin menggemaskan. Ia kembali menggerakkan tangannya mengusap lelehan air mata itu.


"Dah, jangan nangis! Muka lo jelek banget kalo nangis!" ucap Gio. Xena mengusap lelehan air matanya.


"Jalan, yuk! Udah hampir jam sebelas nih. Entar lo telat, lagi!" ucap Gio.


Xena mengangguk. Sepasang muda-mudi itu lantas bangkit dari posisi duduknya. Setelah membayar semua makanan dan minuman yang ia santap bersama Xena, Gio pun bergegas mengayunkan kakinya meninggalkan warung tenda pinggir jalan tersebut untuk menuju motornya guna mengantar Xena menuju rumah sakit tempat gadis itu bekerja.


Baru saja keduanya selesai mengenakan helm. Gio sudah berada di atas sepeda motor, sedangkan Xena sudah bersiap untuk membonceng. Tiba tiba...


.


.


.


"Xena...."


Deeghh....


Gio dan Xena menoleh ke arah sumber suara.


"Panjang umur!" ucap Gio pelan.


__ADS_1


__ADS_2