
Siang menjelang,
Di sebuah rumah mewah yang terletak di salah satu komplek perumahan elit di kota itu.
Sebuah motor besar nampak memasuki halaman luas salah satu hunian mewah yang berjajar rapi di sepanjang jalan komplek perumahan asri itu.
Ya, itu adalah Arkana. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Pemuda berparas tampan dengan jambang tipis menghiasi rahangnya itu baru pulang setelah sejak semalam menemani Saras dari mencari suaminya sampai menemaninya di rumah sakit.
Arkana melepaskan helmnya. Pemuda dua puluh lima tahun itu kemudian turun dari kendaraan roda dua miliknya itu. Ia kemudian berjalan menuju pintu utama rumah mewah tersebut dan berniat masuk ke dalamnya.
Baru saja ia menyentuh handle pintu, berniat masuk ke dalam kediaman megahnya. Tiba tiba.....
Arkana menghentikan pergerakannya. Dilihatnya disana sebuah mobil mercy berwarna merah memasuki halaman rumahnya. Kendaraan roda empat itu lantas berhenti tepat di samping motor besarnya. Seorang wanita berpenampilan anggun lengkap dengan kacamata coklat nampak turun dari sana.
Arkana mengulum senyum. Itu adalah mamanya, Maya..!
Arkana tersenyum. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu kemudian berjalan dengan cepat mendekati pemuda yang baru saja pulang sejak semalam itu sambil melepas kacamata coklatnya.
"Arka...!!" ucap Maya dengan wajah khawatir. Ia mendekati pemuda itu. Menyentuh kedua lengan Arkana lalu menangkup wajahnya.
"Kamu ke mana aja semalam nggak pulang?! Mama tuh khawatir tau nggak nungguin kabar dari kamu..! Ditelepon gak bisa..! Di chat juga nggak dibales..! Gio mama hubungin juga sama..! Semua nggak bisa..! Kamu ke mana aja? Terus ini kenapa mukanya bonyok kayak begini..! Kamu habis berantem? Berantem sama siapa kamu?!!" tanya Maya tanpa jeda sambil membolak balikkan wajah serta tubuh Arkana seolah ingin melihat seberapa banyak luka yang diderita sang putra setelah tak pulang semalaman. Wanita itu benar-benar terlihat khawatir.
Arkana hanya bisa pasrah.
"Ma, Arka nggak apa apa..!" ucap Arkana.
"Nggak apa-apa gimana? Orang ini memar kayak begini kok dibilang nggak apa-apa..!"
"Jawab Mama sekarang..? Dari mana aja kamu semalam? Sama siapa? Ngapain aja? Kenapa bisa jadi bonyok kayak begini? Ada ada aja kamu ini, Ka..! Kamu nggak tahu Mama di rumah sendiri mikirin kamu? Udah papa nggak ada di rumah..! Kamu nggak pulang..! Mama di rumah sendirian semalaman...! Mama tuh khawatir sama kamu, nak..! Jangan bikin Mama panik dong..!!" ucap wanita itu nyerocos tanpa henti.
Alih alih kesal, Arkana justru terkekeh mendengar omelan sang ibunda. Ia menggerakkan tangannya, memeluk wanita cantik itu dengan hangat.
"Iya, maafin Arkana ya, Ma. Semalam Arka nemenin temen Arka. Suaminya masuk rumah sakit. Kasihan, dia nggak ada temennya. Makanya aku nggak pulang. Maaf, ya. Arka sampai lupa ngabarin mama.." ucap pemuda itu yang justru membuat Maya makin khawatir. Ia menjauhkan tubuh pemuda itu darinya.
"Kamu nemenin istri orang? Kamu temenan sama istri orang? Jangan aneh-aneh kamu, nak!" ucap Maya seolah memiliki pemikiran yang tidak-tidak tentang putranya.
"Astaghfirullah Haladzim, Mama..! Apa sih?! Cuma teman biasa..! Suaminya sakit, makanya Arka temenin dia. Udah, itu aja..! Nggak lebih..! Arka pulang setelah ibunya datang. Makanya sampai siang. Arka juga nggak ada hubungan apa-apa sama dia, Ma. Ya kali aku mau godain istri orang. Kayak nggak ada perawan aja...!" ucap Arkana mengelak.
Maya menatap sang putra dengan sorot mata menyelidik.
"Beneran..?" tanya Maya.
"Iya bener, Mama..!" jawab Arkana meyakinkan sang mama. Wanita itu diam sejenak, kemudian mengangguk. Mencoba mempercayai ucapan sang putra.
__ADS_1
"Oke, kali ini mama percaya sama kamu..!" ucap Maya.
"Ya udah sekarang masuk sana. Makan dulu. Udah makan belum?" tanya Maya.
Arkana tersenyum manis.
"Sebenarnya sih udah, tapi setelah pulang lihat Mama yang cantik, aku jadi lapar lagi..!" ucap pemuda itu manis sambil mengusap usap perutnya. Maya tersenyum lucu.
"Makan bareng, yuk..!" imbuh Arkana sambil merangkul pundak sang mama.
Maya terkekeh.
"Ya, udah, ayok.." jawab wanita itu.
Keduanya pun melangkah menuju ke dalam rumah
"Oh ya, Mama tadi dari mana?" tanya Arkana sembari berjalan menuju meja makan.
"Ketemu sama teman mama sebentar. Habisnya di rumah mama nggak ada temennya. Sebenarnya tadi sih niatnya mau ke coffee shop kamu, tapi nggak jadi..!" ucap wanita itu.
Sepasang ibu dan anak tak kandung itu kemudian asyik berbincang santai sembari memulai santap siang mereka bersama-sama. Saat ini Bharata sedang tidak berada di rumah. Ia sedang pergi ke luar kota untuk mengurusi bisnis-bisnis besarnya.
...****************...
Sementara di tempat terpisah,
Wanita dengan beberapa memar dan lebam di tubuh itu nampak menyandarkan kepalanya di pundak sang ibunda. Kedua wanita itu duduk di salah satu kursi tunggu yang berada di sana. Hingga saat ini, Malvino belum mengizinkan Saras untuk masuk ke dalam ruang ICU. Sedangkan pria bengis itu sejak tadi juga belum keluar dari ruangan tempat di mana Dion dirawat itu. Entah bagaimana kondisi Dion saat ini. Sudah membaik atau belum, Saras pun tidak tahu.
Sebagai seorang istri, sungguh, Ingin rasanya Saras berlari dan masuk ke dalam ruangan tersebut untuk melihat bagaimana kondisi suaminya. Tapi sayang, sang mertua tidak mengizinkan. Hal itulah yang menyebabkan ia hingga detik ini masih berada di di kursi tunggu tersebut. Menantikan Malvino keluar dari sana. Kemudian ia akan meminta izin untuk masuk dan melihat kondisi suaminya.
"Ras..." ucap Ratih dengan sorot mata menatap lurus ke depan.
"Hmm.." jawab Saras.
"Kok gue dari tadi kepikiran ama temen lu ya, Ras" ucap Ratih. Saras menoleh sejenak arah sang ibu kemudian kembali menatap lurus ke depan. Tepat ke arah dinding putih di sana.
"Kenapa?" tanya Saras.
"Kok gua kayak ngerasa nggak asing ya sama mukanya" ucap wanita itu.
Saras tak langsung menjawab.
"Dia itu temennya Gio. Mungkin Ibu pernah ketemu sama dia waktu di coffee shop" ucap Saras.
'Nggak pernah..! Ibu itu cuma pernah ketemu sama Gio aja. Kalau sama dia belum pernah" ucap Ratih.
__ADS_1
"Terus ketemu di mana?" tanya Saras lagi.
"Ya nggak tahu..! Makanya tadi pas ketemu sama dia, kok ibu ngerasa senang, gitu. Anaknya ganteng, sopan, baik lagi..! Andai kamu belum nikah, mending kamu nikah sama dia" ucap wanita itu yang disambut dengan sebuah pukulan ringan dari tangan Saras ke pahanya.
"Ibuk kalau ngomong jangan sembarangan deh, Buk..! Saras nggak suka..!" ucap wanita itu. Ratih melengos. Ia kemudian membuang muka dari sang putri. Saras nampak mendengus kesal mendengar ucapan dari ibunya.
...****************...
Beberapa jam kemudian. Saat malam mulai menjelang. Di sebuah rumah berlantai dua milik Giovanni Reksa.
Pemuda yatim piatu itu nampak duduk di ujung anak tangga rumahnya. Sorot matanya nanar menatap lurus ke depan. Suasana rumah terasa sepi, senyap, seolah tak ada kehidupan di sana.
Gio kembali menenggak alkoholnya. Pikirannya kacau. Bayang-bayang masa lalu keluarganya yang indah yang kemudian hancur lantaran satu persatu anggota keluarganya meninggal dan hilang secara tiba tiba kembali menari-nari di pikirannya. Ditambah dengan peristiwa semalam yang terjadi di rumah miliknya, seolah menambah kegalauan hati pemuda sahabat Arkana itu.
Ia tak menyangka, laki-laki yang dulu ia bully habis-habisan, laki-laki yang hingga detik ini masih ia anggap sebagai pembunuh dari adiknya, rupanya adalah suami dari seorang wanita yang sempat ia idamkan.
Terlihat jelas bahwa Saras sangat mencintai Dion dengan segala kekurangannya. Wanita itu sampai menangis meraung raung saat mendapati Dion tergeletak tak berdaya akibat ulahnya.
Beruntung sekali laki-laki itu. Sudah gila tapi masih dicintai oleh Saras. Lalu bagaimana dengan dirinya? Sejak dulu ia terlalu bangga dengan apa yang ia punya. Tapi saat dia mulai beranjak dewasa satu demi satu keluarganya hilang tak kembali. Kini ia hidup sebatang kara. Terlunta-lunta tanpa adanya orang tua dan keluarga. Seolah tak ada lagi orang yang menyayanginya di dunia ini.
Kenapa Tuhan tidak adil? Kenapa laki-laki seperti Dion yang notabene adalah anak seorang penjahat bisa mendapatkan kebahagiaan sesempurna itu? Mendapatkan kehidupan yang penuh cinta.
Sedangkan Gio? Lihatlah ia..! Malang sekali nasibnya..! Hidup di dunia yang luas ini tanpa adanya satu orang pun keluarga di sampingnya. Sungguh, Tuhan tidak adil..!
Gio menjambak rambut gondrongnya. Lelah, kesal, sedih, marah, kecewa, ditambah dengan rindu yang menggebu kepada kedua orang tua serta adiknya. Semua bercampur menjadi satu.
Sungguh, dia benar-benar tengah rapuh sekarang.
Lagi, Gio kembali menenggak alkoholnya hingga tanda. Entah sudah berapa botol alkohol yang ia minum sejak siang tadi. Seolah tak ada aktivitas lain selain untuk mabuk mabukkan sejak kemarin.
Gio melempar botol kosong di tangannya itu ke lantai hingga pecah tak berbentuk. Ia kemudian meraih satu botol lagi yang tersisa di sana. Lalu membukanya dan bersiap untuk menenggaknya. Namun belum sempat dia melakukan hal tersebut. Tiba-tiba...
Tok..tok..tok...
Pintu utama rumah itu diketuk. Gio terdiam. Siapa manusia yang bertamu malam-malam seperti ini ke rumahnya?
Pemuda itu kemudian berdecak kesal. Dengan gerakan malas ia pun bangkit dari posisi duduknya. Berjalan sempoyongan menuju pintu utama rumah berlantai dua itu kemudian membukanya....
"Selamat malam, Gio......"
...----------------...
Selamat malam...
up 19:19
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘