
Di dalam sebuah ruang IGD rumah sakit besar itu...
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Seorang perawat cantik yang terjadwal shift malam itu kini nampak sibuk membalut luka sabetan senjata tajam yang dialami oleh seorang pria dewasa di hadapannya. Dengan begitu telaten, Xena memasangkan perban di lengan Malvino yang malam ini datang dengan bersimbah darah. Sepertinya pria itu baru saja terlibat perkelahian.
Malvino yang kini duduk di tepi ranjang pasien itu nampak diam menatap wajah cantik gadis muda di hadapannya itu. Wanita itu terlihat sangat telaten. Gerakannya lembut. Seolah memiliki sesuatu yang berbeda yang membuat Malvino tak bosan bosan menatap paras ayunya sejak tadi.
"Apa semua laki laki memang suka berantem begini?" tanya Xena tanpa melepaskan pandangannya pada lengan kekar berbulu halus di tangannya itu.
Malvino tak menjawab. Wajah wanita ini sekilas begitu mirip dengan seseorang. Tapi entah siapa. Ia lupa.
"Akhir akhir ini banyak banget laki laki yang datang ke rumah sakit ini. Semua berdarah darah. Kalau nggak abis berantem, ya abis tabrakan," ucap Xena.
Malvino tak menjawab.
"Apa semua laki laki selalu beranggapan dengan berantem mereka akan terlihat kuat? Padahal kan itu membahayakan diri mereka sendiri. Kuat itukan nggak harus de......" ucapan Xena terpotong.
"Bukankah aku sudah bilang, mintalah shift pagi! Keluar malam sangat berbahaya untuk gadis sepertimu!" ucap Malvino memotong ucapan gadis itu.
Xena reflek mendongak. Membuat sepasang mata itu saling bertemu.
"Selain bodoh kau juga keras kepala!" ucap laki laki itu lagi dengan suara dingin.
Xena tersenyum. Ia kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Pekerjaan saya disini memang dituntut taat dengan peraturan rumah sakit, Tuan. Saya tidak bisa seenaknya minta ganti shift," ucap wanita itu.
"Dimana ruangan bos mu? Biar ku ludahi wajahnya! Apa dia tidak tahu bagaimana memperlakukan karyawan wanita?!" ucap Malvino dingin.
Xena terkekeh. "Tuan ini serem serem tapi perhatian ya sama perempuan?" ucap Xena.
Malvino tak menjawab. Menampilkan sebuah ekspresi saja pun tidak. Ia hanya menatap datar ke arah wanita itu.
Alih alih gentar ditatap dengan sorot mata tajam oleh Malvino, Xena justru nampak menampilkan sebuah senyuman manis ke arah pria tanpa istri itu.
"Tuan, saya mau minta maaf pada Tuan dan putra Tuan atas nama Gio," ucap Xena yang memang sudah mengetahui semua tentang semua masalah Gio.
Malvino diam. Suasana nampak hening sejenak.
__ADS_1
"Kenapa kau yang minta maaf? Bukankah itu bukan urusanmu? Dan itu juga bukan urusanku!" ucap Malvino.
Xena tersenyum lagi. "Ya, iya juga sih,"ucap Xena.
"Jangan masuk ke dalam situasi yang hanya akan menyusahkanmu!" ucap Malvino lagi.
"Jika pacarmu itu mau minta maaf, harusnya dia yang datang pada putraku. Dan biarkan dia dan Dion menyelesaikan masalah mereka sendiri!" ucap Malvino.
Xena tersenyum. "Saya juga sedang berusaha membujuknya. Sebenarnya dia sudah mulai merasa ada rasa bersalah, Tuan. Tapi dia masih bingung bagaimana caranya untuk mulai meminta maaf," ucap Xena.
Malvino diam lagi. "Sepertinya kau begitu menyayangi pacarmu itu!" ucap Malvino lagi.
"Dia bukan pacar saya. Kami hanya berteman. Saya melakukannya karena saya nggak mau dia terus terusan kaya orang bingung. Nggak punya siapa siapa dan dijauhi banyak orang!" ucap Xena.
Wanita itu nampak sudah selesai dengan perbannya.
"Sudah, Tuan!" ucap Xena sembari membereskan peralatan kedokterannya.
Tiba tiba...
Ponsel di dalam saku baju perawat Xena bergetar. Wanita itu lantas mengeluarkan benda pipih miliknya.
Gio
memanggil...
Xena tersenyum. Ia lantas mengusap tombol telepon berwarna hijau itu dan mulai berbincang dengan Gio disana. Sedangkan Malvino yang masih berada di tempatnya itu hanya diam tanpa melepaskan pandangannya dari wanita cantik berhijab putih itu.
"Halo," ucap Xena.
"Haii..." jawab Gio dari seberang sana.
"Udah selesai?" tanya Xena.
"Udah. Baru aja," jawab Gio.
"Terus?" tanya Xena lagi.
__ADS_1
"Masih nungguin subuh. Pengen telfon kamu dulu," ucap Gio.
Wanita itu tersenyum. "Buat apa?" tanyanya dengan wajah nampak merah merona.
"Nemenin kamu! Takutnya kamu kesepian kerja malam nggak ada temennya ngobrol!" jawab Gio dengan santainya di seberang sana. Xena nampak mengulum senyum. Sesuatu yang dapat dilihat dengan sangat jelas oleh mata tajam Malvino.
Xena yang terlihat salah tingkah itu nampak menggerakkan tangannya. Mengeluarkan sebuah kalung emas berliontin cincin dari balik baju seragamnya. Sebuah reaksi yang umum dilakukan oleh wanita yang sedang salah tingkah. Menggerakkan tangan dan kakinya semaunya.
Hal itu justru memantik reaksi tak biasa dari Malvino yang sejak tadi duduk di hadapannya. Laki laki itu nampak menajamkan matanya. Pandangannya tertuju pada sebuah cincin yang dijadikan liontin di sana. Sebuah cincin emas dengan pahatan sebuah nama terlihat jelas disana.
Malvino diam tak bergerak. Sedangkan Xena masih sibuk bertelepon ria dengan Gio disana.
Tak begitu lama, Xena dan menyudahi perbincangan mereka. Wanita itu lantas mematikan sambungan teleponnya sepihak dan memasukkan ponselnya ke dalam saku baju perawatnya. Tiba tiba...
Seettt...
Xena terkejut. Malvino menarik kalung itu hingga putus. Xena pun melotot. "Tuan!!!"
Malvino tak menjawab. Dilihatnya disana, di bagian dalam cincin emas itu nampak sebuah tulisan. "Xena Adara" serta sebuah inisial bertuliskan R&M.
Laki laki itu nampak mematung tak bergerak. Membuat Xena pun memiringkan kepalanya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Xena.
"Dari mana kau dapat cincin ini?" tanya Malvino.
"Itu cincin saya. Ibu panti menemukan cincin itu serta beberapa surat cinta di keranjang bayi saya saat pertama kali saya ditemukan terapung di tepi sungai," ucap Xena.
Malvino diam.
"Panti? Surat cinta?" tanya Malvino.
"Mungkin surat cinta ibu dan ayah saya," ucap Xena lagi.
Deeghh....
...----------------...
__ADS_1