
Hari terus berganti, dan waktu pun terus berjalan. Satu bulan lebih paska kejadian penculikan yang menimpa Saras, Gio, dan Ratih, kini kehidupan para anak manusia itu berjalan seperti yang seharusnya. Usia kandungan Saras kini sudah memasuki usia empat bulan. Perut yang semula rata kini mulai sedikit membuncit meskipun belum terlalu terlihat.
Sebagai suami siaga, Dion terlihat makin protektif dan perhatian pada istri serta calon buah hatinya itu. Ia begitu hati hati dalam menjaga serta mengawasi setiap pergerakan dan aktivitas wanita tersayangnya tersebut.
Beda Dion beda juga dengan Gio. Pasca keluar dari rumah sakit beberapa waktu lalu, hingga kini Gio belum juga kembali ke coffee shop miliknya dan Arkana. Ia seolah masih enggan untuk bertemu sahabatnya itu. Hari harinya hanya dihabiskan dengan berdiam diri di kediaman pribadinya. Sesekali ia pergi ke markas geng motor perkumpulannya lalu melakukan balap liar di malam harinya.
Ya, aktifitas aktifitas kurang bermanfaat yang ia jadikan hiburan sekaligus pelarian atas segala masalah yang kini pemuda itu hadapi.
Pasca keluar dari rumah sakit, Gio juga sudah tidak pernah lagi bertemu dengan perawat cantik bernama Xena itu. Mereka putus kontak. Keduanya tidak pernah lagi saling bertemu setelah Gio dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit tersebut beberapa waktu lalu.
Sebenarnya laki-laki itu sudah menyimpan nomor ponsel Xena yang ia dapatkan dari salah satu perawat, rekan kerja Xena di rumah sakit itu. Namun Gio urung menghubungi wanita tersebut dengan alasan gengsi.
Setelah mendengar ucapan Xena padanya beberapa waktu lalu mengenai masalahnya dengan Dion dan Arkana, Gio seolah menjaga jarak dengan Xena. Entahlah, mungkin ia merasa tertampar, atau malu mengakui kenyataan bahwa secara tidak langsung ia memanglah bersalah dalam kasusnya dengan Dion, Maya, Saras, serta Arkana.
Ia yang memulai semua ini. Ia yang memantik api, dan harusnya ia juga yang memadamkannya. Namun sepertinya rasa gengsi dan harga diri itu terlalu tinggi. Gio terlalu egois untuk sekedar merendah, mendatangi Dion dan meminta maaf pada pria korban bullying nya itu.
...****************...
Siang ini, sebuah mobil sport tanpa atap nampak melesat menembus padatnya jalanan ibu kota.
Ya, itu adalah Dion dan Saras. Sepasang suami istri itu kini tengah dalam perjalanan menuju kediaman Ratih, ibunda Saras. hari ini wanita hamil itu merengek minta diantarkan ke rumah ibunya. Membuat Dion pun mau tak mau menuruti keinginan istri kesayangannya itu.
Tak berselang lama, sekitar kurang lebih lima belas menit perjalanan, mobil mewah tanpa atap itu nampak memasuki sebuah halaman luas bangunan berlantai dua pemberian Malvino itu. Saras dan Dion turun dari kendaraannya. Keduanya lantas melangkah menuju pintu utama rumah tersebut sembari tak lepas saling menggandeng tangan satu sama lain.
Ceklek...
__ADS_1
Pintu terbuka. Sepasang suami istri itu lantas masuk ke dalam rumah itu tanpa mengucap salam.
"Waalaikumsalam," ucap seorang pria tampan berjambang tipis ya nampak rebahan di salah satu sofa panjang ruang tamu tersebut.
"Arka?" ucap Saras saat menyadari keberadaan saudara kandungnya itu.
Laki-laki itu menolak ke arah sang adik beserta ibaratnya lalu tersenyum manis. "Hai," jawabnya.
Saras terkekeh. "Lo di sini? Udah lama?" tanya Saras.
Arka melempar majalah yang sejak tadi dibacanya itu ke atas meja.
"Mayan," jawabnya.
Saras dan Dion mendekat. Mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa di ruangan tersebut. Sedangkan Arkana nampak acuh. Ia asyik memainkan ponselnya tanpa mengubah posisi tubuhnya. Ya, kian hari hubungan sepasang saudara kandung itu memang kian akrab. Tak seperti dulu saat pertama bertemu, mereka masih kaku dan gugup. Kini keduanya terlihat lebih santai sesekali keduanya bahkan terlibat candaan-candaan ringan khas sepasang saudara kandung.
"Masakin makan siang buat anaknya yang paling ganteng," ucap Arkana.
"Adit?" tanya Saras.
"Ya gue lah!" sahut Arkana ngegas sembari menoleh ke arah Saras. Wanita itu nampak berdecih.
"Pede banget lu, ya?" tanya wanita hamil itu. Sedangkan Dion yang berada di sampingnya hanya diam tanpa menjawab celotehan dari Arkana. Memang begitu kan Dion? Suaranya yang istimewa hanya untuk Saras dan Malvino serta orang orang tertentu saja. Ia tidak akan memperdengarkan suara mahal dan berharganya itu kepada orang-orang luar. Jangankan Arkana yang baru diketahui sebagai kakak kandung Saras. Ratih dan Adit yang jelas jelas mertua dan ipar Dion saja sangat jarang ia ajak bicara.
Arkana nampak mengubah posisi tubuhnya. Ia yang semula rebahan di atas ranjang itu kini nampak mengubah posisi tubuhnya menjadi miring. Ia mendongakkan kepalanya menatap ke arah Saras yang duduk tak jauh dari tempatnya.
__ADS_1
"Ras," ucap Arkana.
"Hmm," jawab Saras.
"Mau ikut pameran, nggak?" tanya Arka lagi.
Saras menyipitkan matanya. "Pameran? Pameran apa?" tanya wanita hamil itu.
"Ya pameran. Lukisan lo bisa tuh, dipajang disitu. Entar juga bakal ada live musiknya. Gue biasa ngadain event kayak gitu tiap setahun sekali. Bukannya dulu Gio pernah ngajakin lo gabung, ya? Dan lo mau, kan, dulu?" tanya Arkana.
Saras nampak diam sejenak. "Oh, itu. Bukannya itu udah lama, ya?" tanya Saras.
"Belum terlaksana, C*k. Lu tahu sendiri kan akhir akhir ini gue ama Gio banyak geseknya!" ucap Arkana. Saras tak menjawab.
"Gimana? Lu mau nggak?" tanya Arkana lagi.
Saras nampak berfikir sejenak. Ia lantas menoleh ke arah Dio.
"Gimana?" tanya Saras meminta pendapat suaminya.
Dion diam sejenak. "Terserah," jawabnya kemudian.
Saras menoleh kearah Arkana. "Kapan acaranya?" tanya wanita itu.
"Dua minggu lagi. Kalau lo mau, pada siapin deh, karya karya terbaik kalian. Ntar kita pajang di sana," ucap Arkana.
__ADS_1
Saras nampak manggut-manggut. "Oke, deh. Gue mau!" ucap Saras.
Arkana tersenyum. Ia kembali mengubah posisi tubuhnya. Rebahan di atas sofa. Sedangkan Saras kini nampak bangkit guna mencari keberadaan Ratih. Meninggalkan Dion dan Arkana yang saling diam tanpa tanya jawab itu di ruang tamu.