
Kedua motor itu melaju bak angin topan. Dua pemuda itu saling salip menyalip, saling mendahului seolah tak mau tertinggal satu dengan yang lainnya.
Sorak sorai penonton semakin terdengar jauh dari telinga Wisnu dan Gio. Keduanya semakin jauh meninggalkan garis start. Menyusuri jalan raya yang menjadi sirkuit balap mereka malam ini.
Ini bukanlah balapan profesional. Ini adalah balap liar yang dilakukan secara sembunyi sembunyi dari pantauan aparat penegak hukum. Tidak ada peraturan tertulis dalam perlombaan ini. Yang terpenting adalah siapa yang paling cepat sampai ke garis finis maka itulah pemenangnya. Maka tak jarang, berbagai kecurangan pun sering terjadi sepanjang berjalannya balapan demi mendapatkan kemenangan serta hadiah uang tunai yang disediakan.
Seperti saat ini. Bukan hanya motor yang melaju kencang dan saling mendahului, namun kini kaki dari kedua pemuda itu nampak ikut bermain. Keduanya saling menendang bodi motor lawan, seolah ingin menumbangkan satu sama lainnya.
Gio dan Wisnu terlihat sengit. Mereka nampak berusaha menjatuhkan lawan masing masing. Kecepatan kendaraan mereka juga hampir imbang, seolah tak ada yang terlihat unggul ataupun tertinggal dari kedua pemuda itu.
Keduanya makin mendekati garis finis. Balapan makin terlihat sengit di barengi dengan tendangan tendangan kaki yang keduanya arahkan ke lawan masing masing.
Xena menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sembari tak henti merapalkan doa. Gio dan Wisnu terlihat mendekat ke arah garis finis. Kedua pria itu sepertinya sama sama emosi jika dilihat dari pergerakan kaki keduanya. Bukan lagi balapan yang menjadi fokus mereka namun juga berusaha saling menjatuhkan.
Xena nampak khawatir. Ia takut terjadi sesuatu dengan Gio.
Kedua pembalap liar itu saling kejar dan saling menjatuhkan. Hingga....
Finish!!
Motor Wisnu melenggang menuju garis merah itu terlebih dahulu dan disusul Gio kemudian.
Black Moon bersorak menyambut salah satu anggotanya. Begitu juga dengan Galaksi yang turut serta di dalamnya. Pemuda berambut ikal itu menang atas Gio. Wisnu mengangkat sebelah tangannya bak sang juara yang kemudian disambut oleh kawan kawannya dengan penuh suka cita.
Wisnu melepaskan helmnya. Ia lantas melakukan tos dengan sesama rekannya yang tergabung dalam geng motor bernama Black Moon itu.
"Keren!!" puji salah satu anggota Black Moon. Wisnu hanya tersenyum bangga Hingga tiba tiba...
Dagh!
__ADS_1
Sebuah helm hitam terlempar ke tengah kumpulan anak anak Black Moon. Membuat semua yang berada di suasana pun terkejut dibuatnya. Black Moon menoleh. Dilihatnya disana, seorang pria gondrong lawan balapan Wisnu nampak mendekat ke arah Black Moon dengan sorot mata tajam.
Ya, itu adalah Gio. Laki laki itu nampak mendekat ke arah Black Moon dengan wajah garang penuh kebencian. Para anggota Black Moon yang memang merupakan perkumpulan mantan manusia manusia urakan itupun lantas mengangkat dagunya, menatap bengis ke arah Gio yang mendekati mereka seorang diri. Berani sekali pria itu melempar helm ke arah mereka.
Daaghh...!
Helm milik Gio yang tergeletak di aspal itu ditendang ke arah pemiliknya. "Apa-apaan lu?" tanya salah satu anggota Black Moon yang diketahui bernama Roy itu.
Gio mengangkat tangannya menuju ke arah Roy. "Diem lu! Gue gak ada urusan ama lu!" ucap pria gondrong itu dengan angkuh dan tak sopan. Sesuatu yang berhasil memantik emosi para anggota Black Moon. Para pemuda yang rata-rata berusia dua puluh tiga tahun ke atas itu nampak berjalan mendekati Gio yang nampak disusul teman-teman satu gengnya. Sepertinya Gio tak bisa menerima kekalahannya.
Galaksi mendekat. Ia lantas berdiri di hadapan laki laki gondrong itu.
"Maksud lo apa? Nggak bisa lu ngomong baik baik?" tanya Gala dengan sombongnya. Xena dan Pelangi yang berdiri di seberang jalan itu lantas berlari mendekati para pemuda itu. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.
"Lu leadernya? Bisa kalik lu bilang ama anak buah lu, jangan curang. Kalau bisanya cuma berantem nggak usah ikut balapan!" ucap Gio.
"Anak baru, ya? Nggak pernah balapan sebelumnya?" tanya Gala meremehkan. Gio menepis tangan Galaksi.
"Ini bukan Moto GP, Bro. Ini balap liar! Siapa yang sampai duluan, dia yang menang! Kalau lu nggak siap kalah, nggak usah kesini," ucap Galaksi pelan namun berhasil membuat pria dengan berbagai masalah di kehidupannya itu pun emosi.
"Tapinya nggak gitu juga, anj*nk!" Tangan Gio tergerak mendorong dada bidang calon suami Pelangi itu. Membuat Galaksi kini nampak tertawa sumbang mendapati perlakuan kampungan dari Gio.
"Woe, santai, dong! Nggak usah norak. Kalau lo nggak terima kalah, belajar lagi, biar pinter!" ucap Gala.
Xena dan Pelangi mendekat. Keduanya nampak menghampiri sepasang pemuda yang hendak terlibat baku hantam itu.
"Gio!" ucap Xena sembari menarik jaket pria itu. Hal yang sama pun Pelangi lakukan pada Galaksi.
"Gal, kamu tadi bilangnya cuma buat nonton balapan loh, bukan buat berantem!" ucap Pelangi.
__ADS_1
"Dia yang nyolot, Ngi!" ucap Gala sembari menunjuk ke arah Gio. Gio masih dengan sorot mata tajamnya.
"Kalau lu nggak siap kalah, nggak usah ikut tanding, Nj*nk! Balapan emang kayak gini! Norak lo, anak baru!" umpat Galaksi yang memang sudah terlalu banyak makan asam garamnya balap liar.
"Gal, udah!" ucap Pelangi lagi seolah ingin meredam emosi Gala yang mulai naik.
Gio bergerak mendekati Gala, tangannya tergerak mencengkeram erat kerah kaos Gala seolah ingin menghantam wajah pria dihadapannya itu, namun Xena yang juga berdiri di samping laki-laki itu pun dengan cepat menggerakkan tangannya, menarik tubuh tinggi itu seolah tak mengizinkannya mendekati Galaksi.
"Gio, udah dong! Jangan bikin keributan disini!" ucap Xena benar benar kesal membuat Gio yang masih berada dalam posisinya itupun menoleh ke arah wanita itu.
"Lu diem, ya! Lu nggak tau apa apa!" ucap Gio dingin dengan mata melotot.
Xena terdiam. Wanita itu nampak kesal. Sungguh ia sangat kesal dengan ucapan laki laki dihadapannya itu. Gio terlalu susah untuk diberitahu. Hatinya terlalu keras. Ia terlalu bangga dengan pemikirannya sendiri, membuat Xena seolah-olah kewalahan untuk menasehati Gio. Pantas saja Arkana seolah memilih mundur. Gio memang sebatu itu.
Xena diam tak bergerak. Gio kembali menatap ke arah Galaksi yang gini justru tersenyum angkuh. Terlihat sangat menyebalkan di mata Gio. Laki laki itu tak terima dikalahkan oleh Wisnu dengan cara seperti itu. Harusnya ia bisa mendapatkan uang malam ini, tapi gara-gara Wisnu yang berusaha menjatuhkannya, ia jadi gagal.
Xena menatap kesal ke arah Gio.
"Lanjutin aja deh berantemnya, aku mau pulang duluan!" ucap wanita berhijab putih itu yang kemudian berbalik badan dan melangkahkan kakinya menjauh dari Gio yang masih dalam posisi mencengkram kaos Gala.
Gio mengetatkan gigi nya. "Xena!" ucapnya tanpa menoleh ke arah wanita itu. Xena tak peduli. Ia yang terlanjur kesal dengan sikap Gio yang seolah tak pernah mau berubah itu terus berjalan menuju jalan raya ditengah malam. Menjauhi sekumpulan anak muda disana.
Gala yang masih berada dalam cengkraman Gio itu nampak mengangkat satu sudut bibirnya. "Cewek lo ngambek, tuh."
Gio nampak kesal. Ia masih ingin melampiaskan kekesalannya pada Black Moon. Namun Xena jauh lebih penting. Gadis itu berjalan seorang diri di tengah malam, sedangkan Gio lah yang membawa wanita itu kemari. Ia tak mau terjadi sesuatu pada gadis berhijab putih itu.
Gio berdecak kesal. Ia mengumpat samar. Pria itu kemudian menghempaskan tubuh Gio. Ia dengan segera berlari menuju motornya, tak peduli dengan sorak Black Moon yang mengejeknya. Ia harus mengejar Xena. Ia tak mau terjadi sesuatu dengan wanita itu.
...----------------...
__ADS_1