
Hari berganti,
sesuai dengan yang direncanakan semalam. Hari ini, Malvino akhirnya mengajak Xena untuk pulang ke rumahnya untuk menemui Dion dan memperkenalkan dirinya sebagai kakak dari laki laki yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu. Malvino ingin mulai membina hubungan baik dengan gadis yang dulu pernah ia campakkan beserta dengan ibunya itu.
Kini keduanya sudah dalam perjalanan menuju kediaman Malvino. Sepanjang perjalanan, Xena yang semalam telah berhasil mendapatkan pelukan pertamanya dari Malvino itu kini seolah ketagihan. Sejak tadi ia tak lepas mendekap lengan kekar milik sang ayah. Kepalanya ia sandarkan pada pundak laki-laki itu seolah tak mau jauh-jauh dari pria berparas gahar itu. Sedangkan Malvino hanya diam. Membiarkan Xena melakukan apapun yang penting wanita itu diam. Hanya memeluk lengannya saja sepertinya sudah cukup membuat Xena bahagia.
Mobil terus melaju menuju kediaman Malvino. Tak lama, kurang lebih dua puluh menit perjalanan, kendaraan berharga fantastis yang dikemudikan oleh Jason itu sampai di sebuah rumah megah dengan pagar besi yang tinggi menjulang bak pintu gerbang istana itu.
Xena melepaskan pelukannya atas lengan sang ayah. Ia lantas melongokkan kepalanya menatap keluar jendela dengan sorot mata yang nampak takjub. Sebagai seorang anak yatim piatu, ini adalah kali pertamanya ia memasuki sebuah rumah yang lebih mirip seperti istana raja itu. Xena berdecak kagum. Betapa kaya rayanya ayah kandung yang sudah mencampakkannya ini.
Kendaraan roda empat itu berhenti tepat di halaman rumah rasa istana tersebut. Jason yang telah mematikan mesin mobilnya itu lantas turun dari kursi kemudinya, lalu membukakan pintu bagian belakang tempat di mana sang tuan berada.
Xena dan Malvino kemudian turun dari kendaraan mewah tersebut. Lagi lagi gadis berhijab dengan ransel di punggung itu nampak berdecak kagum menatap bangunan tinggi di hadapannya. Malvino hanya diam menatap lurus ke depan, menunggu sang putri selesai dengan reaksi takjubnya.
"Kau sudah selesai?" tanya Malvino.
Xena menoleh. Ia lantas buru buru berjalan mendekati Malvino.
"Sudah, Tuan!" ucap Xena.
Malvino diam. Ia menoleh ke arah sang putri.
"Apa kau lupa siapa aku?" tanya laki laki itu dingin. Xena menunduk.
"Maaf, Papa..." ucap Xena kemudian.
__ADS_1
"Malvino menghela nafas panjang. "Aku harap setelah kau terkagum kagum dengan bangunan ini, kau tidak akan memilih untuk kembali pulang ke panti asuhanmu itu. Tetaplah tinggal disini bersama aku dan adikmu!" ucap Malvino yang kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah megah itu. Sedangkan Xena kini nampak mengikuti dari belakang, disusul Jason kemudian.
Ketiga manusia beda usia itu sampai di ruang tamu rumah tersebut. Lagi lagi Xena nampak terbelalak kagum. Ruangan ini bahkan lebih luas dari halaman panti asuhannya.
Seorang pelayan mendekat.
"Selamat siang, Tuan," sapa wanita paruh baya itu. Xena menoleh ke arah wanita itu. Sedangkan Malvino hanya diam.
"Mana Dion?" tanyanya kemudian dengan dingin khas seorang Malvino.
"Ada di kolam renang, Tuan. Sedang melukis dengan Nona Saras,"
Malvino tak menjawab. Ia lantas menoleh ke arah Xena.
"Ikut aku!" ucapnya. Xena hanya mengangguk patuh. Ia lantas mengikuti langkah laki-laki dewasa itu menuju kolam renang yang berada di samping rumah berlantai tiga itu.
Sepasang suami istri itu lantas menoleh.
"Papa!" ucap pria itu. Saras diam. Fokus matanya justru tertuju pada seorang wanita cantik yang kini berdiri di belakang Malvino. Itukan pacar Gio? Batin Saras.
Malvino mendekati Dion. Xena memilih diam, berdiri di tempatnya. Tepat di hadapan Jason.
"Kau sedang melukis?" tanya Malvino.
"Ya, lagi pengen aja, Pa," ucap Dion. Malvino hanya tersenyum.
__ADS_1
Dio meletakkan kuas lukisnya kemudian menoleh ke arah sang ayah. Laki laki itu kemudian melirik ke arah Xena yang berdiri tak jauh dari posisinya dan sang ayah, membuat wanita itu pun merasa tak enak kemudian menundukkan kepalanya.
"Papa baru pulang?" tanya Dion lagi.
"Ya," jawab Malvino singkat.
"Katanya cuma seminggu? Kok sampai dua minggu?" tanya Dion lagi.
"Maaf," jawab Malvino lagi sembari menyentuh pundak sang putra.
Dion kembali melirik ke arah Xena.
"Kau masih ingin menyelesaikan lukisanmu?" tanya Malvino.
"Memangnya kenapa?" tanya Dion.
"Papa ingin bicara sesuatu sama kamu dan istrimu," ucap Malvino. Dion dan Saras saling pandang. Wanita hamil itu kemudian kembali melirik ke arah Xena yang sejak tadi tak berani menampakkan wajahnya.
"Aku bisa meluangkan waktu sebentar, Pa. Sepertinya Papa mau bicara serius," ucap Dion.
Malvino tersenyum. "Ya," jawabnya.
Dion tersenyum. Lagi, ia melirik ke arah Xena.
"Kita bicara di ruang tengah!" ucap Malvino.
__ADS_1
Dion dan Saras mengangguk. Para manusia itu kemudian tempat tersebut menuju ruang tengah rumah mewah itu.
...----------------...