
Malvino, Arkana & Jasonππ
"Sudah ku peringatkan berkali-kali Saras, aku tidak suka kau menyakiti putraku..!" ucap Malvino.
"Aku nggak pernah nyakitin Dion..!!"
"TAPI KAU MEMBUATNYA MASUK RUMAH SAKIT...!! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA??!!!" bentak Malvino murka.
"Itu bukan salahku...!! Lepasin dulu, aku bisa jelasin semuanya, Tuan. Lepas...!!!" ucap Saras makin menangis namun Malvino tak peduli.
Saras coba berontak namun tenaganya yang tak seberapa itu tak mampu mengimbangi tenaga pria berbadan tinggi tegap berotot itu.
"Lalu siapa yang salah? Hemm? Semenjak menikah denganmu putraku selalu terkena masalah. SEMUA KARENA KAU...!!!!" bentak Malvino keras.
Saras memejamkan matanya yang berkali kali menitikkan air matanya. Arkana yang berada di bawah kendali Jason pun tak bisa berbuat apa apa.
Saras mencoba berontak. Malvino nampak makin murka.
"Lepaskan aku...!!!" teriak wanita itu.
Malvino menggerakkan tangannya. Mengubah cengkeraman tangannya kini nampak mencekik leher wanita itu dan menghempasnya ke dinding. Saras kesulitan untuk bernafas. Malvino menggerakkan sebelah tangannya lagi. Berniat hendak menampar Saras. Namun tiba tiba.....
__ADS_1
Plaakk....
Sebuah tangan setengah keriput menampik lengan kokoh Malvino dengan seluruh tenaganya yang tak seberapa itu.
Laki laki berjambang lebat itu menoleh. Dilihatnya di sana seorang wanita paruh baya nampak berdiri dengan berani menatap ke arahnya dengan sorot mata tajam.
"Ibuk...!!!" ucap Saras disela sela rasa tersiksanya lantaran kesulitan bernafas.
Ya, itu Ratih...! Wanita itu datang ke rumah sakit setelah sebelumnya Saras sempat menelpon wanita itu saat masih dalam perjalanan menuju rumah sakit besar tersebut. Wanita itu tak sendiri. Ia datang bersama dengan Adit dan seorang security rumah sakit.
"Lepasin anak gue..!!" ucap Ratih sambil mendorong lengan kokoh Malvino dan menarik tubuh sang putri. Sedangkan dua orang security di sana nampak membantu Arkana untuk bangkit, melerai perkelahiannya dengan Jason.
Saras yang masih menangis itu kini nampak peluk oleh ibunya. Ratih memasang mode garangnya. Seolah siap mati untuk melindungi sang putri dari laki-laki di hadapannya yang berusaha menyakitinya itu. Sesuatu yang dapat ditangkap dengan jelas oleh mata Arkana. Entah mengapa laki-laki itu tiba-tiba terdiam. Fokusnya bukan lagi pada perkelahian di salah satu lorong rumah sakit itu melainkan pada seorang wanita paruh baya berpenampilan sederhana yang nampak berdiri dengan berani di hadapan laki-laki bertubuh jauh lebih besar daripadanya itu. Wanita itu terlihat tidak gentar. Berdiri dengan berani sambil memeluk sang putri yang nampak menangis sesenggukan.
"Menyingkir kau, nenek tua..! Serahkan putrimu padaku..!"
"Kalau lu ada masalah sama putri gua, ngomong sama gua..! Lu nggak perlu main kasar sama dia..! gua ibunya...! Gua nggak terima lu main tangan ama dia..!! Seumur hidup dia, gua yang ibunya aja nggak pernah kasar sama dia..! Cuma banci yang beraninya main kasar sama perempuan..!!!" bentak Ratih tak terkontrol.
"Ibuk, udah..." ucap Saras sambil terus dipeluk Ratih. Sungguh, wanita itu takut jika Malvino murka lalu berbuat macam-macam pada ibu kandungnya itu.
Malvino menatap tajam dua wanita itu.
"Lebih baik lu diam nenek tua.! Aku tidak ada urusan denganmu..!" ucap laki-laki itu dingin Ratih masih Tak gentar seorang security Kemudian datang mendekati mereka.
"maaf, Tuan dan Nyonya..! Tolong jangan membuat keributan di sini. Ini rumah sakit, banyak pasien yang butuh istirahat di tempat ini. Jika anda masih mau membuat keributan, lebih baik anda semua keluar dulu dari rumah sakit, silahkan selesaikan masalah kalian di luar..!" ucap sang security menegur.
Baik Ratih maupun Malvino tak ada yang menjawab. Kedua manusia itu masih dalam mode yang sama. Garang, saling menatap tajam penuh amarah dan kebencian.
__ADS_1
"Sudah, silahkan bubar..! Jika masih mau menunggu pasien, harap menunggu dengan tenang..! Jangan mengganggu ketenangan pasien lain..!" imbuh si security.
Jason mendekati sang tuan, lalu berbisik di telinga pria itu.
"Kendalikan emosi anda, Tuan. Ini ruang publik. Anda harus bisa menjaga sikap anda di sini.." ucap Jason mengingatkan.
Malvino masih dalam mode bengisnya. Saras sesenggukan. Ratih terus memeluk putrinya. Adit yang juga berada di tempat itupun lantas mendekati ibu dan kakaknya.
"Ibuk, kita duduk di kursi yuk, buk.." ajak Adit. Saras mendongak. Menatap wajah sang ibu lalu mengangguk, seolah meminta wanita itu untuk menurut. Ratih dengan dada yang masih nampak naik turun itu pun atas mengikuti ucapan kedua putra-putrinya itu. Ia duduk di deretan kursi tunggu itu bersama Saras dan Adit di sisi kanan dan kiri. Sedangkan Malvino dan Jason kini nampak mengalihkan pandangannya dari Ratih dan Saras. Ia kemudian terlihat mondar-mandir di depan pintu ruang IGD, menunggu dokter yang berada di dalam ruangan itu selesai memberikan pertolongan pertama pada putra semata wayangnya.
Saras menggenggam tangan ibunya sambil mengusap-usap punggung tangan wanita itu seolah memberikan ketenangan pada sang ibunda. Perlahan wanita paruh baya itu pun mulai bisa mengontrol emosinya. Ia terlihat lebih tenang sekarang. Wanita itu beberapa kali nampak menarik nafas panjang lalu membuangnya. Cukup lama, hingga ia bisa lebih tenang.
Ratih kemudian menatap sepasang kaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya. Wanita itu kemudian mendongak, menatap paras tampan sesosok pemuda berkulit putih dengan jambang tipis menghiasi rahangnya.
Laki laki itu nampak tersenyum manis. Sangat manis. Membuat wanita paruh baya itupun tanpa sadar membalas senyuman itu.
Tampan sekali pemuda ini, batin Ratih.
...----------------...
Selamat malam...
up 19:18
Udah crazy up ya....
Mana dukungan nya yang banyakk.....ππππ
__ADS_1