Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
147 (END)


__ADS_3

Hari berganti hari, semua berjalan seperti biasanya. Satu minggu setelah kelahiran Leo Gabriello Miguel, putra pertama Saras dan Dion, kini cucu pertama dari Malvino itu sudah diizinkan pulang ke istana milik kedua orang tuanya. Dengan sebuah mobil mewah yang dikemudikan oleh Arkana, ditemani Ratih, Adit, dan Barata yang menjemput Saras serta Dion di rumah sakit, keluarga bahagia itu sampai di istana Malvino tepat pukul dua siang ini.


Ya, Maya tidak ikut serta dalam rombongan penjemputan Saras dan Dion serta putra mereka. Untuk sementara, Bharata memang tidak mengizinkan Maya untuk bertemu langsung dengan Dion dan Malvino (meskipun kini Malvino sudah berada di penjara). Semua demi kesehatan mental Maya. Maya hanya memberikan ucapan selamat pada Saras melalui sebuah pesan suara yang dikirimkan oleh wanita itu pada Saras. Saras pun bisa memahami hal tersebut. Mengingat kondisi mental dari istri kedua ayahnya itu masih dalam proses pemulihan. Ia tak mempermasalahkan ketidakhadiran Maya di hari ini. Semua memang demi kebahagiaan bersama.


Lima belas menit perjalanan dari rumah sakit, mobil mewah yang dikemudikan oleh Arkana itu sampai di istana megah Malvino. Saras, Dion, Ratih, Adit, Bharata, Arkana, serta baby Leo yang berada di gendongan sang ibu itu kemudian turun dari kendaraan mewah tersebut. Dilihatnya disana, di depan pintu utama rumah megah itu, seorang wanita berhijab dan sang pria gondrong yang kian hari kian lengket itu sudah menunggu kedatangan si keponakan kebanggaan. Ya, siapa lagi kalau bukan Xena dan Gio.


Xena nampak merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan adik, ipar serta keponakannya. Ia memeluk Saras lalu menciumi pipi baby Leo. Setelah itu, ia mendekati Ratih serta Bharata, mencium tangan kedua orang tua kandung Saras sebagai tanda bakti. Hal yang sama pun Gio lakukan.


Keluarga bahagia itu kemudian masuk ke dalam rumah. Para wanita di ikuti Bharata, Adit, dan Dion itu kemudian menuju kamar milik Saras dan Dion yang sudah rapi dan bersih guna menyambut kedatangan si buah hati. Mereka sibuk sibuk berbincang dan bersukacita menyambut kedatangan baby Leo.


Sementara Arkana memilih duduk di ruang tamu bersama Gio.


"Udah lama lo disini?" tanya Arkana.


Gio tak langsung menjawab. Ia menyalakan rokoknya terlebih dahulu lalu menikmatinya.


"Dari pagi!" jawabnya sembari menjatuhkan tubuhnya di sandaran sofa.


Arkana berdecih. "Jadi satpam lo sekarang?" tanyanya.


Gio tak menjawab. Ia hanya mengangkat satu sudut bibirnya sembari membuang asap rokok dari mulutnya. "Kasihan dia sendirian di rumah segede ini!" ucap laki laki itu.


Arkana hanya tersenyum simpul. Gio mengangkat lengannya. Menatap ke arah jam tangan yang kini menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit itu.


"Udah jam segini, Xena nggak kerja apa, ya?" ucap Gio yang buru buru bangkit hendak naik ke lantai dua menemui Xena.


"Mau kemana?" tanya Arkana.


"Xena jadwal shift sore hari ini. Jam tiga udah harus ada di rumah sakit. Takutnya kesenangan dapet ponakan baru ampe lupa kerja dia!" ucap Gio.


Arkana berdecih. Sehafal itu Gio pada jadwal kerja Xena. Laki laki berambut gondrong itu lantas menapaki anak tangga rumah itu menuju lantai dua tempat dimana Xena berada di. Dilihatnya di sana, Xena tengah menggendong baby Leo bersama Bu Ratih dan Saras. Sedangkan Bharata dan Dion nampak berada di ruang tengah yang berada di lantai dua rumah megah itu.


Xena kemudian menyerahkan baby Leo pada Saras. Ia pun lantas berpamitan pada sang ipar serta Bu Ratih untuk pergi bekerja. Wanita itupun keluar dari dalam kamar itu bersama Gio.


"Gio, tunggu bentar, ya. Aku mau ke kamar dulu ambil tas," ucap Xena.


Gio mengangguk sembari menghisap rokoknya.


"Oke," jawabnya.


Xena pun berlalu, masuk ke dalam sebuah kamar yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Sedangkan Gio kini memilih untuk menunggu sang wanita pujaan hati di ujung tangga rumah mewah itu. Hingga tiba-tiba,


"Ekkhhmm!"


Suara itu berhasil membuat Gio menoleh. Dilihatnya di sana, seorang pria tampan berkulit putih yang kini resmi menyandang status bagi seorang ayah itu nampak berjalan mendekatinya. Sorot matanya datar tanpa ekspresi khas seorang Dion anak Malvino. Gio menghisap rokoknya lagi. Ia lantas mengangkat dagunya. Menatap datar ke arah pria yang mantan musuh besarnya itu.


Dion berdiri tepat di hadapan Gio. Sepasang laki-laki itu nampak diam, saling menatap dengan sorot mata datar dan setengah angkuh.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Gio.


"Mau bawa Xena kemana?" tanya Dion.


"Gue mau nganterin dia kerja. Ada masalah?" tanya Gio.


Dion diam sejenak menatap pria dihadapannya.


"Mulai hari ini selama Papa nggak ada, Xena tanggung jawab saya. Mulai besok, kalau mau antar jemput, masuk, temui saya. Kalau enggak mending nggak usah jemput!" ucap Dion.


Gio berdecih. Ia menatap remeh ke arah Dion. "Iya!" jawabnya kemudian.


Dion mengamati penampilan pria itu dari atas sampai bawah.


"Satu lagi. Orang yang sekarang sedang dekat denganmu itu adalah kakak saya. Jika memang kau mencintai dia, tolong jangan sakiti dia, dan pastikan dia bahagia. Sejak kecil dia kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Saya yakin kamu adalah orang yang bisa menjaga dia. Apa yang terjadi tentang kita di masa lalu, saya sudah melupakannya. Karena saya sekarang saya yakin, masih banyak orang-orang yang menyayangi saya dibandingkan yang membenci saya. Jika kamu ingin masuk ke dalam keluarga saya, maka tunjukkan etikat baik kamu," ucap Dion.


Gio mengangkat dagunya.


"Lo nggak masalah gue deketin kakak lo?" tanya Gio.


Dion menggelengkan kepalanya. "Asal kamu berjanji akan menjaganya dengan baik," ucap Dion.


Gio mengangkat satu sudut bibirnya. "Gue nggak akan ngecewain lo!" ucapnya.


Dion mengangkat dagunya, lalu mengangguk. Ia kemudian mengayunkan kakinya. bergegas untuk masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Gio disana. Namun baru beberapa langkah laki-laki itu berjalan menuju kamarnya, tiba-tiba...


Gio memanggil nama laki-laki itu. Dion menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik badan. Kedua laki-laki itu kembali saling berhadapan dengan posisi yang cukup berjauhan.


Keduanya nampak diam untuk beberapa saat. Lalu...


"Thanks, dan maaf, untuk semuanya," ucap Gio.


Dion diam sejenak. Samar samar-samar senyuman terbentuk dari bibirnya. Ia kemudian mengangguk, pertanda menerima ucapan terima kasih serta permintaan maaf dari laki-laki itu.


"Saya juga. Untuk semuanya," jawab Dion. Gio hanya tersenyum simpul. Dion kemudian kembali berbalik badan. Berjalan menuju kamarnya untuk menemui istri dan anaknya.


Setelah sekian lama dendam dan amarah menyelimuti keduanya. Permusuhan membayang-bayangi kehidupan mereka. Kini kedua pria yang sudah sama-sama dewasa itu mulai membuka hati dan menurunkan ego masing-masing. Permintaan maaf dari Gio sang pembully diterima oleh Dion sang korban bullying. Sebuah permintaan maaf juga terucap dari Dion yang sudah menghabisi nyawa keluarga Gio.


Kini kedua pria itu memilih untuk sama-sama bangkit. Sama-sama memaafkan. Sama-sama memulai lembaran baru menjadi satu keluarga yang utuh. Gio yang kehilangan keluarganya kini justru menemukan keluarga baru bersama Xena yang tak lain adalah kakak se-ayah dari Dion.


Kini baik Gio maupun Dion sama-sama belajar. Gio belajar tentang bagaimana caranya menghargai orang lain. Bagaimana caranya menghormati perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Menjaga emosi, menjaga tutur kata, agar tak menyakiti hati orang lain. Karena kita tidak tahu, seberapa kuat mental seseorang itu. Kita kadang tidak sadar, bahwa apa yang kita ucapkan bisa saja melukai perasaan orang lain. Luka hati itu tidak seperti luka fisik yang nampak dan bisa dengan mudah di sembuhkan. Luka hati itu tak nampak, namun efeknya bisa membekas hingga dewasa. Mengubah sifat dan karakter seorang, menanamkan kebencian, bahkan dendam yang tak berkesudahan. Tidak ada yang lebih tajam dari pedang selain lidah manusia. Goresannya terasa begitu menyakitkan hati siapa saja. Maka berhati hatilah.


Sedangkan Dion, dari segala kisah yang terjadi di hidupnya ia belajar, tidak semua manusia di dunia ini jahat. Masih ada orang-orang yang baik diluar sana. Jika memang ada satu dua orang yang menyakiti hatimu, maka jadikan itu sebagai pacuan hidupmu. Jadilah orang yang jauh lebih baik. Tampar ucapan-ucapan kotor yang keluar dari mulut itu dengan prestasi dan hal-hal yang bisa kau banggakan.


Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Masa lalu dan trauma tercipta itu untuk dilawan bukan untuk diratapi. Berhenti larut dalam ketakutan. Berhenti bersembunyi dan berdiam diri di zona aman. Bangkit, tatap masa depan. Masih banyak hal hal lain yang bisa kau lakukan dibanding meratapi ucapan ucapan sampah dari pembully yang tak lebih baik darimu.


Kau adalah makhluk ciptaan Tuhan dengan segala kesempurnaannya. Kau adalah makhluk ciptaan Tuhan yang diberi mimpi dan kemampuan untuk mewujudkannya. Bangkit, dan berhenti meratapi sakit hatimu di masa lalu...

__ADS_1


...


...


...


...


END...


...----------------...


Hola....


Sudah selesai, ya.


Terima kasih yang masih setia sampai akhir bab. Maaf jika di bab bab terakhir agak membagongkan dan kurang nyambung. Jujur saja, Author mulai pusing mikirin alur di akhir episode,๐Ÿ˜


Terima kasih untuk semuanya yang masih berkenan membaca tulisan amatiran ini. Ambil hikmahnya. Ambil sisi positifnya, buang negatif nya.


Ini hanya sebuah cerita fiktif. Dan tidak berdasarkan pada kisah nyata. Mohon maaf jika ada beberapa tutur kata atau tulisan author yang mungkin menyinggung atau kurang berkenan di hati kalian. Tidak bermaksud apa-apa karena ini memang murni hasil pemikiran dari author yang masih miskin ilmu.


Hanya sekedar curahan hati seorang manusia yang juga pernah merasakan sakitnya di bully๐Ÿฅบ


Stop bullying ya kawan kawan. Sampaikan juga pada generasi penerus kita tentang pentingnya menjaga perasaan orang lain.


Author pamit. Sampai bertemu di kisah selanjutnya yang sudah menuju konflik. Dijamin nggak kalah seru dan menguras emosi serta air mata. Ada pesan yang ingin saya sampaikan disan, mudah mudahan dapat dipahami dan kita sama sama belajar.


Terimakasih semuanya. Saras, Dion dan rekan rekan pamit๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™










__ADS_1


__ADS_2