
Di sebuah halte bis yang berada di tepi jalan raya. Kala malam makin larut dan gemericik air hujan mulai mereda. Sepasang pria wanita beda usia itu nampak duduk berdampingan. Saling diam, tanpa ada pembicaraan. Si laki laki yang usianya mungkin sekitar empat puluh enam tahunan itu nampak duduk tenang, menyadarkan tubuhnya di besi berjajar pembatas halte itu. Sedangkan si wanita berhijab putih itu kini nampak menunduk, meremas jari-jari tangannya sambil sesekali mengusap lelehan air mata yang meluncur tanpa permisi dari kelopak matanya.
Ya, itu adalah Xena dan Malvino. Untuk kesekian kalinya, malam ini lagi-lagi Xena izin tak masuk kerja. Ia yang hendak berangkat menuju rumah sakit bersama Gio tiba-tiba saja dihentikan langkahnya oleh Malvino dan Jason tiba-tiba datang menemui mereka di warung tenda pinggir jalan itu.
Malvino meminta Xena untuk ikut dengannya dengan alasan ingin membicarakan sesuatu. Awalnya Gio melarangnya, namun wanita itu akhirnya memilih untuk ikut bersama laki-laki yang merupakan ayah kandungnya tersebut, membuat Gio pun tak bisa berbuat banyak. Ia pun akhirnya mengalah dan meminta Malvino untuk berbicara dengan Xena di tempat itu saja. Ia melarang Xena untuk dibawa jauh jauh darinya.
Tunggu...! Ngomong ngomong, Gio siapanya Xena, ya??🤔
Tak jauh dari tempat Xena dan Malvino duduk, dua pria beda usia itu nampak duduk berdampingan di atas trotoar jalan raya yang nampak lenggang itu. Gio sejak tadi tak melepaskan pandangannya pada Xena dan Malvino. Sedangkan Jason nampak begitu santai menatap lurus ke depan sembari menikmati benda bernikotin di tangannya.
"Kau tidak perlu sebegitu khawatirnya pada Nona Xena. Dia akan baik-baik saja. Dia bukan sedang bersama penjahat sekarang, melainkan dengan ayah kandungnya sendiri." ucap laki-laki bertato itu.
Gio menoleh. "Dan ayah kandungnya itu penjahat kalau lo lupa!" ucap Gio.
Jason tersenyum sinis. "Setelah semua yang terjadi padamu, rupanya kau belum juga lunak. Hatimu keras juga, anak muda!" ucap laki-laki itu.
Gio memalingkan wajahnya.
"Aku tahu kau menyukai nona mudaku. Saranku, kalau kau menyukainya, belajarlah untuk sedikit menurunkan egomu, karena dia adalah anak dari Tuan Malvino sekaligus kakak dari Tuan Muda Dion, musuh besarmu. Kau tidak akan mungkin mendapatkannya tanpa restu dari Tuan Malvino dan juga Tuan Muda Dion!" ucap Jason.
"Bac*t lo!" umpat Gio.
Jason tersenyum sinis. Ia kembali menghisap benda bernikotinnya, sedangkan satu tangannya nampak meraih satu bungkus rokok miliknya dan menyodorkannya pada Gio.
"Rokok?" tanyanya. Gio diam sejenak, lalu meraih sebatang benda panjang itu dari dalam bungkusnya.
"Sebenarnya sebagai laki laki aku yakin kau adalah orang yang cukup tepat untuk Nona Xena. Kau begitu perhatian padanya meskipun sedikit menjurus konyol!" ucap Jason.
Gio tak menjawab. Ia asyik dengan rokoknya.
"Aku setuju jika kau jadi pacarnya!" ucap Jason.
"Gue nggak butuh restu lo!" sahut Gio. Jason terkekeh.
"Ternyata benar, kau sangat menyebalkan. Baru beberapa menit aku bicara denganmu, rasanya sudah ingin ku robek saja mulutmu yang tak sopan itu!" ucap Jason.
Gio tak menjawab.
__ADS_1
"Bukankah kau juga yatim piatu, aku yakin kau juga pasti merasakan apa yang Nona Xena rasakan. Dia butuh kehangatan orang tua. Kau akan menjadi pahlawan baginya jika kau bisa menjadi jembatan untuk mendekatkannya dengan kedua orang tuanya."
"Aku sudah memberi saran pada Tuan Malvino cara untuk mendekati Nona Xena. Sekarang Tuan Malvino sudah berusaha untuk meminta maaf pada Nona Xena. Mungkin kau nanti bisa membantu wanita pujaanmu itu untuk mendekatkannya dengan ibu kandungnya. Bukankah kau sangat dekat dengan keluarga Arkana?"
"Jujur saja, aku merasa kasihan pada wanita idamanmu itu. Tuanku memang kurang bisa menunjukkan kasih sayangnya."
Gio berdecih. "Emang keluarga tuan lo tuh keluarga aneh!" celanya.
Jason mengangkat satu sudut bibirnya. "Tapi aku yakin ibunya tidak demikian. Aku yakin, Rihanna atau Maya itu bisa menjadi ibu yang baik untuk Nona Xena," ucap Jason.
Gio tak menjawab. "Gampang! Gue akan bantu apapun asal Xena bahagia. Tapi kalau sampai mulut tuan lo itu nyakitin Xena lagi, awas aja!" ucap Gio sembari menghisap rokoknya lagi.
Jason hanya tersenyum smirk. Ia kembali menikmati rokoknya sambil menatap sinis ke arah pemuda di sampingnya.
Sementara itu di halte bis tersebut,
"Kau masih sering masuk kerja malam hari?" tanya Malvino setelah duduk di tempat itu hampir lima belas menit lamanya.
Xena menoleh, lalu menunduk lagi sembari menganggukkan kepalanya.
"Saya selalu diantar jemput oleh Gio," jawab Xena.
"Dia menyukaimu!" ucap Malvino.
"Dia satu-satunya teman terdekat saya selain anak anak panti," ucap Xena.
Malvino diam. Ia menoleh ke arah sang putri.
"Syukurlah," ucapnya.
Xena menoleh. "Bersyukur untuk apa?" tanyanya.
"Setidaknya ada orang yang bisa diandalkan untuk menjagamu," ucap Malvino.
Xena diam.
"Kenapa Anda ada di sini? Bukankah siang tadi anda berpamitan pada putra kesayangan anda? Anda mengatakan bahwa anda akan pergi ke luar negeri untuk beberapa hari," ucap Xena.
__ADS_1
Malvino diam. "Darimana kau tahu?"tanyanya.
Xena tak menjawab. Ia hanya tersenyum lalu kembali menatap lurus ke depan.
Malvino menghela nafas panjang. "Aku sengaja melakukan itu. Dan asal kau tahu, aku sudah meminta izin pada ibu panti untuk tinggal di panti tempat tinggalmu itu selama satu minggu kedepan. Atau mungkin lebih," ucap Malvino membuat Xena reflek menoleh ke arah sang ayah.
Wanita itu nampak mengernyitkan dahinya. "Untuk apa?" tanyanya.
Malvino menoleh, menatap mata bulat itu dengan tenang, khas seorang Malvino
"Untuk lebih dekat dengan putriku!" ucapnya.
Xena tak bergerak. Malvino bangkit. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dan menatap lurus ke depan.
"Aku bukan laki laki yang bisa merangkai kata kata indah untuk merayu putriku sendiri. Aku terbiasa menunjukkan perasaanku dengan perbuatan dan tindakan. Mulai besok aku akan tinggal bersamamu. Katakan apapun yang kau inginkan, maka aku akan melakukannya untukmu!" ucap Malvino tenang khas seorang Malvino sang ketua gengster.
Xena menatap punggung kokoh itu dengan mata mengembun.
"Kau mau ku antar pulang atau ke rumah sakit? Aku bisa mengantarmu dan memastikan kau tak dianggap bolos kerja malam ini!" ucap Malvino.
Xena tak menjawab. Ia masih belum melepaskan pandangannya dari punggung kokoh itu. Tak mendapatkan jawaban apapun dari Xena, Malvino pun lantas menoleh.
"Kau tidak dengar?" tanya Malvino.
Xena menitikkan air matanya lagi. Ia nampak menggelengkan kepalanya samar.
"Saya mau pulang aja," ucap Xena.
Malvino mengangguk. "Baiklah, kita pulang bersama!" ucap laki laki itu yang kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat itu diikuti Jason yang sigap ikut bangkit dan menuju mobilnya setelah mendapatkan titah dari sang tuan. Xena hanya diam. Ia tidak diajak jalan bersama, digandeng, atau sejenisnya selayaknya ayah yang baru bertemu dengan anak perempuannya setelah sekian lama.
Xena berjalan sendiri menuju mobil itu, membuka pintunya, dan masuk ke dalamnya setelah berpamitan pada Gio.
Sedangkan Gio yang melihat adegan itu hanya menghela nafas panjang.
"Calon keluarga gue! Cih...!!" ucap Gio sembari berdecih di akhir kalimatnya.
...----------------...
__ADS_1