Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
87


__ADS_3

Malam menjelang di sebuah kamar luas milik Dion dan Saras. Wanita cantik itu nampak asik bersantai di sebuah kasur sofa yang berada di balkon kamar rumahnya. Wanita yang dinyatakan hamil dengan usia kandungan dua minggu itu kini nampak sibuk memainkan ponselnya. Mengunggah lukisan-lukisan hasil karya suaminya di salah satu akun jual beli online.


Ya, setelah dinyatakan hamil oleh dokter Reza yang datang ke rumah itu pagi tadi, siangnya, Dion lantas mengajak sang istri untuk pergi ke rumah sakit guna memeriksakan kandungannya. Dari hasil pemeriksaan lebih lanjut, dokter rumah sakit menyatakan bahwa usia kandungan Saras masihlah sangat muda, yaitu dua minggu. Janin dalam kandungan wanita itupun juga dinyatakan cukup kuat.


Kini, kebahagiaan pun seolah tengah menyelimuti sepasang suami istri itu, terutama Dion. Pria tampan itu seolah begitu antusias setelah mendengar kabar hadirnya sang calon buah hati di rahim Saras. Ia mendadak menjadi lebih posesif dan makin protektif. Lantaran memang sejak awal Dion juga sudah pernah mengatakan bahwa ia menginginkan seorang bayi dari Saras. Mendengar kabar tentang kehamilan Saras, tentu saja membuat Dion tergerak untuk menjaga Saras agar tetap aman dan nyaman bersama calon buah hatinya yang kini berada di dalam kandungan.


"Saras.." Suara itu berhasil membuat Saras menoleh. Dilihatnya di sana, Dion datang dengan segelas susu khusus ibu hamil yang sengaja ia buatkan untuk sang istri.


Saras meringsut. Dion duduk di tepi sofa dan meletakkan di atas meja.


"Minum dulu gih susunya, mumpung masih anget" ucap Dion.


Saras tersenyum manis.


"Makasih, Papa..." ucap wanita itu sambil mengusap usap perutnya yang masih rata. Dion berdecih. Ia kemudian sedikit mendorong tubuh Saras seolah meminta wanita hamil itu untuk sedikit bergeser ke pojok sofa. Saras hanya menurut. Laki laki itu lantas merebahkan tubuhnya di samping sang istri, sedikit meringkuk, membuat wajahnya kini berhadapan langsung dengan perut rata wanita cantik itu.


Dion tersenyum, disingkapnya piyama kaos milik Saras lalu dikecupnya perut rata itu beberapa kali dengan lembut. hanya tersenyum Sepertinya laki-laki itu benar-benar bahagia mendengar kabar kehamilannya.


"Mulai sekarang, aku ngelarang kamu untuk kerja terlalu keras. Aku ngelarang kamu untuk banyak aktivitas, kamu nggak boleh capek, dan kamu nggak boleh keluar ke mana-mana tanpa aku" ucap Dion sembari mendongak, menatap wajah sang istri yang kini nampak tersenyum lucu ke arahnya.


Saras terkekeh. Ia menggerakkan sebelah tangannya mengusap rambut hitam sang suami.


"Emang aku kerja keras apa? Orang tiap hari di rumah mulu!" ucap Saras.

__ADS_1


Dion terkekeh. Ia tak menjawab. Ia justru membenamkan wajahnya di perut rata wanita cantik itu.


Suasana hening sejenak. Saras asyik mengusap-usap rambut Dion. Sedangkan laki-laki itu terlihat begitu menikmati posisinya saat ini, memeluk istri serta anaknya yang berada di dalam kandungan.


"Dion.." ucap Saras memecah keheningan.


"Hmmm...." jawab Dion.


"Kok aku masih bingung ya, semalam itu sebenarnya kita lagi ada di mana sih, kok tiba-tiba kamu udah ada di tempat yang sama sama aku? Kamu berantem kan itu? Siapa yang berantem sama kamu? Terus aku kenapa kok aku jadi pusing banget ya? Sampai nggak inget semuanya..! Yang aku ingat, aku di taman, terus waktu aku mau pulang tiba-tiba ada orang dari belakang, dia bekap aku pakai kain baunya aneh. Trus udah, aku lupa semuanya. Itu siapa sih?" tanya Saras dengan polosnya. Ia benar-benar lupa dengan apa yang terjadi padanya kemarin malam. Dion tersenyum.


"Itu nggak penting. Yang penting sekarang kamu nggak apa apa. Kamu ada di sini sama aku, ditambah lagi kita dengar kabar baik bahwa ada calon anak kita di sini" ucap Dion kembali mengusap-usap perut rata itu.


Saras diam sejenak.


"Nggak usah dibahas, Saras. Nggak penting!" ucap laki laki itu. Saras membuang nafas kasar.


"Ya udah, maaf" jawab wanita itu lagi. Wanita itu kemudian bergerak, hendak bangkit dari posisi tidurannya.


"Mau kemana?" tanya Dion.


"Pipis..!" jawab Saras. Dion kembali berdecih. istri yang masuk ke dalam kamarnya. Tiba-tiba....


Ting... ting....

__ADS_1


Ponsel yang tergeletak di atas sofa panjang itu berbunyi.


2 pesan masuk..


Adit..


Dion meraih ponsel tanpa sandi itu lalu membuka pesannya. Sebuah foto Arkana dan Ratih nampak duduk berdua. Pria berjambang tipis itu nampak menyadarkan kepalanya di pundak Ratih sambil tersenyum lebar. Dion nampak membelalakkan matanya.


"Kak, tadi kak Arkana kesini sama papanya. Dia bilang, ternyata kak Arkana itu anak kandung ibuk yang dulu ikut papanya setelah cerai sama ibuk. Itu artinya Kak Arkana adalah kakak kandung lo, kak. Sekarang dia nginep disini. Gue mau vidio call lu ya..." tulis Adit.


Tak berselang lama ponsel itu kembali berbunyi. Sebuah panggilan video dari Adit masuk ke dalam ponsel Saras. Dion melongok ke arah kamar nya melalui jendela luas di sana. Saras belum keluar dari kamar mandinya.


Dion diam sejenak. Ia yang sudah tahu tentang hal ini sebelum Adit dan Bu Ratih itu kemudian dengan satu gerakan menyentuh tombol merah dalam layar ponsel itu. Pertanda menolak panggilan video dari Adit. Dengan gerakan cepat ia memblokir nomor ponsel adik kandung Saras itu dan menghapus semua pesannya di sana.


Untuk sementara, mungkin Saras tidak perlu tahu masalah ini dulu. Dion takut, Arkana adalah sahabat Gio. Kakak kandung Saras itu bahkan masih membela Gio disaat dia ingin menghabisi pria gondrong itu. Gio adalah orang jahat di mata Dion. Ia tak mau jika sampai Saras berdekatan dengan Arkana. Ia takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Saras. Terlebih lagi ada calon buah hatinya di dalam perut wanita itu. Ia tak mau ambil resiko. Saras harus dijauhkan dari orang orang yang berpotensi membahayakan keselamatan wanita itu.


...----------------...


Selamat siang


up 12:14


Yuk, dukungan dulu 🥰

__ADS_1


__ADS_2