
Malam menjelang....
Di balkon kamar luas milik Saras dan Dion. Di atas ranjang king size mereka, sepasang suami istri itu nampak saling berpelukan. Saras yang hanya mengenakan sport br* hitam lengkap dengan short berwarna senada itu terlihat begitu nyaman bersandar di tubuh sang suami yang hanya mengenakan sebuah bokser putih sebagai penutup tubuh bagian bawahnya. Selimut tebal menutupi kaki keduanya.
Sepasang suami istri itu kini nampak menikmati sebuah acara televisi. Sebuah acara komedi kesukaan Saras.
Dion tak begitu tertarik menyaksikan acara membosankan itu. Pria itu sejak tadi asyik memeluk tubuh istri tercintanya. Mendekapnya hangat sambil memainkan rambut bergelombang wanita dua puluh tahun itu.
Saras nampak cekikikan. Dion tersenyum manis mendengar tawa itu. Ia kemudian meraih remote TV yang berada di pangkuan Saras saat wanita itu telah asik-asiknya tertawa.
Klik....
Televisi mati..! Saras nampak membuka mulutnya. Ia menegakkan posisi duduknya lalu menoleh ke arah sang suami seolah hendak protes.
"Diooonn...!!!" rengek wanita itu.
Dion mengulum senyum sembari mengeratkan pelukannya. Laki-laki itu nampak menjatuhkan kepalanya di pundak sang istri. Menatap paras cantik itu dengan posisi yang sangat dekat.
"Udahan nonton tv nya" ucap Dion kemudian.
"Ih, lagi seru......" ucap Saras sembari menggerakkan tangannya mencoba meraih remote di tangan Dion yang kini justru diangkat tinggi-tinggi itu. Dion nampak tersenyum lebar. Ia melempar benda itu asal hingga terjatuh ke lantai. Ia kemudian mendekap tubuh ramping itu lalu menciumi pipi mulus Saras berulang kali. Entahlah, sejak siang Dion seolah menjadi lebih manja. Ia seolah tak mau jauh jauh dari istri cantiknya itu.
"Kamu udah ngantuk?" tanya Dion.
Saras menoleh. Lalu menggerakkan bola matanya menatap ke atas seolah berpikir.
"Emm...belum!" ucap wanita itu.
"Emangnya kenapa?" tanya Saras lagi.
Dion tersenyum manis.
"Aku kangen.." ucapnya.
Saras mengernyitkan dahinya.
"Emang kita pernah jauh?" tanya wanita itu.
Dion tak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil tak lepas menatap paras cantik anak Ratih itu. Laki-laki itu kemudian membimbing Saras untuk mengubah posisinya, yang semula duduk membelakanginya kini berpindah mendudukkan tubuh ramping itu di pahanya dalam posisi berhadapan.
Dion kembali merengkuh pinggang itu.
"Saras....." ucap Dion.
Saras diam.
"Apa?" tanyanya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya laki laki itu.
Saras diam sejenak.
"Tanya apa?" ucap wanita itu.
Dion mengamati paras itu dengan sorot mata dalam.
"Andai aku mati, apa yang akan kamu lakukan?" tanya laki-laki itu membuat Saras terdiam seketika.
"Apa kamu akan menikah lagi? atau menjanda demi aku?" tanya Dion lagi.
Saras tak bergerak. Ia menatap wajah tampan itu dengan sorot mata menelisik seolah ingin mencari tahu, apa maksud perkataan laki-laki itu. Entah mengapa ia merasa Dion sedikit berbeda sejak tadi siang.
"Kamu ngapain tanya kayak gitu?" tanya Saras.
"Aku cuma pengen dengar jawaban kamu..!" jawab Dion.
"Aku nggak mau jawab..!" ucap wanita itu dengan mata mulai mengembun.
"Karena itu nggak akan pernah terjadi..!" imbuhnya lagi.
"Semua orang akan mati..!" ucap Dion.
"Apasih, Dion..! Nggak usah ngomongin mati...!! Kamu kenapa lagi...?! Udah, aku nggak mau kamu tanya kayak gitu lagi..!!" ucap wanita itu lagi.
Dion tersenyum. Tangannya tergerak membelai rambut bergelombang itu lalu menyingkapkannya ke belakang telinga.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, Saras" ucap laki-laki itu.
Saras diam sejenak. Sepertinya Dion tengah memikirkan sesuatu, tapi entah apa ia tak tahu. Laki-laki itu memang belum bisa sepenuhnya terbuka pada Saras.
__ADS_1
Wanita itu nampak tersenyum. Ia kemudian menggerakkan tangannya, bertumpu pada sandaran ranjang di sana. Lalu mendekatkan wajahnya ke arah sang suami.
"Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Kamu suami aku, dan selamanya akan tetap seperti itu." ucap Saras.
"Berhenti mengingat ingat masa lalu kamu. Lupakan itu..! Aku bukan seperti mereka yang hanya bisa menyakiti kamu. Aku kan udah bilang, aku disini adalah sebagai teman, sahabat, sekaligus pasangan kamu. , nggak perlu ragu akan hal itu" ucap Saras.
Dion diam.
"Serius?" tanyanya kemudian.
"Serius..!" jawab Saras.
Dion tersenyum manis.
"Kalau gitu aku mau sesuatu dari kamu" ucapnya lagi.
Saras mengernyitkan dahi.
"Apa?" tanya Saras.
Dion diam sejenak, lalu menggerakkan tangannya menyentuh kain bra yang berada di pundak Saras kemudian menurunkannya hingga ke lengan.
"Aku mau anak..!" ucap Dion.
Saras diam tak bergerak.
"Berikan aku keturunan..? Aku ingin memastikan kamu tidak akan pernah lepas dariku. Aku sudah terlanjur nyaman denganmu, Saras. Aku tidak mau wanita lain. Aku hanya mau kamu. Dan aku tidak mau ada laki-laki lain yang menyentuh kulitmu selain aku" ucap laki-laki itu sembari menggerakkan jari telunjuknya menyusuri pundak, lengan, hingga dada wanita itu.
Saras tak menjawab. Dalam hatinya kini ia mulai merasa bingung. Dion meminta anak, sedangkan hingga saat ini ia masih mengkonsumsi pil KB untuk menunda kehamilannya. Kondisi psikis Dion belum sepenuhnya baik, belum sepenuhnya stabil. Laki-laki itu kadang masih suka "kambuh". Membuatnya seolah berpikir dua kali untuk memberikan keturunan pada laki-laki itu. Ia tak mau jika suatu saat Dion "kumat" lalu melampiaskan kekesalannya pada dirinya dan anak mereka nantinya. Sebuah pemikiran yang wajar dirasakan oleh seorang wanita yang memiliki suami dengan gangguan emosional seperti Dion.
Saras nampak menunduk. Sedangkan Dion kini kembali menurunkan sport br* itu membuat dua benda kenyal di hadapannya kini terpampang dengan jelas.
"Kau tidak mau?" tanya laki-laki itu sambil mengusap-usap lembut benda sebesar kepalan tangan itu.
Saras nampak berfikir. Ia tak mungkin mengatakan bahwa selama ini ia sengaja menunda kehamilan lalu menceritakan alasannya pada laki-laki itu. Itu sama saja bunuh diri..! Tapi Ia juga tak mungkin menuruti keinginan Dion..!
Untuk saat ini, ia belum merasa yakin akan hal itu. Kini fokusnya hanyalah untuk menyembuhkan trauma dan mental yang rusak yang kini dialami suaminya. Ia belum memikirkan untuk memiliki momongan.
Saras menatap wajah tampan itu lalu tersenyum.
"Kalau rejeki, anak itu akan segera tumbuh disini.." ucap Saras sambil meraih tangan Dion dan menempelkan telapak tangan besar itu di perut ratanya. Sebuah jawaban mengambang yang sama sekali tidak memberikan kejelasan apapun. Apakah ia bersedia memberikan anak atau tidak. Namun sepertinya jawaban itu sudah cukup membuat Dion puas. Laki-laki itu nampak tersenyum manis ke arah Saras.
Saras tersenyum manis. Ia mengangguk kemudian menggerakkan kedua telapak tangannya menangkup wajah pria tampan itu lalu memberikan kecupan-kecupan lembut di bibir Dion.
Dion memejamkan matanya. Ia mengeratkan pelukannya atas wanita itu sambil menikmati sentuhan bibir yang terus Saras layangkan untuknya. Tangan kekar itu mulai bergerak, mengusap usap punggung wanita yang nyaris tak berbusana itu.
Sebuah pergerakan yang semula lembut perlahan mulai terasa sedikit kasar. Hawa panas menyeruak di antara kedua manusia itu. Saras yang semula hanya memberikan kecupan-kecupan kecil di sana kini mulai melahap bibir sang lelaki. Wanita yang pernah bekerja di sebuah klub malam itu kini memang cukup bisa mengimbangi permainan Dion yang ganas.
Pergolakan lidah terjadi di antara keduanya. Deru nafas sepasang suami istri itu nampak memburu. Sesekali suara-suara indah menahan nikmat terdengar dari bibir keduanya, saling bersahutan. Cukup lama aksi peraduan lidah itu terjadi. Dion mendekap erat tubuh ramping itu kemudian membantingnya ke atas ranjang. Mengubah posisinya, membuat Saras kini terlentang di atas kasur putih itu, tepat di bawah tubuh tegap anak dari Malvino tersebut.
Dion sedikit mundur. Matanya tak lepas menatap sang wanita yang nampak pasrah dengan dada naik turun dalam posisi terlentang dan nyaris tak berbusana itu. Dilihatnya tubuh molek itu. Terpampang jelas di hadapannya. Dion mengangkat dagunya. Wanita ini adalah miliknya. Selamanya hanya miliknya. Tidak ada laki-laki lain yang berhak menyentuhnya selain dirinya. Apalagi laki-laki yang terlihat berdebat dengan Saras siang tadi di depan gerbang rumah Ratih. Dion sama sekali tak mengizinkannya menyentuh sang istri, walaupun hanya seujung kuku Saras.
Ya, Dion menyaksikan perdebatan antara Saras dan Gio tadi siang. Membuat dendam, amarah dan kecemburuan membakar hati Dion hingga saat ini.
Dion murka. Ia tak terima. Membuat laki-laki itu pun dengan penuh emosi membanting gelas kaca yang berada di kamar Saras siang tadi hingga melukai tangannya sendiri. Ia benci dengan Gio. Laki-laki itu kembali hadir dalam hidupnya. Berusaha merusak kebahagiaannya dengan mendekati istrinya.
Laki-laki yang dulu pernah menghancurkan kebahagiaan Dion dengan memisahkannya dengan Angel. Kini ia kembali berusaha menghancurkan kebahagiaan Dion dengan memisahkannya dengan istrinya. Sungguh, Dion benci dengan Gio. Dion bahkan sudah menyiapkan sebuah rencana jahat dalam otaknya untuk menyingkirkan Gio dan mengantarnya bertemu dengan kedua orang tua serta adiknya, Angel.
Dion menatap sang istri dengan sorot mata lapar. Ia lantas menggerakkan tangannya. Ia menyentuh telapak kaki Saras, mengusap usap nya sebentar. Lalu mendekatkan wajahnya pada kaki jenjang Saras yang masih nampak rapat itu. Dion kemudian menggerakkan tangannya meraba betis, paha, perut, hingga dada Saras sambil mengendusnya. Seolah menikmati aroma tiap inchi bagian tubuh wanita itu.
Dion lalu tangannya, membimbing lengan wanita itu agar terlentang.
Dion memasukkan wajahnya ke ceruk leher Saras. Menggerak gerakkan kepala itu disana sambil menciumi kulit lehernya. Wanita itu lalu berbisik lembut..
"I love you..!" ucap laki-laki itu.
Saras tersenyum. Ia pun menoleh.
"Love you more.." jawabnya.
Dion tersenyum smirk. Kedua pasang mata itu saling beradu. Saling menikmati keindahan paras pasangan masing masing.
Dion panas. Dengan gerakan cepat ia pun menyergap tubuh ramping itu. Menikmati lagi tubuh molek sang istri untuk yang kedua kalinya hari ini setelah sebelumnya siang tadi ia juga melakukan hal yang sama pada Saras di rumah Ratih.
Saras sesekali terdengar merintih. Permainan Dion sedikit kasar. Meskipun tak se brutal dulu di awal pernikahan mereka, namun hal itu sukses membuat Saras sedikit tersiksa malam ini.
...****************...
Beberapa jam kemudian..
__ADS_1
Saat jam dinding di kamar itu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Emmgghh...." Wanita itu Menggeliat. Melenguh, merasakan sakit dan remuk di sekujur tubuhnya.Bercak merah berserakan di leher, dada, hingga punggung wanita itu. Warna biru akibat lebam juga terlihat di pergelangan tangannya. Seolah menandakan betapa brutalnya permainan yang Dion berikan pada wanita itu malam ini.
Saras menggeliat. Mengubah posisi tubuhnya miring ke kanan menghadap sang suami yang terlelap di sampingnya. Dalam posisi mata terpejam, ia menggerakkan tangannya. Hendak memeluk tubuh pria tampan di sampingnya. Namun....
Saras menggerak gerakkan lagi tangan itu manakala tak menemukan tubuh Dion di sampingnya. Saras nampak berfikir dalam kondisi mata yang terpejam. Meraba raba permukaan kasur yang sepertinya kosong tanpa itu.
Saras membuka matanya.
Degh...
Benar..! Dion tidak berada di sampingnya. Wanita dengan piyama kimono menutupi tubuhnya itu lantas mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Dion..." ucap wanita itu.
Tak ada sahutan. Ia menoleh ke arah jam dinding. Pukul dua belas malam..!
Saras bangkit sambil meringis.
"Dion..!" ucap wanita itu lagi.
Masih tal ada sahutan.
Saras bangkit, turun dari ranjangnya.
"Ssshhh...aahh..." ucapnya saat mencoba untuk berdiri. Tubuh bagian bawahnya terasa perih. Ia lantas menggerakkan tangannya menyentuh nakas, menggunakan meja kecil itu sebagai tumpuannya untuk berdiri.
Saras berjalan menuju kamar mandi.
"Dion, kamu di dalam?" tanya wanita itu.
Tetap tak ada sahutan. Saras menyentuh gagang pintu tersebut.
Ceklek...
Pintu kamar mandi itu dapat di buka dari luar. Saras melongokkan kepalanya melihat kondisi di dalam kamar mandi. Kosong..! Tak ada Dion..!
"Dion kemana jam segini?" ucap wanita itu seorang diri.
Saras kembali berjalan menuju ranjangnya dengan susah payah. Ia mendudukkan tubuhnya di tepi kasur besar itu dengan susah payah. Fokus matanya tiba tiba tertuju pada pintu kamar. Daun pintu itu nampak sedikit terbuka. Tak tertutup dengan sempurna. Sepertinya Dion baru saja keluar kamar. Kemana perginya pria itu? Apa ke dapur? Atau ke ruang lukis? Pikir Saras.
Wanita itu nampak menghela nafas panjang. Ia kemudian menoleh ke arah nakas. Dilihatnya di sana, ponsel miliknya nampak tergeletak. Ia meraih benda pipih itu lalu membukanya. Memasukkan password nya untuk membuka kunci layar ponsel itu.
Degghh.....
Saras mematung disana. Ponsel itu langsung tertuju pada room chat nya dengan Gio. Menampilkan beberapa pesan dari laki laki itu yang sama sekali tidak pernah Saras balas sebelum ia memblokir nomor pemuda tersebut. Pesan pesan itu memang belum sempat Saras hapus.
Wanita itu diam seolah berfikir. Ia tak pernah membuka room chat nya dengan Gio semenjak ia memblokir nomor pria itu. Tapi kenapa saat ia membuka ponsel justru langsung tertuju pada room chat nya dengan pria itu? Apa jangan jangan...........
Degghh....
Ada yang mengotak atik ponselnya..!
Apa jangan jangan Dion yang membuka room chat itu? Dion membukanya semalam saat Saras tengah tidur?
Saras diam tak bergerak. Jika di pikir pikir sejak siang sikap Dion terasa aneh. Tepatnya sejak ia melihat Dion membalut luka di tangannya ketika berada di rumah Ratih.
Apa jangan jangan.....
Dion melihat Saras berbincang dengan Gio? Apa jangan jangan Dion cemburu, makanya Dion terlihat lebih posesif sampai sampai meminta anak padanya..?! Dan semalam Dion membuka room chat nya dengan Gio. Dan sekarang Dion tidak ada di kamarnya. Pintu kamar tidak tertutup dengan sempurna. Jangan jangan..........
.
.
.
.
"Dion...!!!!" ucap wanita itu kemudian bersusah payah bangkit dan berjalan menuju pintu kamarnya.
...----------------...
Selamat pagi....
up 03:58
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘
__ADS_1