
Tok ... Tok ... Tok ....
"Xena!" panggil pria berambut gondrong itu dari balik pintu kamar Xena. Ia berucap sembari mengetuk pintu kamar yang masih tertutup rapat itu.
"Xena, lo nggak apa apa?" tanya Gio lagi. Namun sejak tadi sama sekali tak ada sahutan dari wanita yang kini berada di dalam kamarnya.
Malvino sudah pergi bersama Jason. Sedangkan Xena sejak tadi nampak mengurung diri di kamarnya. Hal itupun membuat Gio merasa khawatir. Ia takut terjadi sesuatu dengan Xena lantaran ia sempat mendengar suara tangisan wanita berhijab itu dari dalam kamar tersebut.
Gio kembali mengetuk ngetuk pintu kusen itu. Pria gondrong yang memang kurang bisa diajak bersabar itu perlahan mulai merasa kesal. Gerakannya mulai kasar. Ia yang semula hanya mengetuk pintu itu kini perlahan mulai menggedor pintu kusen yang masih tertutup rapat tersebut.
"Xena, lu buka dong, Xen! Lu kenapa sih?Ada apa? Ngomong ama gue!" ucap Gio.
Bu Tari mendekat.
"Xena! Jangan bikin gue kesel, ya! Buka sekarang atau gue dobrak nih pintu!!" ucap Gio mulai mengancam.
Bu Tari yang berdiri di samping Gio pun mulai bereaksi.
"Nak Gio, tolong tenang. Jangan teriak-teriak. Kasihan, mengganggu anak-anak yang lain," ucap Bu Tari mengingatkan.
Gio menghela nafas panjang. Ia lupa jika ini adalah panti asuhan. Banyak anak-anak di sini. Mulai dari yang beranjak dewasa hingga yang masih bayi. Jika ia membuat kegaduhan di sini, maka sudah pasti ia akan mengganggu istirahat dari bayi-bayi dan balita yang berada di pantai tersebut.
Gio menghela nafas panjang. "Maafkan saya, Buk. Saya kelepasan. Saya cuma khawatir aja sama Xena," ucap pemuda itu kemudian.
Bu Tari tersenyum. "Boleh Nak Gio memanggil Xena, tapi pelan pelan, ya. Kasihan adik adik yang lain," ucap Bu Tari.
Gio hanya mengangguk. Wanita paruh baya itu lantas pergi meninggalkan Gio yang masih berada di depan kamar Xena.
Gio kembali menggerakkan tangannya mengetuk daun pintu tersebut.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Xena, keluar, dong. Gue abis ditegur nih ama ibu panti gara gara lo! Buruan buka!" ucap Gio lagi.
Xena masih tak menjawab. Gio menghela nafas panjang. Ia kembali mengetuk pintu itu, hingga,
Ceklek...
__ADS_1
Pintu kamar itu akhirnya terbuka. Xena muncul dari balik pintu itu sembari mengusap lelehan air mata di pipinya.
"Akhirnya lu keluar juga!" ucap Gio.
Xena hanya tersenyum. Ia lantas mendudukan tubuhnya di sebuah sofa panjang disana. Sedangkan Gio nampak mengikutinya.
"Lu kenapa? Lu diapain ama tuh laki laki?" tanya Gio.
Xena diam. Ia nampak menunduk sembari melipat lipat asal tisu kusut di tangannya.
"Xen," ucap Gio.
Xena menoleh. "Aku anak Malvino, Gio."
Deeghh...
Laki laki itu terdiam.
"Maksud lo?" tanya Gio.
Jika benar Xena anak kandung Malvino, berarti Xena kakak se ayah dengan Dion? Dan Xena juga saudara tiri Arkana? Begitukah?? Sempit sekali dunia ini?
Gio mematung. Xena nampak mengusap lelehan air matanya.
"Tapi kamu jangan khawatir. Aku nggak apa apa, kok. Aku cuma sedih aja. Ternyata memang dari dulu aku nggak diharapkan. Aku memang benar benar di buang," ucap Xena.
Gio menoleh. Ia nampak menatap iba gadis malang itu.
"Mereka yang tolol karena udah nyia nyiain perempuan seistimewa lo!" ucap Gio.
"Perbuatan mereka dulu yang terkutuk, karena berhubungan sebelum adanya pernikahan hingga lahirlah elo. Lu nggak salah, lu nggak hina. Yang hina itu mereka!" ucap Gio.
"Gue dukung lo kalau emang lo mau tetap bertahan disini. Biarin tuh si aki aki mikir, gimana caranya menebus dosa dosanya ke lo dengan cara yang benar."
"Malvino itu penjahat kelas atas. Mungkin dia nggak tahu gimana caranya mendekati hati seorang anak. Yang dia tahu, menunjukkan kasih sayang itu dengan menuruti semua kemauan si anak dan memfasilitasi si anak dengan kemewahan. Mungkin seperti yang dia terapkan ke si anak laki lakinya itu!" ucap Gio seolah masih enggan menyebut nama Dion.
Xena tersebut samar ditengah kesedihannya. Laki laki itu kemudian menggerakkan tangannya mengacak acak rambut berbalut hijab itu dengan lembut.
__ADS_1
"Dah, jangan sedih. Lu nggak cocok kalau sedih!" ucap Gio.
Xena tersenyum. Ia menatap sendu ke arah pria itu.
"Kamu bisa nasehatin orang juga ternyata," ucap Xena.
Gio berdecih. "Gue bukan cuma bisa nyeramahin lo. Gue juga bisa nemenin lo kemanapun lo mau. Gue kan pengangguran!" ucap Gio.
Xena terkekeh. Ia kemudian teringat sesuatu.
"Oh iya, katanya mau ke coffee shop? Nggak jadi?" tanya Xena.
"Kalau lo masih sedih, nggak usah dulu juga nggak apa apa," ucap Gio.
"Enggak, kok. Aku nggak apa apa. Kamu harus buru buru menyelesaikan masalah kamu sama Arkana. Biar nggak berlarut larut!" ucap Xena.
Gio diam sejenak.
"Lo ikut?" tanyanya kemudian.
Xena diam lagi.
"Daripada lo sedih di sini sendirian. Ikut aja, yuk!" ucap Gio.
Xena tersenyum.Ia lantas mengangguk. Laki laki itu lantas terkekeh.
"Muka lo jelek banget kalau sedih!" ucap Gio sembari menggerakkan tangannya hendak mencengkeram pipi Xena namun wanita itu mengelak sambil terkekeh.
"Butuh punggung nggak?" tanya Gio.
"Nggak mau, aku butuhnya duit!" jawab wanita itu.
"Dih!"
Keduanya pun lantas kembali larut dalam keakraban yang mereka buat sendiri.
...----------------...
__ADS_1