Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
101


__ADS_3

"Jangan bergerak, tempat ini sudah dikepung!!"


Suara itu berhasil mengagetkan semua yang berada di sana. Maya menoleh ke arah sumber suara. Begitu juga yang lainnya. Tapi tidak dengan Malvino. Merasa Maya tengah lengah, dengan gerakan cepat ia menampik lengan wanita itu. Membuat pisau yang berada disana pun terlepas dan terpental jatuh ke lantai. Malvino dengan cepat meraih tangan Maya dan menarik tubuh itu. Membuat tubuh keduanya kini menempel tanpa jarak.


Maya mendongak. Kedua wajah anak manusia itu saling berhadap-hadapan dalam posisi yang cukup dekat.


"Kau memang licik, tapi kau tidak gesit! Kau belum sepadan jika berhadapan denganku!" ucap Malvino. Sejumlah polisi datang mengepung tempat itu bersama dengan seorang gadis manis berhijab hitam disana.


"Gio!!" pekik gadis cantik itu, Xena! Xena yang panik itu nampak berlari mendekati Gio, melewati puluhan


manusia yang nampak tergeletak di atas lantai kotor itu. Xena berjalan melewati Maya dan Malvino. Wanita itu tiba-tiba berhenti sejenak tepat di samping sepasang pria wanita yang dulu pernah menjalin asmara tersebut. Ia menoleh ke arah laki-laki dan perempuan tersebut, diam sembari menatap keduanya bergantian. Sorot mata lentiknya bertemu dengan sorot mata tajam Malvino dan mata penuh amarah milik Maya. Xena diam, mematung untuk beberapa saat.


"Ringkus mereka!!" Suara itu menggema dari kepala polisi yang memimpin penggerebekan sore menjalang malam itu. Sejumlah aparat berseragam coklat itu kemudian bergerak, meringkus satu persatu manusia yang terletak di atas lantai kotor itu.

__ADS_1


Malvino mendorong tubuh Maya. Menyerahkannya pada pihak berwajib. Para petugas itu kemudian membawa Maya dan kelompoknya ikut dengannya. Maya histeris. Ia mengumpat, memaki maki semua yang berada di sana. Arkana nampak lemah. Ia mengembun di pojok ruangan. Ratih yang berada di sampingnya nampak meraih punggung tangan Arkana. Ia tahu, betapa hancur dan sakitnya hati seorang Arkana.


Sang kepala polisi mendekati sejumlah orang tersebut.


"Kami butuh dua orang untuk dimintai keterangan!" ucap si ketua polisi.


"Saya! Biar saya saja, Pak!" ucap Arkana buru buru.


"Saya ikut!" ucap Jason menimpali. Ia harus ikut ke kantor polisi, setidaknya ia harus memastikan bahwa nama sang tuan besar beserta kelompoknya tetap aman di mata petugas.


Sang polisi mengangguk. "Baiklah, kalau begitu mari ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan lebih lanjut!" ucap sang petugas. Ketiga manusia beda usia itu kemudian berjalan mengikuti sang polisi di belakang. Mereka meninggalkan tempat itu untuk menuju kantor kepolisian guna memberikan keterangan.


Sementara itu, di gudang lusuh itu hanya tersisa Saras, Dion, Xena, dan Malvino. Dion nampak memapah sang istri keluar dari bangunan itu, sedangkan Xena kini nampak bersusah payah membantu Gio yang tak sadarkan diri itu untuk bangkit agar bisa dibawa keluar dari bangunan tersebut.

__ADS_1


"Ya Allah, Gio, ayo dong, bangun! Kamu berat, aku nggak kuat!" ucap Xena pada Gio yang sama sekali tak bergerak.


"Baru juga keluar dari rumah sakit masa udah mau masuk lagi?!! Seprei kamu aja belum di cuci!!" ucap Xena lagi, berbicara seorang diri, membuat Malvino yang kini nampak melepas kemejanya itu nampak menoleh ke arah gadis manis itu. Cempreng sekali suaranya, pikir Malvino.


Xena kembali berusaha mengangkat tubuh Gio, namun lagi lagi ia kesusahan.


"Gio..!! Bangun!!!" ucap Xena lagi mulai kesal. Malvino mendekati gadis itu.


"Apa kau sebodoh itu sampai sempat sempatnya berbicara dengan manusia yang sedang sekarat?!" tanya Malvino santai. Xena terdiam. Ia menunduk kala ditatap oleh pria berperawakan seram dan dingin seperti Malvino.


"Singkirkan tanganmu!" ucap Malvino dengan suara tak terlalu tinggi namun sukses membuat Xena terjingkat. Ia lantas melepaskan tubuh Gio. Malvino kemudian mengambil alih tubuh pemuda yatim piatu itu. Membopongnya bak karung beras dan membawanya keluar dari dalam bangunan lusuh tersebut. Xena mengikuti langkah Malvin dari belakang. Lengan pria dewasa itu nampak mengeluarkan darah yang cukup banyak. Kain kemeja putih yang ia gunakan untuk membalut luka bekas sayatan pisau itu saja nampan memerah sebagian. Namun sepertinya Malvino sama sekali tidak merasakan sakit. Xena jadi berfikir, betapa kuatnya pria dewasa itu. Kok bisa ya? Pikir Xena dalam hati.


__ADS_1



...----------------...


__ADS_2