
"Tunggu..!" Suara itu menggema. Terdengar lantang dan tegas. Membuat Saras pun seketika menghentikan langkahnya. Lalu dengan ragu ragu berbalik badan, menoleh ke arah pria tinggi besar yang kini nampak berjalan mendekati nya.
Saras diam. Malvino mendekati putri Ratih itu dengan sorot mata tajam membunuh.
Tangan kekar itu kemudian bergerak...
seeeeetttt....!
Malvino meraih pundak Saras. Meremasnya, menariknya, lalu mencengkeram nya kuat. Mendekatkan raga ringkih nan mungil itu pada tubuh tegap berotot milik pria berjambang cukup lebat itu.
Saras menegang. Ia memejamkan matanya menahan sakit di lengan nya.
"Apa yang kau lakukan pada putraku?!" tanya Malvino pelan, dingin, dan menyeramkan.
Saras menggelengkan kepalanya tanpa membuka matanya. Ia nampak menggigit bibir bawahnya. Kuku kuku tajam jari jari tangan Malvino berhasil membuatnya meringis menahan perih.
"Tuan, lepaskan saya.." ucapnya pelan.
"Aku memintamu untuk tunduk padanya, gadis bodoh..! bukan membuatnya bersedih..!!" ucap Malvino nampak berang.
Saras tak menjawab. Ia mulai ketakutan.
"Tolong lepaskan saya, tuan..!" ucap Saras lagi.
Alih alih melepaskan, Malvino kini justru makin mengeratkan cengkeramannya. Membuat suara rintihan pun lolos dari bibir mungil Saras.
"Sshh...aaakkhh..!" ucapnya.
Malvino nampak murka.
"Kalau sampai terjadi apa apa dengan putraku, aku tidak akan pernah membiarkan mu dan keluarga mu bahagia...! Ingat, perempuan miskin, kau hanyalah sampah yang sudah pungut dari tempat sampah..! Tugas mu dirumah ini hanyalah membahagiakan putraku dan menuruti semua kata-katanya..! tidak lebih...!"
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Dion, akan ku pastikan, aku akan menghabisi ibu dan adikmu, dan menjadikan darahnya sebagai cat merah kesukaan anakku...! Camkan itu baik baik...!!" ucap Malvino kemudian dengan kasarnya mendorong tubuh ramping itu hingga tersungkur di lantai.
Saras memekik. Ia lantas menunduk. Matanya terpejam. Tak berani menatap ke arah sang mertua yang tengah dalam mode iblis nya itu.
Susah nya jadi Saras..! ketika ia ada masalah dengan suaminya, maka ia juga harus bersiap untuk di musuhi oleh mertuanya.
Dan sudah pasti, bukan hanya nyawanya yang menjadi taruhan, tapi juga nyawa ibu dan adiknya.
__ADS_1
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah....
Disebuah kamar bernuansa maskulin milik Arkana,
Pemuda berambut gondrong itu nampak sibuk dengan ponselnya. Berkali kali ia keluar masuk aplikasi WhatsApp, membuka room chat nya dengan seorang wanita yang begitu intens ia hubungi sejak beberapa hari terakhir, namun sama sekali tak pernah di respon.
Gio berdecak kesal. Ia terus menerus memikirkan Saras.
Laki laki yang kini mendudukkan tubuhnya di atas sebuah sofa panjang di kamar itupun sesekali nampak menghisap rokoknya. Ia berfikir, apakah ia melakukan kesalahan yang membuat wanita itu tersinggung? Kenapa Saras seolah mengabaikan nya? Wanita itu juga sudah tak pernah lagi datang ke coffee shop nya. Membuat Gio jadi galau karena nya.
Ceklek....
pintu kamar terbuka...
Arkana si pemilik kamar nampak masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa secangkir kopi panas di tangannya.
Arkana berjalan mendekati nakas kecil di samping kamar, lalu meletakkan kopinya di sana. Ia kemudian mengeluarkan satu batang rokok dari bungkus nya yang tergeletak disana, lalu membakar ujungnya dan mulai menikmati nya.
"Ck...! ditekuk mulu tuh muka..!" ucap Arkana.
"Berisik, lu..!" ucap Gio judes.
Arkana terkekeh. Ia lantas mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Belum ada balesan dari Saras?" tanya Arkana.
Gio hanya menggelengkan kepalanya lalu menghisap rokoknya.
"Lu terlalu na*su kali ngubungin dia..! kalem aja, coy..! jangan buru buru..! takut tuh cewek..! anak prawan pen lu sosor aja..!" ucap Arkana santai lalu menghisap rokoknya.
Gio tak menjawab.
Suasana hening sesaat. Kedua pemuda yang sudah bersahabat sejak lama itu nampak sibuk dengan pemikiran mereka masing masing.
Lalu...
__ADS_1
"Oh, ya.. kabar pencarian adik ama ibu kandung lo gimana?" tanya Gio pada sahabat nya itu.
Arkana membuang asap rokoknya ke udara. Lalu menggelengkan kepalanya.
"Belum ada hasil..!" jawab pemuda itu.
"Anak buah papa bilang, nggak ada jejak katanya. Besar kemungkinan adik gue emang udah nikah, tapi dibawa keluar negeri sama suaminya" ucap Arkana.
"Suaminya siapa?" tanya Gio.
Arkana menggelengkan kepalanya.
"Belum jelas...! anak buah masih melakukan pencarian. Gue harap sih mereka masih hidup. Syukur syukur gue bisa ketemu sama mereka. Gue pengen lihat muka mereka..!" ucap Arkana.
Gio menoleh ke arah sang sahabat.
"Lu sama sekali nggak ada bayangan, Ka. Muka mukanya, atau kenangan apa gitu pas lo masih kecil?" tanya Gio.
Arkana menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada sama sekali...!" ucap Arkana.
"Separah itu ya, luka di kepala yang lu derita dulu?" tanya Gio.
Arkana mengangkat kedua bahunya sambil menghisap benda bernikotin nya.
"Yang gue inget, dulu, tiap gue selesai minum obat obatan apapun yang dikasih Mama sama Papa, gue langsung pusing hebat. Bahkan sampai pingsan..!" ucap Arkana.
"Otak gue udah terlanjur eror kayaknya..!" tambahnya.
Gio berdecih.
"Makanya bego lu ampe sekarang..!" sahut Gio santai.
"Pala lu..!" jawab Arkana sembari melempar sebuah bantal ke arah kawan akrabnya itu. Sepasang pemuda itu lantas tergelak. Lalu melanjutkan obrolan malam mereka berdua di kamar itu.
...----------------...
Selamat malam...
__ADS_1
up 20:11
yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰