
Ciiiiiiiiiiiiitttttttt....
Motor besar itu berhenti tepat di depan Xena. Menghentikan langkah wanita berhijab putih yang nekat hendak pulang sendiri itu. Gio yang kini tak mengenakan helm itu lantas turun dari kendaraannya. Mendekati Xena yang nampak memasang wajah kesal dan seolah enggan tak mau menoleh ke arah Gio.
"Naik!" titah Gio.
Xena tak menjawab. Ia justru melengos, mendorong pelan tubuh pria itu agar menjauh dari hadapannya agar tak menghalangi langkahnya.
"Nggak usah ngambekan kayak anak kecil! Buruan naik!" ucap Gio lagi. Namun Xena seolah tuli, tak menjawab ataupun merespon ucapan pria itu. Ia terus berjalan menjauh dari Gio yang kini menatap punggungnya.
"Xena!" teriak Gio lagi. Xena benar benar tak menjawab.
Gio berdecak kesal. "Budek!" umpatnya pelan. Pemuda berambut gondrong itu kemudian mengayunkan kakinya, berlari mendekati perawat cantik itu lalu menarik lengannya, membuat gadis cantik itu pun berbalik badan menatap kearahnya.
"Lu kenapa, sih?! Nggak usah ngambekan deh jadi cewek!" ucap Gio.
Xena menatap datar pemuda di hadapannya.
"Jagoan kenapa ada disini? Udah selesai berantemnya? Balik, gih. Berantem lagi, biar bonyok bonyokan lagi. Ntar kalau udah ada yang mati, kabarin ya!" ucap Xena kemudian hendak menghempaskan tangan Gio namun laki laki itu tak mengizinkannya. Ia menatap tajam Xena. Dua pasang mata itu saling bertemu. Kontak mata itu terjadi. Sepasang anak muda yang hanya terpaut usia satu tahun itu nampak saling menatap untuk sejenak.
"Gue anterin lu pulang!" ucap Gio kemudian.
Xena diam. "Nggak usah!" jawabnya kemudian.
"Jangan tolol! Lu mau cari mati pulang malam sendirian jam segini?!" tanya Gio. Xena diam. Sebenarnya ia juga tak serius ingin pulang sendiri. Yang benar saja, ini sudah lewat tengah malam. Hanya wanita bodoh yang berani keluar sendiri jam segini.
"Naik! Gue anterin lu pulang!" ucap pria itu lagi, kini terdengar lebih pelan. Xena masih tak menjawab. Ia membuang muka, seolah tak mau menatap wajah Gio.
Gio menghela nafas. Ia menarik tangan Xena. Mengajaknya menuju motor besarnya untuk diantar pulang. Kendaraan besar itupun melesat menembus jalanan ibu kota yang lengang.
Suasana hening. Tak ada perbincangan ataupun ucapan yang terdengar dari keduanya. Xena masih marah. Ia masih kesal dengan kerasnya hati dan otak Gio. Sedangkan Gio, entahlah, apa yang laki laki itu pikirkan sekarang.
__ADS_1
Tak berselang lama, sekitar lima belas menit perjalanan, motor itu sampai di depan sebuah panti asuhan tak terlalu besar yang merupakan kediaman Xena.
Wanita itu turun dari tumpangannya. Gio menatap wajah Xena yang sama sekali tak bersuara sejak tadi.
Wanita itu berbalik badan. Mendekati pagar setinggi dada orang dewasa itu lalu membukanya. Namun belum sempat wanita itu masuk gerbang, tiba tiba...
"Sorry!" Suara itu berhasil menghentikan pergerakan Xena. Wanita itu diam, masih dalam posisi membelakangi Gio.
Gio diam, tak melanjutkan ucapannya. Xena hanya menghela nafas panjang. Ia kembali bergerak, memasuki pagar, berbalik badan, lalu menggerakkan tangannya menggembok pagar hitam tersebut.
"Gue bilang sorry!" tambah Gio yang seolah diacuhkan oleh Xena itu.
Xena diam, lalu menatap ke arah Gio. "Jagoan ngomong sama saya?" tanyanya.
"Ck! Nggak usah gitu deh responnya! Gue cuma mau minta maaf!" ucap Gio.
"Untuk apa?" tanya Xena.
Xena menghela nafas panjang. "Nggak perlu minta maaf. Saya kesal sama kamu bukan karena ngambek, tapi karena saya merasa, saya nggak nyaman sama kamu," ucap Xena.
"Kenapa?" tanya Gio tak mengerti. Ada rasa tak suka disana mendengar ucapan itu.
"Karena kamu terlalu keras kepala buat saya!" ucap Xena tanpa ada yang ditutup tutupi.
Gio diam.
"Asal kamu tahu, nggak semua orang yang menjauh dari kamu itu karena mereka benci sama kamu. Ada kalanya mereka menjauh karena mereka merasa mereka nggak cocok sama kamu."
"Jadi jangan salahkan orang lain ketika mereka yang semula dekat sama kamu perlahan pergi meninggalkan kamu. Bukan karena mereka nggak suka atau nggak setia sama kamu. Tapi ada kalanya mereka lelah menghadapi kerasnya hati kamu."
"Benar kamu punya prinsip dan pemikiran sendiri. Tapi terkadang sebagai manusia kamu juga perlu introspeksi diri, ada nggak dari diri kamu yang membuat mereka nggak nyaman lalu menjauh?" ucap Xena membuat Gio terdiam.
__ADS_1
"Saya permisi masuk dulu. Lain kali nggak perlu jemput. Dan untuk kunci motor saya, kamu bisa titipin ke satpam rumah sakit kapan kapan kalau kamu bersedia," ucap wanita itu kemudian.
Gio sama sekali tak merespon.
"Saya permisi. Sekali lagi terimakasih, Assalamualaikum," pungkas wanita itu yang kemudian berbalik badan, masuk ke dalam panti asuhan tersebut meninggalkan Gio yang masih tak bergerak disana.
Lagi lagi, ia tertampar oleh ucapan Xena.
.
.
.
Gio versi rapi dan ganteng🤭👇
...----------------...
Selamat pagi
up kedua jam 03:21
Gara gara nggak bisa tidur, tetangga ada yang hajatan🤭
Yuk dukungan dulu.
Yang belum mampir sini boleh mampir, udah sampai episode 12 kalau nggak salah. Dengan cerita yang lebih santai nggak tegang tegang amat👇
"(Bukan) Perampas Mahkotaku"
__ADS_1