
"selamat pagi...."
Suara itu menggema, menarik perhatian sepasang suami istri yang kini tengah menikmati santap pagi mereka itu.
"papa...." ucap Dion pada pria yang nampak baru tiba itu. Ya, itu adalah Malvino, ayah kandung Dion. Ia datang menemui putranya yang sejak semalam tidak pulang. Entahlah, sepertinya Malvino begitu khawatir pada laki laki tampan, putra kesayangannya itu.
Malvino yang mengenakan kemeja berwarna hitam itu nampak mendekat ke arah sang putra sambil tersenyum.
Saras hanya diam. Memperhatikan gerak gerik sepasang ayah dan anak itu. Satu lagi yang menjadi pertanyaan besar bagi Saras. Kenapa Malvino seolah begitu khawatir ketika Dion memiliki niat untuk keluar rumah dengan Saras. Malvino terlihat terkejut, bahkan sempat terbatuk batuk saat Dion mengatakan keinginannya itu.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan dua pria ini? pikir Saras.
"papa kesini?" tanya Dion manis pada sang ayah.
Malvino tersenyum. Menyentuh pundak sang putra dan menatapnya bangga.
"ya, papa ingin menjenguk kamu.." ucap Malvino.
"aku belum ada sehari disini, pa. Lagian aku kesini kan sama Saras..." ucap Dion.
Malvino hanya tersenyum.
"oh ya, papa udah sarapan?" tanya Dion.
"belum..." jawab Malvino.
"makan, pa. Sarapan sekalian..." ucap Dion menawarkan.
Malvino tersenyum lagi.
"boleh..." jawabnya.
Laki laki dewasa berjambang cukup lebat itu lantas mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di sana. Mulai mengambil nasi dan beberapa lauk yang tersedia di atas meja.
"siapa yang masak? kau memanggil Inah, istri penjaga villa ini?" tanya Malvino sembari menuangkan daging ke atas piringnya, lalu bersiap untuk melahapnya.
"aku yang masak" ucap Dion tanpa dosa.
Malvino seketika menghentikan pergerakan nya mendengar kalimat itu. Laki laki satu putra itu menoleh ke arah Dion.
"kau yang memasak?" tanyanya.
Dion mengangguk sambil tersenyum manis.
"daging nya?" tanya Malvino lagi.
"semuanya..." jawab Dion.
Malvino mengurungkan niatnya menyantap makanan itu. Ia nampak tersenyum ke arah sang putra.
__ADS_1
"daging apa yang kau masak?" tanya Dion.
"hanya daging kelinci" jawabnya.
Lagi, Malvino tersenyum.
"makanlah, pa. Aku ingin papa mencicipi hasil masakan ku. Saras bilang enak, iya kan, Saras?".tanya Dion sambil menoleh ke arah sang istri. Begitu juga Malvino yang ikut menoleh ke arah wanita itu.
Saras tersenyum kaku, lalu mengangguk.
"iya .." katanya.
Malvino hanya mengangguk. Ia lantas kembali menggerakkan tangannya. Menyendok nasi beserta semur daging itu, lalu memasukkan nya ke dalam mulutnya.
Saras menautkan kedua alisnya. Malvino diam. Merasakan masakan yang tidak ada rasanya itu.
"gimana, pa? enak?" tanya Dion. Malvino menoleh ke arah sang putra, ia lantas menampilkan senyuman semanis mungkin lalu mengangguk.
"ya, enak..." jawab Malvino berbohong.
Dion nampak tersenyum bahagia.
"Saras juga bilang gitu...! syukur deh kalau kalian semua suka...!" ucap Dion.
Malvino tersenyum. Ia lantas melirik ke arah Saras. Wanita itu nampak menunduk. Dia takut Malvino marah. Karena laki-laki itu pasti sudah bisa menebak, bahwa Saras telah berbohong karena mengatakan bahwa masakan Dion enak. Padahal jelas jelas tak ada rasanya.
"lanjut lagi, pa..." ucap Dion.
Malvino tersenyum.
Santap pagi pun terus berlanjut. Dengan menu masakan hasil karya Dion yang mau tak mau harus dimakan oleh Saras dan Malvino.
...****************...
Siang menjelang....
Dihalaman balkon salah satu kamar di villa mewah milik Malvino.
Saras nampak diam. Duduk di samping sang suami yang nampak sibuk menggerakkan jari jari tangannya, melukis sesuatu di atas kertas lukisnya.
Sebuah gambar tengkorak tubuh wanita yang dilukis menggunakan darah kelinci terbentuk disana, belum sepenuhnya selesai. Dion masih sibuk mengoles oleskan cat merah kesayangan itu di atas kertas lukisnya.
Saras tak bergerak. Ia juga tak takut. Sejak tadi fokus matanya bukan pada gambar yang Dion lukis, bukan juga pada bahan yang Dion gunakan.
Namun Saras sejak tadi justru terfokus pada wajah Dion. Wajah seorang pria yang terlihat begitu manis dan imut. Apalagi jika sedang tersenyum. Sangat tampan.
Tapi dibalik ketampanan nya pria itu seolah menyimpan sejuta misteri. Menyimpan sejuta kisah mungkin dimasa lalunya. Entah apa...!
Saras benar benar dibuat penasaran tentang masa lalu Dion. Dan apa yang menyebabkan laki laki itu seolah masih dianggap seperti anak kecil oleh ayahnya sendiri.
__ADS_1
Bukan kah untuk pria seusia Dion yang sudah menikah bukan hal aneh dan berbahaya jika pergi keluar rumah? tapi kenapa Malvino begitu khawatir pada putranya itu. Ia bahkan sampai menyusulnya ke villa untuk memastikan sang putra baik baik saja.
Sungguh, Saras sangat penasaran. Ia ingin mengungkap semuanya. Tapi ia tak tahu harus memulai nya dari mana. Mengingat ia juga tak mau menyinggung perasaan Dion. Ia tak mau membuat pria itu marah dan tersinggung.
Saras menghela nafas panjang. Ia lantas menegakkan posisi duduknya.
"Dion...." ucap Saras
Dion menoleh.
"ya...." jawabnya.
"aku ke bawah dulu, ya. Ambil minum, haus..." ucap wanita cantik itu.
Dion tersenyum.
"ya," jawabnya.
Saras pun bangkit. Tak lupa, sebuah senyuman terbentuk dari bibirnya. Ia kemudian bergegas untuk pergi meninggalkan balkon kamar itu untuk menuju ke dapur yang berada di lantai bawah villa mewah tersebut.
Saras keluar kamar. Baru saja ia hendak menuruni tangga. Tiba tiba....
seeeeetttt.....
Lengan ramping itu ditarik paksa dari belakang. Saras reflek menoleh.
"tuan?!" ucap Saras
Ya, itu adalah Malvino, mertuanya. Ayah kandung dari Dion, suaminya.
Malvino menatap tajam ke arah wanita itu. Jantung Saras pun seketika berdebar dengan lebih cepat.
"aku ingin bicara denganmu...!" ucap laki laki itu.
Belum sempat Saras menjawab. Laki laki itu sudah menarik paksa tangan putih wanita cantik itu. Ditariknya Saras yang merupakan menantunya itu menuruni tangga, membawanya ke halaman belakang, sedikit menjauh dari bangunan utama hunian elit tersebut.
...----------------...
Ga bisa tidur
...
selamat tengah malam....
up 00:13
yuk, dukungan dulu...
__ADS_1
mampir sini juga👇👇👇