
Pagi menjelang. Seorang pria paruh baya nampak berjalan menuruni tangga rumahnya. Hari ini ia akan pergi keluar kota untuk bisnisnya. Ia akan kembali meninggalkan anak dan istrinya di kota ini demi mencari nafkah untuk mereka.
Bharata berjalan menuju meja makan. Dilihatnya di sana, sang istri nampak sibuk menyiapkan santap pagi mereka seperti biasanya. Bharata tersenyum, ia berjalan mendekati wanita cantik berpenampilan anggun itu lalu merengkuh pinggangnya dari belakang dan mencium keningnya lembut.
"Selamat pagi," ucap pria itu. Maya menoleh kemudian tersenyum.
"Pagi, Mas" jawab wanita yang semalam sudah mendapatkan penjelasan dari Bharata mengenai Ratih dan Saras itu.
"Kamu bangun jam berapa tadi?" tanya Bharata.
"Seperti biasa," ucap Maya. Laki-laki itu tersenyum. Ia memeluk sang istri dari belakang.
"Hari ini aku akan pergi ke luar kota. Mungkin kurang lebih satu minggu. Kamu hati-hati ya di rumah. Mungkin untuk beberapa hari ke depan Arkana akan tinggal bersama ibu kandungnya. Kamu nggak apa apa, kan?" tanya Bharata.
"Iya, aku nggak apa apa." Maya menjawab singkat sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis.
Bharata tersenyum lagi. Ia mengeratkan pelukannya atas sang istri. Wanita itu benar-benar wanita idaman. Ia tak marah saat Bharata mengatakan bahwa ia dan Arkana diam-diam mencari tahu tentang keberadaan Ratih dan Saras. Bharata sempat berfikir, bahwa Maya mungkin akan marah padanya. Tapi ternyata ia salah. Maya justru berlapang dada dan dengan mudahnya memahami maksud hati dari Bharata. Sungguh, Bharata merasa sangat beruntung bertemu dengan wanita sesempurna Maya.
"Kamu duduk dulu, Mas. Makanannya udah siap. Aku mau ke atas dulu ngambil tas" ucap Maya sambil tersenyum manis.
"Iya, sayang" jawab pria itu kemudian. Bharata lantas mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan itu. Mulai menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh sang istri. Sedangkan Maya kini nampak menapaki anak tangga. Berjalan menuju kamar mereka yang berada di lantai dua.
Maya masuk ke dalam kamarnya. Mimik wajah yang semula tenang, lembut dan penuh senyuman, dalam hitungan detik berubah menjadi seringai tajam mengerikan. Wanita itu lantas berjalan menuju ranjang, meraih tas miliknya yang tergeletak di sana dia kemudian mengambil sebuah ponsel nomor yang sangat ia kenal.
Tuutt...tuutt....
"Halo, bos." Suara itu terdengar dari sambungan telepon. Maya mengangkat dagunya.
__ADS_1
"Kerahkan anak buah mu menuju rumah sakit X! Culik laki laki bernama Gio yang sekarang berada di ruang ICU! Lakukan sebelum dia sadar dari kritisnya!" titah Maya pada laki laki yang merupakan anak buahnya itu.
Laki laki itu mengangguk di seberang sana.
"Baik, bos!" ucapnya yakin. Maya pun mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Wanita itu nampak menatap lurus ke depan dengan sorot mata tajam mengerikan. Ia meremas ponsel yang berada di tangannya. Amarah berkobar dalam dirinya. Bisa-bisanya Bharata mencari mantan istri serta anaknya di saat ia masih menjalin hubungan suami istri dengan Maya. Meskipun di depan Bharata ia seolah bisa ikhlas menerima semuanya, namun rupanya dalam hatinya yang merasa terbakar cemburu. Ia tak suka nama Ratih dan Saras disebut-sebut di hadapannya. Arkana dan Bharata adalah milik Maya, dan ia tak mau ada wanita lain yang masuk dalam kehidupan mereka.
Maya bersumpah, suatu saat ia akan melenyapkan dua wanita itu. Tapi kini yang jauh lebih penting adalah Gio. Semua rahasia Maya tentang perannya yang membantu menjebak Saras dan memfasilitasi persembunyian Gio ada di tangan pemuda itu. Ia tak mau jika ketika Gio sadar nanti, ia akan membuka mulut dan menceritakan semua pada Arkana.
Awalnya, Maya ingin menggunakan Gio untuk menjebak Saras. Ia bersekongkol dengan pria itu untuk memperk*sa Saras dsn mengirimkan video tak pantas mereka pada Dion. Dengan begitu, sudah pasti Dion akan hancur dan mungkin akan "kumat". Jika itu terjadi, sudah pasti Malvino akan hancur sekaligus marah pada Saras. Besar kemungkinan Malvino akan membunuh wanita itu. Dengan demikian, maka semua penghalang dan orang-orang yang Maya benci akan hancur dan mati dengan sendirinya. Saras mati di tangan Malvino dan Malvino hancur karena Dion. Maya akan aman. Ia berhasil menyingkirkan musuh-musuhnya tanpa perlu repot-repot mengotori tangannya. Namun sayang, semua berantakan karena kebodohan Gio yang membawa Arkana ikut serta dengannya. Hal itupun membuat Maya kini harus mengatur strategi baru untuk membunuh Saras dan menghancurkan mantan kekasihnya itu.
Saras dan ibunya bisa ia urus nanti. Yang penting Maya masih berperan sebagai wanita ikhlas yang menerima mantan istri serta anak perempuan dari suaminya, maka semua akan baik-baik saja. Yang terpenting kini adalah melenyapkan Gio terlebih dahulu. Laki-laki itu harus mati jika Maya ingin selamat dan semua rahasianya tetap aman.
****************
Sementara itu di tempat terpisah.
Entah mengapa setelah melihat gambar sketsa itu Malvino seolah kembali teringat pada sosok perempuan cantik yang dulu pernah begitu dekat dengannya tersebut. Gambar itu sangat mirip dengan wajah mantan kekasihnya itu. Membuatnya kini seolah berpikir, apa benar sosok wanita yang Dion dan Saras temui di rumah sakit itu adalah Rihanna, mantan kekasihnya? Jika memang iya, kenapa Dion menjadi pusing? Bahkan menurut penuturan Saras, Dion pernah mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan wanita itu. Kalau memang iya, di mana mereka pernah bertemu dan kapan? Malvino saja tidak pernah bertemu dengan Rihanna setelah kejadian beberapa puluh tahun lalu itu. Tapi kenapa Dion mengaku pernah bertemu dengannya? Bukankah ini sangat aneh? pikir Malvino.
Malvino menggelengkan kepalanya. Ia kemudian meraih gelas sloki yang berada di atas meja kemudian menenggak isinya. Tiba tiba...
Tok... tok... tok...
Pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" ucap Malvino tanpa mengubah posisi duduknya. Pintu ruangan itu terbuka. Jason masuk ke dalam ruangan itu kemudian menutup lagi pintu tersebut. Laki-laki bertato itu kemudian berjalan mendekati sang tuan.
__ADS_1
"Tuan," ucap laki-laki itu. Malvino tak menjawab. Ia mengangkat dagunya seolah bertanya "ada apa?"
Jason menghela nafas panjang. Ia kemudian menyerahkan beberapa lembar foto kepada sang tuan.
"Apa perempuan yang Tuan maksud adalah perempuan ini?" tanya Jason. Malvino meraih beberapa lembar foto itu. Dan....
.
.
.
.
"Rihanna?!"
...----------------...
Selamat malam
...
up 19:53
Yuk, dukungan dulu 🥰
__ADS_1