Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
29


__ADS_3

Siang menjelang sore...


Pria tampan dengan hoodie hitam ber kupluk itu nampak duduk di salah satu sofa panjang ruang tamu luas itu. Membungkuk, sembari memainkan jari jari tangannya. Saras turun menapaki anak tangga rumah megah bak istana itu. Wanita itu terlihat cantik dengan pakaian serba panjangnya.


Netra lentik itu tertuju pada Dion. Dilihatnya dari kejauhan pria itu nampak tidak tenang. Kakinya bergerak gerak. Jari jemarinya saling merem*s seolah menggambarkan kegugupan yang kini menderanya.


Saras mendekat....


"Dion..." ucapnya.


Dion mendongak. Ia mencoba tersenyum, namun terasa kaku.


Saras diam mengamati gerak gerik suaminya itu. Terlihat jelas kegugupan dalam diri pria dua puluh dua tahun. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu. Kenapa hanya sekedar pergi keluar rumah sebentar saja sepertinya sangat sulit bagi seorang Dionyz Aldari Miguel.


Saras mendekati sang suami, duduk di samping nya lalu memiringkan kepalanya menatap wajah pria tampan itu.


"kamu kenapa?" tanya Saras.


Dion tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya.


"kita jadi pergi, kan?" tanya Saras lagi.


Dion mengangguk.


Saras tersenyum. Ia kemudian menyentuh telapak tangan pria itu, lalu menggenggam nya erat.


"yaudah, kita pergi yuk..." ucapnya.


Dion diam sejenak. Lalu mengangguk kaku. Wajahnya yang biasanya terlihat dingin tak berekspresi kini berubah menjadi seperti orang bingung. Saras mencoba tetap tenang. Bahkan kini makin penasaran dengan masa lalu Dion yang membuatnya seolah menjadi begitu anti sosial.


Saras berjalan menuju pintu. Menggandeng tangan Dion yang terasa dingin itu. Sebuah mobil mewah beserta seorang supir bertubuh tegap sudah menunggu, bersiap mengantar sepasang suami istri itu untuk jalan jalan.


Saras masuk ke dalam mobil itu bersama sang suami. Duduk berdampingan di kursi belakang kendaraan roda empat berwarna hitam mengkilap yang kini mulai melesat meninggalkan rumah megah tersebut.


Tanpa mereka sadari, dua pasang mata tajam nampak menatap kepergian Dion dan istrinya dari salah satu balkon lantai tiga rumah itu.


"apa yang anda pikirkan, tuan?" tanya Jason.


Malvino menenggak alkohol di tangannya.


"tidak ada...!" ucap Malvino.


"anda butuh pengawal untuk mengawasi tuan muda?" tanya Jason lagi.


"tidak perlu..! satu supir saja kurasa cukup. Jika sampai terjadi apa apa dengan putraku, maka akan kupastikan, kepala perempuan itu lah yang akan ku jadikan mainan ku..!" ucap Malvino dengan seringai mengerikan.


...****************...


Semenjak itu,


Kendaraan roda empat yang membawa sepasang suami istri itu kini nampak berhenti. Sebuah lampu lalu lintas yang berada di salah satu sisi jalan perempatan nampak menunjukkan warna merahnya. Pertanda semua kendaraan yang melintas di ruas jalan raya yang tak terlalu ramai itu diwajibkan untuk menghentikan laju nya sejenak. Tak terkecuali mobil milik Dion.


Saras menoleh ke arah sang suami. Dilihatnya disana, pria tampan itu sejak tadi hanya menunduk. Tak ada suara yang terdengar dari bibirnya. Kepala yang tertutup kupluk hoodie berwarna hitam itu nampak tak lepas menatap sebuah rubrik yang berada di tangannya. Dion terus memainkannya. Mengacak-acak warnanya, kemudian menyusunnya. Mengacak-acak nya lagi, lalu menyusunnya lagi. Begitu seterusnya sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Saras meringsut, mendekati sang suami kemudian menyentuh salah satu telapak tangan yang sibuk dengan rubik itu.


Dion menoleh.


"kamu baik baik aja?" tanya Saras lembut.


Dion tak menjawab.


"kamu suka dengerin lagu nggak?" tanya wanita itu.


Dion diam. Masih tak bersuara.


Saras meraih tas ransel miliknya. Dikeluarkan nya sebuah headset yang sengaja ia bawa dari rumah itu, lalu memasangkan nya di telinga sang suami. Lalu memutar sebuah musik jazz yang menenangkan dari aplikasi musik di ponselnya.


"kalau keramaian bikin kamu nggak nyaman, biar musik ini yang menenangkan kamu.." ucap Saras.


Dion diam sejenak.


"aku tidak suka musik seperti ini.." ucap Dion.


"aku tahu. Tapi musik jenis ini katanya bisa menenangkan pikiran, bisa bikin rileks. Dengerin aja dulu..." ucap Saras lagi sambil menampilkan senyuman manis.


Perlahan, wanita itu meraih rubik di tangan Dion. Laki laki itu nampak diam. Tak menampilkan reaksi apapun. Saras lantas makin meringsut. Diraihnya satu lengan Dion, menggerakkan nya agar memeluk tubuhnya. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. Seolah ingin bermanja manja dengan pria tampan penuh misteri itu.


Tangan putih itu bergerak, menyentuh salah satu dada bidang sang suami. Dapat ia rasa dengan jelas, degup jantung Dion berdebar dengan sangat hebat. Jelas, Dion sebenarnya tidak nyaman berada di luar rumah seperti ini.


Saras menghela nafas panjang. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Dion. Ia tak mau terlalu mengoreknya. Takut salah. Sudah mau diajak keluar dari rumah saja itu sudah lumayan dari pada terus terusan berkutat dengan lukisan ruang lukisnya yang seram itu.


Saras memejamkan matanya. Memilih untuk bersandar di dada bidang sang suami sambil menunggu lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju beberapa tempat yang sudah Saras rencanakan.


...****************...


Mobil mewah itu sampai di depan sebuah bioskop yang berada di salah satu sudut kota itu.


Saras mengajak sang suami turun dari mobilnya setelah sang sopir turun dan membukakan pintu untuk sepasang suami istri yang belum lama menikah tersebut.


Dari balik hoodie hitamnya, Dion nampak menggerak-gerakkan kepalanya. Mengamati suasana di sekitar bioskop yang tak terlalu ramai itu, sedangkan headset yang semula menyumpal kedua lubang telinganya itu kini sudah terlepas dari sana.


Dion menoleh ke arah Saras.


"Sa..Saras..." ucap Dion.


Saras menoleh ke arah sang suami. Dilihatnya pria itu nampak memasang wajah bingung dan tak nyaman.


"ya...." ucap wanita itu.


"kita ngapain kesini?" tanya Dion sembari terus menunduk, seolah tak mau menampakkan wajah tampannya pada orang orang luar.


"eemm...nonton" ucap Saras.


Kepala menunduk yang tertutup kupluk hoodie itu nampak terus bergerak-gerak.


"kita pulang, aku nggak suka tempat ini..!" ucap Dion.

__ADS_1


"kok pulang? katanya mau nemenin aku jalan-jalan?! ini nggak terlalu rame, Dion.., kita masuk ya... kita nonton film berdua..!" ucap Saras.


Dion menggerak gerakkan kepalanya lagi. Seolah begitu takut menghadapi orang orang asing itu.


Saras menggerakkan tangannya, meraih punggung tangan pria itu dan meremasnya lembut.


"masuk, ya. Nggak apa apa kok. Di dalam sepi. Ya....." ucap Saras.


Dion yang terus menunduk itu nampak menatap wajah sang istri dengan sorot mata yang sulit diartikan.


"aku takut, mereka jahat...!" ucap Dion tak jelas.


"pulang, Saras..!" ucap laki laki itu lagi.


"tapi kita udah terlanjur sampai sini kan?" tanya Saras lagi.


Dion menggelengkan kepalanya cepat. Ia benar benar tidak nyaman.


Saras menghela nafas panjang. Didekatinya pria itu lalu menyentuh punggung tangannya serta meremasnya.


"Dion...kita kesini kan mau jalan jalan. Katanya kamu mau nemenin aku. Kita masuk ya, bentar aja..." ucap Saras.


Dion nampak bingung. Ia terus bergerak, seperti seorang bocah yang kebingungan mencari cari tempat untuk berlindung.


"nggak ada orang jahat disini. Kita masuk sama sama ya...kita cari yang nggak terlalu banyak penontonnya aja..." ucap Saras membujuk.


Dion mendongak,


"Jangan lama lama .." ucap Dion.


Saras mengangguk.


"iya ..." jawab wanita itu.


Dion diam. Ia masih terlihat gugup. Saras menggandeng tangan Dion, lalu menuntunnya, membawanya pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam bioskop.


...----------------...


Selamat malam....


up 18:57


yuk, dukungan dulu....


Mampir sini juga boleh👇👇


🌾 Gadis Tawanan Sang Psychopath🌾


Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik,sebesar apapun dosanya di masa lalu.


Berawal dari pertemuan yang tak pernah diharapkan,dinamika gadis polos bertauhid melunakkan hati pria keji berlumur dosa.Setia berdiri di samping sang pria membimbingnya menjadi pribadi yang bijaksana.


Kisah sepasang anak manusia berbeda latar belakang melewati terjalnya jalan menuju keluarga utuh nan bahagia yang berpedoman pada ajaran tauhid Sang Maha Kuasa.Penuh konflik,berderai peluh,keringat,tetesan darah dan air mata menghiasi jalan hidup keduanya hingga tercipta sebuah keluarga yang begitu indah penuh inspirasi.

__ADS_1


Yuk baca kisah mereka yang menguras emosi dan air mata....



__ADS_2