
Malam makin larut....
Saat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari...
Pria berkaos putih dengan beberapa noda darah di tubuh dan bajunya itu nampak berjalan menaiki anak tangga rumah megahnya tersebut menuju kamar pribadinya.
Bau anyir menyeruak dari sana. Seekor anjing berukuran besar baru saja ia eksekusi. Ia jadikan bahan utama pembuat cat merah kesukaan nya.
Dion dengan mimik wajah datar tak berekspresi pun sampai di depan pintu kamarnya. Dibukanya daun pintu itu kemudian masuk ke dalam nya.
Dion terdiam. Dilihatnya disana Saras yang semula duduk di tepi ranjang kini nampak buru buru bangkit kala melihat kedatangan laki laki itu.
"Dion..." ucapnya.
Dion tak menjawab. Pria itu lantas melirik ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Biasanya jam segini Saras pasti sudah tertidur. Tapi kenapa malam ini ia masih terjaga? pikir Dion.
Saras yang sejak tadi menunggu kedatangan suaminya itu lantas mendekat.
"Kamu udah selesai ngelukisnya?" tanya Saras.
Dion diam. Menatap datar sang istri yang terlihat letih.
"Apa yang kau lakukan jam segini?" tanya Dion.
Saras nampak diam sejenak.
"Em, aku nungguin kamu.." ucap Saras.
Dion diam lagi. Pria itu kemudian melepas kaos kotornya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Saras mengikutinya dari belakang. Mungkin Dion perlu bantuan, pikirnya.
Namun baru saja mereka sampai di depan pintu kamar mandi, Dion sudah berbalik badan. Menatap datar wanita cantik itu.
"Mau apa?" tanyanya.
"Kamu mau mandi?" tanya wanita itu.
"Menurutmu?" tanya Dion.
"Butuh bantuan?" tanya Saras lagi.
Dion diam. Menatap datar sang istri dari atas sampai bawah, lalu menggelengkan kepalanya samar.
Saras menunduk. Nampak kecewa. Dion masih dalam mode dingin dan diamnya.
"Oke..." jawab wanita itu lirih.
Dion melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Lalu menutup pintu kamar mandi itu tanpa menghiraukan Saras yang masih berdiri di hadapannya.
Setitik air mata menetes di pipi Saras. Tolonglah, ia lelah..!
__ADS_1
Saras menarik nafas panjang. Mencoba membuang rasa sakit hatinya dan mengabaikan kesedihannya. Ia kemudian berjalan menuju sebuah lemari besar di sana, mengambilkan baju ganti untuk suami tercintanya.
Satu kaos, celana pendek lengkap dengan celana dal*mnya Saras ambil dari sana, lalu ia letakkan di atas ranjang.
Saras kembali mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, menunggu Dion selesai dengan mandi lewat tengah malamnya.
Tak lama. Sekitar sepuluh menit berjalan, Dion keluar dari ruangan tersebut dengan handuk yang dililitkan di bawah pusarnya.
Netra tajam itu kembali tertuju pada Saras. Wanita itu bangkit setelah menyadari sang suami telah keluar dari kamar mandi.
Dion masih menatap datar wanita itu. Ia mendekati ranjang. Meraih pakaian yang sudah Saras siapkan lalu mengenakannya.
Selesai..!
"Em, Dion...." ucap Saras.
Dion menoleh.
"Aku mau bicara sama kamu." ucap Saras.
Dion diam sejenak.
"Apa kau tidak melihat ini sudah terlalu malam? Tidurlah..!" ucap Dion terdengar dingin.
Saras menunduk. Ia menarik nafas panjang lagi. Dadanya terasa sesak. Tolonglah, ia hanya ingin membantu Dion untuk sembuh, agar ia bisa menjalani kehidupan berumah tangga yang normal seperti orang orang pada umumnya.
Tapi kenapa susah sekali..!!
"Kamu membunuh apa lagi malam ini?' tanya Saras.
Dion yang hendak menarik selimutnya pun menghentikan pergerakan nya. Ia menatap tajam wanita yang kini berucap tanpa menoleh ke arahnya. Matanya menatap nanar ke arah lantai keramik yang mengkilap itu.
"Sejak kapan masalah ini menjadi urusanmu..?" tanya Dion.
"Apa dengan membunuh sekarang kamu udah bisa tenang?" tanya Saras.
Dion tak menjawab. Suara sesenggukan mulai terdengar dari bibir wanita itu.
"Aku capek, Dion..!" ucap Saras.
Dion diam sejenak.
"Apa maksudmu?" tanyanya kemudian.
"Aku istri kamu..! Aku ada disini buat jadi teman kamu. Sahabat kamu. Orang yang bisa kamu andalkan. Bisa kamu ajak cerita. Bisa kamu ajak berbagi..!"
"Bisa nggak sih kalau ada apa apa itu ngomong..! Jangan kayak gini..!"
"Aku salah apa?!!" tanya Saras mulai meluapkan emosinya.
__ADS_1
"Ngomong..! Jangan diem aja..! Jangan aku yang di diemin..! Aku salah apa, bilang..!!" ucap Saras kesal dengan air mata yang mulai banjir membasahi pipi mulusnya. Sungguh, ia lelah. Ia tak tahu dimana letak kesalahannya hingga Dion yang semula sudah terlihat lebih baik kini justru kembali menjadi Dion yang dulu.
Dion diam di atas ranjang. Tak bergerak sama sekali.
"Aku bertahan disini buat kamu..! Aku cuma mau kamu bangkit..! Jangan kayak gini terus..! Apa yang kamu nggak suka, ngomong..! Apa salah aku, bilang..! Jangan diem diem kayak gini..! Berhenti meluapkan emosi kamu dengan mencari mangsa buat kamu bunuh..! Cerita apa yang kamu rasain..! Punya mulut, ngomong..!! Aku capek ngadepin kamu kayak gini terus...!!!" ucap Saras sambil meraih handuk basah yang tergeletak disana dan melemparkan nya ke arah sang suami.
"Kalau emang nggak mau pameran, ya udah..! Nggak apa apa...!!! Aku nggak maksa..! Tapi jangan diemin aku terus..!! Jangan ngurung diri terus..! Jangan diem aja..! Ngomong...!!!!"
Saras menangis meraung raung. Sungguh, ia lelah. Ia lelah menghadapi suaminya. Ia lelah berjuang sendiri untuk mengajak Dion bangkit. Tapi Dion nya seolah tak mau melakukan perubahan.
Saras ambruk. Ia terduduk di lantai. Menangis sejadi jadinya. Ia merasa kesal dengan Dion. Kesal juga dengan dirinya sendiri.
Bodohnya Saras mau bertahan demi orang gila seperti Dion. Bodohnya Saras yang dengan gampangnya menanda tangani sebuah perjanjian dengan Malvino. Bodoh..! Sangat bodoh. Bisa bisa bukan hanya Dion yang gila, tapi Saras juga bisa ikut gila jika terus terusan begini.
Wanita itu menangis menatap lantai. Air matanya jatuh tak terbendung.
Dion membuang nafas panjang. Ia menyingkap selimut tebal miliknya. Lalu bangkit dari ranjang dan mendekati Saras yang terus meraung raung. Diamatinya paras itu. Saras menangis sejadinya. Wanita itu bahkan sampai melepaskan kacamata saking banyaknya air mata yang tumpah hingga membuat kaca bening itu menjadi buram.
Dion tersenyum tipis. Tangan nya tergerak hendak mengusap air mata di pipi Saras, namun...
Plaaaaaakkk....
Saras menepis tangan kekar itu.
"Nggak usah pegang pegang..!!" bentak wanita itu.
Dion diam.
"Jangan menangis..!" ucap laki laki kemudian.
"Suka suka aku...!!! Aku kalau marah emang kayak gini, nggak usah di tahan tahan...!!!"
"Mending aku nangis dari pada bunuh orang..! Aku benci sama kamu..!! Lihat aku..! Orang kalau marah tuh gini..!! Bilang...!! Ngomong..!! Keluarin semuanya..!! Ungkapin semuanya....!! Jangan diem aja...!!!" ucap Saras kesal sembari memukul dada bidang Dion di akhir kalimat nya.
"Kamu tuh udah dewasa..! Masa marah aja harus diajarin..?! Aku capeeeekk....!!!!!!!!!" ucap Saras merengek sambil terus memukuli suaminya. Seolah ingin melampiaskan kemarahannya. Kakinya bahkan tergerak menendang nendang udara. Dion hanya tersenyum tipis melihat ulah istri manisnya itu. Ia menggerakkan tangannya. Mencoba memeluk Saras yang tengah 'tantrum' itu.
Tangisan itu makin keras. Dion memeluk tubuh itu di atas lantai dingin kamar tersebut. Didekapnya erat wanita cantik itu. Di usap usapnya lembut kepala hingga punggung Saras seolah mencoba menenangkan hati wanita malang tersebut.
Dion beberapa kali mengecup pucuk kepala Saras dengan lembut.
"Maaf.." ucapnya.
Saras tak menjawab. Ia menumpahkan semua kekesalannya pada sang suami malam itu. Air matanya tumpah. Kaos yang baru saja Digo kenakan kini bahkan nampak basah karena air mata. Sesekali wanita itu bahkan dengan sengaja menggunakan kaos putih tersebut untuk mengusap cairan hidung miliknya.
...----------------...
Selamat pagi,..
__ADS_1
up 05:07
yuk dukungan dulu 🥰🥰