Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
86


__ADS_3

Mobil mewah berwarna hitam milik Bhatara itu sampai di area halaman luas rumah megah itu. Sepasang ayah dan anak itu lantas keluar dari mobilnya, mereka berjalan menuju teras rumah yang posisinya lebih tinggi dari halaman itu kemudian berdiri tepat di depannya. Bharata nampak membelakangi pintu. Ia mengamati area rumah yang cukup asri dengan taman kecil di tengah tengah halaman luas itu. Sedangkan Arkana, pemuda itu nampak menarik nafas panjang sambil menghadap ke arah pintu kusen berwarna putih tersebut. Entah mengapa ia tiba tiba merasa gugup. Hal yang tak biasa ia alami lantaran ini bukan kali pertama ia bertemu dengan ibu kandung Saras itu.


Arkana mengangkat tangannya. Ia kemudian mengetuk daun pintu itu dengan ragu ragu.


Tok...tok...tok...


Pintu diketuk tiga kali. Arkana diam menunggu sahutan dari dalam rumah.


Belum ada yang membuka pintu.


Tok...tok...tok...


Pintu diketuk lagi. Tiga kali. Dengan gerakan yang sama.


Belum juga ada yang membukakan pintu.


Arkana kembali menggerakkan tangannya. Berniat mengetuk daun pintu berwarna putih itu untuk yang ketiga kalinya. Namun tiba-tiba,


Ceklek...


Pintu terbuka dari dalam.


.


.


.


Degghh...


Arkana mematung seketika. Ia tak bergerak. Wanita paruh baya itu muncul dari dalam rumah. Penampilannya sangat sederhana. Wajahnya terlihat lebih tua dari ayahnya. Tak begitu terawat, jauh berbeda dengan Maya sang ibu sambung yang masih terlihat cantik dan modis di usianya yang mungkin sepantaran dengan Ratih.

__ADS_1


Arkana mengembun. Inilah ibu kandung yang ia cari-cari selama ini. Wanita sederhana yang telah mengandungnya selama sembilan bulan. Wanita yang melahirkannya ke dunia, merawat dan membesarkannya hingga lima tahun usianya, namun terpaksa ia tinggalkan karena sebuah perceraian antara Ratih dan Bharata di masa lalu.


Ini ibunya. Ibu kandungnya. Ia masih hidup. Ia sehat. Mereka pernah bertemu beberapa kali namun keduanya tak ada yang mengetahui bahwa mereka ternyata adalah sepasang ibu dan anak yang terpisah.


"Arka..." ucap Ratih terdengar lembut. Arkana tak menjawab. Ia tersenyum. Matanya kembali mengembun. Sedangkan Bharata yang membelakangi sepasang ibu dan anak itu masih diam dalam posisinya. Ia tak berbalik badan. Ia seolah ingin memberikan waktu untuk Arkana melepas rindu dengan ibu kandungnya itu.


"Ibuk.." ucap Arkana terdengar bergetar.


Ratih nampak mengernyitkan dahinya.


"I..iya.. Lu kenapa?" tanya Ratih bingung. Arka tak seperti biasanya. Laki laki itu nampak tersenyum haru menatap wajah sedikit keriput dihadapannya.


"Ibuk..." ucapnya lagi. Ratih makin tak mengerti. Ia menatap bingung ke arah Arkana. Kemudian dengan tiba-tiba..


"Iya, ada apa? Biasanya lu manggil gue tante..!" ucap Ratih lagi.


Arkana tak menjawab. Matanya mulai berair namun senyuman terbentuk di bibirnya. Dengan gerakan lembut ia meraih punggung tangan sang ibu kandung kemudian menciumnya.


Arkana tiba tiba menabrakkan tubuhnya pada sang ibu kandung. Membuat Ratih yang mendapat perlakuan demikian pun kaget dibuatnya. Arkana memeluk erat tubuh itu. Ratih bingung, tangannya tergerak ragu-ragu membalas pelukan sang pemuda tampan itu.


"Lu kenapa?! Ada apa?" tanya Ratih bingung. Cairan bening terasa menetes setitik demi setitik di pundaknya. Sepertinya pemuda itu menangis. Ratih masih belum mengerti tentang apa yang terjadi, ia menoleh ke arah satu lagi pria yang kini nampak berdiri membelakanginya.


Siapa pria itu? Apa itu Gio? Tapi dia tidak gondrong..? Pikir wanita ibu kandung Saras dan Arkana itu.


"Lu kenapa, Ka? Ada apa?" tanya Ratih lagi.


Arkana tak menjawab. Ia menghirup aroma tubuh wanita paruh baya itu dalam-dalam. Seolah ingin meluapkan kerinduan yang terpendam selama bertahun-tahun lamanya.


"Aku kangen sama ibu. Aku mencari ibu ke mana-mana..! Apa ibuk nggak ingat sama aku?" tanya pemuda itu.


Ratih masih belum paham. Arkana melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Aku adalah anak yang berpisah sama ibu dua puluh tahun yang lalu" ucap Arkana. Ratih masih diam tak bergerak.


"Mungkin ibu sekarang nggak mengenali wajahku. Tapi aku yakin, ibu masih mengenali wajah dia" tambah pemuda itu lagi sembari menunjuk ke arah sang ayah di akhir kalimatnya. Ratih menoleh ke arah pria yang sejak tadi berdiri membelakanginya itu


"Pa..." ucap Arkana pada sang ayah.


Laki laki berpenampilan rapi dengan kemeja putih dan celana bahan berwarna abu abu itu lantas berbalik badan.


Deeghh....


Ratih terdiam seketika. Ia ingat betul laki-laki itu. Laki laki yang dua puluh tahun lalu ia lepaskan demi mengejar seorang Burhan.


"Apa kabar?" tanya Bharata tenang. Ratih tak menjawab. Ia nampak mengembun menatap ke arah Bharata dan Arkana bergantian.


"Ka..kau...kalian...." ucap Ratih terbata bata dengan ribuan pertanyaan di kepalanya.


Bharata tersenyum.


"Laki laki di hadapanmu itu adalah putramu. Putramu yang hidup bersamaku semenjak kita berpisah" ucap Bharata lagi.


"Aku datang untuk mengantarkannya. Dia ingin bertemu dengan ibu kandungnya" tambah pria paruh baya itu.


Ratih nampak mengembun menatap ke arah Arkana. Pantas saja selama ini ia merasa begitu dekat dan sangat menyayangi Arkana. Rupanya inilah jawabannya. Laki-laki itu adalah anak kandungnya. Putra pertamanya dengan Bharata dari pernikahan pertamanya. Sebagai orang tua ia begitu payah. Ia bahkan lupa bahwa nama Arkana sama dengan nama putranya dulu.


Ratih mengembun. di tangkupnya paras tampan berjambang tipis itu. Diamatinya wajah itu dengan seksama. Pantas saja ia merasa seperti pernah melihat laki-laki ini. Rupanya dia adalah putranya sendiri. Anak sulungnya. Kakak kandung dari Saras. Ratih memeluk erat pria yang tingginya bahkan sudah melebihi dirinya itu sambil tersenyum. Sebuah tawa bahagia bahkan terselip di sana. Betapa ia sangat bahagia dapat dipertemukan lagi dengan sang putra yang lama terpisah itu. Sebuah pertemuan yang begitu mengharukan yang kini dirasakan oleh Ratih dan Arkana.


...----------------...


Selamat malam


up 18:47

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2