
Sementara itu di tempat terpisah. Di sebuah rumah sakit besar tempat di mana Gio tengah terbaring di atas ranjang pasien ruang ICU, seorang perawat cantik berhijab putih nampak masuk ke dalam ruangan itu. Dengan beberapa alat kesehatan seperti stetoskop, tensimeter, serta sebuah clip board, wanita muda berusia dua puluh empat tahun itu nampak mendekati ranjang tempat di mana pria gondrong dengan wajah penuh luka itu terbaring lemah disana.
"Pagi, Gio. Belum ada niat bangun?" ucap Xena seolah bertanya pada Gio yang masih memejamkan matanya itu.
Wanita itu mulai mengecek kantong infus yang tergantung di sana. Memastikan bahwa cairan di dalamnya masih aman. Setelah itu ia lantas menggerakkan tangannya, mulai membuka dua kancing atas baju pasien yang melekat di tubuh Gio, bersiap untuk memeriksa detak jantung pria berambut gondrong itu.
Earpieces di pasang di telinga Xena, wanita itu lantas menempelkan Diaphragm berbentuk lingkaran itu ke dada bidang milik Gio. Tiba tiba...
"Kangen nggak ama gua?" Suara itu berhasil mengagetkan Xena. Wanita itu terlonjak kaget dan reflek mundur. Dilihatnya di sana, Gio nampak membuka matanya. Ia tersenyum sambil menatap lemah ke arah perawat cantik itu.
"Astaghfirullah haladzim, Gio!" ucap Xena.
"Alhamdulillah, tol*l! Orang sadar bukannya bersyukur malah istighfar!" gerutu Gio lemah.
"Ya abisnya kamu ngagetin aku!" ucap Xena. Gio tersenyum lagi.
"Iya, sorry," ucap pria itu.
Xena netralkan lagi degup jantungnya. Mengusap dadanya sembari mengucap istighfar. Ia kemudian berjalan mendekati Gio yang terlihat masih lemah itu.
"Udah lama sadarnya?" tanya Xena.
"Udah dari tadi malam," jawab Gio.
"Kenapa nggak manggil dokter?" tanya Xena dengan suara sedikit meninggi.
"Gimana caranya gue manggil dokter, Xena? Tangan gua aja diperban kayak gini. Badan gua sakit semua. Gua mau gerak aja susah! T*lol juga ya lu jadi perawat!" ucap Gio.
Xena mendengus kesal. "Ya udah, maaf. Nggak usah marah marah juga kalik!" ucap wanita itu kemudian. Ia lantas melanjutkan lagi aktivitas memeriksa Gio, mulai dari memeriksa denyut jantungnya hingga tekanan darahnya. Xena mengerjakan tugas tugas keperawatannya dengan sangat teliti dan hati hati. Sedangkan Gio yang baru sadar itu sejak tadi hanya diam menatap paras ayu wanita muda yang jaraknya cukup dekat dengannya itu.
__ADS_1
"Kamu kok hobi banget sih masuk rumah sakit? Nggak pengen apa, hidup bebas di luar sana. Tanpa perlu pakai infus kayak gini. Tanpa perlu diperban-perban di badan. Orang kok doyan banget tidur di rumah sakit. Belum aja sehari kamu keluar dari rumah sakit, udah masuk lagi...!" ucap Xena sembari mengancingkan lagi dua kancing baju pasien milik Gio.
Gio hanya tersenyum mendengar ucapan nyerocos dari wanita cantik itu.
"Gue nggak minta, Na. Lu kan tahu sendiri gue di culik," ucap pria itu lemah. Xena tak menjawab.
"Oh ya, yang bawa gua ke rumah sakit ini siapa?" tanya Gio.
"Om om," jawab Xena membuat Gio mengeringitkan dahinya.
"Om om? Om om siapa?" tanya Gio.
"Aku nggak tahu namanya. Orangnya serem, brewokan, badannya gede. Tapi aku nggak tahu namanya siapa," ucap Xena.
"Papanya Arkana?" tanya Gio.
Gio diam. Ia mencoba mengingat kembali peristiwa penculikan yang terjadi beberapa waktu lalu itu. Seingatnya, orang-orang yang datang untuk membebaskannya kala itu adalah Arkana, Dion beserta ayahnya dan para pasukannya.
Gio terdiam. Apa mungkin yang membawanya ke rumah sakit adalah Malvino, ayah Dion?
Gio diam seolah berfikir.
"Kamu tunggu sini bentar, ya. Aku panggil dokter dulu buat ngecek kesehatan kamu," ucap Xena.
Gio hanya tersenyum simpul lalu mengangguk. Perawat cantik itu kemudian pergi dari tempat tersebut untuk menuju ke ruangan dokter. Namun saat sampai di depan pintu ruang ICU, tiba tiba..
"Eh, Tuan Arkana?" ucap Xena pada pria tampan berjaket hitam yang baru datang itu. Arkana hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Mau jenguk tuan Gio?" tanya Xena.
__ADS_1
"Iya," jawab pria itu.
"Kebetulan sekali, tuan Gio baru saja sadar. Sekarang dia lagi istirahat di dalam," ucap Xena.
"Oh ya?" tanya Arkana berbinar. Xena hanya mengangguk dengan sopan.
"Alhamdulillah," ucap Arkana nampak bahagia. "Boleh saya temui dia?" sambung kakak kandung Saras itu lagi.
"Silahkan, Tuan. Tapi tolong jangan terlalu banyak diajak bicara dulu, ya. Kondisinya masih lemah," jawab Xena.
Arkana mengangguk. "Iya, Sus," jawabnya.
"Ya sudah, kalau begitu saya tinggal dulu. Saya mau memanggil dokter untuk memeriksa kondisi tuan Gio lebih lanjut," ucap wanita itu.
"Silahkan, Sus," jawab Arkana.
Dua anak manusia itu pun berpisah. Arkana lantas masuk ke ruang ICU tempat di mana Gio dirawat. Sedangkan Xena kini berjalan menuju ruang dokter yang berada di lantai yang sama dengan ruang ICU itu.
...----------------...
Selamat malam,
up 19:51
yuk , dukungan dulu.
Yang belum mampir ke novel baru, jangan lupa mampir ya. Buat selingan. Yang nggak terlalu tegang tegang banget...
__ADS_1