
Sebuah mobil mewah yang menjadi kendaraan Bharata dan Arkana nampak memasuki sebuah gang sempit di pinggiran kota besar itu.
Barisan rumah rumah petak yang saling berdekatan bahkan menempel tembok. Jemuran jemuran baju yang nampak tergantung berantakan. Anak anak yang asyik lari larian di pinggir jalan gang sempit. Parit parit kumuh dengan bau bau yang menyengat. Menjadi sebuah pemandangan lumrah disana. Sesuatu yang sangat jauh berbeda dengan pemandangan komplek perumahan mewah tempat tinggal Arkana dan keluarganya yang begitu rapi dan asri.
Arkana nampak celingukan menatap ke segala arah. Ia rasa, ia tak pernah mendatangi tempat ini sebelum nya. Mau kemana sebenarnya Bharata akan membawanya. Apa keluarga nya punya saudara yang tinggal di daerah sini..? kok Arkana baru tahu, pikirnya.
"pa, kita mau kemana sih?" tanya Arkana.
"kamu benar benar lupa sama tempat ini?" tanya pria dewasa berkacamata hitam itu.
Arkana menyipitkan matanya.
"emang kita pernah kesini, pa?" tanya nya lagi.
Bharata hanya tersenyum simpul, namun seolah kembali merasa sesak di dadanya.
Paska kecelakaan yang menimpa Arkana tiga belas tahun yang lalu, tepat saat usia Arkana tiga belas tahun, memori otak pemuda itu seolah tak bisa pulih sepenuhnya.
Pemuda itu mengalami kecelakaan Saat usianya menginjak tiga belas tahun. Kala itu Barata tengah pergi ke luar kota untuk keperluan bisnisnya. Arkana yang masih duduk di bangku SMP mengalami kecelakaan saat pulang sekolah bersama supir pribadi keluarga mereka.
Arkana sempat mengalami luka benturan yang cukup serius di kepalanya. Meskipun pada akhirnya ia selamat, namun laki-laki itu terpaksa harus menelan pil pahit, kehilangan sebagian ingatannya. Salah satunya adalah ingatan masa kecilnya.
Berbagai upaya sudah dilakukan. Berbagai bentuk pengobatan baik medis maupun alternatif sudah Bharata dan Maya berikan untuk putra semata wayang mereka itu. Namun semua tidak begitu efektif. Walaupun sudah banyak obat yang ia telan serta terapi yang ia jalani, ia ingatan Arkana tak bisa kembali sepenuhnya.
Sebagian ingatannya hilang. Termasuk tentang silsilah keluarga serta masa kecilnya yang lalu.
Arkana adalah anak kandung dari Bharata. Ia adalah seorang anak yang terlahir dari rahim seorang Ratih, mantan istri terdahulu pria pengusaha kaya raya itu. Bharata menikah dengan Ratih, menghasilkan dua orang anak yaitu Arkana Pasha Ghifari dan Anggita Priscilla Sarasvati, atau Saras.
Ya, Arkana dan Saras adalah sepasang kakak beradik. Bharata adalah ayah kandung Saras, sedangkan Ratih adalah ibu kandung dari Arkana. Bharata bercerai dengan Ratih saat Arkana berusia lima tahun dan Saras masih bayi. Sepasang suami istri itu bercerai karena faktor ekonomi, tidak ada kecocokan, dan terjadinya sebuah perselingkuhan antara Ratih dengan seorang pria yang ia kenal di pasar.
Keluarga itu pun terpecah. Arkana si sulung ikut ayahnya, Sedangkan Saras yang masih bayi ikut ibunya lantaran ia masih membutuhkan air susu dari wanita yang melahirkannya itu.
Berpisah dari Ratih, Bharata mulai hidup menduda. Bekerja sebagai seorang sopir taksi untuk menghidupi anak semata wayang yang tinggal bersamanya.
Hingga singkat cerita, Bharata bertemu dengan seorang wanita kaya raya. Pengusaha emas. Seorang wanita yang di tinggal pergi kekasihnya setelah melahirkan seorang anak.
Maya namanya...!
Ya, Maya adalah wanita tak bersuami namun sudah memiliki satu anak. Anaknya yang berjenis kelamin perempuan meninggal beberapa hari setelah dilahirkan.
Maya bertemu dengan Bharata di saat hidup Maya sedang hancur-hancurnya. Ditinggal pergi oleh kekasihnya setelah melahirkan buah hasil percintaannya dengan sang mantan kekasih. Bharata menyembuhkan luka Maya. Hingga singkatnya, sepasang manusia itu pun menikah dan hidup berbahagia hingga saat ini.
Meskipun hingga sekarang Maya belum mampu memberikan keturunan pada suaminya itu, namun wanita itu begitu sangat menyayangi Bharata dan anaknya. Ia juga yang mendukung Bharata untuk mendirikan sebuah perusahaan di bidang jasa transportasi hingga berkembang seperti sekarang.
Maya sangat menyayangi Arkana seperti menyayangi anak kandungnya sendiri. Ia selalu memanjakan pemuda itu. Memberikan apapun yang Arkana inginkan. Membuat hidup Arkana seolah begitu sempurna bersama ayah kandung dan ibu tirinya.
.....
Bharata menghentikan laju kendaraan nya di depan sebuah masjid, tak jauh dari sebuah rumah sederhana dengan sebuah toko kelontong di sampingnya.
Tak jauh berbeda dengan saat pertama ia meninggalkan tempat itu. Tak ada perubahan berarti dalam bangunan rumah yang dulu menjadi surga baginya tersebut.
"pa...kita mau kemana sih?" tanya Arkana.
Bharata melepas kacamata hitamnya.
__ADS_1
"kamu masih ingat kan, tentang ibu dan adik kandung kamu yang dulu papa sering papa ceritakan?" tanya Bharata.
Arkana diam.
"itu rumah masa lalu kita..." ucap Bharata.
Ya, semenjak menikah dengan Maya, Bharata belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di tempat tersebut. Ia juga belum pernah mengajak Arkana datang ke tempat ini. Ia hanya bercerita sedikit saja mengenai ibu dan adiknya pada Arkana. Namun sepertinya pemuda itu sulit menangkap kala itu karena kondisi ingatannya yang belum stabil.
Arkana diam.
"itu adalah rumah tempat di mana kamu dilahirkan oleh ibu kandung kamu, yang sekarang tinggal bersama adik kandung kamu. Kamu masih ingat kan semua yang pernah papa ceritakan sama kamu dulu?" ucap Bharata.
Arkana hanya diam menatap ke arah rumah dengan toko kelontong yang tertutup itu lalu mengangguk.
"Arkana nggak papa kalau kita turun, pa. Kita temuin ibu sama adik" ucap Arkana.
Bharata membuang nafas kasar.
"tapi papa sudah tidak diterima lagi di tempat itu. Ibumu sendiri yang bilang pada papa dulu, bahwa dia sudah tidak butuh papa ataupun uang papa" ucap laki-laki itu dengan sorot mata nanar mengingat ucapan menyakitkan dari Ratih dulu. Sebagai seorang laki-laki, jelas... dia pasti merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Ratih dengan ucapan yang keluar dari mulut wanita itu.
Itulah sebabnya, mengapa ia tak pernah berkunjung ke rumah itu selama ini.
Arka menghela nafas panjang.
"trus kita mau ngapain kesini?" tanya Arkana.
"kita tunggu disini aja ya. Siapa tahu nanti adik kamu keluar dari rumah itu. Dia pasti sudah besar sekarang..." ucap Bharata.
Arkana tersenyum.
"Anggita Pricilia Sarasvati. Papa selalu memanggilnya Anggi dulu..." ucap Bharata.
Arkana mengangguk. Ia kembali tersenyum. Sepasang ayah dan anak itu kembali memfokuskan pandangannya pada bangunan rumah yang nampak tertutup pintunya itu. Terlihat sepi, tidak ada aktivitas apapun, bahkan toko kelontong yang biasanya buka setiap hari pun kini juga tertutup rapat. Entah ada di rumah atau tidak Ratih dan putri mereka, Bharata tidak tahu.
"Allahu Akbar.... Allahu Akbar...."
Toa masjid tempat di mana mereka memarkirkan kendaraannya itu nampak menggema. Mengumandangkan adzan dzuhur pertanda waktu salat di siang hari itu telah tiba.
"Alhamdulillah..." ucap Bharata.
"kita sholat dulu aja, yuk.." ucap Bharata.
Arkana mengangguk.
"iya, pa...." jawab pemuda itu.
Sepasang yah dan anak itu pun lantas turun dari kendaraannya. Bergegas mendekati masjid, mengambil wudhu, kemudian duduk di dalam masjid menunggu muadzin selesai mengumandangkan adzannya.
Tak lama, sang muadzin yang merupakan salah satu pemuka agama di daerah itu pun selesai dengan adzannya. Setelah mendirikan sholat sunah sebelum wajib, pria dengan jenggot yang nampak memutih sebagian itu lantas mendekati Arkana dan ayahnya.
"assalamualaikum...." ucap pria itu.
"wa Alaikum salam...." jawab Bharata dan Arkana.
Bharata nampak tersenyum ke arah pria berusia lanjut itu.
__ADS_1
"mas Imam ya...?" ucap Bharata.
Laki laki itu nampak memiringkan kepalanya seolah tengah berfikir. Apakah ia mengenal laki-laki gagah di hadapannya ini? kok laki-laki ini bisa tau namanya? pikir pria bernama Imam itu.
"saya Bhara, Mas. Masih ingat?" tanya Bharata.
Laki-laki itu kemudian mengangkat dagunya.
"oh, Mas Bhara..! Ya Allah, saya sampai lupa..! pangling..!" ucap pria itu kemudian mengulurkan tangannya yang dijabat dengan hangat oleh suami Maya itu. Arkana nampak tersenyum melihat interaksi dua pria dewasa tersebut.
"apa kabar, Mas, sekarang? wah.. kelihatannya udah jadi orang sukses ini. Lama nggak ketemu.." ucap Imam. Bharata hanya tersenyum.
"biasa saja, Mas. Masih sama kayak dulu..." ucap laki laki itu.
"halah..! mas Bhara ini suka merendah. mobilnya aja bagus begitu, kok..!" ucap Imam sambil terkekeh.
Bharata hanya tersenyum.
"ngomong ngomong kok tumben datang ke kampung sini? ada apa? oh ya ..ini anakmu itu ya, mas? sudah besar sekarang..! sudah nikah?" tanya Imam.
"iya ..Ini Arka..! masih kuliah kok, mas.." ucap Bharata.
"oo..." jawab Imam.
Arkana hanya bisa tersenyum semampunya menanggapi basa basi antara dua pria dewasa itu. Kemudian.
"kedatangan saya kemari sebenarnya mau bertemu dengan putri saya. Sudah sangat lama saya tidak datang kemari. Saya juga sudah tidak tahu lagi bagaimana kabar putri saya. Makanya saya mengajak Arkana untuk datang kemari. Tapi kayaknya, rumahnya sepi ya, Mas" ucap Bharata.
"loh, memangnya Mas Bhara tidak tahu? Ratih sama anak-anaknya itu sudah lama pergi dari rumah itu. Sudah ada satu bulan lebih..!" ucap laki-laki itu.
Arkana dan Bharata nampak terkejut.
"pergi? pergi gimana maksudnya?" tanya Bharata.
"ya pergi, Mas. Rumah itu semenjak ditinggal sama Mas Bhara, berubah jadi tempat maksiat. Jadi sarang penjudi. Siang dan malam selalu saja ada aktivitas perjudian di rumah itu."
"Ratih bahkan juga sering jual miras di tokonya. Pokoknya kehidupan mantan istri mas Bhara itu rusak setelah ditinggal mas..!"
"suaminya itu suka main tangan. Bukan cuma sama istrinya, tapi juga sama anak-anaknya. Dan sejak sebulan terakhir ini, Ratih sama anak-anaknya itu sudah enggak kelihatan lagi. Nggak pernah pulang. Nggak tahu ke mana. Ada warga yang bilang, katanya mereka itu dijemput pakai mobil bagus pagi pagi. Tapi siapa yang menjemput dan dibawa ke mana, enggak ada yang tahu" ucap Imam.
Bharata dan Arka saling pandang.
"mohon maaf, mas, ini sebelumnya. Bukannya mau menjelek-jelekkan. Tapi banyak warga yang menduga, katanya putrinya Mas itu sudah menikah sama orang kaya. Kan putrinya mas itu selama ini bekerja di itu toh, mas, tempat jual jual minuman keras itu, loh. Diskotik...!" ucap Imam.
"katanya.... kata orang-orang sih, putrinya Mas Bhara itu sudah menikah. Makanya ibu sama adiknya dibawa pergi terus bapaknya itu ditinggal. Soalnya suka main tangan" ucap Imam lagi.
Bharata tak bergerak. Entahlah, dalam hatinya ia merasa sesak. Rusak dan sehancur itukah kehidupan putrinya setelah ia tinggalkan? Lalu ke mana Ratih membawa putrinya itu pergi? ia ingin bertemu dengan gadis kecil yang dulu sempat ia timang-timang beberapa bulan itu. Ia sangat merindukan putri kecilnya. Jika benar Anggita sudah menikah, siapa suaminya? Di mana tempatnya tinggal sekarang? Bahagia kah ia?
Bharata rindu. Ia merindukan putrinya. Dia ingin bertemu.
...----------------...
Selamat malam..
up 19:42
__ADS_1
yuk dukungan dulu 🥰😘😘😘