Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
144


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Malam menjelang di sebuah warung angkringan pinggir jalan.


Wanita berhijab putih dengan jaket coklat membungkus tubuhnya itu nampak kembali mendengus kesal sembari melipat kedua lengannya di depan dada. Sorot matanya menatap kesal ke arah pria gondrong yang sejak tadi nampak bimbang sembari menghisap rokok di tangannya. Ya, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ia sudah pulang dari kerja sejak tadi, namun hingga kini belum juga sampai, baik di rumah Maya, ibunya, atau Malvino, ayahnya.


Sejak pagi Gio sudah menyatakan bahwa ia ingin datang ke rumah Malvino. Menemui laki laki ayah kandung dari wanita yang sudah ia bidik untuk menjadi kekasihnya. Ya, sekedar bertemu dan bersilaturahmi. Setidaknya bisa menjadi awal yang baik untuk mendekati calon ayah mertua, bukan.


Namun rupanya menemui calon ayah mertua tak semudah yang Gio pikirkan. Ia harus menurunkan egonya serendah mungkin. Meletakkan sejenak gengsinya yang memang tinggi itu, lantaran sang calon ayah mertua bukanlah orang biasa yang bisa dengan mudah ditaklukan. Ia adalah Malvino, yang merupakan ayah kandung dari Dion mantan musuh bebuyutannya.


Sejak tadi Gio sudah berniat mengantar Xena pulang. Namun rupanya sejak pulang dari rumah sakit hingga kini ia justru tak beranjak dari tempatnya berdiri saat ini. Ia gugup untuk bertemu Dion dan Malvino yang notabene adalah ayah dan adik kandung Xena.


Berbeda ketika ia berhadapan dengan Maya. Laki-laki itu sudah menganggap Maya dan keluarga seperti keluarganya sendiri. Sehingga membuatnya tak memiliki kesulitan untuk segera berbaur dan beradaptasi dengan keluarga dari ibu kandung Xena itu.


Xena melipat kedua lengannya di depan dada.


"Ck! Lama deh, Gio! Mau sampai kapan kita disini terus?! Ini udah malem, aku capek mau pulang!" ucap Xena.


Gio menatap sang wanita sembari membuang asap rokok di mulutnya.

__ADS_1


"Kok lu bawel banget sih? Kayak nggak pernah pulang aja!" ucap Gio.


Xena berdecak kesal. "Ini tuh udah malam. Aku mau pulang, mau istirahat! Aku mau naik taksi kamu nggak bolehin, katanya mau nganter aku. Tapi dari tadi kamu muter muter terus disini. Aku mau pulang, Gio!" rengek Xena.


Gio tak menjawab. "Udahlah, kamu mah kebanyakan mikir. Tinggal datang ke rumah aku, ketemu Papa, salim, kenalan, ngobrol, udah! Ribet deh kamu, kebanyakan mikir!" ucap Xena.


Gio diam.


"Udah ayok! Antarin aku pulang! Kalau nggak segera diantar aku mau pesen taksi online aja!" ucap Xena mengancam.


"Ya jangan, dong! Kan gue mau nganterin lo!" ucap Gio.


"Ya udah, makanya ayo buruan!!" ucap Xena.


Laki-laki itu lantas bangkit dari posisi duduknya. Ia berjalan mendekati sepeda motor besar miliknya, kemudian menyalakan mesinnya dan melaju pergi meninggalkan tempat tersebut setelah Xena naik membonceng di belakangnya.


Kurang lebih lima belas menit waktu perjalanan, keduanya pun sampai di kediaman megah bak istana milik Malvino. Xena dan Gio turun dari kendaraan roda dua tunggangan mereka.Keduanya berjalan menuju pintu utama rumah tersebut. Gio sesekali nampak menarik nafas panjang kemudian membuangnya dari mulut guna menetralkan kegugupannya.


Ceklek .....

__ADS_1


Pintu terbuka.


"Assalamualaikum," ucap Xena namun tak ada sahutan. Xena mengajak Gio masuk ke dalam bangunan berlantai tiga itu. Sepasang muda-mudi itu kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tamu yang luas itu. Tak ada satu manusia pun di sana. Saras dan Dion juga tak terlihat. Kemana perginya orang orang? Batin Xena.


Seorang pelayan kemudian mendekati Xena dan Gio.


"Nona Xena," ucap si pelayan. Xena menoleh.


"Kok sepi, pada kemana, Bik?" tanya Xena.


"Lho, memangnya Nona tidak tahu. Nona Saras dibawa ke rumah sakit satu jam yang lalu. Sepertinya mau melahirkan!" ucap si pelayan.


"Apa?!!" tanya Xena kaget. Ia bahkan tak tahu menahu soal itu.


Xena dan Gio saling pandang.


"Lebih baik Nona segera menyusul ke rumah sakit. Karena tadi yang menemani hanya Tuan Muda Dion. Tuan besar dari kemarin belum pulang, Non," ucap sang pelayan.


Xena tak menjawab. i6a kembali menoleh ke arah Gio.

__ADS_1


"Ya udah, kita susul ke sana aja. Gue bakal kabarin Arkana sama Om Bharata. Mereka pasti juga belum tahu!" ucap Gio.


Xena mengangguk. Sepasang anak manusia itu lantas kembali berbalik badan. Pergi tidak menuju rumah sakit tempat di mana Saras kini tengah berjuang antara hidup dan mati melahirkan calon keturunannya.


__ADS_2