
Mobil mewah itu sampai di sebuah rumah megah kediaman Ratih dan Adit.
Saras dengan segera turun dari mobilnya. Membawa sebuah paper bag berisi dua cup minuman dingin yang baru saja ia beli.
Wanita itu berjalan menuju pintu utama. Membuka pintu tinggi ber cat putih itu tanpa mengetuk nya.
"ibuk...Adit..!!" ucap wanita itu.
Jangan tanya perihal salam yang harusnya ia ucapkan ketika memasuki sebuah hunian..! Saras sama sekali tak pernah mendapatkan pelajaran mengenai hal itu. Ratih dan Burhan tidak pernah memberikan didikan demikian pada wanita cantik yang kini telah resmi menjadi seorang istri itu.
"ibuk...!" ucap wanita itu lagi sembari mendudukkan tubuhnya di atas sebuah sofa panjang di ruang tamu. Saras kembali mengeluarkan ponselnya. Beberapa pesan dari Dion kembali masuk ke ponselnya. Wanita itupun kembali membuka dan membalasnya. Beberapa pesan yang intinya sama, menanyakan keberadaan wanita itu nampak berjejer disana.
Saras menghela nafas panjang. Ia kembali mengetikkan balasan pada room chat nya dengan Dion.
"iya. Aku udah sampai. Sebelum jam dua belas siang aku pasti udah ada di rumah" tulis Saras ditambah dengan sebuah emoji pipi penuh cinta itu.
Sepertinya Dion benar benar tak bisa tenang di tinggal di rumah sendirian. Membuatnya makin penasaran perihal masa lalu Dion.
tak...tak....tak....
Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga rumah itu. Ratih turun. Berjalan mendekati sang putri yang kini nampak merebahkan tubuhnya di salah satu sofa panjang ruangan luas itu.
"lu kesini?" tanya Ratih.
"hheemmm...".jawab wanita bersuami itu.
Saras membenarkan posisi tubuhnya. Duduk bersandar di sana sambil meraih salah satu minuman dingin yang ia bawa tadi lalu meminumnya.
"enak juga..." ucap wanita itu.
Ratih hanya diam. Saras memang sengaja tak membelikan untuk Ratih, wanita itu memang sudah cukup lama tak mengkonsumsi kopi.
"Adit mana?" tanya Saras.
"dikamar..! baru bangun kayaknya..! mentang mentang hari minggu, kalau nggak gue siram nggak bangun tuh bocah..!" ucap Ratih nampak kesal.
Saras hanya tersenyum simpul.
"semalem pulang jam tiga, dia..! Sekarang balapannya pake mobil semenjak punya mobil baru. Katanya duitnya lebih gede..! kesenengan adek lo punya mobil bagus..!" ucap Ratih lagi.
Saras tersenyum.
"mending suruh berhenti deh, buk, balapannya. Biar fokus sekolah..!" ucap Saras.
"lu kasih tau dah..! kalau gue yang ngebac*t juga nggak bakalan di denger tuh anak..!" ucap Ratih lagi.
Saras tak menjawab. Ia kembali asyik berbalas pesan dengan sang suami yang mulai posesif itu.
Ratih diam sejenak. Diamatinya sang putri yang nampak sesekali tersenyum menatap layar ponselnya.
"laki lu nggak ikut?" tanya Ratih.
Saras menoleh.
__ADS_1
"hah? a...itu...lagi sibuk..." ucap Saras sedikit berbohong.
"sibuk apa..?" tanya Ratih lagi.
"itu...lagi sibuk ngurus buat pameran, buk. Kan pelukis. Mau bikin pameran lukisan katanya..." ucap Saras lagi. Lagi lagi berbohong.
Ratih nampak diam. Tak mengangguk tanda percaya.
Saras nampak kikuk. Ia kembali menyibukkan diri dengan ponselnya guna mengusir kecanggungan nya di tatap sang ibunda.
"Ras..." ucap Ratih.
Saras menoleh.
"lu bahagia?" tanya wanita itu.
Saras terdiam. Sorot mata Ratih nampak penuh tanya. Mungkin firasat seseorang Ibu memang tak bisa dianggap sebelah mata. Wanita paruh baya itu seolah merasa sangsi akan kebahagiaan sang putri pasca menikah.
Pernikahan yang dilakukan secara tiba-tiba tanpa pengenalan yang cukup lama. Sifat dan tindak tanduk Dion yang terasa aneh saat pertama kali mengunjungi rumah barunya. Raut wajah tak bahagia yang Saras harus tunjukkan saat ijab qobul berlangsung. Serta latar belakang keluarga Dion yang dirasa cukup misterius.
Silsilah keluarganya tidak jelas. Bibit bebet dan bobotnya, pekerjaan ayahnya juga tidak jelas. Namun laki laki itu memiliki harta yang begitu berlimpah membuat Ratih seolah merasa khawatir akan rumah tangga dan kebahagiaan putri kesayangannya itu.
Saras diam sejenak. Lalu sepersekian detik kemudian ia nampak tersenyum.
"Aku bahagia kok, buk..! bahagia banget malahan..!" ucap Saras.
"lu nggak bohong?" tanya Ratih.
"enggak sama sekali..!" ucapnya.
Ratih membuang nafas panjang.
"syukurlah kalau lu bahagia. Sebagai ibu lu gue merasa ragu liat suami lu. Dia kayak orang yang nggak beres. Kelakuan nya aneh, Ras.." ucap Ratih.
"aneh gimana sih, buk?" tanya Saras.
"ya aneh..! dia itu sikapnya aneh..! kadang diem, kadang ketawa, kadang murung..!" ucap Ratih.
"kalau ketawa mulu gila, buk" ucap Saras menimpali.
buuuuuggghhhh....
"aduuhh..!!" pekik Saras sembari memegangi kepalanya manakala sebuah bantal sofa menghantam kepalanya.
"lu kalo ada orang tua ngomong nggak bisa ya diseriusin dikit?!" tanya Ratih jengkel.
"iya, iya...!!" ucap Saras.
"gue tuh puluhan tahun idup ama bapak lu, Ras..! sama suami yang salah..! di banting, dipukulin, disakitin, gue udah ngalamin itu semua..! gue nggak mau lu ikut ikutan susah kayak gue..!" ucap wanita paruh baya itu.
Saras tak menjawab.
"gue mau lu bahagia, gak salah pilih laki. Cukup sekali menikah dengan orang yang tepat. jangan bodoh..! jangan kaya ibu lu ini..! nyia nyiain pasir pantai demi tanah kuburan...!" ucap Ratih.
__ADS_1
Saras masih tak menjawab.
"andai gue nggak bodoh..! hidup kita pasti nggak akan lontang lantung kayak gini..!" ucap Ratih.
"lontang lantung apaan? orang kita kaya raya..! duit banyak...! lontang lantung darimana coba..?" ucap Saras menutupi semua masalah nya.
"gue pencet lu lama lama ya, jawab mulu...!!" ucap Ratih kesal.
Saras tergelak.
"udah ah, buk..! nggak usah bahas yang aneh aneh. Saras baik baik aja..! Dion orangnya juga baik kok..!" ucap wanita itu.
Ratih hanya bisa menghela nafas panjang, meskipun sebenarnya ia tak begitu percaya dengan ucapan putrinya itu.
Suasana nampak hening sejenak. Saras kembali menikmati kopi dingin yang terasa cocok di mulutnya itu. Wanita itu lantas menengok cup kemasan kopi tersebut.
"Sky Coffee Cafe" ucapnya membaca tulisan dalam kemasan itu.
Saras menyibikkan mulutnya, lalu kembali menyeruput minuman berwarna coklat itu.
Saras kembali menoleh ke arah sang ibu.
"ibuk tadi abis ngapain sebelum Saras kesini?" tanya wanita itu.
"ngapain? tidur..! nonton tv..! makan...!" ucap wanita itu sembari meraih sebuah bantal sofa dan memeluknya.
"gue bosen, Ras..! nggak ada kerjaan..! gue pengen kerja aja..!" ucap wanita itu.
"kerja apa?! ya udah sih buk, nikmatin aja...! nggak usah aneh aneh..! itung itung ibuk istirahat..! selama ini kan ibuk kerja terus, sekarang waktunya ibuk santai. Jangan terlalu capek. Duit udah ada, buk. Ibuk tinggal duduk manis dirumah..!" ucap wanita itu yang kemudian meraih sebungkus rokok dan korek yang berada di atas meja.
Wanita itu mengambil satu batang rokok dari sana, mengapitnya menggunakan dua belah bibirnya, kemudian menyalakan ujungnya.
Saras mengangkat satu kakinya ke atas sofa, lalu memulai menikmati benda bernikotin di mulutnya itu. Menghisap asapnya, lalu membuangnya ke udara.
"jangan ngerokok, Ras...! kalau lu bunting bahaya anak lu..!" ucap Ratih.
"baru nikah dua hari ya nggak mungkin langsung bunting, buk..!" ucap Saras ngegas.
"lu kalo di kasih tau jawab mulu...!" ucap wanita itu sembari melempar kan kembali sebuah bantal sofa ke arah putrinya.
...----------------...
Selesai....
4 bab sehari...!!
Semoga besok lancar lagi ya...
yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰
mampir sini boleh...👇👇
__ADS_1