
Masih di rumah sakit yang sama. Beberapa saat kemudian, ketika jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Gadis cantik berhijab yang berprofesi sebagai perawat itu nampak keluar dari ruangan khusus perawat rumah sakit besar itu. Jam kerjanya sudah selesai, itu tandanya ia sudah diperbolehkan untuk kembali ke rumahnya.
Xena dengan sebuah tas ransel berwarna coklat di punggung itu nampak mengayunkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit. Melewati satu demi satu pintu ruang rawat inap yang berjajar di sana.
Xena tiba tiba menghentikan langkahnya manakala melewati sebuah ruangan tempat dimana pasien pria berambut gondrong itu beristirahat.
Ya, itu adalah ruang rawat inap tempat dimana Gio kini dirawat. Setelah sadar dari pingsannya, kemudian sempat mengalami pusing hebat pagi tadi, siangnya Gio sudah dipindahkan ke salah satu ruang rawat inap VIP di rumah sakit besar itu. Kondisinya sudah lebih baik. Laki-laki itu sudah beristirahat saat ia meninggalkan ruangan tersebut siang tadi.
Xena diam sejenak. Entah mengapa ia tiba tiba penasaran dengan kondisi pemuda yang tak pernah di jenguk orang selama sakitnya itu. Gadis muda itu kemudian berbalik badan, mendekati pintu ruang rawat inap Gio kemudian membukanya perlahan. Gadis itu kemudian melongokkan kepalanya ke dalam ruangan tersebut. Dilihatnya di sana, Gio nampak duduk bersandar di atas ranjang. Wajahnya menatap lurus ke arah jendela besar dengan tirai yang terbuka disana.
Xena menghela nafas panjang. Ia berjalan mendekati laki laki galak yang malang itu. Gio menoleh kala mendengar langkah Xena yang mendekat ke arahnya. Ia lantas menatap datar ke arah wanita cantik itu.
"Udah mendingan?" tanya Xena yang kini berdiri di samping ranjang.
Gio memejamkan matanya lalu mengangguk samar. "Udah mau pulang?" tanyanya kemudian.
"Ya, jam kerjaku udah selesai," jawab wanita itu sembari menarik sebuah kursi di samping ranjang lalu mendudukan tubuhnya di sana.
"Terus, kenapa nggak pulang?" tanya Gio lagi.
"Tadi aku pengen pulang, tapi mampir sini bentar, pengen lihat kondisi kamu," ucap Xena. Gio nampak berdecih.
"Khawatir lo ama gue?" tanya Gio. Xena nampak terkekeh.
"Nggak juga," ucapnya.
Gio berdecih lagi. "Pakai bohong, lagi.ā
Xena hanya tersenyum. Ia kemudian menoleh ke arah Gio yang nampak meraih ponsel miliknya dan memainkannya.
"Kamu tadi kenapa sih, pagi pagi bikin panik orang, tiba-tiba pusing mendadak kayak gitu?" tanya Xena.
Gio menoleh. "Lain kali kalau Arkana kesini lagi, bilang aja gue nggak mau ketemu," ucap Gio membuat Xena mengernyitkan dahinya.
"Kok gitu? Emangnya kenapa? Dia kan teman baik kamu?" tanya Xena.
Gio tersenyum getir. "Dulu, sekarang udah enggak!"
Xena diam sejenak.
"Sayang banget, padahal aku yang nggak punya sahabat aja pengen punya sahabat kayak dia. Dia selalu nungguin kamu di sini di saat kamu lagi nggak sadar. Dia sholat di ruangan ini, doain kamu, habisin waktunya seharian cuma buat nungguin kamu. Dia juga kelihatan tulus banget loh sama kamu," ucap Xena.
__ADS_1
Gio berdecih. "Dia nggak sebaik yang lu pikir!" ucapnya.
Xena nampak menyipitkan matanya. "Maksudnya?"
Gio menatap datar ke arah wanita itu.
"Lu mau denger cerita gue?" tanya Gio. Xena nampak berfikir sejenak. Ia lantas tersenyum ke arah Gio, kemudian menggerakkan tangannya, meletakkan nya di atas nakas dan menggunakannya sebagai penyangga kepalanya.
"Cerita aja. Anggap aja aku temen kamu yang paling bisa kamu percaya!" ucap Xena. Gio menyunggingkan senyuman lucu. Laki laki itu lantas mengarahkan pandangannya lurus ke langit langit ruang rawat inap itu. Laki laki itu mulai menceritakan semuanya. Tentang dirinya, keluarganya yang tewas satu persatu di tangan Dion, hingga kekecewaannya pada Arkana. Semua ia ceritakan pada Xena tanpa ada yang di tutup tutupi. Jujur saja, sebagai manusia Gio juga butuh tempat untuk bersandar dan bercerita. Menceritakan semua yang ia rasakan dan ia pendam sejak lama tanpa ada yang perlu ditutup-tutupi.
Tentu saja, apa yang Gio ceritakan adalah versi dirinya. Yang lebih banyak menyudutkan pihak Dion tanpa merasa bersalah atas bullying di masa lalunya. Baginya itu hanya kenakalan anak anak yang wajar terjadi. Dion nya saja yang terlalu lemah dan baperanš„±
Xena menghela nafas panjang. Perasaan dongkol dan tidak suka terlihat jelas dari wajah Gio. Xena hanya diam mendengarkan, membiarkan Gio bercerita kisah versi dirinya.
Setelah selesai....
"Jadi gitu. Lu bayangin aja, gimana gue nggak kesel. Apa kayak gitu yang namanya temen. Ngebelain musuh sahabatnya sendiri. Nggak ada otak emang tuh orang!" ucap Gio kesal.
Xena menatap malas ke arah Gio, kemudian menghela nafas panjang. "Aku boleh ngasih pendapat nggak?" tanya Xena. Gio pun menoleh.
"Apa?" tanya laki laki itu.
Xena tak mengubah tatapan matanya.
Pertanyaan macam apa itu? Bisa bisanya Xena bertanya demikian pada Gio. Ia kehilangan adiknya. Sudah pasti ia sedih, bukan?!
"Lu tolol apa bego', sih? Yang mati adik gue, ya jelas gue sedih lah! Tolol lu emang! Ya lu bayangin aja andai lu punya adek trus mati di tangan bajing*n kaya tuh manusia!" ucap Gio kasar. Xena terlihat tenang.
"Andai sebelum dia meninggal, kamu tahu akan ada orang yang mau nyelakain adik kamu, apa yang bakal kamu lakuin?" tanya Xena lagi.
"Pertanyaan lu aneh aneh, anj*nk! Ya pasti gue bakal lebih protektif lah sama dia. Kalau perlu gue akan abisin duluan tuh orang yang mau nyelakain adik gue sebelum dia ngelakuin hal macam macam sama Angel!" ucap Gio.
"Iya, naluri seorang kakak, ya," ucap Xena mengiyakan ucapan Gio.
"Ya iya lah!" jawab Gio kesal.
"Trus kenapa kamu marah waktu Arkana berusaha melindungi adiknya dari kamu yang pengen macam macam sama....siapa namanya...Saras?" lanjut Xena membuat Gio diam seketika. Ia menoleh ke arah Xena.
"Bukannya itu juga termasuk naluri seorang kakak, ya?" tambah Xena. Gio terdiam bak patung.
"Untung kamu nggak di abisin duluan sama Arkana. Kalau dia jahat, mungkin dia akan bunuh kamu pas kamu lagi kritis. Angkat tabung oksigen, jedotin ke pala kamu, wasallam...! Pindah dunia kau!" ucap Xena mengena.
__ADS_1
Gio tak bisa menjawab.
"Tapi kenapa Arkana malah ngabisin waktunya siang malam disini, ya? Pakai acara doain kamu segala...! Kayaknya tolol tuh orang, bego', nggak ada otak. Harusnya kan kamu dicekek aja biar mati!" tambah Xena.
Gio seolah ingin menjawab ucapan Xena, namun bingung mau jawab apa.
"Harusnya kamu tuh bersyukur punya sahabat kayak dia. Sahabat yang bukan cuma mengiyakan aja apa yang kamu pikirkan. Tapi juga mengingatkan kamu tentang kesalahan kamu dan apa yang harusnya nggak kamu lakuin. Nggak usah merasa yang paling bener ataupun yang paling disakiti. Lihat dulu diri kamu. Ada nggak yang salah sama kamu?" tanya Xena.
"Maaf, ya. Sebenarnya tadi tuh aku pengen bantu ringanin beban pikiran kamu, biar kamu bisa lebih tenang, biar ada tempat untuk berbagi buat kamu. Tapi entah kenapa sekarang yang ada aku jadi gemes pengen nyeramahin kamu...!"
"Gio, kamu pernah nonton TV nggak? Pernah nggak lihat berita berita di TV orang bunuh orang lain karena sakit hati, nyelakain orang karena sakit hati, karena dia di kata katain. Anak kecil pada nggak mau sekolah, pindah sekolah, bakar sekolah, karena di bully..!"
"Bullying itu tindakan yang salah dan tidak bisa dibenarkan apapun alasannya. Kelemahan, kekurangan, apa lagi borok keluarga, itu bukan sesuatu yang pantas untuk dijadikan bahan olok olokan. Karena kita nggak tahu, apa yang ada dalam pikiran dan hati mereka mengenai semua itu."
"Gue nggak bully Dion, dia aja yang baperan...! Gue cuma bercanda. Gimana sih yang namanya anak kecil? Bercanda bercanda ya wajar lah. Dia aja yang nganggepnya terlalu serius. Padahal juga nggak se sadis itu..!" ucap Gio.
"Nggak ada di dunia ini yang namanya baperan..! Kekuatan mental orang itu beda beda! Nggak usah suka ngejudge orang baperan! Andai aib kamu, kelemahan dan kekurangan kamu di olok olok ama orang lain, marah nggak kamu?" tanya Xena.
"Gio, berhenti menyalahkan orang lain. Sesekali kita juga perlu instrospeksi diri. Ada nggak yang salah sama diri kita sampai sampai ada orang yang begitu benci sampai melampiaskan kebencian nya sama orang orang di sekitar kita,"
"Nggak akan ada asap kalau nggak ada api. Manusia itu tempatnya salah. Dan sebaik baiknya seorang manusia, adalah dia yang mau bertanggung jawab. Yang mau mengakui salah jika memang ia salah. Dan memperbaiki apa yang harusnya diperbaiki."
"Api yang kamu nyalakan mungkin sudah melukai hati seseorang. Satu satunya cara hanyalah memadamkannya dengan air, agar api itu tidak semakin ganas dan merusak banyak hal."
"Sekarang bukan waktunya untuk saling salah menyalahkan, tapi saling memperbaiki diri. Mau sebenci apapun kamu sama Dion sekarang, semua nggak akan bisa merubah kenyataan bahwa adik dan orang tua kamu udah nggak ada. Nggak akan juga bisa merubah keadaan bahwa Dion udah terlanjur sakit hati sama kamu."
"Satu satunya jalan hanyalah dengan menurunkan ego kamu, dan minta maaf. Mungkin itu jauh lebih baik. Kamu yang memulai, harusnya kamu juga yang mengakhirinya."
"Kamu pikirin lagi baik baik. Bukannya aku mau menyudutkan kamu dan berpihak pada Dion, tapi dari apa yang aku tangkap berdasarkan cerita kamu, jujur, aku merasa memang semua ini bermula dari kamu. Jangan pernah bermain-main dengan mental seseorang, karena kita nggak tahu seberapa sakit dan hancurnya hati dia ketika kamu tertawa di atas ucapan ucapan yang kamu anggap lucu itu." Xena menatap tulus ke arah Gio.
Laki laki itu tak menjawab. Xena menghela nafas panjang.
"Ya udah, kamu istirahat dulu, ya. Aku mau pulang." ucap Xena sembari bangkit.
"Oh ya, kamu mau nitip sesuatu nggak? Mungkin pengen makan apa. Besok aku bawain," ucap Xena menawarkan.
Gio hanya menggelengkan kepalanya. Sepertinya laki laki itu sedikit tertampar dengan ucapan Xena.
"Ya udah, kalau gitu kamu istirahat. Aku pulang dulu. Keburu sore. Istighfar, ya. Pikirin baik baik ucapan aku. Sesekali kamu juga perlu mendengarkan nasehat dari orang lain. Jangan hanya terlalu memikirkan ego sesaat aja, itu nggak baik," ucap Xena. Gio tak menjawab. Ia hanya menatap datar ke arah Xena.
"Aku duluan, ya. Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Wa Alaikum Salam"
...----------------...