
Malam semakin larut,
jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rintik hujan perlahan mulai turun membasahi bumi. Mobil itu masih melesat menuju ke luar kota, tempat dimana sebuah villa yang dulu menjadi tempat tinggal Dion dimasa kecil berada. Jaraknya cukup jauh. Membuat waktu tempuh pun juga cukup panjang untuk sampai di sebuah bangunan yang merupakan salah satu aset kekayaan milik Malvino itu.
Saras sudah terlelap. Tidur nyenyak dengan paha sang suami sebagai bantalnya.
Sedangkan Dion, pria itu kini nampak berbicara melalui sambungan telepon dengan sang ayah.
"untuk apa kau kesana?" tanya Malvino melalui sambungan teleponnya.
"aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan Saras, pa..." ucap Dion.
Hening sejenak.
"apa kau bertemu seseorang tadi?" tanya Malvino.
"banyak, tapi tidak ada yang ku kenali" ucap Dion.
"Saras menemaniku sepanjang waktu, pa..." ucap Dion
"apa kau baik baik saja, boy?" tanya Malvino lagi seolah begitu khawatir
"iya, pa. Aku baik baik saja. Aku hanya sedang ingin menghabiskan waktu ku bersama istriku aja, pa. Papa jangan khawatir, aku nggak apa apa, kok..." ucap Dion.
Malvino menghela nafas panjang dari seberang sana.
"baiklah. Kalau ada apa apa kabari papa, ya. Wanita itu istrimu, nak. Jika dia salah, bicaralah pada papa, biar papa yang menyelesaikan nya untukmu..." ucap pria itu.
"iya, pa..." jawab Dion.
Laki laki itu lantas mematikan sambungan teleponnya. Dimasukkan nya benda pipih canggih tersebut kedalam saku hoodie nya. Dion mengarahkan pandangannya ke kaca jendela mobil. Tetesan air hujan membasahi kaca itu. Membuat hawa dingin perlahan kini mulai merasuk ke dalam tulang tulangnya.
Digerakkannya kembali netra sipit itu. Menatap wajah cantik yang kini terlelap dalam pangkuannya. Sebuah headset terpasang di kedua belah telinganya. Membuat wanita itu tak bisa mendengar apapun selain musik yang kini tengah diputar dari ponselnya.
Dion tersenyum. Dibelainya lembut pipi mulus wanita cantik itu. Ia kemudian menyandarkan kepalanya. Ikut memejamkan matanya sambil menunggu kendaraan itu sampai di villa tujuan mereka.
...****************...
Keesokan paginya....
Sinar matahari perlahan mulai memancarkan terik nya. Menembus kaca jendela berukuran besar sebuah villa mewah milik Malvino Andreas Miguel. Kicauan burung burung pun mulai terdengar bersahutan. Menambah suasana asri hunian sementara yang kini ditempati sepasang suami istri baru itu.
Saras menggeliat diatas ranjang king size nya. Meregangkan otot otot tubuhnya yang masih terasa kaku.
Perlahan dibukanya netra lentik itu. Mengedarkan pandangan matanya menatap ke seluruh penjuru ruangan yang cukup luas dengan warna putih mendominasi tersebut. Seolah berusaha mengingat ingat, sedang dimana ia sekarang.
Wanita itu kembali memejamkan matanya kala telah berhasil mengumpulkan ingatannya. Ya, ini mungkin villa milik suaminya.
Saras menggeliat lagi. Ia nampak tersenyum. Badannya terasa segar. Semalaman ia tidur sangat nyenyak. Dion sama sekali tidak membangunkan nya. Tidak mengajaknya melakukan rutinitas malam selayaknya sepasang suami istri. Ia bahkan tidak tahu, kapan ia sampai di villa ini dan bagaimana caranya ia bisa berpindah dari mobil ke dalam kamar ini.
Mungkin Dion membopongnya, pikir Saras.
Wanita itu kembali menggeliat malas. Mengubah posisi tubuhnya yang semula tidur terlentang kini menjadi miring ke kanan.
ceklek....
pintu kamar terbuka.
Seorang pria bertelanjang dada nampak masuk ke dalam kamar itu sambil membawa secangkir kopi hitam.
Saras tersenyum. Dion pun demikian.
"pagi, suami...." ucap Saras.
Dion tak menjawab. Ia meletakkan kopinya di atas nakas, lalu mendekati jendela, dan membuka tirai nya lebar lebar seolah memberi celah untuk sinar mentari masuk ke dalam ruangan luas itu.
"bangunlah, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita..." ucap Dion.
Saras tersenyum. Alih alih bangkit, ia justru meraih sebuah guling lalu memeluknya.
"kamu yang semalam bawa aku ke kamar?" tanya Saras.
Dion tak menjawab. Ia hanya tersenyum simpul.
"makasih.." ucapnya.
"mandilah, aku menunggu mu di bawah..." ucap Dion sembari kembali mengambil cangkir kopinya kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu menuju lantai dasar.
Saras hanya tersenyum. Ia menggeliat lagi, menikmati empuknya kasur itu sebelum bangkit dan mulai membersihkan diri.
...****************...
__ADS_1
Sekitar lima belas menit berselang, Saras nampak berjalan menuruni tangga. Menuju meja makan, dimana sang suami sudah berada disana dengan sebuah piring yang sudah terisi makanan.
Saras tersenyum manis. Didudukkan nya tubuh itu di salah satu kursi di sana tempat di depan sebuah piring yang sudah penuh dengan makanan. Satu porsi nasi beserta lauk semur daging terhidang disana. Membuat Saras pun nampak mengernyitkan dahinya menatap makanan itu.
Saras mengedarkan pandangannya. Menatap ke seluruh penjuru arah bangunan yang cukup mewah dan terlihat terawat itu.
"ada apa?" tanya Dion.
Saras menoleh ke arah sang suami.
"ini yang masak siapa? kok nggak ada bibik nya disini?" tanya Saras.
Dion mengangkat satu sudut bibirnya.
"aku yang masak" ucapnya.
Saras membuka matanya lebar lebar.
"kamu masak?" tanya Saras.
Dion diam.
"ya...." jawabnya singkat kemudian.
Saras menatap geli kearah semur daging itu. Pikirannya jadi kemana mana. Mengingat pria itu adalah pria yang memiliki kegemaran menyakiti bahkan membunuh makhluk hidup, dan menggunakan darahnya sebagai cat lukis. Saras jadi berfikir, daging apa yang kini tersaji di piringnya itu..?
"oh, oke..." ucap wanita itu ragu, mencoba menepis rasa takutnya.
Dion kembali mengangkat satu sudut bibirnya.
"makanlah..! rasanya enak..!" ucap Dion sambil tersenyum.
Saras bersusah payah menelan ludahnya. Sang suami kini kembali ke mode mengerikannya, khas seorang Dion anak Malvino.
Saras tersenyum kaku sambil menganggukkan kepalanya. Diraihnya sendok garpu itu lalu menusukkannya pada satu potongan daging berlumuran kecap di sana.
Sebenarnya dari segi tampilan daging itu terlihat nikmat dan mengunggah selera. Namun entah mengapa Saras merasa geli membayangkan daging apa yang sebenarnya kini tengah berada di ujung garpu nya itu.
"itu daging kelinci..!" ucap Dion seolah menjawab rasa penasaran Saras. Laki-laki itu seperti sudah tahu apa yang kini berada dalam pikiran Saras.
"oh..." ucap Saras.
"makanlah...!" ucap Dion lagi.
Saras memejamkan matanya. Rasanya tak karuan. Hambar..! Tidak enak..! asin tidak, gurih tidak, manis pun juga tidak..!
Wanita itu bersusah payah menelannya agar tak membuat kecewa sang suami. Sambil terus mengulum senyum, menatap ke arah Dion yang nampak lahap memangsa daging itu.
"enak?" tanya Dion.
Saras tersenyum kaku. Tanpa menjawab, ia mengacung ibu jarinya, seolah memuji masakan pria yang memang aneh itu.
"syukurlah kalau kamu suka..! aku akan sering-sering masak buat kamu mulai hari ini..!" ucap Dion.
Saras hanya tersenyum kaku. Ia bersusah payah menelan daging itu.
"oh iya, aku punya ini, kita bagi dua ya..." ucap Dion sambil bangkit dari duduknya, meraih sendok disana lalu mengotak-atik semur daging yang berada di dalam mangkok keramik itu.
Saras melotot. Sebuah bola mata kecil yang terlihat masih utuh diletakkan di atas piringnya. Sepertinya itu mata si pemilik daging yang katanya kelinci itu, yang sengaja Dion congkel dan turut ia masak.
"makan...!" ucap Dion sambil tersenyum. Satu butir mata Dion lahap tanpa dosa.
Saras merinding. Ia tak akan sanggup memakan mata utuh itu..!
"kok diem, makan dong..." ucap Dion.
Saras diam.
"matanya buat kamu aja, ya. Aku dagingnya aja.." ucap Saras.
"kamu nggak suka masakan ku?" tanya Dion.
"oh, suka..! suka, kok..! tapi aku nggak suka matanya. Dagingnya udah enak banget, aku makan daging aja, ya..! ini matanya buat kamu aja.." ucap Saras.
"mau aku suapin nggak?" ucap wanita itu seraya menyendok kan benda yang terasa menjijikkan di mata Saras itu kemudian mengarahkannya ke mulut sang suami.
Dion diam sejenak.
"nih, buat kamu aja aku suapin..! aaa..." ucap Saras sambil tersenyum. Dion lantas membuka mulutnya. Melahap habis kedua bola mata itu dengan santainya. Saras membuang nafas lega, akhirnya ia terbebas dari sepasang bola mata mengerikan itu.
Sarapan pun kembali dilanjutkan. Saras susah payah mengunyah makanan yang terasa hambar di mulutnya itu untuk menghargai sang suami.
__ADS_1
Disela sela makan....
"Dion..." ucap Saras membuka obrolan.
Dion tak menjawab. Ia asyik dengan santap paginya.
"ngomong-ngomong kamu dapat kelinci dari mana?" tanya wanita itu.
Dion diam sejenak. Kemudian menoleh ke arah sang istri dengan raut wajah datar.
"yang penting ada daging kelinci yang bisa kita makan. Aku dapat dari mana, itu tidak penting" ucap laki-laki itu tegas.
Saras hanya mengangguk. Tak berani melanjutkan lagi pertanyaannya.
Hening sejenak, lalu..
"aku kehabisan cat untuk melukis. Aku butuh cat merahku, makanya aku membunuh satu kelinci, mengambil darahnya, dan memasak dagingnya untuk kita" ucap laki-laki itu tenang sambil terus mengunyah.
Saras mengangguk samar. Mencoba tersenyum.
"eeemmm... kamu suka ya melukis pakai darah?" tanya wanita itu memberanikan diri.
Dion mengangkat satu sudut bibirnya.
"ya, aku suka cat merahku. Itu membuat lukisanku terlihat makin hidup, seperti nyata..!" jawab Dion tanpa rasa berdosa.
Saras mencoba tersenyum lagi.
"darah kelinci aja?" tanya nya lagi.
Dion melirik ke arah sang istri. Saras terlihat sedikit takut. Dion tersenyum. Menusuk satu potong daging dengan mantap hingga menimbulkan suara benturan antara garpu dengan piringnya. Saras sedikit terjingkat dibuatnya.
"darah apapun itu..! Anj*ng, kucing, kelinci, bahkan manusia..! Aku juga pernah melukis dengan jari-jari tangan manusia yang kupotong dari tubuh nya..!" ucap Dion lagi membuat Saras bergidik ngeri.
Dion berucap tanpa rasa bersalah.
"kamu nggak takut?" tanya Saras.
Dion tersenyum.
"enggak..!" jawabnya.
Saras makin merinding.
"kenapa kamu suka pakai darah? kenapa nggak pakai cat aja? kalau kamu pakai darah berarti kan kamu harus membunuh dulu? apa kamu nggak kasihan sama makhluk yang kamu bunuh?" tanya wanita itu.
"untuk apa kasihan? makhluk makhluk itu saja tidak pernah kasihan padaku..! hidupku jauh lebih kasihan daripada mereka yang sudah aku bunuh, tapi tidak ada yang peduli padaku selain ayahku..!" ucap Dion.
Saras diam. Dion nampak menatap nya tajam..!
"binatang kubunuh hanya karena aku membutuhkan darahnya, tetapi manusia kubunuh, karena aku tidak rela melihat dia bahagia, setelah menyakiti perasaanku. Kalau aku sakit, kalau aku tidak bahagia, berarti mereka juga tidak boleh bahagia..! Mati adalah balasan yang tepat untuk mereka yang suka semena mena...!" ucap laki-laki itu mengerikan.
Saras merinding. Dion sangat mengerikan. Dua pasang mata itu saling beradu. Suasana hening seketika, seolah mereka terkunci dengan pemikiran masing-masing. Hingga tiba-tiba.....
.
.
.
.
"Selamat pagi...!"
...----------------...
Selamat malam
..
up 19:30
yuk, dukungan dulu...
Mampir juga kesini....
***🍁 Angkasa ( Kisah Cinta Anak Mafia)🍁
Bukan tentang drama rumah tangga yang di penuhi konflik orang ketiga, melainkan sisi gelap kehidupan anak muda perkotaan dengan jiwa abu abu yang menggebu gebu. Persaingan, perebutan popularitas, kekerasan, kesalahan dalam didikan, pergaulan bebas, intrik, serta kisah cinta nan rumit yang terhalang prinsip antar keluarga membuat kisah bertabur drama penuh luka yang seolah tidak ada habisnya.
Seperti apa kisah mereka***?
__ADS_1