
Malam menjelang.
Di sebuah kamar luas milik Saras dan Dion. Wanita cantik berambut sebahu itu nampak sudah rapi. Dengan kaos over size berwarna merah muda miliknya, Saras sudah bersiap untuk mengais rejekinya malam ini.
Sesuai janjinya dengan calon pembeli kemarin, malam ini Saras akan menemui pria yang mengaku bernama Gibran itu. Untuk melakukan transaksi pembelian lukisan.
Ceklek...
Pintu kamar mewah itu terbuka. Seorang pria tampan berkulit putih nampak masuk ke dalam kamar itu dengan membawa secangkir kopi di tangannya.
Saras menoleh. Itu Dion, suaminya. Wanita itu nampak tersenyum ke arah sang pria yang kini nampak mendekatinya lalu duduk di tepi ranjang luas milik mereka.
"Udah mau berangkat?" tanya Dion.
Saras mengangguk. Dion menyeruput kopi panasnya lalu meletakkannya di atas meja rias milik sang istri.
"Kamu beneran nggak apa apa aku tinggal?" tanya Saras.
Dion tersenyum lalu mengangguk.
"Nggak apa-apa" jawab laki-laki itu.
Saras tersenyum.
"Lukisannya udah aku masukin ke bagasi mobil. Nanti biar supir yang bantu turunin kalau memang pembeli itu mau ketemuannya sama kamu aja" ucap Dion lembut pada sang istri.
Saras tersenyum. Lalu mengangguk. Wanita itu lantas meraih sebuah tas selempang yang tergeletak diatas ranjang kemudian bangkit.
"Ya udah, aku berangkat dulu, ya. Nggak sampai se jam aku pasti udah balik.." ucap Saras.
Dion hanya tersenyum manis.
"Iya, istri. Hati hati, ya.." ucap Dion. Saras mengulurkan tangannya.
"Apa?" tanya Dion tak mengerti.
"Salim, biar kayak orang orang..!!" ucap wanita itu kemudian. Dion terkekeh. Ia menyambut uluran tangan wanita itu. Saras kemudian mencium punggung tangan sang suami sebagai tanda hormat. Hal yang untuk kedua kalinya ia lakukan setelah sebelumnya ia sempat melakukan hal serupa saat keduanya melakukan ijab qobul. Selebihnya Saras tidak pernah melakukan hal seperti itu lagi lantaran memang ia tidak pernah jauh-jauh dari Dion selama ini.
"Aku berangkat. Dada suami..." ucap Saras seraya melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Dion hanya terkekeh melihat tingkah kocak istri tersayangnya itu.
Saras berlalu. Ia berjalan menuruni tangga rumah mewah itu dan segera menuju ke halaman tempat dimana sebuah mobil mewah sudah menunggunya di sana lengkap dengan sopirnya. Saras pun masuk kedalam mobil itu. Mendudukkan tubuhnya di bangku belakang kendaraan roda empat berharga milyaran itu. Mobil pun segera melesat pergi meninggalkan tempat tersebut. Tanpa wanita itu sadari, sepasang netra berbingkai kacamata bening milik Dion nampak menatap kepergiannya dengan sorot mata datar. Satu sudut bibir pria itu terangkat menyaksikan pergerakan kendaraan mewah yang kini sudah berlalu pergi meninggalkan rumah mewahnya itu.
Sementara itu. Mobil mewah yang di tunggangi Saras terus melesat menembus jalan raya yang tak terlalu padat itu. Sepanjang perjalanan, pria yang mengaku bernama Gibran itu sesekali terlihat mengirimkan pesan untuk istri Dion itu. Mengatakan dimana posisinya saat ini.
Kurang lebih sekitar sepuluh menit perjalanan, mobil mewah itu sampai di sebuah taman kota tempat di mana Saras melakukan janji bertemu dengan calon pembeli lukisannya. Saras turun dari kendaraannya. Sang supir kemudian mengeluarkan sebuah lukisan pesanan pria yang mengaku bernama Gibran itu dari dalam bagasi.
__ADS_1
"Makasih ya, Pak" ucap Saras
"Bapak tunggu di sini aja. Saya mau nemuin orangnya dulu. Dia ada di ujung sana." ucap Saras lagi.
"Nona yakin?" tanya si supir sekaligus bodyguard itu.
"Yakin, Pak. Bapak tunggu di sini aja. Ntar kalau ada apa-apa saya teriak" ucap Saras lagi. Sang supir hanya bisa mengangguk. Wanita itu pun kemudian bergegas membawa lukisan di tangannya itu menuju ke ujung taman yang cukup gelap. Tempat di mana sang calon pembeli menunggunya. Sedangkan sopir berpenampilan serba hitam itu hanya bisa mengamati Saras dari kejauhan.
Saras berjalan menuju ujung taman. Dari kejauhan, tepat dibawah sebuah pohon yang cukup besar, seorang pria berkemeja kotak kotak berwarna biru gelap nampak duduk disana. Sepertinya itu Gibran. Baju yang dikenakan mirip seperti yang disebutkan oleh calon pembelinya melalui pesan WhatsApp.
Saras pun mendekat.
"Permisi.." ucap wanita itu.
Pria itu menoleh. Seorang laki-laki muda berkulit putih dengan sebuah tindik di telinga sebelah kirinya. Penampilannya cukup rapi, dengan beberapa tato menghiasi tubuh tegapnya. Jika dilihat lihat, mungkin usianya sekitar dua puluh lima tahunan.
Laki laki itu tersenyum lalu bangkit. Ia memasukkan kedua lengannya ke dalam saku celana jeans berwarna hitam yang ia kenakan.
"Halo.." sapa nya.
"Gibran?" tanya Saras memastikan. Pria itu tersenyum sambil mengangguk.
"Yups..!" jawabnya.
Sarah tersenyum cukup lebar hingga memperlihatkan barisan gigi gigi putihnya. Wanita itu kemudian menjulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Gibran" ucapnya kemudian.
Jabat tangan pun selesai. Saras kemudian memperlihatkan lukisan yang berada di tangannya itu kepada laki-laki yang bisa dibilang cukup tampan tersebut.
"Oh iya, ini lukisan yang kamu minta kemarin. Udah saya bawakan" ucap Saras.
Gibran tersenyum manis. Diraihnya lukisan berbentuk persegi itu kemudian mengangkatnya dan mengamatinya.
"Bagus..! Saya suka. Dari awal melihat, saya sudah tertarik sama lukisan ini. Kelihatan hidup. Nggak tahu, tapi saya suka aja" ucap laki-laki itu.
Saras tersenyum bangga
"Itu buatan suami saya" ucap wanita itu.
"Oh ya? Berbakat sekali suami kamu?! Bagus loh ini" puji Gibran.
"Syukurlah, kalau kamus suka." ucap Saras.
Gibran meletakkan sejenak lukisan itu di atas sebuah kursi taman yang berada di sana. Ia lantas menoleh kearah Saras kemudian tersenyum manis.
Pria itu kemudian merogoh tas selempang yang sejak tadi bertengger di pundaknya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop coklat berisi sejumlah uang pada Saras. Saras pun menerimanya.
__ADS_1
"Dihitung dulu. Itu sesuai sama harga yang kamu patok." ucap Gibran. Saras mengganggu kemudian membuka amplop dari istri beberapa lembar uang lima puluh ribuan itu.
"Saya senang bisa ketemu kamu malam ini. Selain lukisan yang kamu jual bagus, yang nganter juga cantik" ucap pria itu lagi. Saras melirik sejenak ke arah pria itu kemudian tersenyum simpul.
Ia kemudian memasukkan amplop coklat tersebut ke dalam tas selempang nya. Misi mengantarkan lukisan sudah selesai. Waktunya ia untuk pamit pulang.
"Karena lukisan ini sudah sampai di tangan kamu, berarti pertemuan ini juga sudah selesai. Terima kasih sudah membeli lukisan yang saya jual. Semoga nggak kapok dan kita bisa berlangganan" ucap Saras.
Gibran tersenyum.
"Nggak akan kapok lah. Apalagi yang jual secantik ini." ucap Gibran. Membuat Saras kini diam karenanya. Sepertinya laki-laki ini mulai mencoba modus padanya.
"Oh ya, ini kan belum terlalu malam, gimana kalau kita jalan-jalan sebentar. Kamu nggak keberatan kan?" tanya Gibran mulai menggoda.
Saras mengangkat satu sudut bibirnya.
"Maaf, suami saya sudah menunggu di rumah..!" ucap Saras tenang namun cukup tegas. Gibran berdecih.
"Yakin nggak mau?" tanya laki-laki itu. Saras tersenyum simpul kemudian menggelengkan kepalanya.
"Ini sudah malam. Saya permisi. Sekali lagi terima kasih" ucap Saras yang kemudian berbalik badan hendak kembali ke mobilnya yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri kini. Namun baru selangkah ia mengayunkan kaki menjauh dari Gibran, tiba-tiba....
Emmgghh..!
Saras mencoba berontak. Sebuah tangan kekar tiba-tiba membekap mulut dan hidungnya dari belakang menggunakan sebuah kain beraroma aneh. Membuat wanita itu tak bisa bernafas dengan leluasa hingga terpaksa menghirup aroma yang membuatnya pusing itu. Tak bersarang lama, Saras pun terkulai lemah. Ia kehilangan kesadarannya.
Gibran yang masih berada di tempat itu nampak mengangkat satu sudut bibirnya. Seorang laki-laki berjaket hitam dengan sebuah topi yang menutupi kepalanya itu kemudian membopong tubuh Saras. Itu adalah orang yang tadi membekap istri Dion itu dari belakang.
"Bawa dia ke mobil..!" ucap Gibran kemudian.
Pria berjaket hitam itu menurut. Ia kemudian membawa tubuh ramping wanita itu masuk ke dalam sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Gibran berjalan menuju mobil itu sembari mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Menghubungi seseorang yang sangat ia kenal di sana.
"Halo, bro. Cewek itu udah ada di tangan gue sekarang" ucap Gibran melalui sambungan telepon.
"Bagus..! Bawa dia ke rumah baru gua..!" titah seorang pria dari seberang sana melalui sambungan telepon.
"Nggak masalah. Yang penting jangan lupain bayaran gua" ucap Gibran lagi.
"Gua transfer ke rekening lo sekarang..!" jawab pria itu.
"Siaap..!!" jawab Gibran. Ia lantas masuk ke dalam mobil itu. Mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi lalu melajukan kendaraan tersebut meninggalkan taman kota.
...----------------...
Selamat malam
up pukul 20.24
__ADS_1
Yuk dukungan dulu 🥰😘