
Saras nampak keluar dari apotik membawa sebuah kantong kresek berisi obat luka, testpack dan pil kb. Dimasukkan nya kantong kresek itu ke dalam tas selempang nya, kemudian berniat untuk segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya disana.
Wanita bersuami dengan sweater panjang dan celana panjang itu lantas mengayunkan kakinya. Namun tiba tiba langkahnya terhenti. Dilihatnya disana, tepat di samping apotik, sebuah coffe shop nampak ramai dikunjungi para pembeli yang kebanyakan kawula muda itu.
Saras tersenyum. Ia jadi ingat adiknya. Sepertinya remaja itu akan sangat suka jika dibelikan minuman dingin di tempat itu.
Saras melongok menatap ke arah supirnya yang sejak tadi sudah perhatikannya dari dalam mobil. Ia mengangkat tangannya, seolah meminta laki-laki itu untuk menunggu sebentar.
Wanita cantik berkulit putih tanpa kacamata itu lantas berjalan memasuki bangunan coffee shop tersebut. Menuju meja barista untuk memesan dua cup minuman dingin.
Saras mendekati seorang pria berambut panjang dengan potongan pelontos di sisi kanan dan kirinya yang nampak tengah sibuk meracik kopi pesanan pengunjung. Lalu duduk di sebuah kursi yang tersedia disana, berhadapan langsung dengan meja barista. Diraihnya sebuah buku menu di atas meja itu lalu mulai membacanya.
"mas... affogato coffe nya dua ya..." ucap Saras.
"kosong..!" jawab pria itu terdengar ketus tanpa menoleh.
Saras menatap sang laki laki dengan mimik wajah sedikit kesal. Ketus sekali barista itu? pikir Saras.
Ia kembali memilih milih menu disana.
"ya udah, espresso dingin aja" jawab Saras lagi.
"habis..!" jawab pria itu lagi.
Saras mengernyitkan dahinya. Lagi lagi, kesal. Laki laki ini tidak ramah pada pembeli.
Wanita itu lantas membuang nafas panjang. Melempar ringan buku menu itu tepat di hadapan si pria seraya berkata.
"ya udah, terserah..! apa aja yang ada..! dua..!" ucap wanita itu kemudian melipat kedua lengannya di depan dada. Pria itu menatap Saras dengan wajah judes tanpa ekspresi nya.
"tunggu" jawabnya kemudian. Pria itu lantas berbalik badan. Kembali meracik kopi untuk para pengunjung lain yang sudah menunggu.
Saras membuang nafas panjang. Ia lantas mengedarkan pandangannya menyapu ke seluruh penjuru ruangan. Mengamati kursi kursi disana yang nyaris tak ada yang kosong. Sangat ramai. Dipenuhi muda mudi yang menghabiskan waktu senggang mereka bersama pacar maupun sahabat.
Saras menoleh ke arah pria judes itu. Ia masih berdiri membelakangi nya, meracik kopi entah jenis apa.
Saras menghela nafas panjang. Wanita itu lantas merogoh tas selempang nya. Meraih ponsel miliknya. Menyibukkan diri sambil menunggu dua kopi dingin pesanannya.
Saras tersenyum tipis. Dilihatnya tiga pesan dari Dion nampak masuk ke dalam ponselnya.
__ADS_1
"sudah sampai?"
"sampai mana?"
"jawab, Saras..!"
Saras tersenyum. Ia lantas mengetikkan pesan di room chat nya dengan Dion.
"iya, ini bentar lagi sampai. Maaf ya, abis ngantri beli obat luka" tulis wanita itu.
Saras masih sibuk dengan ponselnya. Hingga tiba-tiba....
braaaaaakkkk......
"whoeeeee...!!"
Suara itu berhasil mengagetkan Saras. Wanita tersebut nampak sedikit terjingkat kemudian reflek mengangkat kepalanya menatap seorang pria yang tiba-tiba datang dan berdiri di hadapannya. Pria itu nampak tersenyum ke arah barista judes kayak kini juga menoleh ke arah pria itu.
"rame, bos?" tanya pria berjambang tipis yang baru tiba itu. Senyuman manis terus tersungging. Dibalas dengan tatapan mata malas barista judes itu.
"mata lu buta? lu nggak liat orang sebanyak itu?! malah cengengesan..! buruan masuk..! b*bi lu...!" ucap pria judes yang diketahui bernama Gio itu pada Arkana, sahabat sekaligus partner bisnisnya dalam mendirikan coffe shop ini.
"iye, iye..! marah marah mulu lu, put*ng lu keriput ntar lama..!" ucap pria pemilik senyuman manis itu. Ia kemudian berjalan, masuk ke belakang meja barista melalui sebuah pintu kecil setinggi pinggang orang dewasa itu dan mulai mengambil celemek nya
Arkana menoleh ke arah Saras yang nampak diam, sibuk dengan ponselnya. Ia mendekat. Meletakkan satu lengannya diatas meja sebagai tumpuan tubuh tegapnya.
"ini si cantik mau pesen apa?" tanya Arkana manis.
Sara melirik sinis.
"nggak tau tuh mau dibikinin apa ama temennya.." ucap wanita itu sembari kembali melirik ke arah Gio yang berdiri membelakangi nya.
Arkana mengikuti arah pandang Saras, lalu terkekeh.
"judes ya dia? sorry, lagi masa nifas..." ucapnya.
Saras tertawa sumbang. Arkana tersenyum manis. Ia lantas meraih buku menunya, kemudian menunjukkannya pada Saras.
"oke, jadi mau pesen apa? kita ada rekomendasi nih, yang paling banyak dicari kalo disini" ucap pria itu sembari menunjuk sebuah tulisan daftar menu berwarna hitam itu.
__ADS_1
Saras mengangguk.
"boleh, dua.." ucap wanita bersuami itu.
"oke...! tunggu ya, sayang...eeeiiitttssss....kok sayang..! suka keceplosan..! sorry ya.." ucap Arkana bercanda.
Saras mencoba menahan senyumannya. Laki laki itu kemudian berjalan mendekati sang sahabat sekaligus rekan kerjanya yang masih nampak memasang mode ketusnya itu lalu merangkul nya dari belakang. Arkana sesekali mencoba meledek sahabat nya, membuat Gio yang sepertinya dalam mood yang kurang baik itupun sesekali berdecak kesal dibuatnya.
Saras kembali memainkan ponselnya. Membuka pesan balasan dari suaminya yang masuk ke ponselnya.
"untuk apa kau membeli obat luka?" tulis Dion.
Saras tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya samar. Sebegitu tidak pekanya kah seorang Dion sampai sampai tidak menyadari bahwa permainan nya tiap menjamah Saras selalu menimbulkan luka di tubuh mulus wanita itu? Astaga...pikir Saras.
Wanita itu kemudian mengetikkan balasan untuk pesan Dion.
"badan aku banyak lukanya, sayang..." tulis Saras pada Dion.
Lalu...
suuiit..suuiit....
Siulan dari bibir pria itu berhasil membuat Saras menoleh. Dilihatnya disana Arkana nampak tersenyum ke arahnya, sembari menyodorkan sebuah paper bag berisi dua minuman kopi dingin pesanan wanita cantik itu.
"silahkan..." ucap pria itu.
Saras memasukkan ponsel nya ke dalam tas. Lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dari sana dan menyerahkan nya pada Arkana. Laki laki itupun menerimanya. Memproses pembayaran wanita itu di mesin kasir hingga mengeluarkan secarik nota pembayaran dari dalam sana. Belum sampai pria itu menyerahkan nota nya, Saras sudah keburu pergi.
Arkana tersenyum menatap punggung ramping wanita berkaos panjang itu.
"terima kasih, cantik. Jangan lupa mampir lagi..!" teriaknya pada wanita yang kini sudah berlalu pergi keluar dari Coffe shop itu.
"berisik lu..!" ucap Gio yang berada di sampingnya.
"sirik..!" jawab Arkana cuek kemudian berlalu pergi, kembali meracik kopi untuk pengunjung lain nya.
...----------------...
Selamat sore....
up 16:18
__ADS_1
sebenarnya pengen up lagi. Tapi nggak tahu bisa apa nggak, soalnya ada sedikit gangguan mungkin nanti malam.
Yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰