
Di sebuah rumah megah kediaman Ratih...
Pemuda tampan berambut gondrong itu nampak memasuki halaman luas rumah megah pemberian Malvino itu....
Ratih turun dari motor milik Gio, laki laki yang tadi menyelamatkan tas nya dari penjambret, membawanya ke rumah sakit, hingga mengantarkan nya pulang.
Ratih turun, ia menyerahkan helm hitam yang tadi dikenakan nya itu pada pemuda berpenampilan urakan tersebut.
"makasih ya, Gio. Udah nganterin ibuk.." ucap Ratih yang tadi juga sudah sempat berkenalan dengan anak muda itu.
Gio tak lantas menjawab. Ia sibuk mengedarkan pandangannya menatap rumah megah bak istana itu. Rumah ini besar sekali. Pengamanan di depan gerbang cukup bagus. Dua orang berseragam serba hitam dengan tubuh bak algojo nampak siap siaga disana. Apa ibu-ibu yang ia tolong tadi adalah pemilik rumah ini? kok penampilannya sederhana sekali? tidak seperti orang kaya pada umumnya yang berpenampilan glamor dan anggun. Seperti Maya, ibunda Arkana. Ibu Ratih terlihat jauh lebih sederhana.
Mungkin bu Ratih hanya pekerja di rumah ini, pikir Gio.
"Gio...." ucap Ratih pada pemuda itu sambil menyentuh pundaknya. Gio terperanjat. Setengah kaget lalu menoleh ke arah Ratih
"eh, iya , buk..." ucap Gio.
"makasih...." jawab Ratih sambil menyodorkan helm di tangannya itu pada Gio.
Gio menampilkan senyuman termanisnya.
"sama sama..." jawab Gio sembari menerima helm itu.
"lain kali kalau pergi, hati hati ya, buk, suruh anaknya nunggu, biar nggak kejadian lagi kayak tadi. Kalau nggak mau getok aja palanya..." ucap Gio bercanda.
Ratih terkekeh.
"kamu bisa aja..!" ucap wanita itu sambil terkekeh.
Gio lantas menggantungkan helm itu di stang kiri motor besarnya.
"kamu nggak mampir?" tanya Ratih.
Gio tersenyum, lalu kembali menoleh ke arah rumah megah itu.
"ini rumah ibuk?" tanya Gio.
"iya..." jawab Ratih.
Gio mengangkat dagunya. Lalu mengangguk samar sambil tersenyum.
"kenapa? nggak percaya ya kalau di rumah ibuk? muka Ibu nggak cocok ya, punya rumah kayak gini?" tanya Ratih lagi.
Gio terkekeh lagi.
"apasih, buk? cocok kok..! bagus rumahnya..!" ucap Gio.
__ADS_1
Ratih tersenyum.
"ini pemberian anak ibuk. Tapi dia udah menikah sekarang..." ucap Ratih.
Gio mengangguk dengan bibir membentuk huruf O.
"kapan kapan main ya kesini kalau anak anak ibuk ada dirumah. Nanti ibuk kenalin sama mereka..." ucap Ratih.
Gio terkekeh.
"iya, kapan kapan saya mampir.." ucap pria itu.
"ya udah, kalau gitu saya permisi dulu ya, buk. Udah ditungguin temen saya nanti di cafe, bisa ngamuk dia kalau saya nggak buru buru balik" ucap Gio.
"oh, iya. Hati hati ya..! sekali lagi makasih udah tolongin ibu tadi..!" ucap Ratih.
"sama-sama, Buk. Saya permisi dulu..!" jawab Gio yang kemudian menyalakan mesin motornya dan berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Ratih hanya tersenyum. Ia hanya menatap punggung pria bermotor besar yang perlahan makin menjauh dari pandangan matanya tersebut.
...****************...
Lima belas menit berselang,
Gio sampai di coffee shop tempat usahanya bersama Arkana.
Laki laki itu kemudian memarkirkan kendaraan nya di depan bangunan yang didominasi dengan warna hitam dan putih itu. Meletakkan satu helm yang tadi digunakan oleh Ratih itu di sebuah jog motor yang terparkir tepat di samping kendaraan nya.
Gio merapikan rambutnya ke belakang. Pemuda itu lantas masuk ke coffee shop tersebut.
"lu buang sampai ke planet mana, nyet?" suara itu menyambut kedatangan Gio.
Dilihatnya disana Arkana nampak berdiri dengan kepala terangkat, menatap kesal ke arah sahabat sekaligus rekan bisnisnya yang kini nampak tersenyum tanpa dosa hingga memperlihatkan barisan gigi gigi putihnya.
"ck..! ada urusan bentar..! nganterin orang pulang tadi abis kena jambret..!" ucap Gio sembari meraih kertas kertas kecil yang tertempel di salah satu sisi meja, berisi beberapa daftar pesanan dari pelanggan.
"baik banget, lu..?! cewek ya...?" tebak Arkana.
Gio menoleh.
"tau aja lo..!" ucap Gio memancing reaksi sahabatnya itu.
Arkana mendekat.
"cakep..?" tanya nya.
"emak emak..!" jawab Gio.
__ADS_1
"janda?" tanya Arkana.
"iye kalik...!" jawab Gio lagi sembari mulai meracik kopinya.
"umurnya berapa?" tanya Arkana lagi.
Gio berdecak kesal.
"udah dibilangin emak emak..! nenek nenek..! masih nanya aja lu...!" ucap Gio.
Arkana berdecak kesal.
"kirain janda baru.." jawab Arkana sembari melepas celemek nya.
Gio menoleh.
"lu mau kemana?" tanya Gio.
"pulang bentar..!" ucap Arkana.
"ngapain? lu mau ngempeng?! rame nih c*k..!" ucap Gio tak terima.
"bentaran doang...! lu handle ndiri bentar...!" ucap Arkana sembari mengayunkan kakinya menuju pintu utama coffee shop itu.
"b*ngke lu..!! ntar malem gue nginep rumah lu..!" teriak Gio yang hanya di balas dengan jempol yang terangkat dari Arkana.
Gio berdecak kesal. Kawannya yang satu itu memang suka seenak jidat kalau pergi..!
Arkana sampai di luar coffee shop. Ia lantas mendekati motornya, meraih helm yang berada di sana kemudian berniat untuk mengenakan nya.
Namun belum sempat helm itu melekat di kepalanya, Arkana nampak menghentikan pergerakannya. Diendus nya helm itu. Aroma wangi menyeruak di sana. Ini bukan aroma shampo nya. Aroma sampo siapa ini? pikir pemuda tampan itu.
Arkana mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah.
"siapa yang abis makai helm gua?" ucapnya seorang diri.
"kok baunya beda? tambah pria itu sembari kembali mengadus-endus aroma dalam helmnya itu. Wanginya sangat berbeda dan terasa menenangkan. Ia suka wangi itu.
Laki-laki itu kemudian tersenyum.
"bodo amat lah..! wangi..! cewek nih kayaknya yang make..!" tambah Arkana kemudian bergegas mengenakan nya. Ia pun bergegas menunggangi kendaraan roda duanya. Kemudian pergi dari tempat tersebut untuk pulang ke rumahnya.
...****************...
Selamat siang...
up 11:39
yuk dukungan dulu 🥰
__ADS_1
mampir sini juga boleh