
Kendaraan roda dua itu terus melesat menembus padatnya jalan raya. Sesekali sepasang anak manusia yang belum lama mengenal itu nampak berbincang-bincang santai sambil menapaki jalan menuju kediaman Gio.
"Jadi kalau jam segini pulang berarti lu berangkatnya siang?" tanya Gio
"Iya," jawabannya. Mereka saling diam sejenak. Diam diam Xena melirik ke arah spion skuter matic itu. Dilihatnya disana sebuah mobil jeep sejak tadi nampak berjalan di belakangnya. Entah mungkin searah atau memang mengikutinya, tapi hal itu sukses menarik perhatian Xena.
"Gio," ucap Xena.
"Hmm..." jawab Gio.
"Tadi aku lihat kamu kayak habis berantem ya sama temen kamu. Tadi aku nggak sengaja lihat waktu mau keluar dari rumah sakit," ucap Xena. Gio diam lalu tersenyum simpul.
"Iya." Gio menjawab dengan suara pelan.
"Kalau boleh tahu, kenapa? Tapi maaf ya, aku kepo. Kalau nggak mau dijawab juga nggak apa-apa," ucap Xena.
Gio menghela nafas panjang. "Di depan belok kanan, ya. Masuk perumahan," ucap pria itu. Xena hanya mengangguk. Ia pun menurut. Membelokkan motor matic nya memasuki sebuah jalanan sepi sebelum mendekati gerbang perumahan.
"Sebenarnya...." Baru saja Gio hendak memulai ceritanya, tiba-tiba sebuah mobil Jeep berwarna hitam nampak menyalip motor matic itu dengan kecepatan tinggi, kemudian berhenti tepat dihadapannya dalam posisi melintang.
Xena sekuat tenaga menekan tuas rem kendaraan roda dua itu. Empat orang pria berbadan tegap, berpakaian serba hitam lengkap dengan sebuah topeng menutupi wajah tampak turun dari mobil tersebut. Xena terkejut. Gio menatap tajam para pria pria yang kini nampak mendekat ke arahnya itu.
__ADS_1
"Turun, lu!" teriak seorang laki laki bertopeng disana sambil menunjuk ke arah Gio. Belum sempat Gio ataupun Xena bertanya kepada para pria itu, laki-laki itu sudah menarik kerah jaket Gio dan memaksanya untuk turun dari motor tersebut. Gio menolak dengan gayanya yang begitu angkuh dan keras, membuat baku hantam pun tak terelakkan antara seorang Gio melawan empat pria tak dikenal dengan ilmu bela diri yang cukup mumpuni itu.
Xena yang merasa Gio belum sepenuhnya pulih itupun kemudian turun dari motornya, berniat untuk membantu mengusir para pria tak dikenali itu menggunakan sebongkah batu yang tergeletak di pinggir jalan.
Baku hantam terus berlanjut. Gio yang baru saja keluar dari rumah sakit itu rupanya tak mampu menghadapi empat orang pria dewasa bertopeng di sana. Laki-laki itu ambruk, jatuh terpelanting hingga wajahnya yang masih terdapat beberapa luka itu kembali bonyok dan babak belur. Darah mengucur dimana mana.
Xena yang kini juga tersungkur di tanah akibat terkena pukulan dari salah seorang pria bertopeng itu pun nampak berteriak memanggil nama Gio. Laki-laki itu tak bergerak. Wajahnya kembali bonyok. Darah menetes dari beberapa bagian wajahnya. salah seorang pria bertopeng itu kemudian menjambak rambut gondrong Gio, kemudian menyeretnya dan membawanya masuk ke dalam mobil jeep hitam itu. Xena berusaha bangkit. Ia berusaha mengejar mobil jeep itu namun sayang, kendaraan itu sudah berlalu pergi, jauh meninggalkannya.
...****************...
Sementara itu ditempat terpisah. Di sebuah cafe yang berada di salah satu sudut kota itu. Sepasang suami istri yang tengah berbahagia menanti kehadiran buah hati mereka itu nampak keluar dari bangunan tersebut. Entah mengapa tiba-tiba sore ini Dion merasa ingin sekali keluar rumah dan makan di luar bersama istrinya. Alhasil keduanya pun pergi ke salah satu cafe yang menjual makanan cepat saji dan menghabiskan waktu berdua mereka disana.
Sepasang suami istri itupun kini nampak keluar dari Cafe tersebut. Tangan keduanya nampak saling bergandengan seolah tak mau terpisah satu sama lain. Sambil tertawa dan bercanda, keduanya mengayunkan kaki menuju lahan parkir tempat di mana seorang bodyguard sudah menunggu mereka bersama dengan kendaraan mewah milik tuan Malvino.
Sepanjang perjalan, baik Dion maupun Saras tak henti mengeluarkan candaan mereka. Keduanya terus bercanda dan tertawa sepanjang perjalanan. Hingga tiba tiba....
Braaaaaakkkk....
"Aww..!!" pekik Saras. Sebuah mobil box datang dari arah belakang. Menabrak bodi mobil yang kini di tumpangi Dion dan Saras itu dengan cukup kencang, membuat para manusia yang berada di dalamnya pun terkejut karena nya.
Sang bodyguard menghentikan laju mobilnya. Ia menoleh ke belakang, tempat dimana Saras dan Dion berada.
__ADS_1
"Nona dan Tuan Muda tidak apa apa?" tanya si bodyguard. Saras menggelengkan kepala. Sedangkan Dion kini nampak menajamkan pandangannya. Dengan mimik wajah penuh emosi, laki laki itu keluar dari mobilnya dengan membanting pintu. Saras yang masih sedikit shock itupun memanggil nama sang suami. Ia lantas mengikuti langkah Dion turun dari mobil itu di ikuti sang bodyguard.
Empat orang pria berbadan algojo keluar dari dalam mobil itu. Dua diantaranya bahkan memegang sebuah samurai serta pedang. Sang bodyguard nampak waspada. Dengan sigap ia mengeluarkan sebuah pistol dari bagian belakang tubuhnya. Bersiap untuk menghadapi empat orang pria yang sepertinya memilikinya jahat pada mereka
"Nona Saras, Tuan Muda, mundur!" ucap sang bodyguard.
Saras menoleh ke arah pria itu. Ia kemudian menarik kaos Dion, mengajak laki-laki itu untuk mundur bersamanya. Namun Dion menolak. Ia berdiri dengan tegap seolah menantang empat pria yang sudah sudah berani mencoba mencelakai ia, istrinya, dan calon buah hatinya itu.
"Siapa kalian?!" tanya sang bodyguard.
"Tidak penting kami siapa. Yang terpenting adalah, serahkan wanita itu pada kami!" ucap salah satu pria disana. Dion menajamkan pandangannya. Tatapan iblis nya terbentuk. Ia tak suka mendengar ucapan pria itu.
"Jangan mimpi kalian! Lebih baik sekarang kalian pergi dan jangan ganggu tuanku!" titah sang bodyguard.
"Banyak omong, lu..! Seraaangg..!!" teriak salah satu pria disana. Dan, perkelahian pun terjadi. Dion dan sang bodyguard menghadapi empat pria disana. Keempat pria itu terlihat begitu garang. Terlebih lagi dua buah senjata tajam berada dalam genggaman tangan mereka. Membuat Saras kini nampak takut jika sampai terjadi sesuatu pada Dion. Wanita itu kemudian bergerak mundur. Ia merogoh ponselnya, mencari nama sang mertua di sana dan bergegas untuk menghubunginya. Namun baru saja ia menyentuh nama Malvino di layar ponselnya, sebuah tangan kekar dengan kain beraroma aneh tiba tiba membekapnya dari belakang. Saras berusaha berontak. Ponsel itu terlepas dari genggaman tangannya. Aroma aneh dari kain itu berhasil membuat Saras pusing. Dalam hitungan detik, wanita itupun tak sadarkan diri. Ia pingsan. Seorang pria lantas menyeret tubuh itu. Masuk ke dalam sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Meninggalkan Dion dan sang bodyguard yang masih sibuk bertarung dengan empat orang pria disana. Mereka tak sadar, bahwa empat pria itu hanyalah pancingan untuk menculik Saras.
...----------------...
Selamat malam
up, 21:38
__ADS_1
maaf ya, jika bahasanya masih sangat belepotan. Otaknya ngeblank terus😩
Yuk, dukungan dulu 🥰😘