Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
53


__ADS_3

NB: MENGANDUNG ADEGAN KEKERASAN...!


BUKAN UNTUK DITIRU..!


HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN..!


TIDAK DIPERUNTUKKAN UNTUK PEMBACA DI BAWAH 18 TAHUN..!


............


Wanita itu berlari tunggang langgang di tengah malam. Menyusuri trotoar jalan raya yang mulai lengan lantaran ini sudah lewat tengah malam.


Suaminya tidak berada di rumah. Supir dan penjaga bahkan tidak mengetahui dimana keberadaan pria itu. Saras terlihat sangat khawatir. Dalam pikirannya mengatakan jangan jangan Dion pergi menemui Gio untuk memberi perhitungan pada pria itu. Meskipun hal itu disanksikan oleh para penjaga lantaran tak ada yang melihat Dion keluar, namun hati kecil Saras seolah keukeuh mengatakan bahwa suaminya pasti menemui Gio. Itulah yang membuat Saras kini berlari bak orang gila sambil menangis. Sesekali ia mencoba menghubungi nomor Dion dan Gio bergantian namun tak ada yang diangkat.


Ia tak peduli dengan larangan dari para penjaga yang melarangnya keluar rumah. Ia menyelinap pergi saat orang orang Malvino itu sibuk mencari keberadaan Dion di istana mereka.


Sungguh, wanita itu takut jika Dion pergi menemui Gio. Ia tak mau kalau sampai kedua manusia itu bertemu. Ia takut baik Dion maupun Gio lepas kontrol dan berujung saling melukai satu sama lainnya.


Saras terus berlari. Ia mengabaikan tubuhnya yang terasa perih di beberapa bagian.


"Dion..!! Angkat..!!" ucap wanita itu sambil terus mencoba menghubungi suaminya namun sama sekali tak diangkat. Ia terus mengayunkan kakinya cepat dan lebar, menuju coffee shop milik Gio. Hanya tempat itu yang ia tahu. Ia tak tahu dimana rumah Gio. Semoga saja ada petunjuk yang bisa ia temukan di tempat itu.


Wanita itu terus berlari. Bahkan tanpa alas kaki. Ia tak peduli dengan rasa sakit dan lelahnya. Yang ada dalam pikirannya kini hanyalah Dion. Tidak ada yang lain.


Cukup lama wanita itu berlari. Hingga sampailah ia di sebuah coffee shop yang nampak sudah tutup. Lampu lampu di dalam bangunan itu sudah mati, namun di bagian teras masih terlihat menyala. Sebuah motor juga terlihat masih terparkir di sana dengan seorang pria yang nampak bersiap mengenakan jaket dan helm nya di samping kendaraan roda dua itu.


Bugghh....


Saras jatuh tersungkur tepat di samping motor itu. Membuat pria dengan helm di tangannya itu nampak menoleh ke arah wanita tersebut.


"Saras?!!" ucap pria itu kaget.


Ya, itu Arkana. Sahabat Gio yang baru saja hendak pulang kembali ke rumahnya. Coffee shop itu memang sudah tutup sejak jam sepuluh malam tadi. Namun Arkana memang terbiasa menghabiskan waktu di tempat itu dulu sebelum pulang ke rumahnya. Biasanya ia berada di tempat itu sampai jam dua belas atau jam satu pagi. Sekedar nongkrong bersama teman teman dan karyawannya.


Arkana yang menyadari kedatangan Saras pun dengan cepat meletakkan helm nya. Ia lalu membungkuk membantu wanita yang nampak kelelahan itu untuk bangkit.


"Saras, lu kenapa? Lu ngapain malam malam disini?" tanya Arkana pada wanita yang nampak kacau itu. Keringatnya bercucuran hingga membasahi piyama kimono nya. Air matanya menetes membasahi pipinya. Wanita itu tidak menggunakan alas kaki. Dan tubuhnya terlihat penuh luka. Saras terlihat sangat menyedihkan.


Apa yang terjadi dengan wanita ini? Pikir Arkana.


Saras menangis. Arkana memapah wanita itu. Membantunya untuk berdiri.


"Lu kenapa?" tanya Arkana.


"Gio mana?!!" tanya Saras sambil menangis. Ia nampak celingukan mencari sosok laki laki sahabat Arkana itu.


"Gio?" tanya Arkana tak mengerti. Ada apa ini? Kenapa Saras tiba tiba menanyakan Gio.


"Gio mana?!!" tanya Saras lagi dengan tidak sabar nya. Ia berucap sambil terus menangis. Wanita itu terlihat sangat kalut. Air matanya bercucuran dan kakinya di hentak hentakkan ke tanah.


"Gio nggak ada disini, Ras..! Dia ada di rumahnya..! Emang ada apa?" tanya Arka.


Saras tak menjawab. Ia meraih lengan Arkana.


"Antar gue kesana..!" ucap Saras memburu.


Arkana melongo. Ia bingung. Saras berucap dengan begitu menggebu-gebu. Seolah keadaan genting tengah mengintainya saat ini.


"Hah?" ucap Arkana bingung.


"Antar gue ke rumah Gio sekarang..! Ayo...!!!" ucap wanita itu lagi.


"Ngapain?!!" tanya Arka tak mengerti.


"Pokoknya anter gue kesana sekarang..! Tolong... please...!!" ucap Saras makin tidak sabar. Wanita itu makin kalut. Ia terus menangis sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Tangannya menggenggam lengan Arkana seolah menggambarkan bahwa ia benar benar butuh bantuan laki laki itu saat ini.


Arkana nampak bingung. Saras terus menangis, merengek meminta tolong padanya. Hal itupun membuat Arkana menjadi tidak tega melihatnya.


"Ya udah, ya udah...! Gue anter yuk..!" ucap laki laki itu kemudian. Pemuda berjambang tipis itu lantas meraih helmnya kemudian naik ke atas motor besar miliknya. Saras pun lantas membonceng di belakangnya. Motor pun melesat cukup kencang. Menembus jalan raya yang tak terlalu padat lantaran ini sudah lewat tengah malam. Sepanjang perjalanan, Saras terus menangis. Ia tak henti mencoba menghubungi Dion dan Gio secara bergantian. Namun sama sekali tak ada jawaban dari kedua laki laki itu.


****************


Sementara itu di tempat terpisah....


Seorang pemuda berambut gondrong nampak berjalan menuruni tangga rumahnya. Laki laki yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya setelah mabuk berat siang tadi itu kini nampak berjalan sempoyongan, menuju dapur rumahnya untuk mencari air guna membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


Suasana rumah itu cukup gelap. Lampu yang menyala hanya di bagian teras yang sinarnya berhasil menembus kaca jendela, menyinari beberapa bagian di dalam rumah berlantai dua itu. Suasana terasa sangat sepi lantaran rumah itu memang hanya di huni oleh Gio seorang diri.


Gio sampai di lantai dasar. Ia berjalan menuju lemari es yang berada di dapur rumahnya, membukanya, lalu meraih sebuah botol kaca bening berisi air putih dari sana dan menenggaknya.


Tiba tiba...


Klek...

__ADS_1


Saklar di pencet. Lampu dapur menyala. Gio yang berada di sana pun perlahan menurunkan botol minumnya.


Tidak ada siapapun di rumah ini selain ia. Lalu siapa yang menyalakan lampu? Pikir pemuda itu.


Gio perlahan berbalik badan. Masih dengan sebuah botol kaca di tangannya.


Degghh....


Gio Mengangkat dagunya. Ia nampak membelalakkan matanya. Dilihatnya di sana, seorang pria dengan hoodie hitam nampak berdiri tak jauh dari tempatnya berada dalam posisi menunduk. Laki laki itu terlihat menatap ke arahnya dengan sorot mata tajam. Kepalanya ditutupi kupluk hoodie miliknya, serta tangannya nampak di masukkan ke dalam saku pakaian berwarna gelap itu.


Gio menatap tajam pria itu.


"Siapa lo?" tanya pria itu tak gentar sedikitpun.


Pria ber-hoodie itu tak menjawab.


"Siapa lu, b*ngsat..?! Ngapain lu di rumah gua?!" tanya pria itu lagi.


Pria ber-hoodie itu mengangkat satu sudut bibirnya dari balik kupluk hoodie itu. Perlahan ia mengangkat kepalanya. Menatap tajam ke arah Gio dengan sorot mata membunuh.



Degghh...


Laki laki gondrong itu mematung seketika. Ia masih sangat mengingat wajah itu. Wajah yang pernah dihajarnya beberapa tahun lalu saat kehilangan sang adik tercinta.


Ya, itu adalah Dion..! Dionyz Aldari Miguel. Mantan pacar adiknya yang ia yakini adalah aktor dari hilangnya Angel hingga saat ini. Laki laki anak seorang mantan narapidana tanpa ibu yang dulu pernah ia bully habis habisan.


Ya, itu Dion..!! Bertahun tahun mereka tidak pernah bertemu. Malam ini laki laki itu datang lagi. Ia berdiri di hadapan Gio seolah menantang laki laki itu untuk duel.


"Lu?" ucap Gio.


Dion mengangkat satu sudut bibirnya. Sorot mata iblis warisan ayahnya terlihat jelas disana. Terasa sangat mengerikan namun sama sekali tidak membuat Gio gentar.


"Ngapain lu disini?" tanya Gio dengan sorot mata makin menajam. Luka lama terbuka kembali. Kepergian Angel yang tak ada kabar sama sekali hingga saat ini setelah terlibat cek cok dengan Dion melalui pesan WhatsApp kembali menari nari di ingatan Gio.


Ya, sebelum Angel hilang, wanita itu sempat menunjukkan sebuah pesan WhatsApp dari Dion. Berisi pertengkaran diantara mereka pasca Angel memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Dion secara sepihak.


Dari situlah Gio yakin, bahwa hilangnya Angel ada sangkut pautnya dengan pria yang kini berdiri di hadapannya itu. Namun sayang, semua itu mental lantaran memang sudah tidak ada bukti sama sekali yang bisa Gio tunjukkan. Ponsel Angel pun juga ikut raib bersama dengan pemiliknya.


Dion mengangkat satu sudut bibirnya.


"Apa kabar, Giovani Reksa...?" tanya Dion terdengar dingin dan mengerikan.


"Aku merindukanmu" ucap Dion dengan sebuah senyuman iblis di bibirnya.


Wajah Gio nampak berubah menjadi merah padam. Amarah membakar hatinya seketika. Ia yang sudah emosi sejak siang kini semakin naik darah melihat kehadiran laki-laki yang sangat ia benci itu.


"Gue nggak ada waktu buat basa basi, anj*nk..! Jawab, ngapain lu kesini?!" tanya Gio.


Dion mengeluarkan tawa iblis nya.


"Sudah ku bilang, aku merindukanmu..! Sudah lama aku tidak mendengar caci maki mu..! Apa kau masih ingat, bagaimana ucapan ucapan sampah itu keluar dari mulutmu dulu?" tanya Dion.


Gio berdecih. Ia menatap angkuh pria di hadapannya itu.


"Lu masih aja inget itu?" tanya Gio.


"Selemah itu ya lu ternyata? Pantes aja lu gila..! Gue nggak salah udah ngelarang Angel buat deket deket ama lu..! Sampah..! Pengecut lu..!"


"Pulang sana..! Ngapain lu malem malem kesini..?! Balik sana ke pangkuan bapak lu yang napi itu...!" ucap Gio dengan mata melotot.


Dion makin menajamkan matanya.


"Mulutmu memang sangat menjijikkan..! Rasanya aku ingin merobeknya..!" ucap suami Saras itu tenang namun terdengar mengerikan. Ia berucap sembari mengeluarkan sebuah pisau tajam dari dalam saku hoodie nya. Pisau yang sudah ia bawa dari ruang lukisnya.


Gio melotot.


"Lu mau bunuh gue?" tanya Gio.


Dion menyeringai.


"Bertahun tahun aku memendam sakit hati karena ucapan dan tindakan tindakan menjijikkan yang pernah kau berikan padaku...! Rasanya aku sudah muak..! Aku ingin menyudahi semua ini. Kau memang pengganggu..! Dan selamanya akan menjadi pengganggu. Dan pengganggu sepertimu, memang seharusnya sudah ku singkirkan dari dulu..!" ucap Dion mengerikan.


"Maksud lu apa?! Lu ngomong apa sih?" tanya Gio tak mengerti maksud ucapan Dion.


"Aku masih ingat bagaimana kau dengan angkuhnya mempermainkan ku...! Kau tendang, kau tinju, kau dorong aku dengan kaki dan tanganmu..!"


"Dan satu lagi..........Cuuiiihhh...!" ucap Dion kemudian meludah di akhir kalimatnya. Persis seperti yang dulu pernah Gio lakukan padanya. Yaitu meludahinya, di depan banyak orang..!


"Kau masih ingat itu, jagoan..?! Anak penjahat..! Anak setan, tidak punya mama..! Bodoh...! Tolol..! Kampungan..! Orang gila..! Apa lagi?! Apa lagi yang pernah kau ucapkan padaku?!!" tanya Dion dengan dada naik turun.


"Kau pernah bilang, bahwa kau hanya bercanda..! Cih... bercanda tidak perlu main fisik bahkan sampai meludah seperti itu, tampan..! Tidak perlu..!" ucap Dion.

__ADS_1


Gio memejamkan matanya sambil memiringkan kepalanya seolah mempertajam pendengarannya.


"Cukup...! Gue capek...! Sekarang gini aja. Tujuan lu datang ke sini apa? Lu mau bunuh gue? Lu mau ngajakin gue duel?" tanya Gio angkuh.


Dion mengangkat satu sudut bibirnya.


"Aku hanya ingin mengantarmu bertemu dengan adik dan orang tuamu..! Kau pasti sangat merindukan mereka, bukan?" ucap Dion.


Gio nampak muak.


"Nggak usah banyak bacot, anj*nk..! Berani lu datang nemuin gue, berarti lu nantangin gua..! Kita selesaikan malam ini..! Kita lihat, siapa yang akan mati duluan..!" ucap Gio sambil menyingsingkan lengan bajunya.


Gio mengambil ancang ancang sambil membawa satu botol kaca di tangannya. Ia menatap tajam ke arah laki-laki yang kita berdiri dengan seringai wajah mengerikan itu.


Gio berteriak. Ia berlari ke arah Dion. Tangannya terangkat, hendak menghantamkan botol kaca itu ke kepala suami Saras. Dion mengangkat tangannya, menampik lengan tersebut, membuat botol kaca itu pun jatuh terpelanting ke lantai dan pecah berserakan di sana.


Dion yang memiliki ilmu bela diri hasil didikan ayah serta para anak buahnya itupun akhirnya terlibat perkelahian sengit dengan Gio si raja jalanan yang memang memiliki sifat urakan dan pandai berkelahi.


Aksi saling serang pun terjadi. Tangan, kaki, kepala, semua bergerak. Seolah ingin menghantam satu sama lain. Ingin melukai satu sama lain. Dan menumbangkan satu sama lain. Dion berkali-kali mengarahkan pisaunya ke arah Gio. Namun laki-laki itu selalu bisa mengelak. Sahabat Arkana itu bahkan berusaha merampas senjata tajam yang berada di tangan Dion. Namun laki-laki itu juga sekuat tenaga mencoba mempertahankannya.


Pertarungan terus berlanjut. Keduanya tak ada yang mau mengalah.


Pertarungan berlangsung cukup lama. Membuat wajah keduanya kini mulai babak belur hasil dari hantaman masing-masing tangan ke arah lawan.


Bisa dikatakan Gio lebih unggul. Mungkin lantaran memang ia sudah terbiasa berduel dengan lawan-lawannya di jalanan. Membuat mental dan kemampuannya benar-benar terasah. Berbeda dengan Dion yang sejak remaja hingga dewasa taak pernah keluar dari rumahnya.


Dagh....


Dion jatuh terpelanting membentur kursi meja makan. Membuat kursi kayu itu remuk tertimpa tubuh tegap laki-laki dua puluh dua tahun itu. Pisau di tangannya pun terlepas dari tangannya dan terlempar ke lantai. Darah mengalir di ujung bibir laki-laki itu. Penampilannya benar-benar kacau. Luka lebam dan memar terdapat di sekujur wajah dan tubuhnya. Gio yang juga babak belur itu nampak berjalan dengan angkuhnya mendekati laki-laki yang kini terkapar di lantai dapurnya itu.


Buughh....


"Aaakkhh...!!!"


Dion memekik. Gio menginjak dada laki-laki itu sekuat tenaganya dan menekannya. Membuat Dion pun merasakan kesakitan di bawah sana.


"Lu yang datang. Lu yang nantangin gue, Lu juga yang mati di tangan gue..!!" ucap Gio merasa menang.


Bugghh.....


Gio mengangkat kakinya lagi. Kemudian menendang wajah laki-laki di bawahnya itu dengan sekuat tenaganya. Membuat Dion pun terguling ke samping.


Belum puas.


Gio menggerakkan kakinya lagi. Kini menendang tulang rusuk laki-laki itu, membuat Dion kembali mengerang kesakitan.


"BANGUN...!!! LAWAN GUE...!!" bentak Gio murka.


Cuuiiihhh...!! Gio meludah ke arah Dion yang seolah sudah tak mampu bangkit.


Bugghh.....


Satu tendangan lagi terarah ke arah Dion. Kini ke arah dadanya. Dion meringis kesakitan. Ia nampak terbatuk batuk. Gio tertawa sumbang melihat musuhnya yang sudah terkapar tak berdaya.


Laki laki itu kemudian sedikit menjauhkan tubuhnya dari Dion. Ia tersenyum angkuh menatap sebuah pisau yang tergeletak tak jauh dari tubuh suami Saras itu.


Gio meraih pisau itu kemudian memainkannya di tangan sambil menatap remeh kearah Dion yang nampak tak bergerak.


"Lu datang nyerahin nyawa...! Pakai bawa senjata lagi..! Cih... lumayanlah.. setidaknya lu bisa jadi hiburan buat gua....!!" ucap Gio.


Gio berdiri tepat di kaki Dion. Merentangkan kedua belah kakinya itu di sisi kanan dan kiri tubuh laki-laki yang sudah terkapar itu.


"Sampaiin salam gue buat Tuhan...! Bilang, kalau lu berterima kasih ama gue, karena sudah mengantarkan pecundang kaya lo untuk menghadap Nya lebih cepat..!!" ucap Gio.


Laki laki itu mengangkat tangannya. Bersiap untuk menancapkan pisau itu di tubuh Dion. Dan,........


.


.


.


.


Bersambung....


Lanjut besok..🤭😁


...----------------...


Yuk, dukungan dulu🥰🥰🥰


kalau nemuin typo atau kata kata yang kurang infokan ke author ya....

__ADS_1


__ADS_2