Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
63


__ADS_3

Hari kembali berganti,


Pagi ini di sebuah kamar luas milik sepasang suami istri itu.


Saras menggeliat tanpa membuka matanya. Ia nampak meregangkan otot otot tubuhnya yang terasa kaku akibat pergulatan yang semalam ia lakukan dengan sang suami.


Mata itu masih enggan untuk terbuka. Rasanya terlalu berat untuk meninggalkan kasur empuk yang terasa begitu nyaman itu meskipun hawa dingin AC kamar itu terasa dingin menerpa tubuh polosnya yang mungkin kini sudah tak tertutup selimut lagi itu.


Cekrek...


Lampu flash menyala dibarengi dengan sebuah suara jepretan kamera.


Saras mengerutkan keningnya.


Cekrek...


Terdengar lagi. Kembali dibarengi dengan sebuah kilatan lampu kamera.


Saras yang tidur dalam posisi terlentang itu perlahan membuka matanya yang masih sangat mengantuk. Dilihatnya disana, tepat di atasnya, seorang pria tampan dengan senyuman yang begitu manis nampak berdiri dengan kedua belah kaki terbuka mengapit tubuh polosnya yang tak tertutup kain satupun, termasuk selimut.


Saras menggeliat lagi. Menutupi wajahnya dengan satu telapak tangannya manakala lensa kamera di tangan suaminya itu kini nampak diarahkan kepadanya.


"Dion...!!" rengek wanita itu sambil berusaha menghindari sorot kamera.


"Bangun, dong..! Ini udah siang loh..! Tidur mulu.." ucap Dion sambil terus membidikkan kameranya ke arah sang istri.


Cekrek...


Dion kembali mengambil gambar sang istri yang berada dalam kondisi tubuh polos tak berbusana itu. Saras protes lagi. Ia kemudian meraih sebuah bantal guna menutupi dada hingga perutnya. Namun tak mampu menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Udah..!! Ngapain di fotoin?! Udah tahu lagi nggak pake baju juga...!!" ucap Saras dengan mode cemberut yang justru terlihat sangat lucu di mata Dion. Laki-laki itu terkekeh. Ia mengalungkan tali kamera di tangannya itu ke lehernya lalu berkacak pinggang sambil menatap ke arah bawah. Tempat di mana sang istri masih asyik merebahkan tubuhnya sembari mengucek matanya.


"Ayo bangun..! Mandi sana...! Males banget..!" ucap Dion sembari berkacak pinggang.


Saras menggeliat lagi. Ia kemudian merentangkan kedua tangannya seolah meminta tolong pada sang suami untuk dibangunkan.


"Tolong..." ucap Saras manja.


Dion berdecih sambil terkekeh. Ia kemudian meraih kedua lengan sang istri dan menariknya. Membantu wanita itu untuk bangkit dari tempat tidur tersebut. Kini sepasang suami istri itu nampak berdiri di atas ranjang. Saras mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami, sedangkan Dion nampak merengkuh pinggang wanita itu sambil menatap lembut ke arah Saras.


"Hari ini kita mau ke mana? Mau ngapain?" tanya laki-laki itu.


Saras nampak berfikir.


"Kemarin ada yang nge-chat aku. Katanya dia tertarik sama salah satu lukisan kamu yang aku post di aplikasi jual beli online itu. Terus, dia pengen lihat langsung katanya..."ucap Saras. Dion mengangguk.


"Lalu?" tanya laki-laki itu lagi.

__ADS_1


"Ya, dia ngajak ketemuan hari ini. Di taman kota. Gimana? kamu mau ikut? ntar kita nemuin dia bareng. Sekalian jalan-jalan..!" ucap Saras.


Dion tersenyum. Lalu mengecup pucuk hidung istri tersayangnya itu.


"Boleh..!" jawabnya


Saras tersenyum lebar.


"Ya udah sekarang kamu mandi dulu, abis itu kita sarapan. Kamu mau sarapan di bawah apa di sini aja?" tanya Dion menawarkan.


"Di sini aja deh. Sarapan berdua sama kamu" ucap Saras.


Dion tersenyum.


"Oke..! Ya udah, mandi dulu gih. Biar aku panggil pelayan buat bawain sarapannya buat kita" ucap Dion.


Alih-alih melepaskan kedua lengannya dari leher Dion, Saras justru menggelengkan kepala dengan manja lalu memeluk laki-laki itu.


"Apalagi?" tanya Dion.


"Gendong..! bawa aku ke kamar mandi. Aku capek..! Nggak kuat jalan...!" ucap Saras bak bocah yang minta dimanja.


Dian tergelak kemudian mengangguk sambil menampakan senyuman lebarnya.


"Ya udah, sini aku gendong" ucap laki-laki itu kemudian turun dari ranjangnya lalu Berdiri dalam posisi membelakangi sang istri. Saras pun dengan sigap naik ke punggung itu dalam kondisi tanpa busana.


"Boleh.." jawab wanita itu malu-malu. Keduanya lantas tergelak. Dion kemudian membawa sang istri masuk ke dalam sana untuk memandikan wanita dua puluh tahun tersebut.


...****************...


Sementara di tempat terpisah...


Di sebuah coffee shop yang berada di salah satu sudut kota itu.


Seorang pria tampan berjambang tipis nampak sibuk melayani para pembeli yang memadati coffee shop itu. Siang ini pengunjung cukup ramai. Membuat ia sedikit kewalahan dibuatnya. Ditambah lagi sahabat sekaligus partner kerjanya sampai saat ini belum juga kembali bekerja. Entah ke mana perginya laki-laki itu. Ia seolah hilang bak ditelan bumi. Tak ada kabar sama sekali dari pemuda yatim piatu itu.


Krieeettt...


Pintu kaca coffee shop itu terbuka. Seorang remaja berseragam SMA nampak masuk ke dalam coffee shop itu bersama beberapa temannya. Arkana yang berada di belakang meja barista nampak menatap kedatangan sekelompok remaja putra itu. Salah satu diantaranya sangat ia kenali. Itu adalah Adit, adiknya Saras..! Ya Arkana masih mengingat jelas wajah ABG itu.


Pria tampan itu kemudian bergerak mendekati meja yang kini nampak dipenuhi para remaja remaja tanggung itu.


"Permisi. Selamat siang, adik-adik. Mau pesan apa?" tanya Arkana. Adit dan teman-temannya menoleh.


"Lho, kak Arka?" ucap Adit.


Arkana nampak tersenyum menyerahkan buku menunya kepada Adit.

__ADS_1


"Kalian baru pulang sekolah?" tanya pemuda tampan itu.


"Iya, kak. Baru pulang. Makanya kita mampir ke sini. Haus banget. Pengen minum-minum dulu" ucap Adit. Sedangkan teman-temannya nampak sibuk memilih beberapa menu yang berada daftar menu itu.


"Emang sekolah di mana?" tanya Arkana lagi.


"Di itu, SMA swasta dekat sini. Ujung jalan..!" ucap Adit lagi menyebutkan sebuah SMA mewah tempatnya menuntut ilmu.


"Oh di situ..! Emang rumah lo dekat sekitaran sini juga?" tanya Arkana lagi yang memang belum tahu alamat rumah adik Saras itu.


"Iya, kak. Di.. itu.. komplek perumahan X. Nomor empat. Mampir aja, kak kalau ada waktu!" ucap Adit.


Arkana mengangguk.


"Iya, kapan kapan..! Gue juga punya temen kok yang tinggal di perumahan itu" ucap Arkana.


Adit mengangguk.


Arkana nampak tersenyum. Kompleks perumahan itu adalah kompleks perumahan elit. Tapi ya pantas saja jika keluarga Saras tinggal disana. Kata Gio, Dion adalah anak orang kaya meskipun dari hasil kejahatan. Jadi pantas saja jika Saras tinggal di kompleks perumahan mewah itu. Dion pasti memfasilitasi kehidupan Saras.


Adit dan kawan-kawannya selesai memilih menu di sana. Arkana pun mencatat semua menu yang para remaja itu pesan. Adit kemudian memilih untuk membayar pesanannya saat itu juga. Remaja berusia enam belas tahun itu lantas merogoh dompet kulit berwarna hitam miliknya. Kemudian mengambil sejumlah uang dari sana.


Arkana terdiam sejenak melihat dompet milik sang remaja. Terdapat sebuah foto keluarga yang nampak sudah usang di sana. Berisi gambar sepasang pria dan wanita. Si wanita menggendong seorang bayi, sedangkan di depan sepasang pria wanita itu ada seorang gadis kecil dengan rambut diikat dua berdiri di sana, nampak tersenyum ke arah kamera.


Ya, itu adalah foto keluarga Adit dan Saras. Foto itu diambil saat Saras dan Adit masih kecil. Dan foto itu masih tersimpan dengan aman di dompet pemuda yang sedang beranjak dewasa itu.


Adit menyerahkan sejumlah uang kepada Arkana. Laki-laki itu kemudian kembali ke meja baristanya dan membuatkan semua menu pilihan Adit beserta teman-temannya. Cukup lama, sekitar lima belas sampai dua puluh menitan Adit dan teman-temannya menghabiskan waktu di coffee shop itu. Hingga kemudian mereka menyudahi aksi istirahat setelah sekolah itu.


Para remaja remaja yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu kemudian bergegas pergi meninggalkan coffee shop tersebut. Tak lupa, Adit berpamitan sejenak kepada Arkana sebelum pulang mengingat mereka saling kenal. Para remaja itu kemudian masuk ke dalam sebuah mobil mewah di mana mobil itu adalah mobil pemberian Malvino yang dikendarai oleh Adit sendiri. Kendaraan roda empat itu kemudian melesat meninggalkan coffee shop itu. Menyusuri padatnya jalan raya untuk pulang pengantar teman-teman Adit baru kemudian kembali ke kediaman pribadi milik adik Saras itu.


Tanpa para remaja itu sadari, tak jauh dari Coffee shop itu, sebuah mobil box nampak terparkir di pinggir jalan. Dua orang pria berpenampilan preman nampak mengamati pergerakan laju mobil mewah itu sambil salah satu diantara nampak memegang sebuah ponsel yang ditempelkan di telinga kanannya.


"Tabrak bocah itu...!" titah seseorang melalui sambungan teleponnya.


Pria itu mengangguk.


"Sesuai perintah anda, bos..!" ucap si pria.


Sambungan telepon pun terputus. Pria itu mengakhiri perbincangan melalui ponselnya bersama seorang yang diberi nama 'Bos Besar' tersebut.


...----------------...


Selamat sore


up 15:00


yuk, dukungan dulu 🥰😘

__ADS_1


__ADS_2