
Pukul setengah dua belas siang...
Mobil mewah yang membawa istri Dionyz Aldari Miguel itu nampak memasuki halaman luas kediaman Malvino Andreas Miguel.
Wanita cantik dengan pakaian serba panjang itu nampak turun dari kendaraan mewah berharga fantastis yang menjadi tumpangannya. Dengan kondisi tubuh yang masih penuh luka, wanita cantik yang baru saja melepas rindu pada ibu dan adiknya itupun melangkah menuju pintu utama lalu masuk ke dalamnya.
ceklek....
Pintu kusen berwarna coklat tua itu terbuka.
deeeeegggghhhh.....
Saras terdiam seketika. Dilihatnya disana, Dion nampak duduk di sebuah sofa ruang tamu bersama ayahnya serta Jason di belakangnya. Ketiga pria itu nampak menatap tajam ke arah wanita yang baru saja tiba itu.
Ada apa ini? bukan kah ia pulang tepat waktu? ia tidak melakukan kesalahan apapun bukan? pikir wanita cantik tanpa kacamata itu.
"a..ada apa ini? tumben ngumpul?" tanya Saras.
Malvino mengangkat dagunya angkuh.
"darimana saja kau, gadis kecil?" tanya Malvino.
"a, saya, abis itu, dari rumah ibuk. Saya udah ijin kok tadi sama Dion. Iya kan...sayang? aku juga nggak pulang telat, kan?" tanya wanita itu sembari memiringkan kepalanya menatap ke arah sang suami seolah meminta pembenaran.
Dion diam tak merespon. Sedangkan Malvino nampak menatap tajam ke arah wanita cantik itu.
"Jason..!" ucap pria dewasa berjambang cukup lebat tersebut.
Jason yang sejak tadi setia berdiri sang tuan pun lantas mendekat. Berdiri di hadapan Malvino sambil menunduk patuh.
"saya, tuan" ucap pria bertato itu.
"panggil supir yang mengantar menantuku pergi tadi...!" ucap Malvino dingin dan menyeramkan.
deeeeegggghhhh......
Saras nampak mematung. Tubuhnya mulai bergetar takut. Namun sebisa mungkin wanita itu coba untuk tak menampakkan nya.
Ia sempat mampir ke apotik dan coffe shop, apakah ini akan membahayakan dirinya? Apakah Dion akan marah padanya nanti?
Saras nampak memejamkan matanya. Dalam hatinya kini mulai merapalkan doa doa. Semoga saja tidak ada kemarahan yang ia dapatkan, baik dari Malvino maupun dari Dion, suaminya.
Jason nampak membungkuk singkat. Dengan segera, pria yang sudah mengabdi pada Malvino selama bertahun tahun itu pun berjalan keluar rumah. Mencari sosok supir yang tadi mengantar kan Saras menuju kediaman ibunya.
Saras nampak menunduk. Berbagai pemikiran buruk menggelayuti otaknya.
Tak berselang lama, seorang pria berbadan besar dengan seragam hitam hitam nampak masuk ke dalam ruangan itu bersama Jason.
Laki laki itu berdiri di samping Saras. Menunduk hormat ke arah tuan besarnya yang nampak memasang mode serius.
"kau yang mengantar menantu cantikku hari ini?" tanya Malvino.
__ADS_1
"benar, tuan" jawab si sopir.
"kemana saja kau membawanya?" tanya Malvino angkuh.
Si supir nampak diam sejenak. Saras menoleh ke arah pria itu. Berharap laki laki itu tidak bicara macam macam.
"sesuai perintah nona, tuan" ucap si sopir.
degghh....degghh.....degghh....
Jantung Saras berdegup makin kencang.
"ke rumah ibunya. Hanya mampir sebentar ke apotik" ucap si sopir.
"selain itu?" tanya Malvino.
"tidak ada, tuan...!" ucap si sopir.
Saras memejamkan matanya. Membuang nafas kasar. Lega..! pria itu tidak mengatakan tentang dirinya yang mampir di coffe shop guna membeli minuman dingin untuknya dan Adit.
Dalam hatinya, wanita itu tak henti mengucap ribuan kata terima kasih untuk supir tersebut.
Malvino mengangkat dagunya. Laki laki itu kemudian menoleh ke arah Saras yang sejak tadi hanya diam.
"apa yang kau beli dari apotik?" tanya Malvino.
Saras mendongak. Menatap mertua menyeramkan nya itu lalu membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan dari pria bertubuh tinggi tegap itu.
"a, anu, itu..obat luka..!" ucap Saras.
"racun?" tanya Malvino menerka nerka.
Dion diam tak bergerak. Sorot matanya masih tajam menatap ke arah wanita itu. Lalu....
"masuk kamarmu..!" ucap pria itu.
Saras menunduk.
"aku tidak suka mengulangi perkataan ku..!" ucap Dion lagi.
Saras mengangguk. Wanita itu melirik ke arah Malvino sejenak. Kemudian dengan segera iapun pergi dari tempat itu. Naik ke lantai dua untuk masuk ke dalam kamarnya.
Didalam kamar, Saras menutup pintu kamar itu. Ia kemudian berjalan masuk kedalam ruangan itu sembari menggerakkan bola matanya, menatap ke seluruh penjuru ruangan tanpa menggerakkan kepalanya. Kamera cctv berada dimana mana. Mengintai pergerakan nya yang dapat di lihat langsung melalui ponsel milik suaminya.
Wanita itu kemudian melepaskan tas selempang nya, lalu mendekati sebuah nakas yang berada di samping ranjangnya. Ia berjongkok. Membuka sebuah lemari kecil nakas itu lalu memasukkan tas nya ke dalam sana.
Saat tas berada di dalam lemari, tangan ramping itu bergerak, mengeluarkan testpack dan setrip pil kb itu dari dalam tas miliknya lalu diam diam meletakkannya di bawah tumpukan buku. Sementara biarkan pil dan testpack itu berada disana. Kapan kapan ia akan mengambilnya dan meletakkan di tempat yang lebih aman.
Saras menutup pintu lemari kecil itu. Ia kemudian melepaskan baju panjangnya. Membuat tubuh ramping penuh luka itu kini hanya terbungkus b*a merah menutupi dua belah dadanya.
Saras berjalan menuju meja rias sambil membawa obat luka berbentuk salep itu. Didudukkan nya tubuh ramping itu di kursi, menghadap cermin besar disana.
Di bukanya salep di tangannya itu, lalu mulai mengoleskan nya di beberapa bagian tubuhnya yang nampak memar. Sesekali wanita itu nampak merintih, merasakan perih di beberapa bagian tubuhnya.
ceklek....
pintu kamar terbuka. Dion masuk ke dalam ruangan itu. Fokus matanya langsung tertuju pada sesosok wanita cantik istri sah nya yang kini nampak duduk membelakanginya, menghadap cermin besar meja rias itu.
__ADS_1
Dion mendekat. Mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, tepat disamping sang istri yang nampak meringis menahan perih.
"ssssshhhh....." Saras mendesis. Badannya sakit semua.
Dion diam tak bergerak. Mengamati tubuh wanita yang kini nampak setengah telanj*ng itu.
Dion menegakkan tubuhnya. Lalu...
seeeeetttt....
Diraihnya salep di tangan Saras. Wanita itu menoleh.
"biar ku bantu" ucap pria itu.
Saras diam sejenak lalu mengangguk. Wanita itu lantas mengubah posisinya duduknya. Duduk menghadap sang suami yang kini mulai mengoleskan salep itu di beberapa bagian tubuh Saras dengan lembut. Mulai dari dada, pundak, lengan, hingga punggung wanita cantik itu..
"makasih..." ucap Saras lembut. Dion menghentikan pergerakannya. Ditatapnya mata wanita itu dalam dalam. Pandangan kedua nya saling bertemu. Terkunci untuk beberapa saat. Saras tersenyum manis. Dion sama sekali tak berekspresi.
Hingga...
"maaf" ucap pria itu.
Saras mengulum senyum.
"dimaafin" jawabnya.
Sebuah senyuman singkat terbentuk dari bibir pria itu. Dion kemudian kembali mengoleskan salep itu di beberapa bagian tubuh istrinya.
...----------------...
Selamat pagi...
Yuk dukungan dulu....
mampir sini juga boleh...
👇👇
🌸Peri Bisu dan Malaikat Berjubah Iblis🌸
Untuk kalian pecinta novel berbau mafia...
Perjalanan hidup seorang gadis yatim piatu penyandang tuna wicara.
Ditinggal mati kedua orang tuanya saat usianya masih sangat muda.Kecelakaan tragis yang berhasil menjauhkan hidupnya dari kata bahagia.
Kedua orang tuanya tewas,ia hidup bersama sang kakak yang cacat di bersama sebuah keluarga yang tak memiliki hati nurani.
Garis hidup yang kejam membawanya bertemu dengan pria keji berhati iblis.Ia di jadikan jaminan hutang oleh sepupunya sendiri.
Tak seperti kisah kisah pada umumnya dimana sang pria keji luluh oleh kelembutan hati sang gadis malang.Wanita itu justru bak hidup di neraka dunia buatan manusia.Disiksa,dilecehkan,dan tidak dimanusiakan selama hidup di dalam istana sang lelaki iblis.
Setitik pertolongan Tuhan datang padanya...
Ia dipertemukan dengan pria berhati malaikat namun berjubah iblis.Pria baik hati yang bersembunyi di balik topeng bengisnya.Menyelamatkan sang gadis malang dari jeratan sang king mafia,menjalin hubungan sembunyi sembunyi, merajut asa,berharap bisa menjalin hubungan percintaan yang merdeka tanpa adanya embel embel perbudakan dan penyiksaan.
Mampukah mereka bertahan??
__ADS_1