Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
90


__ADS_3

Hari berganti hari. Semua berjalan seperti biasanya. Satu minggu berjalan, Dion dan Saras semakin terlihat bahagia. Kandungan wanita itu kini sudah berusia tiga minggu. Dion terlihat makin protektif pada wanita cantik itu. Laki laki itu mulai melarang Saras untuk sering keluar rumah, termasuk ke rumah ibunya sendiri dengan alasan keamanan. Membuat wanita itupun hanya bisa berkutat di lingkungan rumah mewahnya selama tiga minggu terakhir ini.


Tiga minggu berselang, baik Saras ataupun Adit juga sama sekali tak saling menghubungi. Wanita itu bahkan tidak sadar bahwa rupanya diam-diam Dion sudah mengganti nomor ponsel Saras dengan nomor ponsel baru. Hal itu pun membuat Adit dan orang-orang di sekelilingnya tak bisa menghubungi Saras lagi. Termasuk Arkana yang beberapa hari lalu sempat mencoba menghubungi nomor Saras menggunakan nomor ponselnya namun tidak bisa. Dion seolah begitu takut, ia ingin menjauhkan Saras dari orang orang yang berpotensi mengganggu wanita itu. Termasuk keluarga Saras yang kini sudah 'dimasuki' Arkana.


Sementara itu,


Satu minggu berjalan, Gio yang masih terbaring di rumah sakit itu belum juga menunjukkan tanda-tanda pulih. Laki-laki itu masih tertidur di ranjang pasien rumah sakit itu tanpa perkembangan yang berarti. Berbagai peralatan kesehatan masih menempel di tubuhnya. Membuat Arkana yang sejak awal selalu menemani sang sahabat itu makin sedih dibuatnya.


Siang ini, di sebuah rumah mewah kediaman Malvino. Saras berjalan menuruni tangga rumahnya. Menuju ke bagian belakang rumah mewah itu, tempat dimana sang suami tengah duduk disana, menyelesaikan salah satu lukisan miliknya.


Seettt....


Saras menarik sebuah bangku, lalu mendudukkan tubuhnya di sana, tepat di samping sang suami. Dion menoleh tanpa berucap. Wanita itu nampak sesekali berdecak kesal sambil memainkan ponselnya.


"Kenapa?" tanya Dion.


"Nomornya Adit ilang" ucap Saras. Dion tak menjawab. Ia terlihat sangat tenang. Padahal ia sendirilah yang menghapus nomor ponsel remaja itu dari kontak milik Saras.


"Kok bisa?" tanya Dion santai sembari kembali melanjutkan aktifitas melukisnya. Saras hanya menggelengkan kepalanya samar. Dion diam diam mengulum senyum. Untuk sementara, mungkin akan lebih baik jika Saras tak berhubungan dulu dengan keluarganya. Mungkin nanti Dion akan bicara baik baik dengan Saras. Tapi nanti..! Dion masih butuh waktu untuk itu.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah, di sebuah rumah sakit yang berada di tengah kota besar itu. Seorang wanita muda berseragam perawat lengkap dengan hijab putih menutupi kepala itu nampak berjalan memasuki sebuah ruangan ICU. Penampilan rapi. Wajah cantiknya nampak dibalut masker yang menutupi hidung dan mulutnya.


Ceklek...


Pintu ruangan itu terbuka. Wanita dengan name tag Xena di dadanya itu nampak berjalan mendekati seorang pemuda berambut gondrong yang terbaring di ruangan itu sejak seminggu terakhir. Xena menghela nafas panjang. Ia mulai memeriksa pria tak sadarkan diri itu dengan teliti. Mulai dari mengecek detak jantung, tekanan darah, hingga membersihkan luka luka di sekujur tubuh Gio yang sebagian mulai mengering.

__ADS_1


Xena terdiam kala menyentuh sebuah luka memar di pelipis kanan pria itu. Ia nampak tersenyum menatap paras pria tampan yang pingsan sejak pertama kali ia dibawa ke rumah sakit ini.


"Tidur mulu. Nggak capek?" ucap Xena seolah bertanya pada Gio yang tak bergerak.


"Udah seminggu kamu disini, tapi kok nggak ada keluarga yang datang jengukin kamu? Cuma ada satu teman kamu yang selalu datang tiap sore buat jagain kamu" ucap Xena lagi.


"Bangun, dong. Temen kamu kayaknya khawatir banget sama kamu." tambah wanita itu.


Bersih bersih luka selesai. Ia menegakkan posisi tubuhnya. Lalu sedikit memiringkan kepalanya dan tersenyum ke arah Gio yang terlelap itu.


"Cepet sembuh, ya" ucap wanita itu manis, lalu bergegas untuk pergi dari tempat tersebut untuk melanjutkan tugasnya mengecek kondisi pasien lain. Namun saat ia hendak berbalik badan, tiba tiba....


"Emmhh"


Suara itu berhasil membuat Xena menghentikan langkahnya. Wanita itu lantas menoleh. Dilihatnya disana kepala pria itu nampak bergerak gerak samar, begitu juga kelopak matanya. Xena mendekat.


"Tuan sudah sadar?" tanya Xena. Laki laki itu perlahan membuka matanya. Menatap sayu ke arah wanita cantik yang setiap hari datang untuk memeriksa perkembangan kesehatan nya itu. Sepasang mata itu saling bertemu. Xena dengan masker menutupi wajahnya itu nampak menatap tenang ke arah pria yang baru saja sadar dari kritisnya itu. Keduanya nampak diam sejenak.


"Tuan, ada yang sakit?" tanya Xena lembut. Gio diam.


Gio tak langsung menjawab.


"Gue dimana?" tanya Gio kemudian. Ia seolah lupa, apa yang menimpa dirinya hingga sampai di tempat tersebut.


"Kamu lagi di rumah sakit. Teman kamu membawa kamu kesini seminggu yang lalu" ucap Xena lembut dibarengi sebuah senyuman.


Gio diam. Ia tak menjawab. Laki laki itu menatap lurus ke arah langit langit ruang ICU seolah berusaha mengingat kejadian seminggu yang lalu.Hingga...

__ADS_1


"Ssshh.. akkhhh...!!" pria itu meringis dengan mata terpejam. Ia merasakan pusing di kepalanya.


"Kepala gua" ucap laki laki itu.


Xena tersenyum.


"Tuan, tenang. Anda tunggu disini sebentar, biar saya panggilkan dokter dulu untuk memastikan kondisi Tuan" ucap Xena lembut. Gio tak menjawab. Wanita itu lantas berbalik badan hendak keluar dari ruang ICU, namun tiba tiba.


Seettt..


Xena terdiam lagi. Ia kembali menoleh. Dilihatnya disana, tangan lemah Gio nampak menyentuh lengan putih itu. Xena menatap tangan dan paras Gio secara bergantian.


"Makasih" ucap Gio lemah. Xena menunduk. Ia tersenyum simpul.


"Sudah tugas saya" jawabnya. Gio melepaskan lengan itu. Xena pun dengan segera berjalan keluar dari ruangan tersebut untuk mencari dokter guna memeriksa kondisi Gio.




...----------------...


Selamat malam


up 18:19


yuk, dukungan dulu 🥰😘

__ADS_1


__ADS_2