
Hari berganti hari, kehidupan para anak manusia di bumi ini terus berjalan seperti yang seharusnya. Saras dan Dion masih menikmati masa masa penantian atas calon buah hatinya yang kini sudah hampir menginjak usia dua bulan.
Kian hari Dion kian protektif terhadap sang istri. Ia begitu mengawasi setiap gerak-gerik Saras. Mulai dari kegiatan, makanan, pola hidup, jam istirahat, jadwal cek kandungan, dan sebagainya. Semua diawasi oleh Dion. Laki laki itu seolah menjelma menjadi suami siaga setelah serentetan kejadian yang menimpa istri cantiknya itu. Ia tak mau jika sampai terjadi sesuatu lagi pada istri dan calon anaknya itu. Dion benar benar menjelma menjadi suami protektif untuk Saras yang kian hari kian manja dan rewel.
Berbeda dengan Dion dan Saras yang diliputi rasa bahagia, kesedihan kini justru dirasakan oleh Arkana dan Bharata. Dua pria yang dulu seolah memiliki kebahagiaan yang sempurna bersama Maya itu kini seolah berubah seratus delapan puluh derajat setelah semua kedok wanita itu terbongkar.
Maya yang selalu keduanya bangga-banggakan. Maya yang selalu terlihat sempurna sebagai ibu sekaligus istri itu kini nampak menyedihkan sebagai pasien rumah sakit jiwa di salah satu sudut kota besar itu. Hingga kini kondisinya belum membaik. Wanita itu bahkan ditempatkan di bangsal khusus disana lantaran ia sering mengamuk dan menyakiti dirinya sendiri serta orang lain.
Hilang sudah keluarga bahagia nan sempurna itu. Sang ibu sekaligus istri itu kini seolah menampakkan sisi lain yang tak pernah mereka duga. Bertahun-tahun Bharata menikah dengan Maya, yang ia tahu Maya memang memiliki trauma di masa lalunya. Tapi ia tak menyangka bahwa ternyata Maya adalah seorang wanita yang memiliki gangguan jiwa. Ia memiliki sisi gelap di hatinya. Ia rela melenyapkan nyawa orang lain demi ambisi dan kebahagiaannya sendiri. Bukan main-main, orang yang ingin dilenyapkannya rupanya adalah anak kandungnya serta mantan istrinya sendiri. Maya benar benar pandai menutupi sifat aslinya. Ia benar benar pandai memainkan perannya. Ia pandai memanipulasi keadaan seolah-olah ia adalah wanita yang sempurna dan baik hati. Padahal sebenarnya ia adalah seorang iblis berjubah malaikat.
Sungguh, sebagai seorang suami, Bharata mencoba untuk bersikap adil. Ia tahu seperti apa masa Lalu Maya dengan mantan kekasihnya yang rupanya adalah besannya sendiri. Maya juga bisa dikatakan sebagai korban di sini. Ia korban dari keegoisan seorang Malvino, yang dilempar setelah merasa tidak dibutuhkan lagi. Yang dibuang setelah gagal memberikan keturunan laki-laki pada pria ketua gangster itu. Andai Maya tidak mengenal Malvino, mungkin semua tidak akan menjadi seperti ini.
Kini, Bharata yang seolah sudah pernah merasakan asam manisnya kehidupan itu berusaha mengambil jalan tengah. Ia dan Arkana memutuskan untuk tetap berada di samping Maya seperti apapun kondisi wanita itu. Untuk sementara, mereka akan membiarkan Maya berada di rumah sakit jiwa. Guna mendapatkan penanganan khusus dari dokter yang berada di sana, untuk menyembuhkan mental dan trauma wanita malang itu. Bharata memilih untuk tetap bertahan dengan Maya. Karena walau bagaimanapun juga, kehidupannya tidak akan menjadi sesempurna ini jika tidak bertemu wanita itu.
Maya menyayangi Bharata dan Arkana namun dengan caranya yang salah. Wanita itu terlalu takut kehilangan kedua pria tersebut. Semua juga tidak terlepas dari sakit hati yang mendalam yang wanita itu alami di masa lalu.
.....
Malam menjelang di sebuah balkon kamar pribadi milik sepasang suami istri itu. Tepat di atas sebuah kasur sofa yang berada di sana,
"Aww!!" Dion memekik.
"Diem!!" gertak Saras tak bersungguh sungguh.
"Sakit!" ucap Dion sedikit kesal.
"Nggak usah manja!" ucap Saras lagi.
"Saras, udah, dong! Ini nggak bisa dipencet, nggak keluar!" ucap Dion. Saras tak peduli. Ia terus menekan salah satu sisi pipi Dion yang berjerawat. Memaksa sebuah benjolan kecil berwarna merah itu untuk mengeluarkan cairan putih yang berada di dalamnya. Wanita itu bahkan tidak peduli dengan Dion yang sejak tadi memintanya untuk berhenti. Omongan suaminya sama sekali tidak digubris. Sedangkan Dion hanya bisa pasrah atas ulah istrinya. Karena jika dilarang maka sudah pasti Saras akan ngamuk dan ngambek. Ya, semanja dan se-rewel itulah Saras sekarang. Dikit-dikit ngambek, dikit dikit marah, dikit-dikit nggak mau ngomong. Membuat Dion harus ekstra sabar menghadapi wanita hamil itu.
******!
"Uuhh...! Tuh, kan...keluar!!" ucap Saras saat berhasil mengeluarkan cairan putih itu dari dalam sana. Dion nyengir geli. Sedangkan Saras gini nampak meraih sebuah tisu kemudian menguap benjolan yang mulai mengempes itu. Wanita itu nampak puas. Ia tersenyum bangga atas keberhasilannya.
Dian menoleh ke arah sang istri.
"Udah, kan?" tanya pria itu.
Saras tersenyum lucu. "Dah," jawanya.
Calon ayah itu kemudian menggerakkan tangannya, merangkul pundak Saras dan membimbingnya agar bersandar di dada bidang miliknya. Saras hanya menurut. Sesekali tangannya menyentuh bekas jerawat milik sang suami, membuat Dion kembali menjauhkan kepalanya dari Saras, seolah tak menginginkan wanita itu menyentuh bekas jerawatnya.
"Udah!" ucap Dion tegas. Saras hanya terkekeh. Ia kembali menjatuhkan kepalanya di dada Dion.
Hening sejenak. Saras kemudian mendongak,
"Dion," ucap Saras.
"Hmm..." jawab pria itu.
"Besok kita..........."
__ADS_1
"Nggak!" Dion dengan segera memotong ucapan Saras. Seolah ia sudah tahu apa yang ingin istrinya itu katakan. Wanita itu pasti mengajak keluar lagi.
"Belum juga ngomong!" rengek Saras.
"Aku tahu, Saras. Kamu pasti mau bilang bosen dirumah, kan? Bosen, pengen jalan jalan! Iya, kan?!" tanya Dion.
Saras mengerucutkan bibirnya. Ia lantas mengangguk pelan.
"Bosen di rumah terus. Pergi yuk, besok!" rengek Saras lagi.
"Enggak!" bantah Dion. Saras nampak mengembun.
"Aku pengen ke rumah ibuk," ucap wanita itu. Dion diam.
"Kemarin Arka chat aku. Katanya papanya dia pulang," ucap Saras. "Dia juga papa aku loh, Dion. Aku pengen ketemu. Sebentar aja..."
Dion masih tak bereaksi.
"Kan kamu yang bilang, kalau papa kamu nggak suka ada tamu di rumahnya. Makanya aku nggak pernah ngasih alamat aku ke Arkana."
"Dan sekarang papanya Arka pulang. Dia pengen ketemu aku. Aku juga. Plis, boleh ya. Dia juga bapak aku loh, Dion. Arka udah cerita semuanya. Termasuk kehamilan aku dan semua yang terjadi malem kemarin. Dia juga pengen ketemu sama kamu. Boleh ,ya...." rengek Saras lagi.
Dion menghela nafas panjang. Ia menatap tenang ke arah sang istri.
"Tapi nggak lama lama, dan cuma ke rumah ibu kamu aja. Nggak ke lain tempat!" ucap Dion.
Saras tersenyum bahagia. Ia menegakkan posisi duduknya, lalu mencium pipi Dion singkat. "Siap!!" jawabnya yakin.
"Bobok, yuk. Udah malem," ucap Dion.
Saras menggeliat.
"Gendong," ucapnya manja.
Dion berdecih. "Manja!"
"Ya nggak apa apa. Kan ama suami sendiri," ucap wanita itu.
Dion tersenyum.
"Ya udah, ayok!" ucap pria itu yang kemudian meringsut, turun dari kasur sofa miliknya.
"Tapi nggak mau dibopong. Maunya gendong di punggung!" ucap wanita itu lagi dengan manjanya.
Dion terkekeh lagi.
"Ya udah, ayok. Sini!" ucapnya sembari sedikit membungkuk seolah meminta Saras untuk naik ke punggungnya. Wanita hamil itu sumringah. Ia bangkit dari posisi duduknya, kemudian mulai naik ke atas punggung sang suami. Dion pun mengangkat tubuh ramping itu, lalu membawa sang istri masuk ke dalam kamarnya dan bergegas menuju ranjang yang berada di sana.
"Ini turunnya mau dibanting apa dilempar?" tanya Dion.
"Diturunin pelan pelan aja. Trus abis itu di selimutin, terus di puk puk," ucap Saras bak seorang bocah, membuat Dion pun terkekeh dibuatnya.
__ADS_1
"Manja!" ucap Dion.
"Mending manja daripada durhaka," balas Saras.
"Terserah kamu lah..." ucap laki laki itu.
Keduanya pun sampai di atas ranjang. Dion merebahkan tubuh ramping itu di sana, kemudian menyelimutinya. Dion memposisikan tubuhnya tepat di samping Saras. Wanita itu kemudian mengubah posisinya. Ia nampak memiringkan tubuhnya, menatap ke arah sang suami sambil tersenyum manis.
"Dion," ucap Saras.
"Ya," jawab Dion.
"Makasih, ya..."
"Untuk?" tanya Dion.
"Semuanya..."
Laki laki itu diam sejenak, lalu tersenyum lembut.
"Aku yang harusnya berterima kasih. Terima kasih sudah mau bertahan sampai sekarang. Andai bukan kamu yang menjadi istriku, mungkin mereka sudah akan menyerah saat pertama kali melihatku dan mengetahui siapa aku sebenarnya" ucap Dion begitu tulus.
Tangan itu tergerak membelai rambut panjang Saras, lalu menyingkapkan nya ke belakang telinga
"Terima kasih karena kamu sudah mau menerima aku dengan segala kekuranganku yang begitu banyak. Aku nggak nyangka kita akan sampai sejauh ini. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua" ucap Dion
Saras tersenyum.
"Aku juga mau berterima kasih sama kamu. Terima kasih karena sudah mau berubah ke arah yang lebih baik. Terima kasih sudah mau sedikit demi sedikit keluar dari zona nyaman kamu. Terima kasih sudah mau menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dengan cara kamu. Aku tahu semua yang kamu lakukan itu demi aku. Maaf ya, aku banyak ngerepotin," ucap Saras.
"Bukan kamu yang ngerepotin. Tapi memang masa laluku lah yang begitu rumit. Membuat kamu yang nggak tahu apa-apa harus ikut masuk ke dalamnya."
Dion meraih punggung tangan sang istri.
"Saras, semua sudah terbongkar. Orang yang ingin mencelakakan kamu dan ibu kamu sekarang sudah berada di rumah sakit jiwa. Aku harap setelah ini kita hanya tinggal bahagianya aja. Semoga udah nggak ada lagi orang-orang jahat yang berusaha memisahkan kita," ucap Dion.
Saras diam sejenak.
"Sebenarnya masih ada satu masalah yang mengganjal di hati aku, Dion," ucap Saras.
Dion diam sejenak.
"Apa?" tanyanya.
"Gio..." ucap Saras.
Dion diam sejenak.
"Damai, yuk...."
...----------------...
__ADS_1