Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
38


__ADS_3

Sementara itu di sebuah coffee shop yang cukup ramai di salah satu sisi kota metropolitan itu,


sepasang pemuda tampan sepantaran nampak sibuk dengan pekerjaannya. Membuatkan satu demi satu kopi pesanan para pengunjung di bantu beberapa karyawan mereka.


Coffee shop yang sudah buka sekitar tiga tahun terakhir itu memang bisa dibilang cukup ramai. Banyak di kunjungi pemuda pemuda yang sekedar ingin menghabiskan waktu disana. Terlebih lagi pemilik dari coffee shop itu adalah Arkana dan Gio, dua pemuda yang juga merupakan anggota sebuah perkumpulan pecinta motor besar di kota itu. Tentu saja mereka memiliki banyak teman.


Arkana selesai dengan beberapa cangkir kopinya. Seorang pekerjanya lantas mengantarkan minuman panas itu ke meja pelanggan yang sudah menunggu disana.


krieeettt.....


pintu kaca itu terbuka. Sepasang pria wanita paruh baya berpenampilan rapi dan modis nampak masuk ke dalam bangunan itu. Senyuman terbentuk dari keduanya manakala beberapa karyawan nampak membungkuk menyapa keduanya sambil tersenyum.


Ya, mereka adalah Maya dan Bharata, sepasang suami istri, ayah kandung dan ibu sambung dari Arkana Pasha Ghifari. Bharata merupakan mantan duda, seorang pria sederhana yang kemudian menjelma menjadi pria kaya pemilik sebuah perusahaan yang bergerak di bidang transportasi setelah menikah dengan Maya, seorang janda kaya raya pemilik sebuah toko emas yang cukup besar di kota itu. Keduanya menikah lima belas tahun yang lalu, saat Arkana, anak kandung Bharata berusia sepuluh tahun.


Keluarga mereka bisa dibilang keluarga yang harmonis. Walau pun hanya anak sambung namun Maya memperlakukan Arkana seperti anaknya sendiri. Pria itu tak pernah kekurangan kasih sayang. Maya selalu memberikan apapun yang Arkana inginkan, meskipun terkadang sedikit mendapatkan penolakan dari Bharata lantaran dianggap terlalu memanjakan pemuda dua puluh lima tahun itu.


"mama...!" ucap Arka pada sang ibu yang baru saja tiba.


"hai, sayang ..." ucap wanita cantik dengan kacamata coklat membingkai mata lentiknya itu. Didekatinya sang putra. Arkana menggerakkan tangannya mencium punggung tangan sang ibu memeluk tubuh ramping itu dengan hangat. Bharata duduk di salah satu kursi di depan meja barista. Arkana pun mendekati sang ayah, mencium pula punggung tangan pria itu sebagai tanda bakti.


"om, tante..." ucap Gio yang tiba tiba datang dari belakang.


"Gio......" ucap Maya lembut. Pemuda gondrong itu mendekat. Meraih punggung tangan ayah dan ibunda Arkana itu lalu menciumnya sebagai tanda bakti terhadap orang yang lebih tua.


"apa kabar, om, tante?" tanya pemuda berpenampilan preman itu.


"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri apa kabar? udah lama nggak nginep di rumah om sama tante..?" tanya Maya lembut pada sahabat putranya yang memang sering menginap di kediaman mereka itu.


Gio nampak tersenyum.


"kapan kapan deh, tante. Lagi pengen jagain rumah sendiri aja..." ucap Gio.


Maya kembali mengulum senyum. Di sentuhnya pundak Gio lalu mengusap usapnya lembut.


"daripada kesepian di rumah sendiri, mending tidur dirumah Arkana aja. Lumayan kan ada temennya ngobrol..!" ucap Maya.


"iya, tante. Kapan kapan deh..." jawab Gio.


Maya tersenyum. Ia lantas mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Menatap ramainya pengunjung coffee shop yang kebanyakan anak muda ini.


"lagi rame banget nih kayaknya..." ucap Bharata yang sejak tadi duduk di depan meja barista.


"Alhamdulillah, pa. Tiap hari kayak gini..." ucap Arkana yang terus digandeng tangannya oleh Maya.


"Alhamdulillah...!" jawab Bharata sambil tersenyum.


"yang penting tetap konsisten dengan pelayanan yang kamu berikan. Dan ingat, hanya coffee shop, tempat nongkrong..! nggak ada alkohol di sini..!" ucap Bharata yang memang dikenal cukup religius itu mengingat sang putra.


"nggak ada kok, pa..! tenang aja .." ucap Arkana meyakinkan.


Bhatara hanya mengangguk. Ia percaya sepenuhnya pada putra sulungnya itu. Dibalik sikap humoris dan sedikit humoris dari Arkana, pemuda itu memang selalu bisa dipegang kata katanya. Ia sudah sangat dewasa pemikirannya, bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.


"papa sama mama udah makan belum? Biar dibikinin makanan ama anak anak" ucap Arkana menawarkan.


Maya menoleh ke arah sang suami.


"gimana, mas?" tanya Maya.


Bharata tersenyum.


"boleh..." jawab pria itu.


Arka tersenyum.


"ya udah, papa sama mama cari tempat dulu ya, mau duduk dimana? biar nanti Arka anterin..." ucap pemuda itu.


"oke...pojokan aja...!" jawab Bharata sambil menunjuk ke arah meja yang berada di pojok ruangan itu.

__ADS_1


Arkana mengangguk. Maya mendekati suaminya. Pria dewasa itu lantas mengajak sang istri untuk duduk di bangku yang tadi ia tunjuk.


Namun baru saja Bharata dan Maya berbalik badan hendak menuju meja pelanggan itu. Tiba tiba.....


buuuuuggghhhh.....


"aaawww ...!"


Seorang wanita muda tak sengaja menabrak tubuh tegap ayah kandung Arkana. Membuat wanita itupun jatuh terduduk di lantai sambil memekik.



Beberapa pengunjung pun reflek menoleh ke arah wanita itu. Bharata terkejut. Maya terkejut. Begitu juga Gio dan Arkana yang berada di belakang meja barista.


Wanita itu nampak meringis. Bharata buru buru membungkuk. Mengulurkan tangannya menawarkan pertolongan pada wanita muda berparas manis itu.


"kamu nggak apa apa?" tanya laki laki itu.


Wanita muda itu, Saras, nampak menyambut uluran tangan Barata dan menggunakan nya untuk bangkit.


"nggak apa apa, om..." jawab Saras kemudian melepaskan tangan itu dan merapikan pakaiannya yang tak terlalu berantakan itu.


Bhatara terdiam. Netra teduh itu nampak terfokus pada wajah cantik wanita di hadapannya tersebut. Sangat imut, putih, dan terlihat manis. Membuat sebuah senyuman samar samar terbentuk dari bibirnya melihat wanita yang ia ingat pernah ia temui di resto Jepang beberapa hari lalu.


"kan kemarin udah saya bilang, hati hati jalannya..." ucap pria itu membuat Saras pun mendongak mendengar ucapan itu. Wanita itu nampak memiringkan wajahnya menatap wajah Bharata. Seolah tengah mengingat-ingat, siapa laki-laki di hadapannya itu.


Saras diam beberapa saat. Ia kemudian mengangkat kepalanya mana kala ia mulai mengingat sosok laki-laki yang kini berdiri di dihadapan nya itu.


Ia adalah laki-laki yang beberapa waktu lalu pernah Saras tabrak di depan private room sebuah rumah makan Jepang.


"oh, om lagi..!! astaga..! maaf, saya nggak sengaja...!" ucap Saras.


Bharata terkekeh.


"nggak apa apa...! lain kali hati hati lagi ya...! masa setiap ketemu saya selalu kamu tabrak...!" ucap Bharata bercanda.


Laki laki itu kemudian mengulurkan tangannya.


"saya Bharata" ucapnya.


Saras menatap tangan itu, lalu berpindah pada wajah laki laki di hadapannya.


"oh, saya Saras, om...!" jawab wanita itu sembari menjabat tangan pria tersebut. Tak lupa, sebuah senyuman manis tersungging disana.


Kedua mata itu kembali bertemu, saling pandang dengan senyuman manis di bibir keduanya.


Maya yang berada di samping mereka nampak menatap dua manusia itu secara bergantian.


Cukup lama Saras dan Bharata berada dalam posisi itu. Hingga.....


"eeeekkkkmmmm...."


Maya berdehem. Membuat keduanya pun menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya wanita berpenampilan anggun itu nampak melipat kedua lengannya di depan dada. Dengan pandangan mata enatap lurus ke depan.


Bharata yang menyadari sikap sang istri pun buru-buru melepaskan jabatan tangannya atas Saras.


"maaf...." ucap Bharata.


Saras tersenyum kaku.


"sekali lagi saya minta maaf, om. Saya permisi dulu..." ucap Saras.


Bharata hanya mengangguk kaku. Saras kemudian pergi dari tempat itu menuju meja barista di mana Gio dan Arkana nampak berdiri di sana. Sepasang suami istri itu pun melangkah menuju meja yang berada di pojok ruangan yang Bharata tunjuk tadi.


Bhatara dan Maya pun duduk disana. Namun fokus mata laki laki paruh baya itu rupanya diam diam terus mencuri pandang pada Saras yang duduk di depan meja barista.


"gadis itu...membuatku jadi teringat dengan bayiku yang kini berada di tangan Ratih. Pasti dia sudah sebesar itu sekarang. Bagaimana kabar nya ya? sudah sangat lama aku meninggalkan nya. Aku rindu..." batin Bharata berucap.

__ADS_1


Sementara di meja barista....


Gio dan Arkana nampak berdiri menghadap wanita yang kini tengah sibuk dengan buku menunya itu. Dua laki laki itu diam tak bergerak. Keduanya masih ingat wanita ini. Terutama Gio. Wanita yang beberapa waktu lalu pernah datang ke tempat ini namun ia layani dengan ketus. Kala itu ia tengah dalam mood yang berantakan lantaran Arkana pergi tanpa pamit sedangkan coffee shop dalam keadaan yang sangat ramai.


"affogato coffe nya dua..." ucap wanita itu sambil meletakkan buku menu itu.


"oke...." ucap Gio sembari memberikan senyuman khasnya.


Saras mengernyitkan dahi nya.


"nyantai dulu ya, cantik..." ucap Arkana yang juga dalam mode full senyum pada wanita yang memang berparas sangat manis itu.


Kedua pria itu lantas berjalan menuju meja belakang. Membuatkan dua kopi dingin pesanan Saras sambil terus cekikikan. Saling senggol menggunakan lengan masing masing sambil membicarakan wanita cantik yang tanpa mereka ketahui sudah bersuami itu.


"cantik kan c*k?" tanya Arkana.


Gio hanya mengulum senyum simpul.


"lu mau nggak? kalau lu mau, buat lu, gue bantuin..! lu kan jomblo akut. Kalau nggak mau, gue sikat nih...!" ucap Arkana menggoda sahabat nya.


"apasih lu..? closet kali disikat..!" ucap Gio.


Arkana berdecih.


"sok ganteng lu...!" ucap Arkana kemudian.


Keduanya kembali terkekeh.


Saras yang menyaksikan adegan itu dari belakang hanya tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya.


Tak lama, Arkana dan Gio kembali ke meja barista. Mendekati Saras yang masih menunggu minuman pesanannya.


"silahkan...." ucap Arkana manis sambil menyodorkan minuman buatan nya. Disusul Gio yang melakukan hal yang sama namu tanpa berucap apapun. Hanya senyuman dan tatapan mata khas seorang Gio yang terbentuk dari bibir dan netra pria itu.


Saras menyerahkan uang nya. Gio yang menerimanya. Laki laki itu kemudian memproses pembayaran nya lalu menyerahkan kembaliannya.


"namanya Gio..." ucap Arkana pada Saras. Gio reflek menyenggol lengan sahabat nya itu dengan siku tangannya.


"apasih lu, anj*r..!" ucap Gio.


Arkana tergelak. Saras hanya diam. Tersenyum tipis.


"kalau gue Arkana..." tampan pria berjambang tipis itu kemudian.


Saras tak menjawab.


"permisi" jawabnya kemudian.


Wanita itu kemudian berbalik badan dan melangkahkan kakinya menuju pintu utama bangunan tersebut. Bergegas untuk pulang dan menikmati minuman dingin yang ia beli itu bersama suami tersayangnya.


Arka dan Gio menatap punggung wanita cantik yang perlahan mulai menjauh dari pandangan mata itu.


"gimana?" tanya Arkana pada sahabatnya yang berdiri di sampingnya.


"kalau dia sekali lagi balik ke sini..buat gua..!" jawab Gio kemudian berbalik badan menuju meja belakang.


"gassss....!!!" jawab Arkana sembari melempar sebuah lap kecil di tangannya.


...----------------...


Selamat sore...


ini dilanjut nggak sih novelnya...kok aku agak males ya...😁😁😁


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰..


mampir sini juga...

__ADS_1



__ADS_2